#IslamicReminder Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/islamicreminder/ Tue, 15 Apr 2025 09:52:37 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #IslamicReminder Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/islamicreminder/ 32 32 Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/ https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/#respond Tue, 15 Apr 2025 09:35:54 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1974 Tanpa terasa, Syawal sudah berjalan setengahnya. Undangan pernikahan berdatangan nyaris tanpa jeda. Bahkan, salah satu teman fotograferku sudah sibuk sejak dua hari setelah Lebaran. Entah ini disebut ironi atau tidak, […]

Artikel Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Tanpa terasa, Syawal sudah berjalan setengahnya. Undangan pernikahan berdatangan nyaris tanpa jeda. Bahkan, salah satu teman fotograferku sudah sibuk sejak dua hari setelah Lebaran. Entah ini disebut ironi atau tidak, tapi ada campur aduk antara rasa bahagia dan sedikit nestapa saat satu per satu teman mulai meninggalkan masa lajang. Beberapa baru saja bertunangan, seolah-olah semua mulai bergerak ke arah yang sama. Ada yang mengalami hal serupa? Atau justru seperti aku? Hahaha.

Sumber: Pexel-The glorious studio.

Jodoh memang bagian dari takdir Allah yang sering kali butuh usaha dan kesabaran ekstra untuk memahaminya. Tak sedikit teman merasa sudah berjuang sekuat tenaga demi menjadi sosok pasangan yang ideal, namun sang jodoh tak juga datang. Sementara yang terlihat santai malah lebih dulu menikah. Ketika kita merasa sudah siap dengan siapa pun yang hadir, asal memenuhi kriteria dasar, justru yang datang di luar bayangan dan ini sering menimbulkan dilema. Apalagi di zaman sekarang, di mana pilihan berlimpah namun banyak yang palsu—fenomena yang dikenal sebagai overchoice.

Fenomena Over Choice. Sumber: Pexel-googledeepmind.

Kita tentu percaya pada firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” Ini menandakan bahwa jodoh bukan hanya hasil pencarian, tapi juga bagian dari ketetapan-Nya.

Namun, jika memang sudah ditentukan, mengapa proses menemukan jodoh sering begitu rumit dan melelahkan? Dalam psikologi, ada istilah illusory correlation, yaitu kecenderungan kita mengaitkan dua hal yang tampak berkaitan padahal sebenarnya tidak. Contohnya, karena sering bertemu atau punya banyak kesamaan, kita merasa seseorang itu adalah jodoh. Padahal, kecocokan sejati jauh lebih dalam—terkait nilai hidup, visi masa depan, dan komitmen.

Illusory correlation. Sumber: Pexel-vladimir konoplev.

Nabi Muhammad SAW pun pernah bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berkelompok. Apabila mereka saling mengenal maka akan bersatu, dan apabila mereka tidak saling mengenal maka akan berpisah.” Artinya, ada aspek yang tak kasat mata dalam hubungan antarindividu, yang terkadang tak bisa dijelaskan secara logis.

Lantas, bagaimana jika yang hadir bukan sosok yang kita harapkan?

Mungkin inilah saatnya kita menyadari bahwa ekspektasi kadang terlalu tinggi dan tak realistis. Kebahagiaan dalam pernikahan bukan hanya tentang fisik atau intelektual, tapi juga keberkahan dan ketenangan hati. Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan, dan yang terbaik belum tentu sesuai dengan keinginan kita sekarang.

Pada akhirnya, perjalanan mencari jodoh adalah proses panjang yang penuh hikmah. Ini bukan hanya tentang siapa yang datang, tapi juga tentang sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang layak membangun hubungan yang diridhai. Jika yang hadir terasa jauh dari ekspektasi, mungkin itu adalah jalan Allah mengajarkan arti keikhlasan dan penerimaan.

Sumber: Pexel-padrinan.

Seperti yang sering diingatkan Mas Sabrang, membangun kebahagiaan dari dalam diri adalah hal utama. Karena saat sudah menikah, tujuan kita bukan lagi menuntut kebahagiaan, tapi membaginya. Maka, mengenal diri sendiri—memahami batas antara kebutuhan, keinginan, dan harapan—adalah langkah awal agar kita lebih terarah dalam menjemput takdir, tanpa terjebak pada ilusi pilihan-pilihan yang semu.

 

Saufa Rohmatun Nazila, yang lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa, lahir di Riau, 27 Mei 2000. Sejak masa remaja, ia telah menempuh pendidikan di berbagai pesantren, sebelum melanjutkan studi di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, dan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, untuk memperluas pengetahuannya dalam bidang yang lebih luas.

