#KebudayaanIndonesia Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/kebudayaanindonesia/ Tue, 10 Jun 2025 06:25:22 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #KebudayaanIndonesia Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/kebudayaanindonesia/ 32 32 Nguri-uri Budaya Tidak Tahu https://bangbangwetan.org/nguri-uri-budaya-tidak-tahu/ https://bangbangwetan.org/nguri-uri-budaya-tidak-tahu/#respond Tue, 10 Jun 2025 06:25:22 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2186 Dalam masyarakat kita, perbincangan sering kali dibelah dua: mana yang benar, dan mana yang salah. Seolah hidup ini hanya terdiri dari jawaban tegas—ya atau tidak, putih atau hitam. Tapi di […]

Artikel Nguri-uri Budaya Tidak Tahu pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam masyarakat kita, perbincangan sering kali dibelah dua: mana yang benar, dan mana yang salah. Seolah hidup ini hanya terdiri dari jawaban tegas—ya atau tidak, putih atau hitam. Tapi di antara dua kutub itu, ada satu posisi yang jarang disorot, bahkan dianggap lemah: tidak tahu.

Kita sering lupa, semua pengetahuan di dunia ini lahir bukan dari kepastian, melainkan dari pengakuan bahwa kita tidak tahu. Newton tidak akan menemukan gravitasi jika ia merasa sudah tahu kenapa apel jatuh. Para dokter, ilmuwan, guru, dan filsuf adalah mereka yang memulai dari rasa ingin tahu. Dan itu artinya: mengakui terlebih dahulu bahwa mereka tidak tahu.

Celakanya, dalam budaya yang memuja kepastian, pengakuan tidak tahu sering dianggap dosa intelektual. Kita diajari untuk selalu punya jawaban, bahkan ketika sebetulnya belum waktunya menjawab. Padahal, justru dari sikap tidak tahu yang jujur, keadilan dan ilmu pengetahuan bisa tumbuh.

Ketidaktahuan Bukan Wilayah Abu-Abu

Penting untuk menegaskan bahwa tidak tahu bukanlah wilayah abu-abu. Ia bukan posisi gamang, bukan kompromi antara benar dan salah, apalagi bentuk kemalasan berpikir. Ia adalah posisi intelektual dan etis yang aktif. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak tahu,” ia sedang menyatakan kesiapan untuk belajar, menahan diri untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dan membuka pintu bagi diskusi yang sehat.

Berbeda dengan sikap abu-abu yang bisa jadi hanya mencari aman, tidak tahu justru membutuhkan keberanian. Keberanian untuk jujur pada keterbatasan, keberanian untuk tidak menipu, dan keberanian untuk tidak sok tahu.

Dampak Nyata dari Sok Tahu

Mari kita lihat dalam dunia nyata. Seorang pasien datang ke dokter dengan keluhan yang rumit. Alih-alih merujuk ke spesialis atau melakukan pemeriksaan lanjutan, dokter langsung memberi diagnosis dan obat. Bisa jadi karena tekanan sistem, tuntutan performa, atau sekadar gengsi profesional. Padahal, ia sebenarnya tidak tahu pasti apa penyakit pasien itu.

Apa yang terjadi? Salah diagnosis bisa berarti salah pengobatan. Salah obat bisa mengantar pada kefatalan. Ini bukan teori. Ini kenyataan. Saya sendiri bersaksi. Almarhum ibu saya, jauh sebelum divonis kanker, berkali-kali menerima diagnosis keliru: ginjal dan kencing batu. Ketika akhirnya kanker terdeteksi, waktu sudah terlalu jauh terlewat. Sebagian karena ada yang tidak mau berkata jujur: “Saya tidak tahu.”

Keadilan Dimulai dari Kerendahan Hati

Ketidaktahuan yang diakui secara sadar adalah akar dari keadilan. Seorang hakim yang berkata, “Bukti belum cukup,” sebenarnya sedang berlaku lebih adil daripada hakim yang terburu-buru menjatuhkan vonis demi terlihat tegas. Seorang pemimpin yang berkata, “Saya tidak tahu dampak kebijakan ini, mari kita kaji ulang,” jauh lebih bertanggung jawab ketimbang yang asal tunjuk arah demi terlihat kuat.

Kita sering membayangkan keadilan sebagai produk dari kepastian. Padahal, keadilan yang matang lahir dari kehati-hatian, dari pengakuan atas keterbatasan diri, dan dari kesediaan untuk mendengar serta belajar. Dunia yang terlalu percaya diri dengan jawaban cepat sering kali justru menyimpan banyak ketidakadilan yang tertata rapi.

