Orang-orang tjigrok Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/orang-orang-tjigrok/ Tue, 10 Dec 2024 03:35:59 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Orang-orang tjigrok Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/orang-orang-tjigrok/ 32 32 Mentrik https://bangbangwetan.org/mentrik/ https://bangbangwetan.org/mentrik/#respond Wed, 25 Sep 2024 09:37:54 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=929 Oleh : Prayogi R. Saputra             Mentrik seorang guru Sekolah Dasar. Dia belum satu tahun diangkat jadi pegawai negeri. Setiap pagi, dia mengenakan seragam guru dan berangkat mengajar di sekolah […]

Artikel Mentrik pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Oleh : Prayogi R. Saputra

            Mentrik seorang guru Sekolah Dasar. Dia belum satu tahun diangkat jadi pegawai negeri. Setiap pagi, dia mengenakan seragam guru dan berangkat mengajar di sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya. Perjalanan hampir 15 kilometer itu dilalui dengan melintasi beberapa jembatan dan sekali menyeberangi sungai kecil yang belum memiliki jembatan.

            Di sungai kecil itu, ada sebuah rakit bambu yang dioperasikan oleh dua orang tua untuk membantu orang-orang menyeberang. Setiap waktu, selalu ada orang-orang yang mengantri untuk menyeberang. Setelah tiba di seberang sungai, biasanya mereka akan memberikan uang jasa alakadarnya dengan melemparnya ke kaleng biskuit yang disediakan di haluan rakit.

            Suatu pagi di musim hujan, Mentrik berangkat ke sekolah seperti biasanya. Dia mengenakan blazer dan rok warna abu-abu pemberian pemerintah. Menjelang sungai kecil, orang-orang yang hendak menyeberang harus melewati jalan yang menurun di tengah pokok-pokok bambu. Jalan itu berubah jadi timbunan debu di musim kemarau dan licin serta berlumpur di musim hujan. Mentrik turun lalu menuntun sepeda motornya. Dan sial, jalanan terlalu licin. Mentrik jatuh terperosok ke kubangan lumpur. Sedangkan sepeda motor menimpa sebagian kakinya. Tak  ada seorang pun di sana. Sementara, rakit sedang menunggu penumpang di seberang.

            Mentrik mencoba bangkit tanpa bantuan siapa pun. Tapi, dia kesulitan. Sampai beberapa menit, seseorang datang. Laki-laki muda itu mengenakan seragam tentara lengkap dengan sepatu boots. Dia seorang Sersan. Melihat Mentrik terduduk di lumpur, dia bergegas membantu Mentrik. Mereka bersitatap. Sersan muda itu bertubuh tinggi, hidung mancung dan tatapan mata yang tajam. Pakaian Mentrik belepotan lumpur. Sersan muda itu membantu Mentrik turun ke sungai dan sedikit membersihkan pakaiannya. Bukan itu saja, Sersan muda itu menawari Mentrik untuk mengantarnya pulang. Entah mengapa Mentrik tak kuasa menolaknya.

            Setelah hari Sersan muda itu mengantarkan Mentrik pulang, dia sering berkunjung. Lebih-lebih di hari-hari libur. Mentrik selalu menyambut baik kedatangan Sersan. Sedangkan orang tuanya juga baik menyambutnya, namun seperti menyembunyikan kekhawatiran.

            Hari-hari selanjutnya, Mentrik nampak lebih bersemangat. Pagi-pagi, dia akan menyiapkan diri dan berangkat ke sekolah lebih pagi dibanding hari-hari sebelumnya. Dia mulai sering bernyanyi-nyanyi sendiri di saat-saat senggang. Dia juga mulai suka berdandan. Rambut jagungnya dikeriting. Beberapa kali, Mentrik nampak membeli pakaian baru.

            Suatu kali, beberapa bulan kemudian, Sersan muda itu mengajak Mentrik ke acara vakansi. Bapak Mentrik awalnya ragu untuk mengizinkan. Dia beralasan tak elok mengizinkan anak perawan keluar bersama laki-laki muda. Apalagi, laki-laki muda itu  baru beberapa bulan dikenalnya. Mentrik sempat ngambek. Dia menolak makan dan bicara kepada Bapaknya yang jangkung itu. Di malam hari, Mentrik menangis di kamarnya. Hingga lewat tengah malam.

            Pagi-pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Bapak Mentrik menemuinya di dapur dan mengatakan Mentrik boleh pergi dengan sang Sersan dengan syarat benar-benar acara vakansi bersama rombongan teman-teman tentara. Tidak boleh jika hanya berdua. Mentrik tersenyum kecil. Dia mengangguk dan segera berangkat.

            Di tepi sungai kecil, sebelum turun ke rakit. Hampir setiap hari Sersan muda akan menunggu Mentrik. Lantas mereka akan naik rakit bersama. Di seberang, setelah menaiki jalan setapak akses ke sungai di sela-sela kebun singkong dan rimbun bambu, Mentrik akan mengambil jalan ke kanan, menuju ke sekolahnya. Sementara Sersan muda akan mengambil jalan ke kiri, menuju ke markasnya. Di atas rakit, kebetulan tak ada orang lain yang menyeberang selain mereka berdua, Mentrik menyampaikan kabar gembira, dia diizinkan Bapaknya mengikuti acara vakansi bersama Sersan muda. Mereka berdua tersenyum dan saling bertatapan.

            Beberapa bulan kemudian, Sersan muda menyampaikan niatnya kepada Mentrik kalau dia ingin menemui orang tua Mentrik secara  khusus. Dia akan mengajak serta orang tuanya yang tinggal ratusan kilometer dari Tjigrok. Mentrik terlonjak gembira dan mengatakan akan menyampaikan rencana itu lebih dulu kepada Bapaknya.

