#MajelisIlmu Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/majelisilmu/ Sat, 07 Jun 2025 04:43:30 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #MajelisIlmu Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/majelisilmu/ 32 32 MATURITAS MARKESOT https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/ https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/#respond Sat, 07 Jun 2025 04:36:06 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2173 Prolog BangbangWetan Juni 2025 Tanggal 27 Mei 2025 adalah ulang tahun ke-72 Mbah Nun. Pada momen tersebut, diluncurkan pula buku 72 Tahun Cak Nun, sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan […]

Artikel MATURITAS MARKESOT pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog BangbangWetan Juni 2025

Tanggal 27 Mei 2025 adalah ulang tahun ke-72 Mbah Nun. Pada momen tersebut, diluncurkan pula buku 72 Tahun Cak Nun, sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari para sahabat tentang persinggungan mereka dengan Mbah Nun. Majelis Pengajian Padhangmbulan menjadi tempat peringatan ulang tahun Mbah Nun tersebut. KiaiKanjeng, keluarga besar, dan beberapa sahabat turut hadir memeriahkan acara.

Salah satunya adalah Abah Kirun, legenda pelawak Indonesia asal Madiun. Malam itu, Abah Kirun menyampaikan bahwa buah karya dan sikap hidupnya banyak dipengaruhi oleh Mbah Nun. Mbah Nun bersikap selayaknya sahabat kepada dirinya, sehingga membuat Abah Kirun nyaman setiap kali bertukar pendapat dengan beliau.

Apalagi, obrolan Mbah Nun kepada Abah Kirun menggunakan bahasa sehari-hari, yang mudah dipahami, bukan bahasa intelektual. Pesan-pesan Mbah Nun pun menjadi mudah dicerna dan terus dipegang teguh hingga kini. Salah satu pesan beliau adalah: jika ingin menjadi pelawak yang otentik, karya harus lahir dari hati terdalam dengan niat menggembirakan banyak orang. Pesan itu dibuktikan langsung oleh Abah Kirun, yang membuatnya digemari banyak orang dan tetap eksis. Sampai saat ini, Abah Kirun masih kerap diundang mengisi berbagai acara untuk menghibur dan menggembirakan orang.

Kami memandang bahwa pendekatan Mbah Nun kepada Abah Kirun adalah buah dari maturitas (kematangan) pribadi Mbah Nun. Melalui pendekatan kontinum maturitas, kami melihat bahwa Mbah Nun telah mencapai tahap kematangan yang tidak hanya bersifat mandiri secara pribadi, tetapi juga mengajak sebanyak mungkin orang untuk saling bekerja sama, membenahi kekurangan dan kesalahan satu sama lain dalam banyak hal.

Kita diajak berbenah dari urusan mental, untuk memiliki sikap pantang menyerah. Dalam hubungan sosial, kita diajak untuk ringan tangan menolong siapa saja yang membutuhkan. Dari sisi kesejahteraan ekonomi, kita diajak untuk siap mengerjakan apa saja yang bermanfaat. Bahkan, Mbah Nun peduli membimbing kita menjalin hubungan dengan Allah dengan memegang prinsip rodhiatan mardhiyah—yakni, kita diajak untuk ridha terlebih dahulu kepada Allah, maka Allah pun akan lebih mudah ridha kepada kita. Ketika kita membuka hati kepada Allah, Allah akan menurunkan hal-hal baru yang tak terduga, yang sangat mungkin menjawab kebutuhan atau cita-cita kita.

Dalam salah satu seri Daur berjudul Tarian Tali-Tali Cahaya, Mbah Nun menggambarkan suasana Maiyahan. Di setiap Maiyahan, kita senantiasa diajak menjalin hubungan dengan Allah melalui wirid, salawat, dan Sinau Bareng. Maka, tiap jamaah Maiyah digambarkan seperti menerima pancaran cahaya dari langit, yang dapat dimaknai sebagai hidayah, berupa pemahaman dan pengertian baru. Hati menjadi tenang karena mendapat pencerahan hidup untuk menatap masa depan.

Pada puncak kekhusyukan bermunajat melalui wirid dan salawat, Mbah Nun mengajak jamaah Maiyah kembali berpijak di bumi kesadaran sebagai bangsa Indonesia dalam Sinau Bareng untuk:
“…mengurusi persoalan-persoalan nyata manusia, problem sosial, konstelasi dusta politik, kebohongan kekuasaan dan penyamaran penguasaan, mengkritisi kepengurusan negara, memberi tenaga kepada mesin antikorupsi, menganalisis lapisan-lapisan ketertindasan rakyat, dan semua yang sejenis-jenis itu…”

Maturitas Mbah Nun juga digambarkan dalam sosok Markesot, yang dalam tulisan tersebut memikul tanggung jawab untuk “…memberi pencerahan kepada rakyat, menyelenggarakan pendidikan politik di sana-sini, menyebarkan penyadaran sejarah…” Meski secara hukum tidak berkewajiban, Mbah Nun tetap menjalankannya karena merasa memiliki hutang kebudayaan.