Membangun Budaya Tidak Tahu yang Sehat

Apa yang harus kita lakukan? Pertama, hentikan budaya mencibir orang yang tidak tahu. Biarkan guru berkata, “Mari kita cari tahu bersama.” Biarkan pejabat berkata, “Saya perlu mendengar lebih banyak.” Biarkan dokter berkata, “Saya akan konsultasikan ini.” Dan biarkan masyarakat terbiasa dengan kalimat, “Saya belum tahu.”

Kedua, bangun ruang aman untuk bertanya dan mencari. Media, ruang publik, ruang kelas, dan rumah ibadah seharusnya menjadi tempat yang mendorong rasa ingin tahu, bukan tempat yang membunuhnya dengan tekanan untuk selalu punya jawaban.

Ketiga, sadari bahwa dalam ketidaktahuan yang jujur, terkandung harapan untuk pertumbuhan. Yang tidak tahu hari ini, bisa jadi lebih tahu esok hari. Asal mau belajar.

Di dunia yang bising oleh orang-orang yang terlalu yakin, barangkali revolusi paling mendalam adalah kejujuran untuk berkata “saya tidak tahu”. Sebab, hanya dengan itu kita bisa mulai mencari tahu, bersama-sama.

Dan dari sanalah—dari ruang jujur yang tidak terburu-buru, kita membangun kehidupan yang lebih adil, lebih hati-hati, dan lebih manusiawi.


Muhammad Yudha IF. Kadang Merusak Cara dan Tatanan Hidup. Pembelajar di Maiyah. Menyukai Desa dan Kebudayaan. Mendirikan surau. Instagram : @myudhaif

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Nguri-uri Budaya Tidak Tahu pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/nguri-uri-budaya-tidak-tahu/feed/ 0
MATURITAS MARKESOT https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/ https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/#respond Sat, 07 Jun 2025 04:36:06 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2173 Prolog BangbangWetan Juni 2025 Tanggal 27 Mei 2025 adalah ulang tahun ke-72 Mbah Nun. Pada momen tersebut, diluncurkan pula buku 72 Tahun Cak Nun, sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan […]

Artikel MATURITAS MARKESOT pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog BangbangWetan Juni 2025

Tanggal 27 Mei 2025 adalah ulang tahun ke-72 Mbah Nun. Pada momen tersebut, diluncurkan pula buku 72 Tahun Cak Nun, sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari para sahabat tentang persinggungan mereka dengan Mbah Nun. Majelis Pengajian Padhangmbulan menjadi tempat peringatan ulang tahun Mbah Nun tersebut. KiaiKanjeng, keluarga besar, dan beberapa sahabat turut hadir memeriahkan acara.

Salah satunya adalah Abah Kirun, legenda pelawak Indonesia asal Madiun. Malam itu, Abah Kirun menyampaikan bahwa buah karya dan sikap hidupnya banyak dipengaruhi oleh Mbah Nun. Mbah Nun bersikap selayaknya sahabat kepada dirinya, sehingga membuat Abah Kirun nyaman setiap kali bertukar pendapat dengan beliau.

Apalagi, obrolan Mbah Nun kepada Abah Kirun menggunakan bahasa sehari-hari, yang mudah dipahami, bukan bahasa intelektual. Pesan-pesan Mbah Nun pun menjadi mudah dicerna dan terus dipegang teguh hingga kini. Salah satu pesan beliau adalah: jika ingin menjadi pelawak yang otentik, karya harus lahir dari hati terdalam dengan niat menggembirakan banyak orang. Pesan itu dibuktikan langsung oleh Abah Kirun, yang membuatnya digemari banyak orang dan tetap eksis. Sampai saat ini, Abah Kirun masih kerap diundang mengisi berbagai acara untuk menghibur dan menggembirakan orang.

Kami memandang bahwa pendekatan Mbah Nun kepada Abah Kirun adalah buah dari maturitas (kematangan) pribadi Mbah Nun. Melalui pendekatan kontinum maturitas, kami melihat bahwa Mbah Nun telah mencapai tahap kematangan yang tidak hanya bersifat mandiri secara pribadi, tetapi juga mengajak sebanyak mungkin orang untuk saling bekerja sama, membenahi kekurangan dan kesalahan satu sama lain dalam banyak hal.

Kita diajak berbenah dari urusan mental, untuk memiliki sikap pantang menyerah. Dalam hubungan sosial, kita diajak untuk ringan tangan menolong siapa saja yang membutuhkan. Dari sisi kesejahteraan ekonomi, kita diajak untuk siap mengerjakan apa saja yang bermanfaat. Bahkan, Mbah Nun peduli membimbing kita menjalin hubungan dengan Allah dengan memegang prinsip rodhiatan mardhiyah—yakni, kita diajak untuk ridha terlebih dahulu kepada Allah, maka Allah pun akan lebih mudah ridha kepada kita. Ketika kita membuka hati kepada Allah, Allah akan menurunkan hal-hal baru yang tak terduga, yang sangat mungkin menjawab kebutuhan atau cita-cita kita.

