Prolog Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/prolog/ Mon, 30 Mar 2026 10:13:52 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Prolog Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/prolog/ 32 32 Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/ https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/#respond Mon, 30 Mar 2026 10:13:52 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2687 Indonesia hari ini seperti menghadirkan tafsir baru atas gagasan berdikari yang dulu melambangkan kekuatan, tetapi kini terasa sebagai keprihatinan. Rakyat dituntut mandiri bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk […]

Artikel Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Indonesia hari ini seperti menghadirkan tafsir baru atas gagasan berdikari yang dulu melambangkan kekuatan, tetapi kini terasa sebagai keprihatinan. Rakyat dituntut mandiri bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mencari rasa aman, padahal itu adalah hak mendasar yang seharusnya dijamin oleh negara. Penyiraman air keras terhadap seorang aktivis menjadi tanda bahwa bahkan di negara demokrasi, keamanan dalam bersuara seolah harus diupayakan sendiri.

Mbah Nun pernah merefleksikan bahwa negara dianalogikan sebagai Bapak dan tanah air sebagai Ibu (Pertiwi), sementara pemerintah hanyalah pengelola di dalamnya. Namun, hari ini, relasi itu tampak retak: anak-anak bangsa sibuk bertengkar, figur Bapak kehilangan wibawa, dan Ibu tak lagi sepenuhnya dicintai. Kerapuhan ini membuka celah bagi pihak luar untuk masuk dan menggerogoti apa yang seharusnya menjadi milik bersama. Bangsa ini seperti keluarga yang kehilangan arah dan pegangan.

Situasi ini menghadirkan kesan seolah rakyat sedang “diyatimpiatukan”, dalam arti hilangnya pemenuhan hak oleh negara. Di tengah kondisi yang memaksa mandiri, kita seakan hanya diminta mengulang kalimat, “Tetap bekerja, jangan berharap pada negara.” Padahal, berharap pada negara adalah sah, bahkan wajib dalam kerangka hak warga. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar bertahan, tetapi mengembalikan negara pada tanggung jawabnya.

Di tengah tuntutan hak pada negara, selayaknya juga perlu becermin: sejauh mana kewajiban sebagai warga telah kita jalankan? Taat aturan, jujur, atau hanya nyangkem ria di sosial media? Bisa jadi, retaknya relasi ini bukan hanya soal “orang tua” yang gak pokro, tetapi juga cermin dari “anak” yang sama durhakanya.

Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita buka bersama dalam forum BangbangWetan edisi April 2026. Teko ya, Rek!!!

Artikel Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/feed/ 0
Tirakat Ahsani Taqwim https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/ https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/#respond Wed, 25 Feb 2026 06:18:17 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2649 Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai […]

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan Tuhan atas kapasitas rasional manusia. Lalu, potensi apa yang sebenarnya sedang diuji melalui kepercayaan itu?

Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa puasa adalah metode tirakat untuk memproses diri menuju ahsani taqwim. Gagasan tersebut membuka ruang renung tentang manusia sebagai proyek yang terus dibentuk.

Sumber : caknun.com

Jika mentadabburi Al-Qur’an Surat At-Tin ayat 4–5, manusia disebut diciptakan dalam ahsani taqwim dan berpotensi njlungup ke asfala safilin. Kontras itu menandakan kondisi yang naik turun. Struktur tersebut dipahami sebagai perpaduan akal dan nafsu. Dari sanalah manusia memiliki kemungkinan untuk naik menuju kemuliaan atau turun pada kerendahan. Maka, apakah gelar luhur itu telah kita wujudkan, atau baru sebatas sebutan?

Ramadhan menghadirkan kesempatan membaca ulang posisi kita di antara dua kemungkinan tersebut. Di sinilah Bangbang Wetan edisi Maret 2026 mengajak bertirakat dengan kesadaran utuh, bukan hanya menjalani rutinitas tahunan. Apakah kita bertirakat Ahsani Taqwim, atau bahkan gak mengerti blas makna tirakat?