            Petang harinya, usai matahari terbenam, Mentrik menemui Bapaknya di ruang tengah. Bapak Mentrik sedang berdiam diri, berkaus oblong putih merk 555, sambil menepuk-nepuk telapak kaki kirinya dengan tangannya. Sarungnya tersingkap sampai hampir ke lutut Di hadapannya, satu gelas besar teh melati tubruk masih utuh, belum disentuh. Mentrik duduk di samping Bapaknya.

            “Mas Mono berniat mengajak orangtuanya ke sini, Pak?” kata Mentrik hati-hati.

            Bapaknya diam. Mentrik menunggu. Dua ekor cicak di dinding merayap, saling berkejaran, seperti sedang kasmaran. Desis lampu petromak mengisi kesunyian. Bayang-bayang mereka berdua terpantul di tembok belakang, diam tak bergerak.

            “Bagaimana perasaanmu?”

            Bapak Mentrik angkat bicara setelah kesunyian yang agak panjang. Dia mengangkat kacamatanya.

            “Seneng, Pak.”

            “Benar?”

            Mentrik mengangguk.

            “Kamu yakin?”

            “Nggih, Pak.”

            Bapak Mentrik menahan nafas sejenak.

            “Begini Mentrik, kamu tahu tugas tentara?”

            “Nggih, Pak?”

            “Mereka akan dikirim ke Timor-timur.”

            Mentrik menunggu.

            “Tak ada tentara yang pulang setelah dikirim ke Timor-timur. Bapak ndak mau kamu ditinggal tugas jauh.”

            “Itu sudah Mentrik pikirkan, Pak.”

            “Bagaimana kalau dia ndak pernah pulang?”

            Mentrik diam. Bapaknya juga diam. Dua ekor cicak tadi saling mendekatkan wajah. Mereka seperti berciuman. Bapak Mentrik mengangkat gelasnya, sambil berdiri.

            “Carilah suami, asal jangan tentara,” begitu tukasnya sambil berlalu pergi ke ruang depan.

            Seketika, Mentrik berlari ke kamarnya dan berikutnya terdengar suara pintu dikunci dengan sedikit kasar. Terdengar suara isak dari dalam kamar. Lampu petromak meredup, pertanda perlu dipompa lagi. Bapak Mentrik menurunkan lampu petromak, matanya berkaca-kaca. Dia tahu, Mentrik tak akan pernah lolos screening untuk jadi istri tentara. Dan itu karena kesalahannya dimasa lalu.*

Jamaah Maiyah, Penulis Buku Spiritual Journey Emha. Sedang terdampar mengais pengetahuan pada program Doktor di Universitas Islam Internasional Sultan Abdul Halim Muadzam Shah, Malaysia.

Artikel Mentrik pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/mentrik/feed/ 0
Marsih https://bangbangwetan.org/marsih/ https://bangbangwetan.org/marsih/#respond Wed, 25 Sep 2024 09:36:30 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=927 Oleh : Prayogi R. Saputra Hari menjelang siang. Anak  Taman Kanak-kanak sudah beberapa lama, pulang. Langit biru. Sebiru-birunya biru. Tak nampak setitik pun awan yang membuat noda. Angin segar berhembus […]

Artikel Marsih pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Oleh : Prayogi R. Saputra

Hari menjelang siang. Anak  Taman Kanak-kanak sudah beberapa lama, pulang. Langit biru. Sebiru-birunya biru. Tak nampak setitik pun awan yang membuat noda. Angin segar berhembus dari persawahan di belakang rumah Bunder.  Gunung Lawu yang angkuh membuat pagar lembah Takeran nun jauh di sisi barat. Di langit, seekor Elang Jawa melayang berputar-putar mengincar mangsa. “Uluuuuung!!! Uluuuuuung!!!” terdengar teriak anak-anak dari kejauhan. Rupanya, mereka sedang mengusir elang di langit agar tak  turun ke bumi, dan menyambar anak-anak ayam peliharaan mereka.

Saliyah berjalan membungkuk-bungkuk menuju dapur rumah Bunder. Dia menggendong senek, berisi dagangan. Seperti Bunder, seluruh rambut Saliyah juga telah memutih. Wajahnya tirus, tubuhnya kurus. Tapi, tiap hari nenek-nenek itu masih kuat berjalan kaki berkilo-kilometer untuk menjajakan dagangannya: sepuluh-duapuluh lembar tempe bungkus daun, beberapa bungkus kecil bawang putih dan barang merah. Sebungkus dua bungkus garam, sebungkus kecil minyak goreng curah, beberapa ikat sayuran segar, lada, ketumbar, dan beberapa rempah lain.

Sampai di dapur Bunder Saliyah menurunkan dagangannya. Bunder, Jumarni pun langsung menyambutnya dengan hangat. Dagangan tidak dibongkar. Senek ditelantarkan begitu saja. Bunder menawari Saliyah minum. Dia menyodorkan kendi kepada Saliyah. Saliyah mengangkat kendi dan langsung mengucurkan air dari kendi ke mulutnya.

               “Yu! Yu!” kata Bunder kemudian.

               Saliyah mengangguk.

               “Ono geger, Yu!”

               Saliyah mendekat,”Gek geger opo? Wong ayem tentrem ngene kok?”

               “Halah, ayem opo, Yu? Ngene loh Yu?” kata Bunder berbisik.

               “Mar, hamil.”

               “Hamil,” Saliyah terperanjat.

               “Masih perawan kok hamil?”

