Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia

Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top