#MahasiswaBerpikir Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mahasiswaberpikir/ Sat, 05 Apr 2025 08:03:00 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #MahasiswaBerpikir Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mahasiswaberpikir/ 32 32 Revolusi Akal Sehat; Menumbangkan Budaya Feodalisme https://bangbangwetan.org/revolusi-akal-sehat-menumbangkan-budaya-feodalisme/ https://bangbangwetan.org/revolusi-akal-sehat-menumbangkan-budaya-feodalisme/#respond Sat, 05 Apr 2025 08:03:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1937 Dahulu Kala, Nusantara dijajah oleh Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Sekitar 3,5 abad kita dirundung penjara ketidakbebasan; ketidakbebasan dalam berekspresi, ketidakbebasan dalam bersuara dan ketidakbebasan dalam berpendapat, ketidakbebasan dalam […]

Artikel Revolusi Akal Sehat; Menumbangkan Budaya Feodalisme pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dahulu Kala, Nusantara dijajah oleh Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Sekitar 3,5 abad kita dirundung penjara ketidakbebasan; ketidakbebasan dalam berekspresi, ketidakbebasan dalam bersuara dan ketidakbebasan dalam berpendapat, ketidakbebasan dalam memilih. Bahkan yang lebih parah lagi, kita tidak diberi kebebasan dalam berfikir. Setelah usai Belanda menjajah Nusantara, lalu Jepang menjajah Nusantara sekitar 3,5 tahun. Jadi, Nusantara dirundung penjajajahan selama sekitar 353 tahun lebih 5 bulan.

Pada waktu yang sangat tidak pendek tersebut mengakibatkan tumbuhnya budaya feodalisme. Feodalisme adalah perilaku para penguasa yang lalim seperti kolot dan ingin selalu dihormati. Dalam feodalisme etika memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebenaran. Selama penjajahan, budaya feodalisme tumbuh dengan subur. Konsep daripada budaya feodalisme adalah Penguasa VS Abdi. Jadi, Abdi harus tunduk dan patuh pada Penguasa. Setiap keberanian yang mulai muncul dan bertumbuh pasti diiringi oleh suasana intimidasi dan represi oleh penguasa sehingga menumbuhkan teror-teror ketakutan kepada masyarakat yang mulai beranjak ingin memerdekakan diri dari cengkraman penjajahan. Kejadian-kejadian itu juga turut diikuti oleh suasana pembungkaman keberanian, pembungkaman kemerdekaan berfikir, pembungkaman kemerdekaan bertindak serta pembungkaman kemerdekaan berekspresi.

Setelah Nusantara Merdeka budaya feodalisme tersebut mulai hilang melalui perantara keberanian para Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang berjuang dalam memerdekakan negeri dari penjajahan. Namun, lambat laun setelah 79 tahun Indonesia Merdeka, budaya tersebut ternyata masih tersisa dan berkembang, menyublim pada suatu bentuk yang lebih halus lagi, berselimut dibalik kesopanan dan keadaban. Banyak yang salah dalam memahami makna sopan dan adab. Sopan dan adab seharusnya terletak pada perilaku namun merembet pada kesopanan dan keadaban fikiran sehingga orang tidak berani mengkritik langsung karena dinilai Su’ul Adab. Bahaya jika kritik di negara demokrasi disangka Su’ul Adab atau bahkan makar. Padahal demokrasi tumbuh karena ada perbedaan, bukan menyeragamkan perbedaan tapi mengelola perbedaan. Itulah dasar persatuan dalam negeri yang memilih sistem demokrasi.

Suatu ketika ada seorang santri yang berhadap-hadapan dengan Agamawan. Ia dipesan oleh sang Agamawan bahwa “Jangan banyak mengoreksi orang tapi perbanyaklah bercermin pada diri sendiri.” Beda antara adab dalam jubah ta’dhim dengan kritik dalam jubah demokrasi. Kita harus bisa mendudukkan dua perkara tersebut agar tidak gagal dalam memahami persoalan. Kita memang tidak boleh ikut campur terhadap urusan orang lain secara personal. Tapi kita boleh mengkritik kebijakan yang dibuat oleh orang yang sedang menduduki jabatan politik. Terlebih bagi seseorang yang menduduki suatu jabatan karena dipilih oleh rakyat dalam sistem demokrasi.

Di sekolah, seolah-olah murid takut berpendapat atau menyanggah guru karena khawatir nilai turun, beasiswa dicabut, dinilai kurang sopan dan ketakutan-ketakuan ala feodalistik lainnya. Sedangkan di kampus, seolah-olah mahasiswa takut berpendapat atau takut menyanggah pemikiran dosen karena takut diberi nilai buruk, takut tidak lulus mata kuliah, takut beasiswa dicabut, takut di Drop Out (DO) dari kampus  dan ketakutan-ketakuan ala feodalistik lainnya. Padahal kampus atau Universitas adalah kawah candradimuka penggodokan pemikiran yang universal sehingga pemikiran kita jangan sampai dikotak-kotakkan menjadi pemikiran yang fakultatif.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa “Seorang yang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam fikiran dan perbuatan.” artinya jika kita korelasikan kalimat tersebut dengan makna merdeka yang berarti bebas dari segala belenggu, tekanan dan penjajahan maka bisa disimpulkan bahwa apabila kita ingin menjadi bangsa yang merdeka, kita harus merdeka sejak dalam fikiran dan perbuatan. Dalam hal ini mengkritik bukan lagi menjadi dimensi persoalan ketidaksopanan tetapi dalam rangka mempertajam latihan analisa melalui fikiran untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Apabila ingin budaya feodalisme tumbang maka nalar harus terus diasah untuk kritis, berkembang dan bertumbuh.

Selain mengkritik, Dalam posisi diskusi kita juga tidak boleh gagal faham bahwa diskusi harus berposisi Egaliter (melepas jabatan, kedudukan dan status sosial) artinya semua sama, yang diadu adalah fikiran, ide dan gagasan. Tidak boleh ada yang merasa lebih karena dalam diskusi yang dicari adalah titik temu di atas titik beda, bukan mengikuti arahan dan intruksi. Diskusi adalah tempat bertarungnya gagasan, ide dan fikiran. Bukan malah membariskan fikiran dengan embel-embel “Atas Arahan Dari atau Atas Intruksi Dari.”

Berdasarkan apa yang sudah kita baca di atas, mari kita mencoba untuk melakukan sebuah refleksi bersama bahwa edukasi untuk menghilangkan budaya feodalisme itu sangat penting bagi Bangsa kita apabila kita ingin negara maju dan merdeka dengan sesungguhnya merdeka. Alternatif itu bisa ditempuh salah satunya melalui ranah pendidikan. Jika kita menilik dari kurikulum pendidikan yang sudah diterapkan di negara kita, Kemenrisetdikti telah menerapkan sistem Kurikulum Merdeka Belajar. Jangan sampai kita salah arti atau mereposisi kata tersebut menjadi terbalik, dari semula Merdeka Belajar menjadi Belajar Merdeka. Lalu, apakah mulai hari ini kita sudah merdeka sejak dalam fikiran dan perbuatan atau masih belajar merdeka sejak dalam fikiran dan perbuatan?

 

Muchammad Syuhada’

Pemikir Yang Berjalan. Dapat disapa di akun Instagram @muchammadsyuhada dan bisa dijumpai di Warung Kopi.

Artikel Revolusi Akal Sehat; Menumbangkan Budaya Feodalisme pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/revolusi-akal-sehat-menumbangkan-budaya-feodalisme/feed/ 0