Dengan latar belakang sebagai santri dan akademisi, Nazila memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam. Anda dapat menghubungi Nazila melalui email di saufarohmatunnazila@gmail.com, serta mengikuti aktivitasnya di media sosial X @PuanAksa dan Instagram @_rahmanazilaa. –Sumber Foto Utama: Pexel-blitzboy.


Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/feed/ 0
Ramadan: Momen Recovery Diri https://bangbangwetan.org/ramadan-momen-recovery-diri/ https://bangbangwetan.org/ramadan-momen-recovery-diri/#respond Sun, 09 Feb 2025 04:21:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1663 Anak-anak zaman sekarang mungkin sudah tidak asing lagi mendengar istilah recovery diri atau yang sering disebut self-healing. Secara umum, recovery diri berarti memulihkan diri dari berbagai gangguan psikologis, trauma, dan […]

Artikel Ramadan: Momen Recovery Diri pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Anak-anak zaman sekarang mungkin sudah tidak asing lagi mendengar istilah recovery diri atau yang sering disebut self-healing. Secara umum, recovery diri berarti memulihkan diri dari berbagai gangguan psikologis, trauma, dan masalah lainnya agar bisa kembali seperti semula. Namun, secara spiritual, bisakah manusia benar-benar memulihkan diri hingga menjadi suci dan fitri, kembali seperti saat pertama kali diciptakan oleh Allah? Rasanya hal itu mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin manusia bisa kembali menjadi bayi yang lahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa?.

Memang, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan lupa. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk terus-menerus berbuat salah sesuka hati. Sebagian orang menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang wajar jika menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Mereka mengutamakan kebenaran versi mereka sendiri—merasa paling benar, paling suci dibandingkan yang lain. Jika ada yang tidak sependapat, langsung dicap salah, dianggap musuh, bahkan dilabeli sebagai kafir. Jangan sampai kita terseret dalam pola pikir seperti itu, yang justru membuat kita semakin tenggelam dalam dosa. Sudah waktunya kita membersihkan diri, seperti berwudu kembali dan “berpuasa” dari perilaku buruk agar bisa mencapai fitrah sejati.

Tumbuhlah setiap tunas kebaikan. Sumber: Pexel-Gelgas Airlangga

Dalam Islam, bersuci untuk kembali ke fitrah adalah hal yang sangat penting. Sebelum salat, kita diwajibkan berwudu. Sebelum menyentuh mushaf Al-Qur’an, kita harus dalam keadaan suci. Bahkan sebelum masuk surga, sebagian manusia harus lebih dulu “dibersihkan” di neraka. Kesucian yang dimaksud tidak hanya secara fisik, tetapi juga menyangkut jiwa, yang dikenal sebagai Tazkiyatun Nafs—penyucian diri dari dosa dan kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”, (QS. Asy-Syams: 9)

Menjelang momen Ramadhan & hari Lebaran, kita sering mendengar istilah kembali ke fitri (Al-Fitr). Namun, apakah kita benar-benar memahami makna fitri? Ataukah kita hanya memaknainya sebagai momen Lebaran dengan tradisi saling memaafkan, lalu keesokan harinya kembali mengulangi kesalahan yang sama? Mbah Nun pernah menjelaskan bahwa konsep fitri bersifat ghaib. Artinya, jika hanya dipahami sebatas tradisi atau syariat, manusia yang telah bergelimang dosa mustahil bisa kembali ke fitrah tanpa ampunan dari Allah. Selama ini, kita merayakan Idulfitri dengan saling bermaafan sesama manusia, tetapi jarang sekali menjadikannya sebagai momentum besar untuk memohon ampun kepada Allah.

Menurut Mbah Nun, konsep kembali ke fitri bukan hanya tentang hubungan horizontal (dengan sesama manusia), tetapi juga hubungan vertikal (dengan Allah). Kita bisa benar-benar mencapai fitrah jika melakukan keduanya: meminta maaf kepada manusia dan sekaligus memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk merecovery diri—memulihkan hati, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Semoga dengan ikhtiar dan doa yang kita lakukan, Allah memberikan ampunan-Nya, sehingga kita dapat kembali ke fitrah sejati dan menjadi pribadi yang lebih baik—menjadi hamba yang diridhai oleh-Nya.



Usman Bonrojo
Jamaah Maiyah BangbangWetan
bisa disapa melalui kampungbonrojo@gmail.com

Artikel Ramadan: Momen Recovery Diri pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ramadan-momen-recovery-diri/feed/ 0