Prolog Bangbang Wetan Bulan Januari 2026
Kita kerap memahami sebuah bangsa dan negara melalui analogi kapal. Hal ini mungkin muncul karena Indonesia adalah negara maritim, sehingga kapal menjadi gambaran yang dekat dengan keseharian kita. Secara teknis pun, kapal memang tepat dianalogikan sebagai negara dibandingkan alat transportasi lainnya. Kapal tidak bisa berhenti atau berjalan di sembarang tempat. Jalurnya tanpa marka, sehingga seorang nahkoda tidak hanya dituntut pandai mengemudi, tetapi juga cakap membaca cuaca, ombak, dan arah angin. Hal ini menandakan bahwa kapal merupakan analogi yang tepat untuk menggambarkan sebuah negara.
Berhubung salah satu aspek kunci Maiyah adalah menelusuri jalan nubuwwah, jalannya para nabi terdahulu, maka ketika membahas tentang kapal, yang terlintas secara khusus adalah Nabi Nuh dengan kisah bahteranya yang sangat fenomenal dan sarat makna, baik secara eksplisit maupun implisit.
Kita tidak akan berfokus pada teknologi kapal, perawatan infrastruktur, maupun mitigasi bencana yang dilakukan Nabi Nuh. Kita justru berusaha menelusuri nilai (value) yang terkandung dalam seluruh peristiwa yang berkaitan dengan kapal Nabi Nuh, agar kita dapat berjalan di jalur nubuwwah pada tataran nilai.
Mbah Nun, dalam berbagai literaturnya, baik tulisan maupun forum Sinau Bareng, kerap memaknai dan menggali hikmah dari kisah kapal Nabi Nuh. Dengan lensa tadabbur, setidaknya terdapat dua pemaknaan utama Mbah Nun mengenai bahtera Nabi Nuh tersebut.
Kapal Nuh Abad 21
Pertama, Mbah Nun mengemukakan gagasan tentang Kapal Nuh Abad 21. Kapal Nuh abad 21 digambarkan tidak lagi bergerak menuju muara. Haluannya oleng dan mobat-mabit ke berbagai arah karena kemudinya diperebutkan oleh banyak orang yang mengaku mukmin dan muslim, merasa paling benar, dan ingin memimpin. Sesungguhnya, mereka bukan sedang menumpang Perahu Nuh, melainkan menaiki kapal nafsu masing-masing. Berlomba menonjolkan diri, saling menunjuk, mengepalkan ego, serta meneriakkan klaim kredibilitas, integritas, kompatibilitas, dan elektabilitas sebagai alasan untuk menjadi nahkoda.
Gambaran ini disampaikan Mbah Nun dalam seri Daur IV: Kapal Nuh Abad 21, yang menunjukkan bahwa masih banyak pemimpin yang, dalam bahasa Suroboyoan “epok-epok”, menutupi sifat buruknya dan menonjol-nonjolkan kebaikan yang sejatinya merupakan kewajiban dasar seorang pemimpin. Namun, kewajiban tersebut diperlakukan seolah-olah sebagai prestasi luar biasa. Hal ini menandakan bahwa elektabilitas dan validasi telah menjadi tujuan utama kepemimpinan di era sekarang.
Di samping itu, karena para pemimpin atau nahkoda kapal abad 21 ini memiliki nafsu yang begitu besar untuk dirinya sendiri, Kapal Nuh seakan-akan hanya menjadi kertas kosong. Kapal itu tampak kehilangan tujuan. Padahal, tujuan Kapal Nuh sudah jelas: menyelamatkan seluruh makhluk. Namun, setiap pergantian kenahkodaan, tujuan tersebut seolah lenyap, bahkan dimanipulasi sesuai dengan keinginan dan ambisi sang nahkoda. Inilah yang membuat haluan Kapal Nuh abad 21 menjadi oleng.
Dalam konteks Indonesia hari ini, yang setiap lima tahun menghadirkan lembaran baru ambisi para calon pemimpin negara, kita seakan lupa bahwa Indonesia bukanlah negara tanpa tujuan yang terus berubah setiap periode. Indonesia memiliki landasan yang kuat sejak 1945: UUD 1945, Pancasila, serta berbagai landasan hukum lainnya. Namun, di era sekarang, haluan tersebut tampak kabur, tertutup oleh nafsu dan ambisi para pemimpinnya, yang kerap tidak koheren, bahkan memanipulasi konteks landasan bernegara itu sendiri.
Dengan kondisi demikian, Kapal Nuh abad 21, yang kita ibaratkan sebagai negara Indonesia, tidak hanya oleng, tetapi bahkan seakan hancur menjadi puing-puing. Rakyat pun menjadi bingung dan nelongso: di manakah Kapal Nuh abad 21 yang benar-benar mampu menyelamatkan, menenteramkan, mendamaikan, dan menyejahterakan para penumpangnya?

Maiyah sebagai Bahtera Nuh
Pemaknaan kedua, Mbah Nun menegaskan bahwa Maiyah dimaknai sebagai Bahtera Nuh di tengah banjir kegila-duniaan, keserakahan, kekufuran, dan kemunafikan manusia modern. Kita dikepung oleh kebohongan, kepalsuan nilai, serta mekanisme hidup yang menjauhkan manusia dari hakikat kehidupan yang dikehendaki Allah Swt. Tak jarang, kondisi ini membuat manusia merasa tak berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Banjir tersebut bukan kehendak Allah, melainkan akibat dari hubbun-dunya dan nafsu manusia dalam pusaran modernisasi dan globalisasi. Dampaknya, anugerah keindahan dan kesejahteraan Indonesia justru berubah menjadi rasa inferior, keterpurukan, dan kehinaan.
Bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini memang bagian dari sunnatullah. Namun, jika ditelisik lebih dekat, bencana tersebut juga merupakan akibat dari ulah manusia sendiri, yang dikepung nafsu dan ambisi untuk meraih dunia sebanyak-banyaknya. Akibatnya, Indonesia yang sejatinya adalah anugerah Tuhan, berubah menjadi bencana bagi bangsanya sendiri.
Maiyah berupaya bersama-sama membangun kembali bahtera itu, berkumpul dan menyatukan puing-puing bahtera agar kembali menjadi kapal yang kokoh dan kuat. Dalam hal ini, Syekh Nursamad Kamba menyampaikan bahwa, atas rahmat dan kasih sayang Tuhan, Nuh hadir kembali sebagai simbol ratapan dan rintihan nurani manusia, sesuai makna asal namanya. Kebangkitan Nuh merepresentasikan suara batin manusia yang mengajak untuk kembali kepada Tuhan—atau setidaknya kembali kepada nurani, ketika makna ketuhanan telah banyak dimanipulasi. Seruan ini menegaskan bahwa hanya dengan kembali kepada nurani, manusia dapat menemukan “perahu” atau bahtera yang menyelamatkan dari badai kehancuran.

Mari kita rumuskan bersama! Apa saja puing-puing yang telah hancur dari Kapal Nuh itu? Bagaimana cara merangkainya kembali agar menjadi kapal yang kuat? Dan sejauh mana jamaah Maiyah mampu mempersatukan puing-puing tersebut?
Kita sinau barengkan semua itu pada Bangbang Wetan edisi Januari 2026. Teko yo rek!!
Minggu, 4 Januari 2026 / Rajab 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.
Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan



