Kontributor Bangbang Wetan, Pengarang di Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/author/kontributor-bangbang-wetan/ Thu, 09 Apr 2026 05:00:57 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Kontributor Bangbang Wetan, Pengarang di Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/author/kontributor-bangbang-wetan/ 32 32 Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/ https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/#respond Thu, 09 Apr 2026 05:00:57 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2691 “Sebelum tiba waktu senja, kugenggam tanganmu dan bertanya, apakah bisa kau membawa rasa yang engkau punya selamanya.” Penggalan lirik lagu Fatwa Hati dari Letto ini membuat banyak tafsir yang lahir. […]

Artikel Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

“Sebelum tiba waktu senja, kugenggam tanganmu dan bertanya, apakah bisa kau membawa rasa yang engkau punya selamanya.”

Penggalan lirik lagu Fatwa Hati dari Letto ini membuat banyak tafsir yang lahir. Sudah barang pasti, penulis lagu ini–dalam hal ini Mas Sabrang–punya makna tersendiri soal lagu itu. Namun, Al-Qur’an saja boleh ditadaburi, terserah si penadabur selama output-nya bermanfaat dan bijak, apalagi hanya lagu Letto. Saya akan menadaburinya dengan nada dan irama pikiran saya sendiri.

Ketika mendengar lirik di atas, mungkin pikiran awam kita membayangkan sepasang kekasih yang duduk di tepi sungai sambil menunggu senja. Mereka saling menggenggam tangan, lalu si lelaki berkata, “Dik, apakah kamu rela mencintaiku selamanya.” Jawaban si perempuan tidak saya analogikan karena perempuan adalah makhluk tentatif, tidak semua sama.

Jika pemahaman kita hanya seperti itu, sangat boleh. Lagi-lagi, sang penulis membuat lirik perlirik tersebut multitafsir. Namun, banyak yang mengira, bahkan sampai membuat penelitian ilmiah, bahwa lirik-lirik yang Letto ciptakan muatannya adalah spiritualitas. Jelas, tidak hanya masalah hubungan antar kekasih.

“Senja” dalam penggalan lirik itu, menurut saya, adalah situasi terbenamnya matahari dan munculnya bulan sebagai cahaya di tengah kegelapan. Saya membayangkan seperti seorang bayi dalam keadaan suci yang terlahir dari suasana alam ruh yang sangat bercahaya, lalu turun ke bumi yang gelap dan penuh dosa.

Lirik “sebelum tiba waktu senja” bisa ditadaburi bahwa sebelum bayi lahir, terdapat beberapa kejadian penting dalam alam ruh. Dalam lirik tersebut ada sebuah kejadian: genggaman tangan dan pertanyaan tentang konsistensi rasa yang akan dibawa setelah lahir. Ini sejalan dengan apa yang Allah ceritakan dalam wahyu-Nya. Ketika bayi sebelum lahir, mereka di alam ruh akan diberikan sebuah pertanyaan tentang kesaksian: “Alastu bi rabbikum?” Bahasa Suroboyoan-nya, “Opo aku iki Pengeranmu?” Si jabang bayi yang akan lahir ini dengan kesadaran ruhnya yakin mengatakan, “Bala syahidna,” yang berarti “Nggeh, kulo nyekseni.

Makna “genggaman” dalam lirik tersebut adalah masalah konsistensi kita kepada Allah. Tuhan membuat sebuah “MoU” dengan ruh kita: apakah Allah selalu kita hadirkan selama kita hidup? Secara yakin, ruh kita dengan tegas mengiyakan. Namun, sayang, ketika bayi itu lahir dan menjalani perjalanan hidupnya–tidak hanya dengan ruh, tetapi juga jasad dan pikiran–genggaman itu rawan terlepas.

Konsistensi itu sangat terlihat meyakinkan dengan ungkapan “bala syahidna”. Ibarat kita menjadi saksi tabrak lari, ketika ditanya di persidangan, kita yakin mengatakan, “Ya, saya menyaksikan yang salah pihak A.” Kita menyaksikan secara sungguh-sungguh. Itulah mengapa Allah mewajibkan kita sebagai orang Islam bahwa yang utama adalah syahadat. Syahidna dan syahadat itu berasal dari akar kata yang sama, yaitu menyaksikan. Jadi, menjaga konsistensi genggaman Tuhan tidak cukup hanya percaya kepada Allah, tetapi juga menyaksikan Allah.

Menyaksikan Allah ini jangan hanya dipahami secara saklek, seakan kita harus menemui Tuhan di puncak Semeru atau gunung lainnya. Wujud penyaksian Tuhan adalah melihat bahwa setiap apapun yang terjadi dan ada di dunia ini adalah kuasa-Nya. Menyaksikan berarti kita merasakannya secara langsung. Kalau hanya percaya, itu sekadar “kata orang”, “opo jare wong kae”, alias tidak benar-benar dirasakan.

Itulah konsistensi genggaman yang bisa saya tadaburi dari lirik Fatwa Hati. Bahwa konsistensi genggaman itu berbentuk penyaksian kita terhadap kuasa dan kehadiran Tuhan yang selalu kita rasakan. Terakhir, ada lirik yang menurut saya paling “gong”:

“Tentang kita dan tentang cinta.
Tentang janji yang kau bawa.
Jika nanti saat kau sendiri,
Temukanku di fatwa hatimu.”

Pengembaraan syahadat hidup kita juga harus diwarnai dengan hablum minallah dan hablum minannas. Itu yang digambarkan dalam frasa “tentang kita,” yaitu hubungan kita dengan Tuhan yang menegaskan ikatan cinta penghambaan. Begitu juga frasa “tentang cinta,” yaitu cinta yang kita berikan kepada sesama manusia. Sebab, lebih tepat jika hubungan antarmanusia disambung dengan kata cinta. Hablum minallah dan minannas itulah salah satu janji yang kita bawa terus-menerus dalam menjalani hidup: janji kepada Tuhan dan janji terhadap hamba Tuhan yang lain. Ini harus menjadi prinsip yang dibawa sampai titik akhir kehidupan.

Lalu, ketika kita berada pada titik nadir, kita tidak seimbang ketika membawa janji itu. Kita seakan sedikit oleng oleh pergulatan ruh, jasad, dan pikiran. Situasi itu membuat kita merasa sendiri, membuat kita meragukan keberadaan Tuhan sebagai pemegang dalih rahman dan rahim-Nya. Maka, kembalilah ke fatwa hatimu.

Kita terlalu sibuk memerangkan ruh, jasad, dan pikiran sampai lupa bahwa kita mempunyai hati sebagai penyeimbang antara ketiga elemen diri. Tiga elemen itu menjadi first touch ketika menghadapi sesuatu. Namun, hati adalah second touch ketika first touch tidak mampu menghasilkan output yang bermanfaat dan bijak.

Kata Habib Ja’far, “Tuhan bukan di Mekkah ataupun di Vatikan, tetapi Tuhan ada di hatimu.”

Waru, 31 Maret 2026

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/feed/ 0
Kiblat Politik dan Doa https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/ https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/#respond Thu, 05 Mar 2026 05:06:03 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2665 Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran […]

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran ini selalu tiba-tiba berpikir liar seperti itu. Dan tangan ini selalu gatal untuk mengabadikan pola ketauhidan antara peristiwa penting zaman Rasulullah yang diromantisasi dengan keadaan politik sekarang.

Mungkin, karena memang saya sehari-hari bergelut dengan ilmu-ilmu politik, baik politik domestik maupun politik luar negeri. Jadi bahasan-bahasan politik sudah menjadi “sego jangan” saya setiap hari, dan lebih “gong”-nya saya sudah terbiasa untuk mengait-ngaitkan khazanah Islam dengan situasi politik sekarang karena kampus saya sangat islami dan menuntut untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu modern dengan Islam.

Kali ini, saya akan berpikir liar lagi, tetapi saya memakai senjata tadabbur. Apa yang saya maknai, interpretasikan, atau saya jadikan argumen, itu semua dalam ranah tadabburan. Merasakan Al-Qur’an, merasakan peristiwa penting Kanjeng Nabi, dan mencoba untuk memaknainya sebagai ladang manfaat, baik buat diri saya maupun untuk khalayak yang membaca.

Ketika saya menulis ini, tepat di tengah-tengah bulan Sya’ban. Saya “nenger”-nya adalah bahwa besok malam adalah padhang mbulan, di mana itu tanda pertengahan bulan. Kalau di bulan Sya’ban kita familiar menyebutnya sebagai “Nisfu Sya’ban”. Biasanya, kalau di desa-desa ada acara ruwahan atau ruwah desa, yang memang sifatnya lebih kultural. Kalau sifatnya agak-agak agamis, ya biasanya tepat pertengahan bulan Sya’ban jamaah-jamaah langgar membaca surat Yasin tiga kali antara Maghrib dan Isya.

Itu semua adalah sebuah budaya yang sering kita temui di bulan Sya’ban. Saya tidak akan membahas itu karena sudah pasti banyak orang yang memaknai itu, paham akan acara itu, dan sudah menjadi acara tahunan yang wajib diselenggarakan. Namun, saya ingin mengajak para pembaca untuk menengok pada satu peristiwa yang jarang terdengar di telinga kita, yaitu pada bulan Sya’ban ada sebuah peristiwa Tahwilul Qiblah.

Tahwilul Qiblah adalah sebuah proses pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis yang sekarang Palestina berubah ke Masjidil Haram, yaitu Mekkah. Hal ini jarang dicapture oleh banyak orang, padahal ini adalah peristiwa yang sangat penting di zaman Rasulullah dan itu pun sangat berpengaruh pada ibadah mahdhah kita, yaitu sholat yang sekarang berkiblat di Mekkah. Sejenak mari kita perdalam.

Lagi-lagi, Allah menurunkan perintah pada Rasulullah untuk memindahkan arah kiblat itu tidak hanya urusan ibadah mahdhah. Tapi kita bisa mengambil beberapa nilai dari peristiwa itu dan kita romantisasi dengan kondisi sekarang, khususnya politik. Sangat liar sekali kita langsung memaknainya dalam lingkar politik. Tapi itulah tadabbur. Maknai apa saja asal manfaat.

Kita runtut dari awal. Kenapa kok umat Islam pada saat itu beribadah menghadap Baitul Maqdis? Apa maknanya? KH Bisri Musthofa, ayah dari KH Musthofa Bisri (Gus Mus), pernah dikutip dalam beberapa penelitian bahwa alasan kenapa berkiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk melunakkan hati orang Yahudi. Mungkin, pada saat itu agar umat Yahudi bisa mualaf. Namun, sebenarnya Rasulullah sangat ingin sekali kembali untuk berkiblat ke Makkah, di mana tempat ibadah “persasat” bapaknya, yaitu Nabi Ibrahim.

Itulah yang direspons oleh Allah, dan akhirnya turun sebuah ayat atau wahyu bahwa kiblat akan dipindahkan ke Mekkah. Beberapa ayat kuncinya adalah:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu …” (QS. Al-Baqarah: 144)

Dengan penjelasan sekilas itu, saya mencoba untuk menarik pada kondisi saat ini. Indonesia sempat ramai dengan Board of Peace, organisasi bentukan Amerika Serikat, di mana Amerika Serikat dengan Trump sebagai kepala atau promotor utama organisasi itu. Tujuannya adalah untuk perdamaian Gaza. Naasnya, dalam organisasi itu hanya ada Israel. Tidak ada negara Palestina. Ini menimbulkan banyak pro dan kontra para ahli geopolitik dan hubungan internasional, apalagi yang ada di Indonesia. Seakan-akan merasakan kebingungan kebijakan luar negeri Indonesia yang lepas dari doktrin bebas aktif.

Ibarat kisah Tahwilul Qiblah, menurut saya kita sedang dalam posisi masih berkiblat di Baitul Maqdis. Kita seakan-akan berfokus pada Palestina, memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Gaza, namun dengan cara dekat dan seorganisasi dengan Israel(yahudi). Kalau saya memaknai itu, proses Indonesia sebagai negara pembela Palestina itu seperti umat Islam dulu berkiblat ke Baitul Maqdis untuk melunakkan hati kaum Yahudi.

