رضيت بالله ربا # رضيت بالله قديرا
رضيت بالله عدلا # رضيت بالله حكيما
“Saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Menentukan takdir, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Adil, dan saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Bijaksana.” (Wirid Tawassulan Maiyah)
Kata Mbah Nun, “Endi sih anak-anak zaman dulu yang tidur di langgar atau masjid yang tidak memiliki wadanan? Semua pasti punya wadanan.” Apa yang beliau katakan memang benar. Dulu, hampir setiap pemuda tidur di langgar atau masjid dan mereka memiliki “laqob” atau julukan, yang sering disebut “wadanan“. Saya sendiri juga mengalami hal itu. Tanpa tahu asal-usulnya, saya pun mendapat panggilan akrab “kapsul,” atau di pondok, sering disebut “sodéq”.

Pada tahun 1977, setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Nurul Islam, Keduk-Sambeng-Lamongan, saya diantar oleh Bapak menuju Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto. Bapak dan Ibu menitipkan saya pada pendiri pondok tersebut, Al-Maghfurlah Romo KH. Arief Hasan. Beliau adalah santri kesayangan Hadlratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang santri yang memiliki julukan “si Thowil” karena tubuhnya yang tinggi dan kurus, akibat dari laku tirakat yang dijalani.
اطلبوا العلم ولو بالصين
“Carilah ilmu meski di negeri Cina,” kata Nabi Muhammad SAW.
Sekitar pukul 10.00, saya tiba di pondok, dibonceng sepeda motor Suzuki A3 warna pink oleh Bapak. Waktu itu, ekonomi Bapak masih cukup baik. Sebelum 1975, kondisi keluarga kami bisa dibilang cukup mapan, bahkan termasuk kategori keluarga kaya. Bapak memiliki motor gede Norton dari Jerman dan Honda ulung (Honda C70 – red) baru dari Jepang.
Namun, takdir berkata lain. Sekitar tahun 1975, Bapak mengalami kecelakaan berat di Sambong-Jombang. Beliau menabrak sepeda onta yang membawa rumput. Bapak mengalami cedera kepala parah hingga koma. Sejak itu, kondisi ekonomi keluarga kami terus menurun, tetapi Bapak tetap berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meski ekonomi kami mengalami penurunan, Alhamdulillah, Bapak dan Ibu berhasil membimbing kelima anak-anaknya untuk mondok di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in. Hanya satu yang tidak mondok, dia dititipkan kepada Kiai Muhtarom di kampung. Sekarang dia menjadi ustaz di Kuta, Bali, mendirikan TPQ dan musholla, serta aktif dalam pengurus PCNU Badung.
Pendidikan Bapak dan Ibu sederhana, tidak lulus SR, dan bacaan Al-Qur’an mereka pun masih terbata-bata. Namun, berkat ketekunan dan istiqomah, mereka berhasil membimbing kami untuk menuntut ilmu. Saya datang ke pondok dengan penampilan yang berbeda: bercelana pendek, baju dimasukkan, bersepatu, tanpa kopiah. Penampilan saya yang aneh itu membuat para santri terkejut.
Sahabat saya yang kini menjadi guru senior di pondok itu menggoda saya, “Déq, Sodéq: pean iku santri ‘mlethe pol. Guaya.” Saya tak mengerti maksudnya, sampai dia berkata, “Yo iyo ta. Mosok budal mondok kok kathokan, sepatuan, klambi dilebokno. Gak kopyahan pisan.”

Kini sahabat saya itu, Al-Mukarrom Ustaz Nasron, menjadi guru senior di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in, angkatan 1984. Dia menyebut saya santri “mlete” karena penampilan saya yang berbeda saat pertama kali datang ke pesantren.
Namun, apakah penilaian pertama itu juga menggambarkan sikap saya selama menjalani kehidupan sebagai santri? Saya teringat sebuah kata-kata dari Sayyidina Ali, “Jangan terlalu menunjukkan dirimu pada orang lain, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Sebaliknya, yang tidak suka padamu pasti tidak akan percaya.”

Samsul Huda (Abi Syam). Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Abah Yai Zainul Arifin Arif dan Abah Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Efendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu



