#CeritaPesantren Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/ceritapesantren/ Wed, 23 Apr 2025 05:01:30 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #CeritaPesantren Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/ceritapesantren/ 32 32 Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/ https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/#respond Wed, 23 Apr 2025 04:33:53 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2066 Guruku adalah salah satu santri kesayangan dari almarhum Romo KH. Arif Hasan, pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon, Mojokerto. Sosoknya masih muda, belum menikah, dan berwajah tampan. Beliau dikenal […]

Artikel Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Guruku adalah salah satu santri kesayangan dari almarhum Romo KH. Arif Hasan, pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon, Mojokerto. Sosoknya masih muda, belum menikah, dan berwajah tampan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tawadhu, jarang berbicara, namun sangat berwibawa. Seorang ustadz yang begitu dicintai dan dihormati, baik oleh rekan-rekan seprofesi maupun murid-muridnya.

Saya teringat dawuh Mbah Nun yang mengutip kata-kata dari seorang bandar narkoba kelas kakap asal Amerika: “Jadilah orang yang dicintai. Karena orang yang dicintai akan dihormati sekaligus ditakuti. Jika tak mampu dicintai, setidaknya jadilah sosok yang dihormati atau disegani. Tapi jangan hanya menjadi orang yang ditakuti.”

Guruku, selain patuh total pada perintah Romo Kiai, juga bekerja sebagai penjahit, namun hanya melayani orang-orang tertentu. Salah satu pelanggan setianya adalah Romo Kiai sendiri yang sangat menyukai baju-baju hasil jahitannya.

Rumahnya berjarak sekitar dua kilometer dari pesantren, dan beliau rutin menempuh perjalanan itu pulang-pergi dengan sepeda onta miliknya. Saat saya duduk di MTs, beliau mengajar kitab berat seperti Tafsir Jalalain. Mata pelajaran agama saat itu juga menggunakan kitab Jurumiyah untuk nahwu, dan Fathul Mu’in untuk fiqih – kurikulum yang sangat berbeda dengan madrasah masa kini. Pada masa saya mondok (1977–1985), pelajaran pesantren masih terintegrasi dengan pendidikan formal. Barulah setelah saya lulus, sekitar tahun 1986, Romo Kiai meresmikan Madrasah Diniyah.

Guru saya adalah anak sulung yang harus memikul tanggung jawab keluarga sejak sang ayah wafat. Semua kebutuhan adik-adiknya, termasuk biaya pendidikan, menjadi tanggung jawab beliau. Barangkali ini pula alasan mengapa beliau memilih untuk tetap membujang.

Tahun 1982, beliau sudah memiliki motor Yamaha bebek baru. Pada masa itu pula, beliau membiayai adiknya yang kuliah di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Suatu hari, dalam perjalanan menjenguk adiknya dan mengantarkan kebutuhan bulanan, beliau mengalami kecelakaan tragis di sekitar pabrik kertas Ciwi, Mojokerto – tepat di perbatasan Mojokerto-Pasuruan. Kecelakaan itu merenggut nyawanya seketika.

اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

“Kita semua ini milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya”.  (QS. Al-Baqarah: 156)

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ۝٣٤

 “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf: 34)

Sore itu, jenazah beliau dibawa pulang dengan ambulans ke kampung halamannya di Desa Mojojajar. Duka menyelimuti desa tempat tinggalnya dan juga desa Beratkulon. Masyarakat yang sehari-hari melihat beliau melintasi jalan menuju pondok pun ikut larut dalam kesedihan. Terutama Romo KH. Arif Hasan – guru, kiai, sekaligus bapak ideologisnya – yang sangat terpukul kehilangan santri kesayangannya.

Romo Kiai pun memohon keridhaan keluarga agar jenazah beliau dimakamkan di Beratkulon, di tempat beliau mengabdi dan menebarkan ilmu. Permohonan itu dikabulkan oleh keluarga.

Malam itu juga, setelah sholat Isya’, seluruh santri putra diperintahkan oleh pengurus pondok untuk berjalan kaki menuju Desa Mojojajar guna menghadiri takziah. Subhanallah, sepanjang jalan dua kilometer menuju lokasi pemakaman di Beratkulon, masyarakat secara spontan memasang dan menyalakan lampu Petromax di pinggir jalan. Warga desa berdiri berjajar di sepanjang rute jenazah, memberikan penghormatan terakhir untuk guru tercinta ini.

Selamat jalan, guruku, bapak ideologisku, teladan hidupku.

Beliau pula yang dulu memanggil saya dan lima teman ke kantor, mengabarkan bahwa kami “naik gantungan” ke kelas 6 MI. Beliaulah Ustadz Asmuhin – guruku, bapakku, dan Kiaiku. Guruku itu, benar adanya, adalah seorang waliyullah.

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۝٦٢

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Yunus: 62)

Demikianlah kenangan hidup tentang beliau. Sosok yang menjalani hidup tanpa kekhawatiran dan kesedihan, hingga akhirnya dipanggil menghadap Sang Khaliq dalam keadaan syahid akibat musibah yang menimpanya.

