#MudikLebaran Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mudiklebaran/ Tue, 01 Apr 2025 01:55:53 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #MudikLebaran Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mudiklebaran/ 32 32 Mudik: Jejak Kembali ke Asal https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/ https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/#respond Tue, 01 Apr 2025 01:55:53 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1928 Apa kabar kawan? sudah berlebaran? Sudahkah merasakan udara damai pedesaan setelah sekian lama paru-paru menghirup udara kota yang penuh hiruk-pikuk duniawi? Ataukah tahun ini memilih menyelesaikan puasa di kota dan […]

Artikel Mudik: Jejak Kembali ke Asal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Apa kabar kawan? sudah berlebaran? Sudahkah merasakan udara damai pedesaan setelah sekian lama paru-paru menghirup udara kota yang penuh hiruk-pikuk duniawi? Ataukah tahun ini memilih menyelesaikan puasa di kota dan baru pulang ke desa setelah lebaran? Atau bahkan, tahun ini tidak ada kata mudik?

Kata “mudik” seolah menjadi sesuatu yang mustahil dihilangkan dari para perantau. Mahasiswa, pekerja, dan buruh yang menggantungkan hidupnya di kota pasti akan merindukan kampung halaman. Akan terasa gundah gulana jika lantunan takbir Idulfitri hanya terdengar dari kamar kos tanpa kehangatan keluarga.

Mudik telah menjadi tradisi yang melekat dalam masyarakat Indonesia, dan setiap orang memiliki motifnya masing-masing. Ada yang ingin bertemu kembali dengan keluarga di desa, ada yang sekadar bersilaturahmi dengan tetangga meskipun keluarga sudah tiada, ada pula yang ingin menunjukkan keberhasilannya di kota kepada sanak saudara. Tak sedikit juga yang menjadikan mudik sebagai formalitas belaka—”Idulfitri tanpa mudik, rasanya hambar.”

Namun, apakah mudik memiliki makna filosofis? Jika ditelusuri secara historis, ceritanya akan panjang dan berbeda di setiap daerah. Namun, kita bisa memulai dengan memahami makna mudik sebagai implementasi dari kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Mbah Nun pernah mengatakan bahwa perjalanan manusia itu melingkar—dari Allah, lalu kembali kepada Allah. Ibarat seseorang yang ingin ke Surabaya padahal sudah berada di Surabaya, ia tetap harus berputar dulu, mungkin melewati Gresik atau Sidoarjo. Begitu pula perjalanan hidup kita; sejauh apa pun kita melangkah, sesukses apa pun pencapaian kita, sejatinya kita semakin mendekat ke arah kepulangan sejati: kembali kepada Allah.

Mudik dan Idulfitri mengajarkan kita makna “kembali.” Kembali tidak hanya bermakna pulang ke desa, tetapi juga kembali kepada diri yang lebih fitri. Dalam hiruk-pikuk kehidupan kota yang penuh dengan perjuangan duniawi, Idulfitri mengajak kita untuk membersihkan diri, menyucikan hati dari berbagai penyakit yang menodai fitrah kita. Kullu mauludin yuuladu ‘alal fitroh—setiap manusia lahir dalam keadaan suci. Itulah yang ingin kita kembalikan di hari kemenangan ini.

Namun, mencapai kesucian sejati tentu bukan perkara mudah. Sebanyak apa pun kita meminta maaf kepada sesama, dosa kepada Tuhan tetap menjadi tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Maka, sebanyak apa pun maaf yang kita tebar, jangan merasa diri ini sudah benar-benar bersih. Hanya Allah yang Mahasuci dan Mahabenar. Idulfitri hendaknya menjadi momentum untuk berusaha menjadi lebih baik, dengan tetap bersikap tawadhu dan tidak merasa paling benar.

Selain menjadi ajang refleksi diri, mudik juga mengingatkan kita tentang kebahagiaan yang sering kali terlupakan. Di kota, kebahagiaan seolah menjadi sesuatu yang sulit dan mahal. Standar kebahagiaan pun semakin tinggi. Namun, di desa, kita diajak untuk kembali menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Ingatkah ketika kecil, kita mencari ikan dan mendapatkan dua ekor saja sudah membuat hati riang? Atau ketika diterima di kampus impian, ibu langsung memasak banyak dan membagikannya kepada tetangga? Kebahagiaan yang demikian tulus dan sederhana, yang sering kali dianggap remeh oleh logika kehidupan kota.