Dalam salah satu seri Daur berjudul Tarian Tali-Tali Cahaya, Mbah Nun menggambarkan suasana Maiyahan. Di setiap Maiyahan, kita senantiasa diajak menjalin hubungan dengan Allah melalui wirid, salawat, dan Sinau Bareng. Maka, tiap jamaah Maiyah digambarkan seperti menerima pancaran cahaya dari langit, yang dapat dimaknai sebagai hidayah, berupa pemahaman dan pengertian baru. Hati menjadi tenang karena mendapat pencerahan hidup untuk menatap masa depan.

Pada puncak kekhusyukan bermunajat melalui wirid dan salawat, Mbah Nun mengajak jamaah Maiyah kembali berpijak di bumi kesadaran sebagai bangsa Indonesia dalam Sinau Bareng untuk:
“…mengurusi persoalan-persoalan nyata manusia, problem sosial, konstelasi dusta politik, kebohongan kekuasaan dan penyamaran penguasaan, mengkritisi kepengurusan negara, memberi tenaga kepada mesin antikorupsi, menganalisis lapisan-lapisan ketertindasan rakyat, dan semua yang sejenis-jenis itu…”

Maturitas Mbah Nun juga digambarkan dalam sosok Markesot, yang dalam tulisan tersebut memikul tanggung jawab untuk “…memberi pencerahan kepada rakyat, menyelenggarakan pendidikan politik di sana-sini, menyebarkan penyadaran sejarah…” Meski secara hukum tidak berkewajiban, Mbah Nun tetap menjalankannya karena merasa memiliki hutang kebudayaan.

Dalam tulisan berjudul Hutang-Hutang Kebudayaan (dari Masalah Idealisme dan Orientasi Kaum Muda), Mbah Nun menyampaikan bahwa hutang kebudayaan bersifat perjanjian dengan diri sendiri, berasal dari sikap atau prinsip perkembangan dan kemajuan. Apa yang semestinya dikerjakan tetapi tidak dilakukan berarti menciptakan hutang. Mbah Nun menggambarkannya lewat kisah seorang pengukir kayu yang pada jam itu mestinya menyelesaikan ukiran, namun ia tidak melakukannya dan tidak pula menghasilkan manfaat lain. Maka, ia telah berhutang kepada dirinya sendiri.

Pernahkah kita iseng, duduk sejenak, lalu menelusuri jejak hidup Mbah Nun? Pernahkah kita ingin tahu bagaimana cara beliau bertumbuh menjadi pribadi yang matang? Mungkin, salah satu pintu yang bisa kita ketuk adalah melalui tema ini: Maturitas Markesot.

Mari kita sinau bareng.
Edisi BangbangWetan Juni 2025 akan menjadi ruang untuk membedah tema ini bersama-sama. Catat tanggalnya: Kamis, 12 Juni 2025, di STIKOSA-AWS.
Sowan, sema’an, sinau bareng.

 

Oleh: Tim Tema Bangbang Wetan

Artikel MATURITAS MARKESOT pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/maturitas-markesot/feed/ 0
Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/ https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/#respond Mon, 02 Jun 2025 11:30:57 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2165 Malam itu, 27 Mei 2025, Simbah—Emha Ainun Nadjib—genap berusia 72 tahun. Seperti biasa, kami para anak cucunya tidak merayakan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi, doa, dan renungan. Karena memang […]

Artikel Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Malam itu, 27 Mei 2025, Simbah—Emha Ainun Nadjib—genap berusia 72 tahun. Seperti biasa, kami para anak cucunya tidak merayakan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi, doa, dan renungan. Karena memang begitulah Simbah: tidak mencari sorotan, tapi menjadi cahaya yang muncul diam-diam.

Saya teringat satu video lama yang pernah beredar, ketika Almarhum Syekh Nursamad Kamba menyampaikan satu rangkaian pesan dalam rangka ulang tahun Simbah. Di situ, beliau menyebut ajaran yang pernah disampaikan Simbah di masa lampau: “Jalan tol itu bernama Muhammadkan hamba.”

Ungkapan itu sederhana tapi dalam sekali. Tidak langsung membahas ritual, tidak sibuk dengan kerangka normatif. Simbah menawarkan satu jalan spiritual yang padat makna: menjadikan diri ini semakin mencerminkan Kanjeng Nabi dalam sepanjang kehidupan kita. Itu inti dari ibadah, dari ilmu, dari hidup itu sendiri.