Mari temukan jawaban bersama di forum pencerahan Bangbangwetan pada tanggal 8 Maret 2026, Nang Pendopo Cak Durasim. Teko yo rek!

Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/feed/ 0
NGABUDAYA   https://bangbangwetan.org/ngabudaya/ https://bangbangwetan.org/ngabudaya/#respond Mon, 26 Jan 2026 03:02:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2629 Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026 Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada […]

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026

Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti Reog Ponorogo, jathilan, ludruk, atau dalam bentuk arsitektur seperti candi atau tempat-tempat bersejarah yang memiliki makna. Tidak salah berpikir seperti itu. Namun, lebih tepatnya semua simbol dan kesenian itu adalah output dari yang namanya “budaya”.

Kita tahu Mbah Nun juga sering disebut budayawan. Tapi tahukah kita bagaimana sebenarnya Mbah Nun memahami budaya dan apa nilai penting budaya menurut beliau? dalam sebuah esai “apa pentingnya budaya?” Beliau memberikan pintu masuk yang sangat fundamental untuk memahami arti budaya. Bahwa salah satu pengertian budaya adalah mutu berekspresi manusia.

Sumber: Kata Maiyah

Ekspresi apa yang dimaksud oleh Mbah Nun sebagai elemen penting dalam budaya? Lalu,  bagaimana ekspresi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari sehingga kita bisa secara sempurna “ngabudaya”?

Jawaban itu akan kita temukan bersama dalam forum Bangbang Wetan edisi bulan Februari 2026 di Pendopo Cak Durasim.

Teka ya rek, Ngabudaya bareng-bareng.
Selasa, 3 Februari 2026 / Shaʻban 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ngabudaya/feed/ 0
PUING-PUING BAHTERA NUH https://bangbangwetan.org/puing-puing-bahtera-nuh/ https://bangbangwetan.org/puing-puing-bahtera-nuh/#respond Sat, 27 Dec 2025 04:16:48 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2580 Prolog Bangbang Wetan Bulan Januari 2026    Kita kerap memahami sebuah bangsa dan negara melalui analogi kapal. Hal ini mungkin muncul karena Indonesia adalah negara maritim, sehingga kapal menjadi gambaran yang […]

Artikel PUING-PUING BAHTERA NUH pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Januari 2026   

Kita kerap memahami sebuah bangsa dan negara melalui analogi kapal. Hal ini mungkin muncul karena Indonesia adalah negara maritim, sehingga kapal menjadi gambaran yang dekat dengan keseharian kita. Secara teknis pun, kapal memang tepat dianalogikan sebagai negara dibandingkan alat transportasi lainnya. Kapal tidak bisa berhenti atau berjalan di sembarang tempat. Jalurnya tanpa marka, sehingga seorang nahkoda tidak hanya dituntut pandai mengemudi, tetapi juga cakap membaca cuaca, ombak, dan arah angin. Hal ini menandakan bahwa kapal merupakan analogi yang tepat untuk menggambarkan sebuah negara.

Berhubung salah satu aspek kunci Maiyah adalah menelusuri jalan nubuwwah, jalannya para nabi terdahulu, maka ketika membahas tentang kapal, yang terlintas secara khusus adalah Nabi Nuh dengan kisah bahteranya yang sangat fenomenal dan sarat makna, baik secara eksplisit maupun implisit.

Kita tidak akan berfokus pada teknologi kapal, perawatan infrastruktur, maupun mitigasi bencana yang dilakukan Nabi Nuh. Kita justru berusaha menelusuri nilai (value) yang terkandung dalam seluruh peristiwa yang berkaitan dengan kapal Nabi Nuh, agar kita dapat berjalan di jalur nubuwwah pada tataran nilai.

Mbah Nun, dalam berbagai literaturnya, baik tulisan maupun forum Sinau Bareng, kerap memaknai dan menggali hikmah dari kisah kapal Nabi Nuh. Dengan lensa tadabbur, setidaknya terdapat dua pemaknaan utama Mbah Nun mengenai bahtera Nabi Nuh tersebut.