               Mata Bunder mengerdip-kerdip.

         Jumarni yang baru saja mendekat ke pawon untuk membetulkan kayu bakar ikut berkomentar,”Yadi!” katanya lirih.

               “He?” Saliyah tidak paham.

               Jumarni mendekat,”Yadi.”

               “Yadi, kenapa?” tanya Saliyah tak kalah lirih.

                Marni mendekatkan wajahnya ke wajah Saliyah “Dia pelakunya.”

               “Yadi?”

               Marni mengangguk meyakinkan.

               “Yadi yang mana?”

               Marni menunjukkan jarinya ke satu arah.

               “GustiAllah nyuwun ngapuro?” pekik Saliyah. Kali ini, dia tidak bisa mengontrol suaranya.

               “Suaminya Samini?” kembali suara Saliyah lirih.

               Marni mengangguk.

               “Terus bagaimana?”

               “Sstttttt……..!!!!!”

               Obrolan terjeda karena seseorang lewat di dekat mereka.

               Bunder mendekat ke pawon, mengecek kuali yang letaknya di lubang depan. Lalu, menggesernya ke lubang belakang dan menukar kuali di lubang belakang digeser ke depan. Meletakkan kukusan bambu, kemudian memindahkan nasi setengah matang itu ke kuali yang ada kukusannya. Sisa air  dari nasi setengah matang itu dimasukkan gelas.

               “Tajinnya buat siapa, Mbok?” tanya Marni.

               “Siapa-siapa yang mau?” kata Bunder.

 

Jamaah Maiyah, Penulis Buku Spiritual Journey Emha. Sedang terdampar mengais pengetahuan pada program Doktor di Universitas Islam Internasional Sultan Abdul Halim Muadzam Shah, Malaysia.

Artikel Marsih pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/marsih/feed/ 0
Kiai Takeran https://bangbangwetan.org/kiai-takeran/ https://bangbangwetan.org/kiai-takeran/#respond Wed, 25 Sep 2024 09:34:50 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=925 Oleh : Prayogi R. Saputra Malam itu,  ah bukan! Tepatnya, dini hari itu, kami akan melakukan sholat malam serta berdzikir. Lama. Biasanya hingga menjelang sholat subuh. Ada waktu sekitar 2 […]

Artikel Kiai Takeran pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Oleh : Prayogi R. Saputra

Malam itu,  ah bukan! Tepatnya, dini hari itu, kami akan melakukan sholat malam serta berdzikir. Lama. Biasanya hingga menjelang sholat subuh. Ada waktu sekitar 2 jam untuk  istirahat sebelum sholat malam dimulai. Hanya istirahat, tapi tidak boleh tidur. Dalam beberapa hari terakhir, kami dipaksa untuk selalu dalam keadaan terjaga,  sejak sebelum maghrib hingga matahari terbit. Anak-anak muda yang telah beberapa tahun terlatih dalam kanuragan  itu pun semburat bertebaran. Tentu saja, larangan untuk tidur itu kami sambut dengan gembira. Hanya tidak boleh tidur. Sangat sepele dan kaleng-kaleng.

Selama 3 tahun, saya biasa direndam di sungai tengah malam, tidur beralaskan tanah becek, dilatih fisik hingga muntah-muntah, berlatih tarung dengan sesama teman yang seringkali menghasilkan cedera. Yang hingga hari ini pun masih sering terasa. Jadi, kalau hanya dipaksa tidak boleh tidur, maka itu seperti ngemil kacang goreng sambil ngebut di  jalan tol Madiun-Surabaya.

Untuk mengisi waktu dua jam itu, ada kawan yang memilih tinggal di serambi masjid saja. Mengobrol. Berbisik-bisik. Ada yang pergi ke pelataran masjid, rebahan. Ada yang ke serambi samping. Atau duduk-duduk di bawah pepohonan. Ada yang rebahan di halaman. Ada yang pergi mengambil bekal minum atau makan.

Seseorang yang berambut cepak, agak pendek tapi kekar mendatangi serambi sisi selatan masjid. Tempat saya dan beberapa kawan memilih mengobrol sambil tiduran. Dia mengajak kami untuk ziarah ke makam  Kiai Hasan Ulama. Pendiri pesantren ini. Yang letaknya hanya di situ juga. Di kompleks pesantren. Mungkin, nama beliau, yang dalam sandiwara radio Srigala Mataram, disebut  sebagai Kiai Takeran. Yang kelak cicitnya akan jadi pengusaha media.  Orang yang kaya-raya. Tapi sederhana. Pengikut tarekat.

Cucu Kiai Hasan, konon kabar burungnya, pernah ditawari Soekarno jadi Menteri Agama. Ketika Republik baru merdeka. Tapi Beliau memilih tetap di Pesantren. Dan menyarankan “Mas Wahid Hasyim saja.”  Tiga tahun kemudian. Pada suatu hari Jumat. Selepas sholat Jumat. Cucu Kiai Hasan ini dijemput oleh laskar FDR. Bersama seorang Ustadznya, dibawa naik jeep entah kemana. Dan sejak siang itu, Beliau tak pernah pulang. Mayatnya pun tak pernah ditemukan. Seorang Kiai progresif, yang mati muda. Diusia 28 tahun.

Anak muda yang mengajak kami ke makam Kiai Hasan tadi adalah santri mukim di pesantren ini. Pesantren ini besar. Jaya. Sering didatangi para pejabat negara. Bahkan, disampingnya berdiri proyek Yayasan Dharmais. Di lahan yang sangat luas. Kabarnya, di situlah para calon transmigran transit. Atau dikarantina. Tapi entah mengapa, tak banyak santri mukimnya. Walaupun sekolah formalnya, sangat terkenal dan punya murid ribuan.