(Sumber : https://www.caknun.com/2017/para-penguasa-menyangka-2)

Melunakkan hati kaum Yahudi dalam hal ini bisa Israel dan sekutunya, tapi tidak untuk mualaf seperti zaman Nabi dahulu. Semata-mata tujuannya untuk menyelesaikan wacana two state solution, kemerdekaan Palestina, dan pemberhentian aksi genosida. Itulah yang dilakukan oleh Indonesia sekarang. Mendekati musuh atau ancaman gunanya untuk melunakkan. Dalam beberapa teori Barat hubungan internasional, ini bisa disebut sebagai balance of threat atau penyeimbangan ancaman.

Alarm bahaya tetap akan siap-siap berbunyi. Balance of threat atau berusaha membela Gaza dengan mendekati musuh atau ancamannya dapat memunculkan dua kemungkinan. Pertama, Indonesia berhasil merayu Israel dan Amerika Serikat dari dalam untuk memerdekakan Palestina secara sempurna. Kedua, Indonesia akan dijadikan negara yang tidak memiliki pengaruh apa pun. Negara Indonesia akan terjebak pada lingkaran setan, dan otomatis kerugian material serta sikap akan didapatkan oleh Indonesia, dan otomatis juga Indonesia gagal memperjuangkan Palestina.

Menurut saya, merespons kondisi geopolitik saat ini, kita menunggu hidayah atau keajaiban Tuhan turun agar seluruh negara Indonesia kembali berkiblat ke Mekkah. Dalam arti, Mekkah adalah simbol persatuan, solidaritas, dan perkumpulan umat Islam seluruh dunia. Tempat seluruh energi ibadah kepada Tuhan tumpuk-menumpuk di sana. Kita lihat saja upaya presiden kita gagal atau tidak. Tapi sejak sekarang kita harus bersiap. Siap-siap menguatkan solidaritas antarumat. Jaga persatuan umat Islam, khususnya di Indonesia, karena memungkinkan banyak masalah-masalah “kriwikan” yang akan jadi grojokan dalam hal Islam di Indonesia. Dan itu akan menjadi pondasi yang rapuh untuk kita membela Palestina. Karena konflik internal adalah akal-akalan oknum untuk mengalihkan hati dan pikiran kita terhadap Palestina.

______________

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:

Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/feed/ 0
Refleksi Digital Era Modern https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/ https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/#respond Sat, 24 Jan 2026 04:58:28 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2623 Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki […]

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan

Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki era Post-Truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta. Sejenak mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya seperti pada saat bangun tidur, seringkali refleks tangan kita pertama kali biasanya adalah mengambil ponsel. Bahkan kita seringkali lupa untuk berdo’a atau bersyukur terlebih dahulu, tetapi lebih ingat pada sebuah notifikasi yang muncul untuk meminta sebuah respons. Memang, semua kemudahan bisa lebih mudah didapatkan di era kemajuan teknologi. Namun, ada satu hal yang tertinggal, yakni waktu untuk sejenak merenung sambil berpikir pelan.

Kemajuan teknologi sebenarnya bukan hanya sekadar alat bantu dalam sebuah kehidupan modern. Ia merupakan sebuah ruang sosial baru yang membentuk cara manusia belajar, berinteraksi, dan memaknai diri. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para pemikir seperti McLuhan, Bauman, dan Freire bahwa kemajuan manusia tidak selalu sejalan dengan dengan kematangan manusia di era digital. Sejenak, mari kita mencoba untuk memahami sebuah kejadian kecil seperti sebuah pesan dalam potongan video di media sosial yang bisa membuat orang marah sehingga membuat algoritma emosi begerak lebih cepat daripada nalar. Kecepatan teknologi membawa manusia pada sebuah kebiasaan baru, yakni cepat membaca, cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Banyak sekali hal yang bisa kita ketahui informasinya dari sebuah teknologi, tetapi seringkali kita tak sempat untuk memahami makna persoalannya.