Dalam tulisan berjudul Hutang-Hutang Kebudayaan (dari Masalah Idealisme dan Orientasi Kaum Muda), Mbah Nun menyampaikan bahwa hutang kebudayaan bersifat perjanjian dengan diri sendiri, berasal dari sikap atau prinsip perkembangan dan kemajuan. Apa yang semestinya dikerjakan tetapi tidak dilakukan berarti menciptakan hutang. Mbah Nun menggambarkannya lewat kisah seorang pengukir kayu yang pada jam itu mestinya menyelesaikan ukiran, namun ia tidak melakukannya dan tidak pula menghasilkan manfaat lain. Maka, ia telah berhutang kepada dirinya sendiri.

Pernahkah kita iseng, duduk sejenak, lalu menelusuri jejak hidup Mbah Nun? Pernahkah kita ingin tahu bagaimana cara beliau bertumbuh menjadi pribadi yang matang? Mungkin, salah satu pintu yang bisa kita ketuk adalah melalui tema ini: Maturitas Markesot.

Mari kita sinau bareng.
Edisi BangbangWetan Juni 2025 akan menjadi ruang untuk membedah tema ini bersama-sama. Catat tanggalnya: Kamis, 12 Juni 2025, di STIKOSA-AWS.
Sowan, sema’an, sinau bareng.

 

Oleh: Tim Tema Bangbang Wetan

Artikel MATURITAS MARKESOT pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/feed/ 0
Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/#respond Tue, 11 Mar 2025 23:38:07 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1858 Prolog BangbangWetan Maret 2025 Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan […]

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog BangbangWetan Maret 2025

Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan spiritual. Menurut Mbah Nun, puasa mengajarkan kita bahwa hidup tidak hanya tentang hak, tetapi juga tentang kewajiban, larangan, dan anjuran. Puasa melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesadaran bahwa manusia sejati adalah yang mampu menahan diri demi mencapai ketakwaan.

Bagi banyak orang, Ramadan menyimpan kenangan masa kecil tentang tradisi seperti ngabuburit, berbagi takjil, tarawih, ronda keliling, hingga khataman Al-Qur’an. Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum pembentukan diri. Dalam berbagai Maiyahan, Mbah Nun menegaskan bahwa keistimewaan puasa terletak pada hubungannya dengan Allah. Jika ibadah lain pahalanya diberikan kepada pelakunya, puasa adalah milik eksklusif Tuhan. Dengan satire, beliau menyampaikan bahwa manusia sejatinya lebih mencintai makan daripada berpuasa, namun justru dalam menahan lapar dan dahaga itulah ketakwaan meningkat.

Setelah menjalani puasa Ramadan, kita menantikan lebaran pada hari raya Idul Fitri. Mbah Nun memiliki pandangan menarik tentang Idul Fitri. Dalam Puasa itu Puasa (hal. 143), beliau menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan pribadi, tetapi juga momentum kolektif yang menjadikan kita lebih dari sekadar komunitas (community) atau masyarakat (society). Kita menjadi ummah, sebuah persaudaraan yang berlandaskan kohesi, ketulusan, dan daya tarik-menarik nilai-nilai Allah: kesederajatan antar manusia, kebenaran nilai, keadilan realitas, dan kebaikan akhlak.

Namun, Mbah Nun mengingatkan bahwa Idul Fitri harus membawa perubahan sosial yang lebih mendalam, bukan sekadar kegembiraan bersama keluarga dan teman. Keceriaan Lebaran tak boleh melupakan realitas bahwa di sekitar kita masih ada ketidakadilan, diskriminasi, dan eksploitasi. Sensibilitas terhadap hal ini penting agar Idul Fitri benar-benar menjadi gerbang perubahan yang memperkuat persaudaraan sejati dalam ummah.

Maka, kita diajak bertafakkur: sejauh mana kita telah mengupayakan nilai-nilai Idul Fitri dalam kehidupan? Lebaran sejati bukan hanya tentang kembali bersih, tetapi juga tentang kepasrahan total kepada Allah. Mbah Nun sendiri merayakan Lebaran dengan kepasrahan yang dalam, menyadari bahwa hakikat Idul Fitri bukan hanya tentang pengampunan dosa, tetapi juga ketundukan sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Sikap ini lahir dari ketakutan mendalam: jika Tuhan ‘ikut berlebaran’, tidak lagi menahan murka-Nya, apa yang akan terjadi pada kita? Jika Tuhan tak lagi menangguhkan hukuman atas kekufuran dan kesewenangan kita, bagaimana nasib kita? Penguasa besar maupun kecil akan terguling, dan mereka yang haknya dirampas akan menuntut keadilan.

Dalam Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Maret 2025, yang akan berlangsung pada 18 Maret di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, mari kita pasrah total kepada Allah, meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, dan berdoa sebagaimana yang diajarkan Mbah Nun dalam Puasa itu Puasa (hal. 147): Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, lindungilah kami. Bantulah kami mengidulfitri di lutut kuasa-Mu. Wa la aqwa ‘ala naril jahim. Di neraka, tak kuat hamba, ya Rabbi!

Oleh: Tim Tema Bangbang Wetan

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/feed/ 0