#HikmahKesendirian Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/hikmahkesendirian/ Fri, 18 Apr 2025 08:28:39 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #HikmahKesendirian Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/hikmahkesendirian/ 32 32 Sendirian itu Piyambakan https://bangbangwetan.org/sendirian-itu-piyambakan/ https://bangbangwetan.org/sendirian-itu-piyambakan/#respond Fri, 18 Apr 2025 08:28:39 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2052 Rasa hormat saya ucapkan kepada para jomblowan dan jomblowati yang dirahmati oleh Allah SWT. Kepada mereka yang sedang menempuh perjalanan ‘menyendiri’ entah karena pilihan ataupun keadaan heuheu… Semoga selalu berada […]

Artikel Sendirian itu Piyambakan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Rasa hormat saya ucapkan kepada para jomblowan dan jomblowati yang dirahmati oleh Allah SWT. Kepada mereka yang sedang menempuh perjalanan ‘menyendiri’ entah karena pilihan ataupun keadaan heuheu… Semoga selalu berada pada jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Tak ada salahnya bagi kita untuk menyusuri lorong yang penuh kemuliaan ini. Kita? tentu saja, karena saya juga tengah menikmati kesendirian di tengah tren tiktok yang memaksa untuk mengunggah kemesraan bersama pasangan.

Apakah menjomblo merupakan hal yang salah? Saya rasa ketika membicarakan tentang keadaan ini tidak ada yang benar maupun salah. Terlintas dalam benak saya kalimat yang pernah diutarakan oleh Mbah Tedjo “jomblo adalah wujud kesombongan, karena merasa seluruh persoalan bisa dihadapi sendiri”. Memang kalimat yang diutarakan tersebut juga memiliki sisi kebenarannya, namun bukan berarti ketika menjomblo saya menjadi ‘merasa’ bisa menghadapi seluruh persoalan sendiri. Sebagai seorang hamba amatiran, saya juga membutuhkan kehadiran Tuhan dalam menghadapi segala persoalan, juga dukungan dari lingkungan sekitar untuk saling menguatkan. Hablumminallah wa hablumminannas.

Lantas bagaimana kita menyikapi kesendirian ini? Imam Al-Ghazali pernah berkata “kesendirian bukan berarti kesepian, tapi kesempatan untuk bercengkrama dengan Sang Pencipta”. Hal tersebut juga selaras dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Mbah Nun yakni  “menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian”. Dari kedua kalimat tersebut diketahui bahwa menjomblo pun memiliki manfaat, bahwasannya dengan kesendirian kita dapat lebih mengenal Sang Pencipta, juga dapat lebih mengenal ciptaannya. Bukankah kita dapat melihat sesuatu pada sisi yang terang ketika berada pada sisi yang gelap? Sedangkan kita akan kesulitan melihat sesuatu pada sisi yang gelap ketika berada pada sisi yang terang? Begitu juga cara kerja kesendirian atau menyepi dalam sudut pandang Mbah Nun, agar kita dapat benar-benar mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.

Sendiri dalam bahasa Jawa dapat disebut ijen atau dhewe, dalam bahasa krama disebut piyambak. Kata dhewe dapat merujuk kepada diri kita (awakedhewe), dalam konteks ini jika dihubungkan dapat dimaknai bahwa kesendirian merupakan moment untuk lebih mengenal diri kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Jalaludin Rumi “Dalam kesunyian, suara hati menjadi lebih jelas. Jadi, kamu perlu kesendirian untuk mendengarkan suara jiwamu”. Sebab “Manungsa” adalah “Manunggaling Rasa” maka kita harus memahami rasa apa saja yang manunggal pada diri kita.

Sebagaimana para Nabi dan Rasul terdahulu yang menemukan atau mendapatkan hal-hal yang luar biasa ketika sedang berada pada kesendirian. Mungkin ada beberapa perbedaan pada kata sendiri, menyendiri dan kesendirian, namun anggap saja ketiga kata tersebut menggambarkan keadaan ketika seorang diri, terlepas dari apa penyebab dan bagaimana keadaannya. Ada sebuah hadits yang meriwayatkan tentang Rasulullah yang suka menyendiri, “Dulu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam senang berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira sebelum wahyu turun kepada beliau.” (H.R. Bukhari). Bahkan Kanjeng Nabi pun senang menyendiri.

Kisah Sunyi

Selain itu juga ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang sendiri ketika mencari siapa jati diri Tuhannya. Ada juga Nabi Yunus yang bertaubat seorang diri dalam perut ikan yang menelannya. Nabi Musa yang menyendiri 40 Hari di bukit sinai untuk menerima wahyu. Siti Hajar ibunda Ismail yang ditinggal sendirian kemudian muncul mata air zam-zam. Tak lupa dengan Hawa yang dihadirkan ketika Nabi Adam berada pada kesendirian. Mungkin hampir setiap nabi dan rasul memiliki kisahnya saat ditemani oleh kesendirian.

Maka dari itu jangan merisaukan kejombloan kita saat ini, siapa tahu dengan sendiri kita bisa lebih mengenal diri kita, lebih memahami lingkungan sekitar kita atau bahkan mampu lebih dekat dengan Tuhan kita. “Jangan menghindari kesendirian. Dalam sunyi itulah kamu akan menemukan cahayamu”. Begitulah kata Jalaludin Rumi. Mari kita mencari cahaya tersebut dalam kesendirian kita ini. Sendirian itu Piyambakan, dalam bahasa Inggris bisa disebut Alone, maka cukup dengan alone-alone asal kelakon, heuheuheu…. Menyendirilah jika itu bisa membuat kita berada di jalan Allah, jadilah jomblo fii sabiilillah.

Saya harap, kita bisa saling mendoakan agar segera dipertemukan dengan dia yang namanya tertulis di lauhul mahfudz, dengan seseorang yang akan menjadi garwa (sigaraning nyawa). Aamiin.

 

Fikri Firmansyah

Pemikir yang memikirkan cara mengungkap pikirannya.

dapat disapa di akun instagram @fikrii.ff

Artikel Sendirian itu Piyambakan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/sendirian-itu-piyambakan/feed/ 0