Sumber: Kata Maiyah

Menguji Kemanusiaan

Hari ini, banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi. Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu. Artinya bukan soal sepi atau ramai, melainkan perihal kehadiran makna. Banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi karena pada era digital seringkali terjadi perbincangan dalam pertukaran kata seperti komentar, emoji, atau respons dalam merefleksi sebuah persoalan. Padahal komunikasi sesungguhnya lebih dari sekadar pertukaran kata, tetapi adanya sebuah niat untuk memahami, kesediaan dalam mendengarkan, dan sebuah ikhtiar dalam memahami makna di balik sebuah kata. Ketika kebanyakan orang ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan, maka percakapan akan berubah menjadi sebuah monolog yang saling bertabrakan sehingga perbedaan kecil membesar menjadi sebuah konflik. Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena potongan sebuah konteks dan menafsirkannya secara sepihak tanpa mendengar secara utuh akibat kurang adanya kesediaan untuk memahami.

Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu karena seringkali kita berada pada suatu ruang yang sama seperti rumah, forum, ataupun tempat nongkrong, tetapi jarang memperhatikan percakapan atau komunikasi yang berlangsung seperti saat dua orang saling berjumpa pada satu meja di sebuah tempat nongkrong. Satu orang sedang bercerita dengan lawan bicaranya, bermaksud ingin didengarkan, diperhatikan, dan direspons ceritanya sedangkan orang kedua atau lawan bicaranya malah sibuk bermain gadget sehingga tubuhnya hadir secara fisik, tetapi batinnya jauh secara manusiawi karena kurangnya simpati dan empati terhadap lawan bicara saat komunikasi berlangsung.

Membiasakan Kesadaran Kritis

Saat ini, ruang digital di era modern menjelma menjadi sebuah laboratorium kepribadian yang memproduksi dan mereproduksi nilai, identitas, dan perilaku manusia setiap hari. Maka dari itu, kesadaran kritis manusia dalam merefleksikan ruang digital di era modern sangatlah penting agar manusia tidak menjadi objek yang dibentuk, tetapi bisa menjadi subjek yang mampu untuk mengendalikan ruang digital. Secara tidak sadar, seringkali pandangan manusia dibentuk oleh sebuah algoritma arus informasi yang bersumber dari media. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang pernah dituangkan oleh Edward Bernays tentang Organized Habits yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan preferensi individu dibentuk melalui pengulangan pesan yang terencana. Artinya kepribadian kita dalam dunia digital tidak sepenuhnya dibentuk oleh pemikiran dan pilihan pribadi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh cara media menyajikan informasi yang membentuk kebiasaan kita.

Sumber: Kata Maiyah

Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai objek yang dibentuk dan dikendalikan oleh media. Syarat utama agar setiap individu yang mengkonsumsi media bisa berdaulat atas identitas dan tindakannya adalah membangun kesadaran kritis dalam literasi digital sehingga media menjadi suatu ruang pembelajaran dan wadah ekspresi agar tidak menjadi sebuah laboratorium manipulatif yang membentuk manusia sesuai dengan kepentingan sistem. Tanpa pemikiran kritis dan sikap reflektif, manusia hanya akan dipimpin tanpa pernah menyadari siapa yang memegang kendali seperti yang pernah dinyatakan oleh Edward Bernays dalam bukunya yang berjudul Propaganda Manipulasi Opini Masyarakat.

Media teknologi hanyalah sebuah alat bantu, bukan musuh manusia. Hal yang harus kita waspadai adalah ketika manusia berhenti menjadi pengendali media teknologi lalu berubah menjadi manusia yang reaktif tanpa menggunakan kesadaran dan pemikiran kritis. Padahal, awal mula diciptakannya sebuah media teknologi adalah untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, mengapa dengan adanya segala kemudahan malah membuat manusia merasa sensitif dan mudah tersulut emosi? Bisa jadi, bukan karena media teknologinya yang dipersalahkan, melainkan masih adanya kesalahan dari cara manusia dalam menyikapi media teknologi. Maka dari itu, saat kita menggunakan teknologi dan mengkonsumsi media, juga perlu berpikir kritis sebelum bereaksi.


Muchammad Syuhada’. Pemikir yang berjalan, bisa dijumpai di Warung Kopi.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/feed/ 0
Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0