Saya ikut kerumunan anak-anak yang pergi ke makam. Untuk berkirim do’a. Bagi orang yang dihormati. Waktu itu, saya belum mendengar orang yang menyalahkan orang lain yang pergi ziarah ke makam. Dan membaca tahlil. Si pendek kekar duduk di barisan paling depan. Di luar cungkup makam. Sedangkan kawan-kawan lain berbaris di belakangnya. Saya memilih duduk di barisan paling belakang. Menghadap ke barat. Dengan baju hitam dan celana hitam. Serta sabuk kain warna putih yang sudah menjadi kecoklatan. Sama seperti semua anak yang ada di situ.

Kabarnya, Kiai Hasan Ulama, pendiri Pesantren Takeran ini, salah satu putra Kiai Khalifah, pejuang perang Jawa. Begitu Pangeran Diponegoro dijebak oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock.  Dalam sebuah silaturahmi Idul fitri. Lantas dibuang ke Manado. Para pejuang Selarong tidak melanjutkan perang. Mereka pun pergi. Menyingkir. Menyebar ke berbagai arah. Sebagian dari mereka melintasi gunung Lawu. Lantas menetap di pedesaan di sisi timur gunung Lawu.

Di desa-desa itu, mereka umumnya membuka kelas dan mengajarkan tentang Islam  kepada penduduk. Nama Hasan sendiri konon bukan nama sebenarnya. Itu hanya sebuah kode yang menunjukkan bahwa pemilik nama itu bagian dari jejaring pejuang perang Jawa. Sama halnya seperti pohon sawo yang ditanam di pekarangan.

Saya duduk saja dalam suasana remang lampu dari kejauhan. Pengetahuan agama saya tidak cukup memadai untuk ikut membaca bacaan tahlil yang panjang-panjang. Diantara suara menggeremang itu, samar-samar terdengar suara gemuruh air. Gemuruh itu berasal dari bendungan Jati. Yang jika ditarik garis lurus, mungkin  jaraknya 5-6 km dari tempat saya duduk. Sementara Tjigrok, rumah beberapa gembong PKI, ada ditengah-tengahnya.

Sampailah kami semua,  para calon pendekar itu, pada bacaan tahlil. Lā ilāha illa l-Lāh. Yang harus dibaca sekian ribu kali. Repetisi. Dengan irama tertentu. Disertai goyangan kepala. Yang bergerak secara auto. Tanpa  disengaja. Hingga lambat laun. Bacaan tahlil itu terdengar seperti diucapkan “i lo heng! i lo heng!  i lo heng”. Bercampur dengan suara gemuruh air. Dari bendungan Jati.

Di tengah suara yang ritmis itu. Saya terbayang perjuangan selama 3 tahun. Hingga suara-suara itu seperti tak terdengar di telinga. Ketika kami direndam di sungai. Yang setiap harinya digunakan untuk ngguyang kerbau, atau sapi. Terbayang juga ketika di hari minggu pagi,  kami diajak lari-lari di jalan raya, dengan baju belepotan lumpur, di antara anak-anak muda yang bersepeda. Berdandan cantik-cantik. Gantheng-gantheng. Pelesir ke gunung Bancak.

Juga terbayang ketika suatu malam minggu kami diajak lari keliling oleh pelatih. Dua puluhan orang kawan. Lantas Kemin, pelatih itu, memilih jalur ke selatan. Ke tempat latihan  perguruan silat Bunga-bunga. Tanpa kami tahu, ternyata Kemin punya rencana jahat. Atau nekad. Setiba di depan rumah Pak Lurah desa sebelah, tempat latihan silat Bunga-bunga, kami disuruh terus berlari. Sementara dia seorang diri mampir ke halaman  rumah Pak Lurah. Bukan untuk ngopi, tapi langsung menyerang pelatih Bunga-bunga. Yang sedang melatih sekitar sepuluh orang. Dengan sebuah jab tepat di hidungnya. Tak ada perlawanan. Hanya ada sekali teriakan. Darah menetes dari hidungnya. Lantas mereka semua lari, masuk ke dalam rumah Pak Lurah. Sementara kami terus berlari-lari kecil.

Terbayang pula ketika sebuah kampung di Kawedanan diserbu oleh ribuan orang. Hingga semua kaca rumah di kampung itu pecah berantakan. Hingga di pagi harinya, mobil pick up keluar masuk kampung itu mengangkut pecahan kaca. Lantas keesokan harinya, para senior saya menghilang dari rumah. Ada yang ditangkap polisi. Ada yang lari ke kalimantan. Jumlahnya ratusan. Hingga latihan kami dibekukan.  Tentu saja hanya di atas kertas. Sebab, di lapangan, kami tetap latihan. Meskipun diam-diam.

Hingga sebuah bentakan mengagetkan saya. ,”Hayo! Wiridan atau tidur???” Ah, Bukan! Ternyata bentakan itu bukan hanya mengagetkansaya, tapi mengagetkan kami semua. Semua langsung tergagap. “Turu ae!!!” tendangan pun segera menghantam tubuh beberapa kawan. Bak!!! Bukk!!! Bak!!! Bukkk!!! Tak ada yang lari. Tak ada yang menghindar. Kami salah. Dan wajib menerima hukuman. Kami pun segera dibariskan. Tak ada yang bicara. Hanya bisik-bisik saja.  Ternyata, ditengah ritmis suara i lo heng, semua ketiduran. Bahkan si imam tahlil. Yang anak pondok mukim itu.

