#RembugBersama Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/rembugbersama/ Mon, 28 Apr 2025 14:05:22 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #RembugBersama Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/rembugbersama/ 32 32 Ngumbulno Demokrasi dalam Kegelapan https://bangbangwetan.org/ngumbulno-demokrasi-dalam-kegelapan/ https://bangbangwetan.org/ngumbulno-demokrasi-dalam-kegelapan/#respond Mon, 28 Apr 2025 14:05:22 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2102 Membayangkan gambar layangan mendorong kita untuk berandai-andai bahwa setiap anak muda mampu untuk menerbangkan/ ngumbulno layang-layang. Setiap anak muda punya hak untuk memiliki layangannya sendiri. Setiap orang berhak untuk memiliki […]

Artikel Ngumbulno Demokrasi dalam Kegelapan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Membayangkan gambar layangan mendorong kita untuk berandai-andai bahwa setiap anak muda mampu untuk menerbangkan/ ngumbulno layang-layang. Setiap anak muda punya hak untuk memiliki layangannya sendiri. Setiap orang berhak untuk memiliki kesempatan bermain layang-layang. Akan tetapi, untuk mampu ngumbulno layang-layang sampai terbang tinggi di langit dipengaruhi beragam faktor. Tidak hanya faktor internal yang mencakup pengetahuan dan kemampuan bermain layangan, tetapi juga faktor eksternal mulai dari angin, cuaca, kondisi layangan, benangnya, dsb. Ngumbulno layangan jadi perkara yang sulit, jika si anak tidak bisa main layangan atau bahkan belum pernah melihat langsung, khususnya masyarakat perkotaan yang memang memiliki lahan terbatas untuk bermain layangan.

Demokrasi itu seperti halnya kebaikan bersama yang di dalamnya melekat harapan-harapan yang perlu diterbangkan, ibarat layang-layang yang tempatnya indah berayun angin di angkasa. Tapi kita tidak menutup mata jika tidak semua anak memiliki layang-layang atau bahkan sulit membayangkan bentuk dari layangan. Layangan bisa menjadi hal elit yang sulit dimiliki semua. Tidak sedikit orang yang kesulitan membayangkan impian dan apa yang baik untuk dirinya, apalagi merumuskan apa yang kita sebut dengan kebaikan bersama dalam masyarakat. Ada cara dan metode yang perlu dipelajari untuk mencari apa yang terbaik dari suara rakyat yang sering dikatakan sebagai suara Tuhan (Vox populi, vox dei).

Warna-warni kehidupan. Sumber: Pexel-benhur emmanuel.

Setiap orang berhak ngumbulno layangan mereka masing-masing. Layangan yang beraneka rupa dan warna ini adalah keanekaragaman corak menambah indahnya langit kita yang demokratis. Dalam narasi harmonis, layang-layang yang terbang bersama memiliki estetika dan nilai kebersamaan yang rukun dalam kesatuan. Semua layangan yang terbang tinggi berjejer rapi bersamaan, menawarkan keindahan dan rasa tenang bagi yang menontonnya. Di sisi lain, ada yang menganggap impian dan imajinasi kebaikan bersama seperti layaknya pertarungan sambit layangan yang tidak jarang memadukan kelihaian, atau mungkin kelicikan untuk memutus harapan-harapan lain. Pertarungan dan kompetisi saling unggul di angkasa adalah hal yang diwajarkan dalam bermain layangan bersama. Sehingga narasi harmonis dan estetis kebersamaan bisa pupus karena adanya ego untuk terbang tinggi unggul dari yang lain. Kita berhak memiliki dan menerbangkan layang-layang, tapi ada faktor eksternal yang membuat mimpi kita terbang indah di langit cerah atau malah justru terbang jauh terbawa angin lepas dari genggaman karena ego para pemainnya.

Ilmuwan Politik Belgia, Chantal Mouffe (2010) berpendapat bahwa demokrasi bukanlah jalan menuju konsensus penuh, melainkan arena pertarungan politik yang terencana dan terorganisir, di mana perbedaan pendapat, dan pandangan akan kebaikan bersama perlu mendapatkan pengakuan. Di sini kita diperkenalkan dengan agonisme politik, yang merupakan bentuk penghormatan akan pelumrahan pada suatu persaingan kepentingan antar lawan politik yang sah. Dalam proses ini kontestasi sambit layangan menjadi sah dan légitime. Langit adalah arena pertarungan politik yang sengit, bukan lagi arena perkumpulan harmonis dan menenangkan. Adu kelihaian atas harapan kebaikan bersama yang diumbulno menjadi permainan yang indah, disukai banyak orang, dan ditunggu-tunggu pula. Pertarungan politik sama halnya kompetisi dalam bermain layangan, siapa yang paling wah dan paling tinggi berayun angin kekuasaan di angkasa.