Namun, hari ini, saya harus jujur: saya belum mengerti. Bahkan bayangannya pun masih kabur. Saya belum bisa me-Muhammadkan diri saya. Jangankan menjadi rahmatan lil ‘alamin, membawa kesejukan bagi sekitar pun saya masih gagal.

Tapi, syukurlah, Simbah itu seperti jembatan. Ketika kami tak mampu melihat cahaya Kanjeng Nabi karena kotor dan sempitnya hati, kami bisa melihat bias cahaya itu dalam keseharian Simbah. Kami bisa belajar mencintai Nabi melalui cara Simbah mencintai manusia.

Simbah bukan hanya guru, tapi juga pangkuan. Beliau bukan hanya penutur hikmah, tapi juga “rumah”. Yang dilakukan Simbah adalah membaca, mendengar, menyimak, meneduhkan, dan menampung semua bentuk luka dan kegelisahan.

Kalau kami tidak cukup mampu untuk meneladani Kanjeng Nabi secara langsung, mungkin kami bisa memulai dengan meneladani Simbah. Meniru senyumnya yang tak pernah merendahkan. Meniru kesungguhan hidup beliau, meniru cara beliau mengayomi, meniru cara beliau bersabar, bahkan kepada orang yang paling menyakitinya sekalipun. Meniru caranya menemani manusia: para pemulung, pelacur, pengusaha, santri, preman, intelektual, dan siapapun itu.

Simbah hidup dalam kesadaran lintas dimensi: sosial, spiritual, politik, budaya, dsb. Semua dijalani bukan untuk pencitraan, melainkan untuk merawat kehidupan itu sendiri. Beliau bukan aktivis formal, tapi segala kegiatannya mengandung aktivisme: membela yang dilemahkan, menyuarakan yang ditindas, menegur yang congkak, dan merangkul semua yang ditinggal.

Seperti yang pernah dikatakan Mbah Ahmad Mustofa Bisri: “Cak Nun itu Santri tanpa sarung, Haji tanpa peci, Kiai tanpa sorban, Dai tanpa mimbar, Mursyid tanpa tarekat, Sarjana tanpa wisuda, Guru tanpa sekolahan, Aktifis tanpa LSM, Pendemo tanpa spanduk, Politisi tanpa partai, Wakil rakyat tanpa dewan, Pemberontak tanpa senjata, Kstaria tanpa kuda, Saudara tanpa hubungan darah”. Ini dapat kita artikan bahwa Simbah memang memiliki kualitas multi-dimensi, tanpa perlu perantara formal.

Satu hal lagi yang tidak bisa dinafikkan dari Simbah adalah keikhlasan yang terpancar begitu nyata. Ia tidak sibuk membela diri, tidak sibuk menampilkan citra agung. Ia tidak menuntut dihormati, maka ia begitu dihormati. Ia tidak meminta dicintai, justru dengan mudah kami mencintainya. Ia tidak pernah menyebut diri ulama, tapi kami sangat menantikan ilmunya. Bahkan ia adalah rindu tanpa sebelumnya pernah bertemu.

Kalau jalan tol yang ditunjukkan Simbah adalah dengan memohon “Muhammadkan hamba” kepada Allah, kami ingin memulainya dengan “Simbahkan diri kami”. Bukan karena Simbah adalah pengganti Kanjeng Nabi—tidak, Simbah sendiri menolak pengkultusan. Tapi karena Simbah menawarkan kami jalan yang manusiawi untuk belajar manunggal. Menjadi lebih jernih. Menjadi lebih baik dalam bahasa yang bisa kami pahami.

Mungkin kami tidak bisa membangun rumah untuk orang lain, tapi kami bisa tidak menggusur rumah yang sudah ada. Mungkin kami tidak bisa menyembuhkan luka orang lain, tapi kami bisa tidak menambah luka baru. Mungkin kami belum bisa meneduhkan, tapi kami bisa tidak membawa panas.

Kami tahu, perjalanan ini panjang. Jalan tol ini tetap harus ditempuh. Tapi selama kami terus sinau bareng, Maiyah akan terus menjadi ladang subur, dan tempat kami percaya bahwa kami belum kehilangan arah.

Karena Simbah, maka ada harapan. Maka kami belajar. Maka kami berusaha. Maka kami jalan. Bersama Allah setiap saat.

Ya Allah, Muhammadkan hamba.

Mulai dari menyayangi, mulai dari Simbah.

Sugeng Ambal Warsa yang ke-72, Mbah Nun.


M Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah. Menyukai Desa dan Kebudayaan. Instagram  : @myudhaif. WA : 082377842632.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/feed/ 0