Bayangan tentang perjuangan langsung hilang. Berganti dengan bayangan, tentang hukuman.*

 

Jamaah Maiyah, Penulis Buku Spiritual Journey Emha. Sedang terdampar mengais pengetahuan pada program Doktor di Universitas Islam Internasional Sultan Abdul Halim Muadzam Shah, Malaysia.

Artikel Kiai Takeran pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kiai-takeran/feed/ 0
Kemuning https://bangbangwetan.org/kemuning/ https://bangbangwetan.org/kemuning/#respond Wed, 25 Sep 2024 09:33:20 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=921 Oleh : Prayogi R. Saputra Gadis kecil itu berdiri di pekarangan. Beberapa kali dia nampak mondar-mandir mengambil air dan menuangkannya ke panci kecil. Lalu, dia mengaduk-aduk panci itu beberapa waktu. […]

Artikel Kemuning pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Oleh : Prayogi R. Saputra

Gadis kecil itu berdiri di pekarangan. Beberapa kali dia nampak mondar-mandir mengambil air dan menuangkannya ke panci kecil. Lalu, dia mengaduk-aduk panci itu beberapa waktu. Panci itu diletakkan di atas 2 buah bata merah yang disusun sejajar. Diantara bata satu dengan yang lain ditata beberapa batang ranting kering dari kayu johar. Kadangkala, dia meniup ranting itu. Mungkin, dia menganggapnya sebagai kayu bakar. Dia meniup bara untuk membuat api menyala. Sesekali, dia menyibakkan poni rambutnya yang menutupi mata.

Beberapa saat kemudian, gadis itu menata piring-piring mungil berbahan plastik, mengisinya dengan adonan tanah dan air, lantas mengaturnya dengan sempurna di atas tikar kecil. Lantas dia duduk di atas tikar, menuangkan air ke gelas plastik dan mulai upacara makan. Tak ada orang lain di pekarangan. Bahkan, ayam-ayam pun tak nampak berkeliaran di pekarangan. Seekor kucing melompati pagar rendah, lalu berjalan kaki dengan santai ke arah barat. Burung elang berputar-putar diangkasa mengincar anak ayam untuk sarapan. Suara burung Kedasih menjerit-jerit sedih diantara pepohonan.

Seorang laki-laki umur 35 tahunan  berseragam tentara mendekati pekarangan. Dia berhenti di luar pagar. Beberapa menit, laki-laki itu berdiri saja, mengamati  si gadis kecil. Sesekali dia tersenyum. Bola matanya menerawang. Dia mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam saku seragamnya yang sudah lusuh lalu duduk mengatur sesuatu. Laki-laki itu nampak merencanakan sesuatu. Dia menoleh kekanan, kekiri, kebelakang. Nampak ragu-ragu sejenak. Kemudian, dia pergi. Bungkusan plastiknya tertinggal di sebelah batu hitam.

Rupanya, si gadis kecil belum menyelesaikan makan paginya. Seorang anak laki-laki berseragam Taman Kanan-Kanak melintas di jalanan di luar pekarangan. Tak bersepatu. Dia memandang si gadis kecil. Tas punggung warna merah nampak berat, diseret disepanjang jalan tanah berdebu. Dia tetap berjalan sembari menatap gadis itu lekat-lekat. Sampai di bawah pohon kenanga yang besar, anak laki-laki tak bersepatu itu berhenti. Dia mengambil sesuatu dari bawah pohon, mengamatinya sejenak, lantas memainkannya.

Laki-laki berseragam tentara tadi datang kembali. Dia seperti memegang sesuatu, tapi menyembunyikan tangannya dibelakang punggungnya. Laki-laki berseragam itu mendekat ke pekarangan dengan langkah pelan-pelan, nyaris mengendap. Lantas berdiri dibalik pagar rendah sepinggang.

            “He….!!!” panggilnya.

            Si Gadis kecil tak menoleh.

            “Sstttt…..!!!” panggilnya lagi.

Si Gadis kecil tetap tak menoleh. Anak laki-laki tak bersepatu asyik memainkan 2 kuntum bunga kenanga sebagai figur yang saling bicara. Laki-laki berseragam itu mengambil sesuatu dari tangan kirinya, rupanya sekuntum bunga. Lantas dia lemparkan sekuntum bunga itu ke arah si gadis kecil. Si gadis kecil sedikit terkejut, lalu mencari-cari dari arah mana gerangan bunga itu dilemparkan.

Gadis kecil itu memandang berkeliling, sambil tetap duduk menghadapi hidangannya. Tak ada siapa-siapa. Dia kembali melanjutkan makan paginya. Kali ini, dia mengambil sesosok boneka dari dalam kardus, lantas menimangnya. Gadis kecil itu berdiri, menggendong bonekanya. Rupa-rupanya dia berusaha menenangkan bonekanya. Berusaha memberinya sedikit makanan. Satu suap. Dua suap. Tiga suap. Gadis kecil itu mirip ibu muda yang berusaha menidurkan bayinya.

Rupanya, si laki-laki berseragam berlindung dibalik pagar untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan si gadis kecil. Tapi, dia mengamati gerak-gerik gadis kecil itu dari lubang pagar yang runtuh beberapa susunan batanya. Matanya nampak menyimpan kesedihan yang dalam. Pelan-pelan, dia bangkit. Sedikit ragu-ragu. Akhirnya dia berdiri, mengambil sekuntum bunga kemuning terakhir dari tangan kirinya, dan melemparkannya ke arah si gadis kecil.

Bunga itu jatuh tepat di gendongan si gadis kecil, menimpa boneka bayinya. Dia menoleh dan melihat laki-laki berseragam tersenyum kepadanya. Gadis kecil itu terkejut dan sontak menjerit sejadi-jadinya.

            “Buuuuukkkkkkkk!!!!!!! Ibuuuukkkkkkk!!!!!!”

            “Ibbbuuuukkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

            Gadis itu menangis.

Sontak dari dalam rumah seorang ibu muda menghambur keluar.  Dia buru-buru memeluk gadis kecil itu. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Sementara, demi mendengar jeritan dan tangisan si gadis muda, anak laki-laki tak bersepatu kontan melihat ke arah datangnya suara. Dia menatap laki-laki berseragam dan seketika lari tunggang-langgang.

            “Marijah!!!!!!!! Marijah!!!!!!! Wong edan!!!!!!!!” teriaknya.

            Dia berlari kencang ke arah barat.

Mendengar teriakan anak laki-laki tak bersepatu, ibu muda tadi memandang ke arah jalan dan dia menemukan sesosok laki-laki berseragam tentara lusuh berdiri di luar pagar. Laki-laki itu diam mematung. Matanya tajam menatap ibu muda. Si  ibu muda menggendong si gadis kecil dan menenangkannya.

            “Sudah Kemuning, nggak apa-apa. Bapak itu tidak akan mengganggumu.”

Ibu muda itu kembali menatap ke laki-laki berseragam. Mata ibu muda itu nanar. Tatapan mata itu seperti menyimpan kasihan dan penyesalan yang dalam. Ibu muda itu berniat memberesi mainan si gadis kecil dan mengajaknya masuk, ketika dia melihat dua kuntum bunga kemuning tergolek di atas tikar. Ibu muda itu teringat, bertahun-tahun lalu, bunga kemuning serupa, sering dilemparkan oleh kekasihnya sebagai tanda janji untuk bertemu.*

 

Jamaah Maiyah, Penulis Buku Spiritual Journey Emha. Sedang terdampar mengais pengetahuan pada program Doktor di Universitas Islam Internasional Sultan Abdul Halim Muadzam Shah, Malaysia.

Artikel Kemuning pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kemuning/feed/ 0
Keluarga Sabar https://bangbangwetan.org/keluarga-sabar/ https://bangbangwetan.org/keluarga-sabar/#respond Wed, 25 Sep 2024 09:30:12 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=919 Oleh : Prayogi R. Saputra Dini hari tadi, Sodon akhirnya meninggal. Setelah beberapa kali dibawa ke Puskesmas dan dua kali masuk UGD Rumah Sakit Umum, Sodon harus menyerah. Mengaku kalah […]

Artikel Keluarga Sabar pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Oleh : Prayogi R. Saputra

Dini hari tadi, Sodon akhirnya meninggal. Setelah beberapa kali dibawa ke Puskesmas dan dua kali masuk UGD Rumah Sakit Umum, Sodon harus menyerah. Mengaku kalah pada penyakit yang menggerogoti masa mudanya. Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas tikar mendhong di tengah-tengah rumahnya yang kecil. Harkekog, kakak perempuannya yang menyaksikan adiknya pergi, seorang diri. Hanya Harkekog yang menunggui.

Saat Sodon pergi, dia cuma menitikkan airmata. Tidak ada jerit histeris. Tidak ada tangis meraung. Belum genap seratus hari lalu, airmatanya dikuras oleh kematian  Sabar, bapaknya. Kini, dia kembali ditinggal pergi oleh Sodon, satu-satunya saudaranya. Tinggalah dia dan Jainem, Simboknya.

Sejak awal, keluarga Sabar menjalani garis hidup yang tragis. Sabar adalah laki-laki antah berantah yang kemudian menikahi Jainem, gadis Tjigrok yang agak kurang waras. Mereka bertemu di pasar sepur Madiun saat Jainem berjualan kembang sekaran, seperti juga perempuan-perempuan Tjigrok yang lain. Waktu itu, Kamis Kliwon malam Jumat Legi, hari yang baik bagi pedagang kembang sekaran. Pada hari itu, jumlah pembeli akan mencapai puncaknya. Banyak orang pergi nyekar ke makam.

Saat itu, Sabar menarik becak dan Jainem penumpangnya. Entah perasaan apa yang bergejolak diantara keduanya. Pada kerlingan pertama mata  Sabar, rupanya Jainem langsung menyambutnya. Maka, terjadilah apa yang harus terjadi. Sabar, laki-laki antah berantah itu resmi menjadi suami Jainem. Mereka pun tinggal di Tjigrok, kampung halaman Jainem. Sejak saat itu, Sabar melanjutkan kerja menarik becak di Madiun. Sementara Jainem tinggal di rumah. Dua hari sekali Sabar pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, anak pertama mereka  lahir. Perempuan. Diberi nama Harwati. Harwati bayi yang mungil, lucu namun nampaknya kurang begitu sehat. Maklum, apa yang bisa dilakukan oleh Jainem untuk mempersiapkan kelahiran janinnya. Untuk mengurus diri sendiri saja, Jainem tidak sepenuhnya mampu.

Benar saja, belum genap berumur satu tahun, orang mulai melihat kelainan pada diri Harwati. Kakinya besar sebelah. Orang-orang mulai  bergunjing bahwa itu adalah akibat dari dosa-dosa yang diperbuat  oleh Sabar.  Kabar pun beredar diantara para pedagang kembang sekaran. ”Sabar gemar main perempuan. Sabar sering terlihat sedang adu ayam. Sabar sehari-hari hanya main gaple belaka.” Begitulah vonis yang jatuh pada Sabar.