Momentum mudik juga memiliki aspek sosial yang tak kalah penting. Bagi para perantau, kota sering kali terasa seperti medan perang yang penuh dengan persaingan hidup. Kehidupan yang individualistis membuat interaksi sosial semakin berjarak. Di desa, kita kembali diingatkan bahwa sejak kecil kita telah diajarkan pentingnya bersosialisasi oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Mudik menjadi ajang untuk menyegarkan kembali nilai-nilai sosial yang barangkali mulai luntur setelah sekian lama hidup di kota. Sehingga, yang kita bawa pulang dari mudik tidak hanya pakaian baru, tetapi juga semangat baru dalam bersosialisasi dan bermanfaat bagi orang lain.

Jadi, Idulfitri bukan sekadar ajang bersalaman dan mengucap “Minal aidin wal faizin.” Lebih dari itu, desa asal kita menjadi pusat refleksi bahwa Idulfitri bukan hanya tentang momentum perbaikan diri, tetapi juga momentum sosial. Selamat mudik, kawan-kawan! Selamat berkumpul dengan keluarga, dan selamat berefleksi di Idulfitri tahun ini.

 

Jembar Tahta Anillah
Mojokerto, 29 Maret 2025. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Artikel Mudik: Jejak Kembali ke Asal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/feed/ 0
Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/#respond Tue, 11 Mar 2025 23:38:07 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1858 Prolog BangbangWetan Maret 2025 Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan […]

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog BangbangWetan Maret 2025

Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan spiritual. Menurut Mbah Nun, puasa mengajarkan kita bahwa hidup tidak hanya tentang hak, tetapi juga tentang kewajiban, larangan, dan anjuran. Puasa melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesadaran bahwa manusia sejati adalah yang mampu menahan diri demi mencapai ketakwaan.

Bagi banyak orang, Ramadan menyimpan kenangan masa kecil tentang tradisi seperti ngabuburit, berbagi takjil, tarawih, ronda keliling, hingga khataman Al-Qur’an. Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum pembentukan diri. Dalam berbagai Maiyahan, Mbah Nun menegaskan bahwa keistimewaan puasa terletak pada hubungannya dengan Allah. Jika ibadah lain pahalanya diberikan kepada pelakunya, puasa adalah milik eksklusif Tuhan. Dengan satire, beliau menyampaikan bahwa manusia sejatinya lebih mencintai makan daripada berpuasa, namun justru dalam menahan lapar dan dahaga itulah ketakwaan meningkat.

Setelah menjalani puasa Ramadan, kita menantikan lebaran pada hari raya Idul Fitri. Mbah Nun memiliki pandangan menarik tentang Idul Fitri. Dalam Puasa itu Puasa (hal. 143), beliau menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan pribadi, tetapi juga momentum kolektif yang menjadikan kita lebih dari sekadar komunitas (community) atau masyarakat (society). Kita menjadi ummah, sebuah persaudaraan yang berlandaskan kohesi, ketulusan, dan daya tarik-menarik nilai-nilai Allah: kesederajatan antar manusia, kebenaran nilai, keadilan realitas, dan kebaikan akhlak.

Namun, Mbah Nun mengingatkan bahwa Idul Fitri harus membawa perubahan sosial yang lebih mendalam, bukan sekadar kegembiraan bersama keluarga dan teman. Keceriaan Lebaran tak boleh melupakan realitas bahwa di sekitar kita masih ada ketidakadilan, diskriminasi, dan eksploitasi. Sensibilitas terhadap hal ini penting agar Idul Fitri benar-benar menjadi gerbang perubahan yang memperkuat persaudaraan sejati dalam ummah.

Maka, kita diajak bertafakkur: sejauh mana kita telah mengupayakan nilai-nilai Idul Fitri dalam kehidupan? Lebaran sejati bukan hanya tentang kembali bersih, tetapi juga tentang kepasrahan total kepada Allah. Mbah Nun sendiri merayakan Lebaran dengan kepasrahan yang dalam, menyadari bahwa hakikat Idul Fitri bukan hanya tentang pengampunan dosa, tetapi juga ketundukan sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Sikap ini lahir dari ketakutan mendalam: jika Tuhan ‘ikut berlebaran’, tidak lagi menahan murka-Nya, apa yang akan terjadi pada kita? Jika Tuhan tak lagi menangguhkan hukuman atas kekufuran dan kesewenangan kita, bagaimana nasib kita? Penguasa besar maupun kecil akan terguling, dan mereka yang haknya dirampas akan menuntut keadilan.

Dalam Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Maret 2025, yang akan berlangsung pada 18 Maret di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, mari kita pasrah total kepada Allah, meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, dan berdoa sebagaimana yang diajarkan Mbah Nun dalam Puasa itu Puasa (hal. 147): Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, lindungilah kami. Bantulah kami mengidulfitri di lutut kuasa-Mu. Wa la aqwa ‘ala naril jahim. Di neraka, tak kuat hamba, ya Rabbi!

Oleh: Tim Tema Bangbang Wetan

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/feed/ 0