رحمه الله تعالى ونفعنا الله به وبعلومه وبإيمانه وأعماله وبركاته وأمدنا بأسراره في الدارين آمين

“Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kami melalui dirinya, ilmunya, imannya, amalnya, dan keberkahannya, serta menganugerahi kami rahasia-rahasianya di dunia dan akhirat. Aamiin”.

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/feed/ 0
Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/ https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/#respond Tue, 04 Mar 2025 10:28:40 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1828 رضيت بالله ربا # رضيت بالله قديرا رضيت بالله عدلا # رضيت بالله حكيما “Saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang […]

Artikel Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

رضيت بالله ربا # رضيت بالله قديرا
رضيت بالله عدلا # رضيت بالله حكيما

“Saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Menentukan takdir, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Adil, dan saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Bijaksana.” (Wirid Tawassulan Maiyah)

Kata Mbah Nun, “Endi sih anak-anak zaman dulu yang tidur di langgar atau masjid yang tidak memiliki wadanan? Semua pasti punya wadanan.” Apa yang beliau katakan memang benar. Dulu, hampir setiap pemuda tidur di langgar atau masjid dan mereka memiliki “laqob” atau julukan, yang sering disebut “wadanan“. Saya sendiri juga mengalami hal itu. Tanpa tahu asal-usulnya, saya pun mendapat panggilan akrab “kapsul,” atau di pondok, sering disebut “sodéq”.

Surau di tengah Sawah. Sumber: Explore Rejang Lebong

Pada tahun 1977, setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Nurul Islam, Keduk-Sambeng-Lamongan, saya diantar oleh Bapak menuju Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto. Bapak dan Ibu menitipkan saya pada pendiri pondok tersebut, Al-Maghfurlah Romo KH. Arief Hasan. Beliau adalah santri kesayangan Hadlratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang santri yang memiliki julukan “si Thowil” karena tubuhnya yang tinggi dan kurus, akibat dari laku tirakat yang dijalani.

اطلبوا العلم ولو بالصين
“Carilah ilmu meski di negeri Cina,” kata Nabi Muhammad SAW.

Sekitar pukul 10.00, saya tiba di pondok, dibonceng sepeda motor Suzuki A3 warna pink oleh Bapak. Waktu itu, ekonomi Bapak masih cukup baik. Sebelum 1975, kondisi keluarga kami bisa dibilang cukup mapan, bahkan termasuk kategori keluarga kaya. Bapak memiliki motor gede Norton dari Jerman dan Honda ulung (Honda C70 – red) baru dari Jepang.

Namun, takdir berkata lain. Sekitar tahun 1975, Bapak mengalami kecelakaan berat di Sambong-Jombang. Beliau menabrak sepeda onta yang membawa rumput. Bapak mengalami cedera kepala parah hingga koma. Sejak itu, kondisi ekonomi keluarga kami terus menurun, tetapi Bapak tetap berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Meski ekonomi kami mengalami penurunan, Alhamdulillah, Bapak dan Ibu berhasil membimbing kelima anak-anaknya untuk mondok di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in. Hanya satu yang tidak mondok, dia dititipkan kepada Kiai Muhtarom di kampung. Sekarang dia menjadi ustaz di Kuta, Bali, mendirikan TPQ dan musholla, serta aktif dalam pengurus PCNU Badung.

Pendidikan Bapak dan Ibu sederhana, tidak lulus SR, dan bacaan Al-Qur’an mereka pun masih terbata-bata. Namun, berkat ketekunan dan istiqomah, mereka berhasil membimbing kami untuk menuntut ilmu. Saya datang ke pondok dengan penampilan yang berbeda: bercelana pendek, baju dimasukkan, bersepatu, tanpa kopiah. Penampilan saya yang aneh itu membuat para santri terkejut.

Sahabat saya yang kini menjadi guru senior di pondok itu menggoda saya, “Déq, Sodéq: pean iku santri ‘mlethe pol. Guaya.” Saya tak mengerti maksudnya, sampai dia berkata, “Yo iyo ta. Mosok budal mondok kok kathokan, sepatuan, klambi dilebokno. Gak kopyahan pisan.”

Kini sahabat saya itu, Al-Mukarrom Ustaz Nasron, menjadi guru senior di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in, angkatan 1984. Dia menyebut saya santri “mlete” karena penampilan saya yang berbeda saat pertama kali datang ke pesantren.

Namun, apakah penilaian pertama itu juga menggambarkan sikap saya selama menjalani kehidupan sebagai santri? Saya teringat sebuah kata-kata dari Sayyidina Ali, “Jangan terlalu menunjukkan dirimu pada orang lain, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Sebaliknya, yang tidak suka padamu pasti tidak akan percaya.”

 

Samsul Huda (Abi Syam). Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Abah Yai Zainul Arifin Arif dan Abah Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Efendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/feed/ 0