Orang-orang Tjigrok tidak tahu kalau Harwati sebenarnya terserang polio, penyakit yang mewabah di awal era 80-an. Apalagi, Sabar dan Jainem, mereka lebih tidak paham lagi. Bahkan, mereka berdua rupanya setengah percaya bahwa kaki Harwati cacat akibat kutukan atau kuwalat karena perilaku Sabar. Kelak ketika sudah bisa berjalan, Harwati harus mengandalkan  sebagian besar tumpuan tubuhnya pada kaki kiri yang jauh lebih besar ukurannya dibanding kaki kanan. Maka, mulailah dia dipanggil Harkekog.

Sabar kecewa.  Memiliki anak perempuan yang cacat seolah menjadi hukuman seumur hidup baginya dari masyarakat. Maka, dia mendamba-dambakan anak yang lahir sehat. Laki-laki  atau perempuan sama saja. Maka, tiga tahun kemudian, lahirlah anak  keduanya: laki-laki. Anak itu diberi nama Sodon. Entah apa artinya. Sabar hanya meyakini bahwa anak yang lahir harus diberi nama. Sebagaimana anak-anak lain pada umumnya.

Di hari lahirnya, Sodon juga mungil, lucu meskipun seperti saat Harwati lahir, bayi itu juga nampak kurang sehat. Sabar menunggu dengan cemas hari-hari yang berlalu. Dia berharap, Sodon akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan sempurna. Tidak seperti Harwati yang cacat. Sehingga, Sodon bisa diandalkan untuk melanjutkan keturunannya. Juga bisa diandalkan menjadi penopang hidupnya kelak saat dia sudah tidak mampu lagi bekerja.

Sementara, Jainem tidak peduli dengan itu semua. Bahkan, dia tidak peduli dengan dirinya  sendiri. Jainem baru  dianggap ada ketika ditengah malam pekat, dia berteriak-teriak mengutuki  Sabar, suaminya. Entahlah bagaimana awal terjadinya. Para tetangga pun tak pernah mengingat dan mempedulikannya. Mereka cukup memvonis bahwa Jainem gila dan semua pertanyaan pun selesai.

Sementara, ketika Jainem berteriak-teriak mengutukinya, Sabar juga tak ambil peduli. Sebab, dia menempelkan radio transistor ke telinganya. Bukan itu saja, Sabar bahkan memutarnya keras-keras hingga para tetangga ikut mendengar siaran wayang kulit semalam suntuk dari dalang Ki Anom Suroto.

Dan benar saja. Harapan Sabar terkabulkan. Setelah cukup besar, Sabar melihat tidak ada yang kurang pada tubuh Sodon. Utuh. Sehat. Sempurna. Kulitnya coklat dan rambutnya yang kemerahan lurus kaku. Sodon adalah anak yang  sempurna. Sabar girang. Ini pembalasan setimpal untuk orang-orang Tjigrok, begitu pikirnya.

Hari terus merambat. Musim berganti. Harkekog dan Sodon beranjak besar. Mereka memasuki usia sekolah. Harkekog nampaknya memiliki otak  yang lebih encer dibandingkan dengan Sodon. Saat kelas 2 SD, Harkekog sudah bisa membaca dengan baik. Biasanya selepas isya’, dia akan membaca  buku Bahasa Indonesia yang gambar-gambarnya dibuat oleh Siti Rahmani Rauf, terbitan Balai Pustaka, keras-keras. Cara membacanya memiliki lagu tertentu yang diseret dan nada menanjak dibagian akhir kalimat. Jadilah Harkekog terkenal diantara para tetangga. Harkekog sudah pintar membaca. Sementara Sodon, anak laki-laki yang digadang-gadang oleh Sabar, tenggelam dalam kebesaran Harkekog.

Dua tahun kemudian, Harkekog sudah bisa membaca Al Quran. Setiap hari selepas sholat maghrib di langgar hingga menjelang isya’, Harkekog membaca Al Qur’an. Kadang, dia mendaras di langgar Mbah Kimpling di seberang rumahnya.  Kadangkala, dia membaca  di rumahnya. Sama seperti saat membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia Ibu Rahmani, Harkekog membacanya keras-keras. Sementara Sodon entah kemana. Dia seolah lenyap  tak masuk perhitungan kendati dia sebenarnya juga tidak kemana-mana.

Saat lulus dari SMP, Sodon beberapa tahun menganggur di rumah. Kerjanya  hanya duduk-duduk saja. Dia tidak nampak terlibat dengan komplotan anak-anak muda Tjigrok yang gemar membuat onar, menyerang kampung lain, mabuk-mabukan atau main perempuan. Sodon tidak memiliki modal untuk terlibat di dalam komplotan itu. Dia juga tidak nampak pergi ke Musholla yang berdiri tepat di depan rumahnya.

Akhirnya, seorang tetangga mengajaknya  merantau  ke Kalimantan. Menurut kabar, dia masuk hutan untuk ikut bekerja sebagai penebang kayu. Beberapa tahun merantau, Sodon sudah bisa mengirim uang kepada Sabar dalam jumlah yang cukup besar. Dia berpesan agar uang itu dipergunakan untuk memperbaiki rumah.

Betapa bangganya Sabar waktu itu. Anak laki-laki yang dijagokannya sudah mampu mengirimkan uang untuk memperbaiki rumah. Anak yang sudah berhasil bekerja dan sanggup membenahi rumah orang tuanya adalah kebanggaan tersendiri bagi orang desa. Rumah Sabar seluas 36 meter persegi yang awalnya berlantai tanah, berdinding bata ekspose serta jendela yang ditutup tripleks kini berganti dengan lantai keramik, jendela kaca dan atap teras rumah yang dicor beton. Kendati sederhana, namun rumah Sabar nampak lebih bersih dan layak.

