#KHZainulArifinArif Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/khzainularifinarif/ Thu, 10 Apr 2025 08:18:34 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #KHZainulArifinArif Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/khzainularifinarif/ 32 32 Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/ https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/#respond Thu, 10 Apr 2025 08:18:34 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1949 “Kalau kamu punya keinginan, kemauan, dan   cita-cita,   maka   segerahlah untuk membulatkan tekad dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya”, begitulah dawuh Murabbi Ruhii, Romo KH. Zainul Arifin Arif, pengasuh PP Roudlotunnasyi’in […]

Artikel Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
“Kalau kamu punya keinginan, kemauan, dan   cita-cita,   maka   segerahlah untuk membulatkan tekad dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya”, begitulah dawuh Murabbi Ruhii, Romo KH. Zainul Arifin Arif, pengasuh PP Roudlotunnasyi’in Beratkulon kepada para santri dan alumni. Beliau adalah putra kedua pendiri pondok yang terletak di kecamtan Kemlagi Mojokerti itu, Al-Maghfurlah Romo KH. Arif Hasan, seorang santri kesayangan Hadratu Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau sering menukil syair Arab karya Syauqi Bik sebagai landasannya

قف دون رأيك في الحياة مجاهدا # إن الحياة عقيدة وجهاد

“Peganglah gagasanmu dalam hidup ini dengan penuh kesungguhan, sebab sesungguhnya hidup tak lain adalah keyakinan dan perjuangan.”

Demikian halnya saya. Ketika berada pada titik nadir –naik kelas gantungan– maka segera saya bulatkan tekad untuk bangkit, cancut tali wondo agar segera bisa lepas dari ikatan tali naik gantungan menuju naik permanen. Segala daya dan upaya saya kerahkan. Malu rasanya kalau tali gantungannya putus dan jatuh, turun lagi di kelas lima MI. Dijelaskan dalam kitab Ta’limul Muta’allim:

من قرع الباب ولج ولج

“Barang siapa mengetuk pintu kemudian dia maju maka dia niscaya berhasil masuk ke dalam dan memperoleh apa yang ia maksud.”

Waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih lumayan bagus. Kiriman bulanan berjalan lancar dan cukup untuk biaya kebutuhan mondok. Saya meminta Bapak membelikan semua kitab-kitab turots (kitab kuning) dan buku-buku yang saya perlukan. Alhamdulillah, Bapak memenuhinya. Buku dan kitab-kitab itu saya jaga, saya rawat dengan satu cara yaitu memberinya samak dengan kertas kalender usang atau beberapa dengan samak plastik. Bahkan kitab-kitab turots seperti kitab Mabadil Fiqhi, Nurul Yaqin, Aqidatul Awwam, Washoya saya tulis ulang di buku tulis. Jarak tulisan garis pertama ke garis kedua, garis kedua ke garis ketiga dan seterusnya saya buat lima baris. Lima baris yang kosong itu untuk ditulisi makna arab pegongandul atau “jenggot” dari terjemahan Ustad yang “mbalah” kitab-kitab tersebut. Saya pastikan tidak ada satupun kalimah (kata) dalam kitab itu yang saya tidak tahu artinya, karena setiap kata yang saya tidak tahu artinya, saya kasih makna/ terjemah. Setiap selesai ngaji kitab, selalu saya baca ulang. Makna dan intonasi, titik dan komanya saya pastikan sama persis dengan pembacaan Kiai dan Ustadz. Hal ini akhirnya menjadi perilaku dan kebiasaan saya di dalam mengaji.

Masih dari Ta’limul Muta’allim, disebutkan:

بقدرالكد تعطى ما تروم #  فمن رام المنى ليال يقوم

“Capaian itu berbanding lurus dengan upaya atau pengorbanannya, maka barang siapa yang ingin mendapat anugrah Allah harus mau bangun di malam hari.”

Kerja keras saya berbuah. Saya bisa bertahan di kelas enam sampai akhir tahun pelajaran. Saya sangat bersyukur karena bukan hanya bisa lolos dari sanksi “naik gantungan” namun juga langsung mencolot menjadi santri The Best Three. Pengalaman batin ini mengingatkan  saya  pada  dawuh  Mbah  Nun  bahwa

“Rejeki, nikmat dan anugerah Allah iku gak rupo sing enak-enak thok reeek. Masiyo gak enak, yo iso dadi rejeki songko Allah tergantung awakmu kabeh iki sikape. Enak soro, seneng sumpek, bathi rugi iku kabeh iso dadi rejeki teko Pengeran nek atimu iso nrimo lan iso husnudhon nang Pengeran.”

Dari sini saya terus belajar dan membiasakan diri untuk selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. Naik kelas gantungan saya jadikan pijakan kokoh untuk melompat tinggi dan capaian dari-Nya saya syukuri sebagai upaya untuk mengaktualisasi anugerah-Nya.

Surat Ibrahim (14) Ayat 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab- Ku sangat pedih.”

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/feed/ 0