#SinauBareng Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/sinaubareng/ Mon, 02 Mar 2026 08:57:45 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #SinauBareng Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/sinaubareng/ 32 32 Tirakat Ahsani Taqwim https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/ https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/#respond Wed, 25 Feb 2026 06:18:17 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2649 Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai […]

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan Tuhan atas kapasitas rasional manusia. Lalu, potensi apa yang sebenarnya sedang diuji melalui kepercayaan itu?

Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa puasa adalah metode tirakat untuk memproses diri menuju ahsani taqwim. Gagasan tersebut membuka ruang renung tentang manusia sebagai proyek yang terus dibentuk.

Sumber : caknun.com

Jika mentadabburi Al-Qur’an Surat At-Tin ayat 4–5, manusia disebut diciptakan dalam ahsani taqwim dan berpotensi njlungup ke asfala safilin. Kontras itu menandakan kondisi yang naik turun. Struktur tersebut dipahami sebagai perpaduan akal dan nafsu. Dari sanalah manusia memiliki kemungkinan untuk naik menuju kemuliaan atau turun pada kerendahan. Maka, apakah gelar luhur itu telah kita wujudkan, atau baru sebatas sebutan?

Ramadhan menghadirkan kesempatan membaca ulang posisi kita di antara dua kemungkinan tersebut. Di sinilah Bangbang Wetan edisi Maret 2026 mengajak bertirakat dengan kesadaran utuh, bukan hanya menjalani rutinitas tahunan. Apakah kita bertirakat Ahsani Taqwim, atau bahkan gak mengerti blas makna tirakat?

Mari temukan jawaban bersama di forum pencerahan Bangbangwetan pada tanggal 8 Maret 2026, Nang Pendopo Cak Durasim. Teko yo rek!

Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/feed/ 0
NGABUDAYA   https://bangbangwetan.org/ngabudaya/ https://bangbangwetan.org/ngabudaya/#respond Mon, 26 Jan 2026 03:02:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2629 Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026 Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada […]

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026

Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti Reog Ponorogo, jathilan, ludruk, atau dalam bentuk arsitektur seperti candi atau tempat-tempat bersejarah yang memiliki makna. Tidak salah berpikir seperti itu. Namun, lebih tepatnya semua simbol dan kesenian itu adalah output dari yang namanya “budaya”.

Kita tahu Mbah Nun juga sering disebut budayawan. Tapi tahukah kita bagaimana sebenarnya Mbah Nun memahami budaya dan apa nilai penting budaya menurut beliau? dalam sebuah esai “apa pentingnya budaya?” Beliau memberikan pintu masuk yang sangat fundamental untuk memahami arti budaya. Bahwa salah satu pengertian budaya adalah mutu berekspresi manusia.

Sumber: Kata Maiyah

Ekspresi apa yang dimaksud oleh Mbah Nun sebagai elemen penting dalam budaya? Lalu,  bagaimana ekspresi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari sehingga kita bisa secara sempurna “ngabudaya”?

Jawaban itu akan kita temukan bersama dalam forum Bangbang Wetan edisi bulan Februari 2026 di Pendopo Cak Durasim.

Teka ya rek, Ngabudaya bareng-bareng.
Selasa, 3 Februari 2026 / Shaʻban 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ngabudaya/feed/ 0
Refleksi Digital Era Modern https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/ https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/#respond Sat, 24 Jan 2026 04:58:28 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2623 Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki […]

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan

Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki era Post-Truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta. Sejenak mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya seperti pada saat bangun tidur, seringkali refleks tangan kita pertama kali biasanya adalah mengambil ponsel. Bahkan kita seringkali lupa untuk berdo’a atau bersyukur terlebih dahulu, tetapi lebih ingat pada sebuah notifikasi yang muncul untuk meminta sebuah respons. Memang, semua kemudahan bisa lebih mudah didapatkan di era kemajuan teknologi. Namun, ada satu hal yang tertinggal, yakni waktu untuk sejenak merenung sambil berpikir pelan.

Kemajuan teknologi sebenarnya bukan hanya sekadar alat bantu dalam sebuah kehidupan modern. Ia merupakan sebuah ruang sosial baru yang membentuk cara manusia belajar, berinteraksi, dan memaknai diri. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para pemikir seperti McLuhan, Bauman, dan Freire bahwa kemajuan manusia tidak selalu sejalan dengan dengan kematangan manusia di era digital. Sejenak, mari kita mencoba untuk memahami sebuah kejadian kecil seperti sebuah pesan dalam potongan video di media sosial yang bisa membuat orang marah sehingga membuat algoritma emosi begerak lebih cepat daripada nalar. Kecepatan teknologi membawa manusia pada sebuah kebiasaan baru, yakni cepat membaca, cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Banyak sekali hal yang bisa kita ketahui informasinya dari sebuah teknologi, tetapi seringkali kita tak sempat untuk memahami makna persoalannya.

