Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah”

Malam itu, 27 Mei 2025, Simbah—Emha Ainun Nadjib—genap berusia 72 tahun. Seperti biasa, kami para anak cucunya tidak merayakan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi, doa, dan renungan. Karena memang begitulah Simbah: tidak mencari sorotan, tapi menjadi cahaya yang muncul diam-diam.

Saya teringat satu video lama yang pernah beredar, ketika Almarhum Syekh Nursamad Kamba menyampaikan satu rangkaian pesan dalam rangka ulang tahun Simbah. Di situ, beliau menyebut ajaran yang pernah disampaikan Simbah di masa lampau: “Jalan tol itu bernama Muhammadkan hamba.”

Ungkapan itu sederhana tapi dalam sekali. Tidak langsung membahas ritual, tidak sibuk dengan kerangka normatif. Simbah menawarkan satu jalan spiritual yang padat makna: menjadikan diri ini semakin mencerminkan Kanjeng Nabi dalam sepanjang kehidupan kita. Itu inti dari ibadah, dari ilmu, dari hidup itu sendiri.

Namun, hari ini, saya harus jujur: saya belum mengerti. Bahkan bayangannya pun masih kabur. Saya belum bisa me-Muhammadkan diri saya. Jangankan menjadi rahmatan lil ‘alamin, membawa kesejukan bagi sekitar pun saya masih gagal.

Tapi, syukurlah, Simbah itu seperti jembatan. Ketika kami tak mampu melihat cahaya Kanjeng Nabi karena kotor dan sempitnya hati, kami bisa melihat bias cahaya itu dalam keseharian Simbah. Kami bisa belajar mencintai Nabi melalui cara Simbah mencintai manusia.

Simbah bukan hanya guru, tapi juga pangkuan. Beliau bukan hanya penutur hikmah, tapi juga “rumah”. Yang dilakukan Simbah adalah membaca, mendengar, menyimak, meneduhkan, dan menampung semua bentuk luka dan kegelisahan.

Kalau kami tidak cukup mampu untuk meneladani Kanjeng Nabi secara langsung, mungkin kami bisa memulai dengan meneladani Simbah. Meniru senyumnya yang tak pernah merendahkan. Meniru kesungguhan hidup beliau, meniru cara beliau mengayomi, meniru cara beliau bersabar, bahkan kepada orang yang paling menyakitinya sekalipun. Meniru caranya menemani manusia: para pemulung, pelacur, pengusaha, santri, preman, intelektual, dan siapapun itu.

Simbah hidup dalam kesadaran lintas dimensi: sosial, spiritual, politik, budaya, dsb. Semua dijalani bukan untuk pencitraan, melainkan untuk merawat kehidupan itu sendiri. Beliau bukan aktivis formal, tapi segala kegiatannya mengandung aktivisme: membela yang dilemahkan, menyuarakan yang ditindas, menegur yang congkak, dan merangkul semua yang ditinggal.

Seperti yang pernah dikatakan Mbah Ahmad Mustofa Bisri: “Cak Nun itu Santri tanpa sarung, Haji tanpa peci, Kiai tanpa sorban, Dai tanpa mimbar, Mursyid tanpa tarekat, Sarjana tanpa wisuda, Guru tanpa sekolahan, Aktifis tanpa LSM, Pendemo tanpa spanduk, Politisi tanpa partai, Wakil rakyat tanpa dewan, Pemberontak tanpa senjata, Kstaria tanpa kuda, Saudara tanpa hubungan darah”. Ini dapat kita artikan bahwa Simbah memang memiliki kualitas multi-dimensi, tanpa perlu perantara formal.

Satu hal lagi yang tidak bisa dinafikkan dari Simbah adalah keikhlasan yang terpancar begitu nyata. Ia tidak sibuk membela diri, tidak sibuk menampilkan citra agung. Ia tidak menuntut dihormati, maka ia begitu dihormati. Ia tidak meminta dicintai, justru dengan mudah kami mencintainya. Ia tidak pernah menyebut diri ulama, tapi kami sangat menantikan ilmunya. Bahkan ia adalah rindu tanpa sebelumnya pernah bertemu.

Kalau jalan tol yang ditunjukkan Simbah adalah dengan memohon “Muhammadkan hamba” kepada Allah, kami ingin memulainya dengan “Simbahkan diri kami”. Bukan karena Simbah adalah pengganti Kanjeng Nabi—tidak, Simbah sendiri menolak pengkultusan. Tapi karena Simbah menawarkan kami jalan yang manusiawi untuk belajar manunggal. Menjadi lebih jernih. Menjadi lebih baik dalam bahasa yang bisa kami pahami.

Mungkin kami tidak bisa membangun rumah untuk orang lain, tapi kami bisa tidak menggusur rumah yang sudah ada. Mungkin kami tidak bisa menyembuhkan luka orang lain, tapi kami bisa tidak menambah luka baru. Mungkin kami belum bisa meneduhkan, tapi kami bisa tidak membawa panas.

Kami tahu, perjalanan ini panjang. Jalan tol ini tetap harus ditempuh. Tapi selama kami terus sinau bareng, Maiyah akan terus menjadi ladang subur, dan tempat kami percaya bahwa kami belum kehilangan arah.

Karena Simbah, maka ada harapan. Maka kami belajar. Maka kami berusaha. Maka kami jalan. Bersama Allah setiap saat.

Ya Allah, Muhammadkan hamba.

Mulai dari menyayangi, mulai dari Simbah.

Sugeng Ambal Warsa yang ke-72, Mbah Nun.


M Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah. Menyukai Desa dan Kebudayaan. Instagram  : @myudhaif. WA : 082377842632.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top