Kapal Nuh Abad 21

Pertama, Mbah Nun mengemukakan gagasan tentang Kapal Nuh Abad 21. Kapal Nuh abad 21 digambarkan tidak lagi bergerak menuju muara. Haluannya oleng dan mobat-mabit ke berbagai arah karena kemudinya diperebutkan oleh banyak orang yang mengaku mukmin dan muslim, merasa paling benar, dan ingin memimpin. Sesungguhnya, mereka bukan sedang menumpang Perahu Nuh, melainkan menaiki kapal nafsu masing-masing. Berlomba menonjolkan diri, saling menunjuk, mengepalkan ego, serta meneriakkan klaim kredibilitas, integritas, kompatibilitas, dan elektabilitas sebagai alasan untuk menjadi nahkoda.

Gambaran ini disampaikan Mbah Nun dalam seri Daur IV: Kapal Nuh Abad 21, yang menunjukkan bahwa masih banyak pemimpin yang, dalam bahasa Suroboyoan “epok-epok”, menutupi sifat buruknya dan menonjol-nonjolkan kebaikan yang sejatinya merupakan kewajiban dasar seorang pemimpin. Namun, kewajiban tersebut diperlakukan seolah-olah sebagai prestasi luar biasa. Hal ini menandakan bahwa elektabilitas dan validasi telah menjadi tujuan utama kepemimpinan di era sekarang.

Di samping itu, karena para pemimpin atau nahkoda kapal abad 21 ini memiliki nafsu yang begitu besar untuk dirinya sendiri, Kapal Nuh seakan-akan hanya menjadi kertas kosong. Kapal itu tampak kehilangan tujuan. Padahal, tujuan Kapal Nuh sudah jelas: menyelamatkan seluruh makhluk. Namun, setiap pergantian kenahkodaan, tujuan tersebut seolah lenyap, bahkan dimanipulasi sesuai dengan keinginan dan ambisi sang nahkoda. Inilah yang membuat haluan Kapal Nuh abad 21 menjadi oleng.

Dalam konteks Indonesia hari ini, yang setiap lima tahun menghadirkan lembaran baru ambisi para calon pemimpin negara, kita seakan lupa bahwa Indonesia bukanlah negara tanpa tujuan yang terus berubah setiap periode. Indonesia memiliki landasan yang kuat sejak 1945: UUD 1945, Pancasila, serta berbagai landasan hukum lainnya. Namun, di era sekarang, haluan tersebut tampak kabur, tertutup oleh nafsu dan ambisi para pemimpinnya, yang kerap tidak koheren, bahkan memanipulasi konteks landasan bernegara itu sendiri.

Dengan kondisi demikian, Kapal Nuh abad 21, yang kita ibaratkan sebagai negara Indonesia, tidak hanya oleng, tetapi bahkan seakan hancur menjadi puing-puing. Rakyat pun menjadi bingung dan nelongso: di manakah Kapal Nuh abad 21 yang benar-benar mampu menyelamatkan, menenteramkan, mendamaikan, dan menyejahterakan para penumpangnya?

Sumber: Kata Maiyah

Maiyah sebagai Bahtera Nuh

Pemaknaan kedua, Mbah Nun menegaskan bahwa Maiyah dimaknai sebagai Bahtera Nuh di tengah banjir kegila-duniaan, keserakahan, kekufuran, dan kemunafikan manusia modern. Kita dikepung oleh kebohongan, kepalsuan nilai, serta mekanisme hidup yang menjauhkan manusia dari hakikat kehidupan yang dikehendaki Allah Swt. Tak jarang, kondisi ini membuat manusia merasa tak berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Banjir tersebut bukan kehendak Allah, melainkan akibat dari hubbun-dunya dan nafsu manusia dalam pusaran modernisasi dan globalisasi. Dampaknya, anugerah keindahan dan kesejahteraan Indonesia justru berubah menjadi rasa inferior, keterpurukan, dan kehinaan.

Bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini memang bagian dari sunnatullah. Namun, jika ditelisik lebih dekat, bencana tersebut juga merupakan akibat dari ulah manusia sendiri, yang dikepung nafsu dan ambisi untuk meraih dunia sebanyak-banyaknya. Akibatnya, Indonesia yang sejatinya adalah anugerah Tuhan, berubah menjadi bencana bagi bangsanya sendiri.

Maiyah berupaya bersama-sama membangun kembali bahtera itu, berkumpul dan menyatukan puing-puing bahtera agar kembali menjadi kapal yang kokoh dan kuat. Dalam hal ini, Syekh Nursamad Kamba menyampaikan bahwa, atas rahmat dan kasih sayang Tuhan, Nuh hadir kembali sebagai simbol ratapan dan rintihan nurani manusia, sesuai makna asal namanya. Kebangkitan Nuh merepresentasikan suara batin manusia yang mengajak untuk kembali kepada Tuhan—atau setidaknya kembali kepada nurani, ketika makna ketuhanan telah banyak dimanipulasi. Seruan ini menegaskan bahwa hanya dengan kembali kepada nurani, manusia dapat menemukan “perahu” atau bahtera yang menyelamatkan dari badai kehancuran.

Sumber: Kata Maiyah

Mari kita rumuskan bersama! Apa saja puing-puing yang telah hancur dari Kapal Nuh itu? Bagaimana cara merangkainya kembali agar menjadi kapal yang kuat? Dan sejauh mana jamaah Maiyah mampu mempersatukan puing-puing tersebut?

Kita sinau barengkan semua itu pada Bangbang Wetan edisi Januari 2026. Teko yo rek!!
Minggu, 4 Januari 2026 / Rajab 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel PUING-PUING BAHTERA NUH pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/puing-puing-bahtera-nuh/feed/ 0
LAKON KHALIFAH https://bangbangwetan.org/lakon-khalifah/ https://bangbangwetan.org/lakon-khalifah/#respond Tue, 02 Dec 2025 09:14:44 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2546 Prolog Bangbang Wetan Bulan Desember 2025 Beberapa upaya untuk memisahkan spiritualitas, dalam hal ini Tuhan dan agama, dari kepentingan publik dan politik kini semakin masif dilakukan. Terutama kepada generasi muda […]

Artikel LAKON KHALIFAH pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Desember 2025

Beberapa upaya untuk memisahkan spiritualitas, dalam hal ini Tuhan dan agama, dari kepentingan publik dan politik kini semakin masif dilakukan. Terutama kepada generasi muda yang mudah di-brainwash dalam proses pencarian jati diri. Itulah sasaran empuk sekularisme. Para pemuda dibombardir narasi-narasi “Barat” agar tidak percaya diri terhadap budaya dan agamanya sendiri; didorong mengikuti arus pemikiran modern yang memisahkan hidup dari nilai-nilai ilahi. Di mana urusan agama hanya boleh berada di masjid, kuil, atau gereja; selebihnya prinsip ketuhanan dianggap tidak rasional untuk dipakai.

Bahasan semacam itu sudah menjadi “sego jangan” bagi Jamaah Maiyah, dengan nasihat yang terus-menerus dituturkan oleh Mbah Nun. Salah satu pituturnya adalah bahwa Islam merupakan agama kekhalifahan. Artinya, pekerjaan beragama bukan hanya perkara ibadah yang wajib kita jalani, tetapi juga bagaimana kita mampu mencerdasi, mengolah, dan memanfaatkan segala yang dianugerahkan Allah. Di situlah Islam menjadi agama kekhalifahan.

Lebih dalam lagi, mari sejenak memaknai kembali kata “khalifah”. Apa sebenarnya makna utuhnya? Selama ini khalifah seakan hanya menjadi mandat Allah kepada manusia, sebagaimana ibadah adalah tujuan penciptaan kita. Namun dalam kehidupan sehari-hari, apa makna khalifah yang benar-benar bisa kita jalankan?

