Dalam masyarakat kita, perbincangan sering kali dibelah dua: mana yang benar, dan mana yang salah. Seolah hidup ini hanya terdiri dari jawaban tegas—ya atau tidak, putih atau hitam. Tapi di antara dua kutub itu, ada satu posisi yang jarang disorot, bahkan dianggap lemah: tidak tahu.
Kita sering lupa, semua pengetahuan di dunia ini lahir bukan dari kepastian, melainkan dari pengakuan bahwa kita tidak tahu. Newton tidak akan menemukan gravitasi jika ia merasa sudah tahu kenapa apel jatuh. Para dokter, ilmuwan, guru, dan filsuf adalah mereka yang memulai dari rasa ingin tahu. Dan itu artinya: mengakui terlebih dahulu bahwa mereka tidak tahu.
Celakanya, dalam budaya yang memuja kepastian, pengakuan tidak tahu sering dianggap dosa intelektual. Kita diajari untuk selalu punya jawaban, bahkan ketika sebetulnya belum waktunya menjawab. Padahal, justru dari sikap tidak tahu yang jujur, keadilan dan ilmu pengetahuan bisa tumbuh.
Ketidaktahuan Bukan Wilayah Abu-Abu
Penting untuk menegaskan bahwa tidak tahu bukanlah wilayah abu-abu. Ia bukan posisi gamang, bukan kompromi antara benar dan salah, apalagi bentuk kemalasan berpikir. Ia adalah posisi intelektual dan etis yang aktif. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak tahu,” ia sedang menyatakan kesiapan untuk belajar, menahan diri untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dan membuka pintu bagi diskusi yang sehat.

Berbeda dengan sikap abu-abu yang bisa jadi hanya mencari aman, tidak tahu justru membutuhkan keberanian. Keberanian untuk jujur pada keterbatasan, keberanian untuk tidak menipu, dan keberanian untuk tidak sok tahu.
Dampak Nyata dari Sok Tahu
Mari kita lihat dalam dunia nyata. Seorang pasien datang ke dokter dengan keluhan yang rumit. Alih-alih merujuk ke spesialis atau melakukan pemeriksaan lanjutan, dokter langsung memberi diagnosis dan obat. Bisa jadi karena tekanan sistem, tuntutan performa, atau sekadar gengsi profesional. Padahal, ia sebenarnya tidak tahu pasti apa penyakit pasien itu.

Apa yang terjadi? Salah diagnosis bisa berarti salah pengobatan. Salah obat bisa mengantar pada kefatalan. Ini bukan teori. Ini kenyataan. Saya sendiri bersaksi. Almarhum ibu saya, jauh sebelum divonis kanker, berkali-kali menerima diagnosis keliru: ginjal dan kencing batu. Ketika akhirnya kanker terdeteksi, waktu sudah terlalu jauh terlewat. Sebagian karena ada yang tidak mau berkata jujur: “Saya tidak tahu.”
Keadilan Dimulai dari Kerendahan Hati
Ketidaktahuan yang diakui secara sadar adalah akar dari keadilan. Seorang hakim yang berkata, “Bukti belum cukup,” sebenarnya sedang berlaku lebih adil daripada hakim yang terburu-buru menjatuhkan vonis demi terlihat tegas. Seorang pemimpin yang berkata, “Saya tidak tahu dampak kebijakan ini, mari kita kaji ulang,” jauh lebih bertanggung jawab ketimbang yang asal tunjuk arah demi terlihat kuat.

Kita sering membayangkan keadilan sebagai produk dari kepastian. Padahal, keadilan yang matang lahir dari kehati-hatian, dari pengakuan atas keterbatasan diri, dan dari kesediaan untuk mendengar serta belajar. Dunia yang terlalu percaya diri dengan jawaban cepat sering kali justru menyimpan banyak ketidakadilan yang tertata rapi.
Membangun Budaya Tidak Tahu yang Sehat
Apa yang harus kita lakukan? Pertama, hentikan budaya mencibir orang yang tidak tahu. Biarkan guru berkata, “Mari kita cari tahu bersama.” Biarkan pejabat berkata, “Saya perlu mendengar lebih banyak.” Biarkan dokter berkata, “Saya akan konsultasikan ini.” Dan biarkan masyarakat terbiasa dengan kalimat, “Saya belum tahu.”
Kedua, bangun ruang aman untuk bertanya dan mencari. Media, ruang publik, ruang kelas, dan rumah ibadah seharusnya menjadi tempat yang mendorong rasa ingin tahu, bukan tempat yang membunuhnya dengan tekanan untuk selalu punya jawaban.
Ketiga, sadari bahwa dalam ketidaktahuan yang jujur, terkandung harapan untuk pertumbuhan. Yang tidak tahu hari ini, bisa jadi lebih tahu esok hari. Asal mau belajar.
Di dunia yang bising oleh orang-orang yang terlalu yakin, barangkali revolusi paling mendalam adalah kejujuran untuk berkata “saya tidak tahu”. Sebab, hanya dengan itu kita bisa mulai mencari tahu, bersama-sama.
Dan dari sanalah—dari ruang jujur yang tidak terburu-buru, kita membangun kehidupan yang lebih adil, lebih hati-hati, dan lebih manusiawi.
Muhammad Yudha IF. Kadang Merusak Cara dan Tatanan Hidup. Pembelajar di Maiyah. Menyukai Desa dan Kebudayaan. Mendirikan surau. Instagram : @myudhaif
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