Belum sempat Sodon pulang untuk melihat buah kerja kerasnya, seorang tetangga yang bekerja bersama Sodon mengabarkan bahwa Sodon terserang malaria. Atas saran tetangganya, dia pun memutuskan tak akan kembali lagi masuk ke hutan. Lantas  dia bekerja sebagai buruh bangunan di Kalimantan, mengikuti seorang tetangga  lain yang menjadi pemborong.

Sementara itu, Harkekog tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Pernah dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Madiun, namun tak kerasan. Akhirnya dia memilih tetap tinggal di rumah saja. Menunggu laki-laki datang melamarnya. Namun bertahun-tahun, saat teman-teman seusianya sudah melahirkan 2 atau 3 orang anak, tidak juga ada laki-laki yang datang melamarnya. Untungnya, Harkekog  tak nampak jatuh putus asa. Dia tetap saja seperti Harkekog lebih dari dua puluh lima tahun lalu: mengaji selepas maghrib hingga isya’ dengan suara yang keras.

Namun seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Suatu sore di musim hujan, Sodon diantar pulang oleh tetangga yang dulu mengajaknya merantau dalam keadaan sakit. Sodon dipapah turun dari mobil carteran  oleh Sutik, tetangga yang menjadi bosnya di Kalimantan.

Menurut kabar yang tersiar, sakitnya Sodon tidak normal. Namun, bisik-bisik yang beredar di bawah tanah, Sodon diserang komplikasi karena selama bekerja di Kalimantan, dia mengkonsumsi obat-obatan berbahaya. Badannya kurus, kulitnya hitam bersisik dan ada bintil-bintil luka di sekujur tubuhnya. Rambutnya kusam dan gigi-giginya yang menghitam sebagian telah tanggal.

Setelah sore yang gerimis itu, setiap hari, Sodon hanya bisa duduk-duduk di beranda rumahnya yang tanpa halaman. Tidak nampak  lagi keperkasaannya sebagai kuli penebang atau buruh bangunan. Dia telah begitu lemah dan pucat. Beberapa kali dia keluar masuk Puskesmas. Pernah juga berobat ke Rumah Sakit, namun kesehatannya tidak juga membaik. Sodon telah digerogoti penyakit yang tak mungkin dipulihkan. Maka, bertambahlah beban  Sabar. Hingga tubuhnya yang sudah menua harus bekerja lebih keras lagi. Padahal, kekuatannya sudah jauh menurun. 20 tahun lalu, Sabar sebagai kuli angkut sanggup menurunkan 5 ton bekatul dari atas truck ke gudang seorang diri. Sekarang, dia hanya mampu memijat. Sekarung pun dia tidak sanggup lagi  mengangkat.

Suatu pagi Sabar jatuh pingsan. Para tetangga mulai kasak-kusuk. Mengapa Sabar yang tidak pernah sakit mendadak jatuh pingsan? Tidak ada yang menyebarkan kabar miring. Sudah bertahun-tahun Sabar tidak pernah terlibat dalam perjudian, apalagi  main perempuan. Beberapa waktu belakangan, dia bahkan tidak pernah terlihat sedang merokok.

Satu minggu Sabar  terbaring di tikar mendhong di tengah rumahnya yang kecil. Dan sejak pagi itu,  dia tidak pernah sadarkan diri hingga diusung ke pemakaman  Tjigrok. Sabar telah pergi. Meninggalkan Jainem, Harkekog dan Sodon tanpa sumber nafkah. Semua beras dan sumbangan kematian digunakan untuk dzikir fida’. Sebuah tradisi mendoakan orang yang telah meninggal. Dzikir fida’ oleh orang-orang Tjigrok dianggap sebagai level paling tinggi dari upaya mendoakan si mati.

Hanya itulah yang bisa diusahakan oleh keluarga Sabar untuk mengawal kepergian Sabar ke alam baka. Mereka berharap, doa-doa yang tak seberapa itu bisa mengantarkan Sabar ke tempat terbaik di alam sana. Sekarang, tinggallah Harkekog sebagai tulang punggung keluarga. Gadis pincang yang harus menghidupi Simbok dan adik laki-lakinya. Harkekog pun menerima pekerjaan apa saja dari para tetangga untuk membuat dapur tetap mengepul. Mencuci baju, menyetrika, memasak atau membayarkan tagihan listrik. Semua pekerjaan dilakukan Harkekog, karena memang tidak ada pilihan lain.

Malangnya, belum genap seratus hari sepeninggal Sabar. Sodon tak mau makan. Tak mau minum. Tubuhnya menolak  asupan apa pun. Selama satu minggu, Sodon hanya berbaring di atas tikar mendhong ditengah rumahnya, tempat seratus hari sebelumnya Bapaknya terbaring. Setetes air pun tak sanggup dia telan. Hingga dini hari itu, dengan hanya ditemani Harkekog, kakaknya yang pincang, Sodon meninggal di tempat Sabar menghembuskan nafas terakhir.

Usai pemakaman adiknya, Harkekog benar-benar harus mengambil alih tanggungjawab sebagai kepala keluarga. Dia yang bertanggungjawab mencari uang untuk menghidupi Simboknya sambil tetap berharap, suatu ketika, seorang laki-laki akan datang melamarnya.*

 

Jamaah Maiyah, Penulis Buku Spiritual Journey Emha. Sedang terdampar mengais pengetahuan pada program Doktor di Universitas Islam Internasional Sultan Abdul Halim Muadzam Shah, Malaysia.

Artikel Keluarga Sabar pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/keluarga-sabar/feed/ 0