Kita berangkat dari perkataan Mbah Nun:

“Saya tidak punya kemungkinan lain kecuali menjadi (dijadikan) Khalifah di Bumi oleh Pencipta Bumi, alam semesta. Menjadi khalifah adalah posisi khusus manusia: tugasnya adalah patuh dengan kesadaran akal. Segala sesuatu di alam patuh kepada Tuhan, namun tidak dengan kesadaran akal. Sungai, gunung, hutan, angin, dedaunan, embun, detak jantung manusia, aliran darah, kesegaran dan keausan jasad, waktu lahir dan mati—semuanya patuh pada kehendak-Nya. Tetapi patuh dengan kesadaran akal hanya dimiliki manusia, makhluk yang dibekali ‘supra-chips’ bernama akal dan cakrawala halus bernama kalbu.”

Poin pentingnya adalah bahwa tugas khalifah merupakan tugas makhluk yang harus patuh dengan kesadaran akal. Mbah Nun tidak memakai istilah “patuh pada akal”, sebab tidak semua yang muncul dari akal itu baik dan bijak. Ada unsur kesadaran: setiap produk akal harus melewati barrier muhasabah agar melahirkan tindakan yang baik dan bijak. Akal tanpa kesadaran bisa sangat liar. Orang yang korupsi, merusak alam demi ekonomi kapitalis, atau mencederai hukum demi ambisi politik—mereka “patuh pada akal”, bukan “patuh dengan kesadaran akal”. Mereka bukan orang bodoh; mereka pintar, cerdas, tetapi tanpa kesadaran. Bisakah mereka disebut “khalifah”?

Kesadaran adalah elemen penting dalam menjalankan “lakon khalifah”. Sebab manusia adalah makhluk kemungkinan, yang setiap detiknya bisa melakukan tindakan kebaikan dan keburukan. Berbeda dengan malaikat dan iblis yang merupakan makhluk kepastian, dengan tugas dan batas yang sudah ditetapkan sejak awal penciptaan. Maka “patuh dengan kesadaran akal” berarti memanfaatkan kepintaran dan kecerdasan untuk mengolah, memanage, dan memanfaatkan apa yang Allah berikan. Seperti petani yang mengkhalifahi tanahnya, pejabat yang memakai kecerdasan politiknya dengan sadar untuk negara dan rakyat, dan profesi-profesi lain yang menunaikan tindakan kekhalifahan masing-masing.

Khalifah adalah tugas wajib manusia. Bukan keniscayaan, bukan harapan, bukan pula cita-cita. Tidak etis jika kita bercita-cita “menjadi khalifah”, karena Allah telah menyematkannya sejak manusia pertama diciptakan. Kita tidak bisa mengelak dari amanah itu. Mbah Nun menegaskan bahwa para pelaku khalifah, tidak bisa pensiun dini, tidak bisa membolos dari kehidupan yang abadi. Dalam kubur, mereka memulai semester berikutnya, lalu berlanjut semester demi semester hingga babak final: Surga atau Neraka. Manusia tidak bisa lari, sebab tidak ada ruang, planet, galaksi, atau waktu yang bukan milik Tuhan. Tanggung jawab kekhalifahan berlaku hingga dua kehidupan abadi, kholidina fiha abada.

Dari penjabaran itu, dapat kita maknai bahwa kekhalifahan bukan harapan, melainkan lakon kita bersama. Ibarat wayang, lakon itu sudah ada sebelum wayang digerakkan. Dan seluruh tindak-tanduk, tutur kata, serta arah hidup kita harus sesuai dengan lakon yang diciptakan Sang Dalang Abadi yaitu Tuhan.

Untuk mendalami bersama makna khalifah, menyadari kekhalifahan kita, atau sekadar kembali menyentuh lakon khalifah yang telah disematkan kepada kita, mari bersama melingkar dalam forum pencerahan Bangbangwetan.

Sampai berjumpa di lingkar al-mutaḥabbīna fillāh Bangbangwetan edisi Desember.
Kamis, 11 Desember 2025 / Jumada II 20, 1447 AH
📍 Pos Bloc Surabaya, Jl. Kebon Rojo, Krembangan


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel LAKON KHALIFAH pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/lakon-khalifah/feed/ 0