Anak-anak zaman sekarang mungkin sudah tidak asing lagi mendengar istilah recovery diri atau yang sering disebut self-healing. Secara umum, recovery diri berarti memulihkan diri dari berbagai gangguan psikologis, trauma, dan masalah lainnya agar bisa kembali seperti semula. Namun, secara spiritual, bisakah manusia benar-benar memulihkan diri hingga menjadi suci dan fitri, kembali seperti saat pertama kali diciptakan oleh Allah? Rasanya hal itu mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin manusia bisa kembali menjadi bayi yang lahir dalam keadaan suci dan tanpa dosa?.
Memang, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan lupa. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk terus-menerus berbuat salah sesuka hati. Sebagian orang menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang wajar jika menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Mereka mengutamakan kebenaran versi mereka sendiri—merasa paling benar, paling suci dibandingkan yang lain. Jika ada yang tidak sependapat, langsung dicap salah, dianggap musuh, bahkan dilabeli sebagai kafir. Jangan sampai kita terseret dalam pola pikir seperti itu, yang justru membuat kita semakin tenggelam dalam dosa. Sudah waktunya kita membersihkan diri, seperti berwudu kembali dan “berpuasa” dari perilaku buruk agar bisa mencapai fitrah sejati.

Dalam Islam, bersuci untuk kembali ke fitrah adalah hal yang sangat penting. Sebelum salat, kita diwajibkan berwudu. Sebelum menyentuh mushaf Al-Qur’an, kita harus dalam keadaan suci. Bahkan sebelum masuk surga, sebagian manusia harus lebih dulu “dibersihkan” di neraka. Kesucian yang dimaksud tidak hanya secara fisik, tetapi juga menyangkut jiwa, yang dikenal sebagai Tazkiyatun Nafs—penyucian diri dari dosa dan kesalahan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”, (QS. Asy-Syams: 9)
Menjelang momen Ramadhan & hari Lebaran, kita sering mendengar istilah kembali ke fitri (Al-Fitr). Namun, apakah kita benar-benar memahami makna fitri? Ataukah kita hanya memaknainya sebagai momen Lebaran dengan tradisi saling memaafkan, lalu keesokan harinya kembali mengulangi kesalahan yang sama? Mbah Nun pernah menjelaskan bahwa konsep fitri bersifat ghaib. Artinya, jika hanya dipahami sebatas tradisi atau syariat, manusia yang telah bergelimang dosa mustahil bisa kembali ke fitrah tanpa ampunan dari Allah. Selama ini, kita merayakan Idulfitri dengan saling bermaafan sesama manusia, tetapi jarang sekali menjadikannya sebagai momentum besar untuk memohon ampun kepada Allah.

Menurut Mbah Nun, konsep kembali ke fitri bukan hanya tentang hubungan horizontal (dengan sesama manusia), tetapi juga hubungan vertikal (dengan Allah). Kita bisa benar-benar mencapai fitrah jika melakukan keduanya: meminta maaf kepada manusia dan sekaligus memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk merecovery diri—memulihkan hati, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Semoga dengan ikhtiar dan doa yang kita lakukan, Allah memberikan ampunan-Nya, sehingga kita dapat kembali ke fitrah sejati dan menjadi pribadi yang lebih baik—menjadi hamba yang diridhai oleh-Nya.

Usman Bonrojo
Jamaah Maiyah BangbangWetan
bisa disapa melalui kampungbonrojo@gmail.com



