Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05

Guruku adalah salah satu santri kesayangan dari almarhum Romo KH. Arif Hasan, pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon, Mojokerto. Sosoknya masih muda, belum menikah, dan berwajah tampan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tawadhu, jarang berbicara, namun sangat berwibawa. Seorang ustadz yang begitu dicintai dan dihormati, baik oleh rekan-rekan seprofesi maupun murid-muridnya.

Saya teringat dawuh Mbah Nun yang mengutip kata-kata dari seorang bandar narkoba kelas kakap asal Amerika: “Jadilah orang yang dicintai. Karena orang yang dicintai akan dihormati sekaligus ditakuti. Jika tak mampu dicintai, setidaknya jadilah sosok yang dihormati atau disegani. Tapi jangan hanya menjadi orang yang ditakuti.”

Guruku, selain patuh total pada perintah Romo Kiai, juga bekerja sebagai penjahit, namun hanya melayani orang-orang tertentu. Salah satu pelanggan setianya adalah Romo Kiai sendiri yang sangat menyukai baju-baju hasil jahitannya.

Rumahnya berjarak sekitar dua kilometer dari pesantren, dan beliau rutin menempuh perjalanan itu pulang-pergi dengan sepeda onta miliknya. Saat saya duduk di MTs, beliau mengajar kitab berat seperti Tafsir Jalalain. Mata pelajaran agama saat itu juga menggunakan kitab Jurumiyah untuk nahwu, dan Fathul Mu’in untuk fiqih – kurikulum yang sangat berbeda dengan madrasah masa kini. Pada masa saya mondok (1977–1985), pelajaran pesantren masih terintegrasi dengan pendidikan formal. Barulah setelah saya lulus, sekitar tahun 1986, Romo Kiai meresmikan Madrasah Diniyah.

Guru saya adalah anak sulung yang harus memikul tanggung jawab keluarga sejak sang ayah wafat. Semua kebutuhan adik-adiknya, termasuk biaya pendidikan, menjadi tanggung jawab beliau. Barangkali ini pula alasan mengapa beliau memilih untuk tetap membujang.

Tahun 1982, beliau sudah memiliki motor Yamaha bebek baru. Pada masa itu pula, beliau membiayai adiknya yang kuliah di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Suatu hari, dalam perjalanan menjenguk adiknya dan mengantarkan kebutuhan bulanan, beliau mengalami kecelakaan tragis di sekitar pabrik kertas Ciwi, Mojokerto – tepat di perbatasan Mojokerto-Pasuruan. Kecelakaan itu merenggut nyawanya seketika.

اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

“Kita semua ini milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya”.  (QS. Al-Baqarah: 156)

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ۝٣٤

 “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf: 34)

Sore itu, jenazah beliau dibawa pulang dengan ambulans ke kampung halamannya di Desa Mojojajar. Duka menyelimuti desa tempat tinggalnya dan juga desa Beratkulon. Masyarakat yang sehari-hari melihat beliau melintasi jalan menuju pondok pun ikut larut dalam kesedihan. Terutama Romo KH. Arif Hasan – guru, kiai, sekaligus bapak ideologisnya – yang sangat terpukul kehilangan santri kesayangannya.

Romo Kiai pun memohon keridhaan keluarga agar jenazah beliau dimakamkan di Beratkulon, di tempat beliau mengabdi dan menebarkan ilmu. Permohonan itu dikabulkan oleh keluarga.

Malam itu juga, setelah sholat Isya’, seluruh santri putra diperintahkan oleh pengurus pondok untuk berjalan kaki menuju Desa Mojojajar guna menghadiri takziah. Subhanallah, sepanjang jalan dua kilometer menuju lokasi pemakaman di Beratkulon, masyarakat secara spontan memasang dan menyalakan lampu Petromax di pinggir jalan. Warga desa berdiri berjajar di sepanjang rute jenazah, memberikan penghormatan terakhir untuk guru tercinta ini.

Selamat jalan, guruku, bapak ideologisku, teladan hidupku.

Beliau pula yang dulu memanggil saya dan lima teman ke kantor, mengabarkan bahwa kami “naik gantungan” ke kelas 6 MI. Beliaulah Ustadz Asmuhin – guruku, bapakku, dan Kiaiku. Guruku itu, benar adanya, adalah seorang waliyullah.

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۝٦٢

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Yunus: 62)

Demikianlah kenangan hidup tentang beliau. Sosok yang menjalani hidup tanpa kekhawatiran dan kesedihan, hingga akhirnya dipanggil menghadap Sang Khaliq dalam keadaan syahid akibat musibah yang menimpanya.

رحمه الله تعالى ونفعنا الله به وبعلومه وبإيمانه وأعماله وبركاته وأمدنا بأسراره في الدارين آمين

“Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kami melalui dirinya, ilmunya, imannya, amalnya, dan keberkahannya, serta menganugerahi kami rahasia-rahasianya di dunia dan akhirat. Aamiin”.

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top