Sumber: Kata Maiyah

Menguji Kemanusiaan

Hari ini, banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi. Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu. Artinya bukan soal sepi atau ramai, melainkan perihal kehadiran makna. Banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi karena pada era digital seringkali terjadi perbincangan dalam pertukaran kata seperti komentar, emoji, atau respons dalam merefleksi sebuah persoalan. Padahal komunikasi sesungguhnya lebih dari sekadar pertukaran kata, tetapi adanya sebuah niat untuk memahami, kesediaan dalam mendengarkan, dan sebuah ikhtiar dalam memahami makna di balik sebuah kata. Ketika kebanyakan orang ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan, maka percakapan akan berubah menjadi sebuah monolog yang saling bertabrakan sehingga perbedaan kecil membesar menjadi sebuah konflik. Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena potongan sebuah konteks dan menafsirkannya secara sepihak tanpa mendengar secara utuh akibat kurang adanya kesediaan untuk memahami.

Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu karena seringkali kita berada pada suatu ruang yang sama seperti rumah, forum, ataupun tempat nongkrong, tetapi jarang memperhatikan percakapan atau komunikasi yang berlangsung seperti saat dua orang saling berjumpa pada satu meja di sebuah tempat nongkrong. Satu orang sedang bercerita dengan lawan bicaranya, bermaksud ingin didengarkan, diperhatikan, dan direspons ceritanya sedangkan orang kedua atau lawan bicaranya malah sibuk bermain gadget sehingga tubuhnya hadir secara fisik, tetapi batinnya jauh secara manusiawi karena kurangnya simpati dan empati terhadap lawan bicara saat komunikasi berlangsung.

Membiasakan Kesadaran Kritis

Saat ini, ruang digital di era modern menjelma menjadi sebuah laboratorium kepribadian yang memproduksi dan mereproduksi nilai, identitas, dan perilaku manusia setiap hari. Maka dari itu, kesadaran kritis manusia dalam merefleksikan ruang digital di era modern sangatlah penting agar manusia tidak menjadi objek yang dibentuk, tetapi bisa menjadi subjek yang mampu untuk mengendalikan ruang digital. Secara tidak sadar, seringkali pandangan manusia dibentuk oleh sebuah algoritma arus informasi yang bersumber dari media. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang pernah dituangkan oleh Edward Bernays tentang Organized Habits yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan preferensi individu dibentuk melalui pengulangan pesan yang terencana. Artinya kepribadian kita dalam dunia digital tidak sepenuhnya dibentuk oleh pemikiran dan pilihan pribadi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh cara media menyajikan informasi yang membentuk kebiasaan kita.

Sumber: Kata Maiyah

Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai objek yang dibentuk dan dikendalikan oleh media. Syarat utama agar setiap individu yang mengkonsumsi media bisa berdaulat atas identitas dan tindakannya adalah membangun kesadaran kritis dalam literasi digital sehingga media menjadi suatu ruang pembelajaran dan wadah ekspresi agar tidak menjadi sebuah laboratorium manipulatif yang membentuk manusia sesuai dengan kepentingan sistem. Tanpa pemikiran kritis dan sikap reflektif, manusia hanya akan dipimpin tanpa pernah menyadari siapa yang memegang kendali seperti yang pernah dinyatakan oleh Edward Bernays dalam bukunya yang berjudul Propaganda Manipulasi Opini Masyarakat.

Media teknologi hanyalah sebuah alat bantu, bukan musuh manusia. Hal yang harus kita waspadai adalah ketika manusia berhenti menjadi pengendali media teknologi lalu berubah menjadi manusia yang reaktif tanpa menggunakan kesadaran dan pemikiran kritis. Padahal, awal mula diciptakannya sebuah media teknologi adalah untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, mengapa dengan adanya segala kemudahan malah membuat manusia merasa sensitif dan mudah tersulut emosi? Bisa jadi, bukan karena media teknologinya yang dipersalahkan, melainkan masih adanya kesalahan dari cara manusia dalam menyikapi media teknologi. Maka dari itu, saat kita menggunakan teknologi dan mengkonsumsi media, juga perlu berpikir kritis sebelum bereaksi.


Muchammad Syuhada’. Pemikir yang berjalan, bisa dijumpai di Warung Kopi.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/feed/ 0
Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0