Langit adalah faktor penting dalam bermain layangan karena langit adalah arena penuh kekuasaan. Kembali pada detik ini kita berkaca, menengok kondisi langit yang kata arek-arek semakin peteng (gelap), kita lantas berpikir atas kekhawatiran untuk ngumbulno layangan. Apakah layangan yang khusus kontes yang menurut kita indah bisa kita apresiasi keindahannya di langit yang gelap? Lalu, apakah langit juga pas untuk bertarung sambit layangan? Ternyata di langit yang gelap ini, kita tidak bisa menikmati layangan yang berwarna-warni dan beraneka bentuk, mulai dari segi empat, kubus, tabung, burung elang, bentuk orang menarik becak, hingga ular naga. Kegelapan memupuskan harapan terbang layang-layang, bahkan harapan untuk memiliki layang-layang itu sekalipun.

Dari kegelapan hanya bisa kita dengar sayup-sayup suara sowangan layangan yang kadang menyerupai suara rintih tangisan. Dalam kegelapan semacam ini kontestasi sambit layangan pun menjadi sesuatu yang tidak menghibur, bukan pula sesuatu yang dinanti-nanti oleh arek-arek. Dalam kegelapan ini kita bahkan tidak berani berpikir untuk bisa memiliki layangan sendiri. Langit yang terlalu gelap membawa kemurungan atas daya harapan yang lama-lama tenggelam berputar pada pusara angin kencang di langit gelap. Pada awalnya mereka mengira bahwa gelapnya langit ini terjadi karena sudah tiba waktu malam, ternyata karena lampune dipateni. Meski sudah muter-muter petekan lampu tetap tidak ditemukan, langit tetap gelap dan kita tak punya daya menyalakan dan kembali khawatir untuk main layangan.

Layangan sawangan. Sumber: Pexel-quang vuong.

Angin yang berhembus kencang dalam kegelapan juga menimbulkan kekhawatiran akan turunnya hujan lebat. Praktik demokrasi yang kurang menitikberatkan aspek kedaulatan rakyat menghasilkan keserakahan para penguasa yang semakin bebal dan serakah. Rakyat yang tak kuasa punya layangan hanya bisa terdiam memandang langit gelap dengan pasrah, Kini, kita semakin cemas pada para Tuan dan Nyonya Besar yang semakin bebal dan semakin memagari tinggi rumah rakyat dari rakyat. Jalan dan jembatan akses warga kampung untuk berembug bersama di rumah rakyat pun dibiarkan putus. Kekhawatiran bukan hanya soal terputusnya akses, tetapi apakah akan semakin dihalangi untuk melintas guna berembug bersama. Pengesahan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI), memunculkan kekhawatiran kita pada laju para prajurit dengan sepatu laras keras yang kencang dan sulit dihentikan dalam larinya. Di belakangnya kelompok-kelompok lainnya turut mengantre untuk meloloskan Rancangan-Rancangan hasil demokrasi tanpa rakyat di Rumah Rakyat.

Banyak arek-arek enom yang diberkahi daya berpikir kritis kemudian resah untuk berada dalam kecemasan dalam kegelapan. Barangkali kritis saja tidaklah cukup, kita butuh cahaya untuk menyinari kegelapan dan menerbangkan harapan dan mewujudkan kebaikan bersama untuk rakyat melalui urun rembug arek-arek bersama seluruh warga desa. Kita patut curiga bahwa jangan-jangan akses jalan dan jembatan yang putus dan dijaga ketat itu bukanlah jalan menuju rumah rakyat dan rumah yang menjadi tujuan kita itu bukanlah rumah rakyat. Mungkin rumah rakyat berada di tempat lain, atau bahkan perlu dibangun melalui urun rembug arek-arek bersama seluruh warga desa yang memiliki beragam keinginan dan harapan. Kebaikan bersama perlu dirumuskan bersama sebelum diumbulkan di saat yang tepat dan oleh orang-orang yang tepat pula.

 


Dua Pena yang Berlayang
Irfa’i Afham — Pelatih dan penerbang layang-layang pemula, saat ini tengah mengembangkan konsep layangan tanpa benang yang mampu menerangi dan menemani dalam kegelapan. Instagram: @irfaiafham
Lintang Wahyusih Nirmala — Pemerhati langit yang terus berikhtiar menerbangkan layangan impian dan membangun harapan bersama untuk masa depan yang lebih baik. Instagram: @lintangwhysh


Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Ngumbulno Demokrasi dalam Kegelapan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ngumbulno-demokrasi-dalam-kegelapan/feed/ 0