Kiblat Politik dan Doa

Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran ini selalu tiba-tiba berpikir liar seperti itu. Dan tangan ini selalu gatal untuk mengabadikan pola ketauhidan antara peristiwa penting zaman Rasulullah yang diromantisasi dengan keadaan politik sekarang.

Mungkin, karena memang saya sehari-hari bergelut dengan ilmu-ilmu politik, baik politik domestik maupun politik luar negeri. Jadi bahasan-bahasan politik sudah menjadi “sego jangan” saya setiap hari, dan lebih “gong”-nya saya sudah terbiasa untuk mengait-ngaitkan khazanah Islam dengan situasi politik sekarang karena kampus saya sangat islami dan menuntut untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu modern dengan Islam.

Kali ini, saya akan berpikir liar lagi, tetapi saya memakai senjata tadabbur. Apa yang saya maknai, interpretasikan, atau saya jadikan argumen, itu semua dalam ranah tadabburan. Merasakan Al-Qur’an, merasakan peristiwa penting Kanjeng Nabi, dan mencoba untuk memaknainya sebagai ladang manfaat, baik buat diri saya maupun untuk khalayak yang membaca.

Ketika saya menulis ini, tepat di tengah-tengah bulan Sya’ban. Saya “nenger”-nya adalah bahwa besok malam adalah padhang mbulan, di mana itu tanda pertengahan bulan. Kalau di bulan Sya’ban kita familiar menyebutnya sebagai “Nisfu Sya’ban”. Biasanya, kalau di desa-desa ada acara ruwahan atau ruwah desa, yang memang sifatnya lebih kultural. Kalau sifatnya agak-agak agamis, ya biasanya tepat pertengahan bulan Sya’ban jamaah-jamaah langgar membaca surat Yasin tiga kali antara Maghrib dan Isya.

Itu semua adalah sebuah budaya yang sering kita temui di bulan Sya’ban. Saya tidak akan membahas itu karena sudah pasti banyak orang yang memaknai itu, paham akan acara itu, dan sudah menjadi acara tahunan yang wajib diselenggarakan. Namun, saya ingin mengajak para pembaca untuk menengok pada satu peristiwa yang jarang terdengar di telinga kita, yaitu pada bulan Sya’ban ada sebuah peristiwa Tahwilul Qiblah.

Tahwilul Qiblah adalah sebuah proses pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis yang sekarang Palestina berubah ke Masjidil Haram, yaitu Mekkah. Hal ini jarang dicapture oleh banyak orang, padahal ini adalah peristiwa yang sangat penting di zaman Rasulullah dan itu pun sangat berpengaruh pada ibadah mahdhah kita, yaitu sholat yang sekarang berkiblat di Mekkah. Sejenak mari kita perdalam.

Lagi-lagi, Allah menurunkan perintah pada Rasulullah untuk memindahkan arah kiblat itu tidak hanya urusan ibadah mahdhah. Tapi kita bisa mengambil beberapa nilai dari peristiwa itu dan kita romantisasi dengan kondisi sekarang, khususnya politik. Sangat liar sekali kita langsung memaknainya dalam lingkar politik. Tapi itulah tadabbur. Maknai apa saja asal manfaat.

Kita runtut dari awal. Kenapa kok umat Islam pada saat itu beribadah menghadap Baitul Maqdis? Apa maknanya? KH Bisri Musthofa, ayah dari KH Musthofa Bisri (Gus Mus), pernah dikutip dalam beberapa penelitian bahwa alasan kenapa berkiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk melunakkan hati orang Yahudi. Mungkin, pada saat itu agar umat Yahudi bisa mualaf. Namun, sebenarnya Rasulullah sangat ingin sekali kembali untuk berkiblat ke Makkah, di mana tempat ibadah “persasat” bapaknya, yaitu Nabi Ibrahim.

Itulah yang direspons oleh Allah, dan akhirnya turun sebuah ayat atau wahyu bahwa kiblat akan dipindahkan ke Mekkah. Beberapa ayat kuncinya adalah:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu …” (QS. Al-Baqarah: 144)

Dengan penjelasan sekilas itu, saya mencoba untuk menarik pada kondisi saat ini. Indonesia sempat ramai dengan Board of Peace, organisasi bentukan Amerika Serikat, di mana Amerika Serikat dengan Trump sebagai kepala atau promotor utama organisasi itu. Tujuannya adalah untuk perdamaian Gaza. Naasnya, dalam organisasi itu hanya ada Israel. Tidak ada negara Palestina. Ini menimbulkan banyak pro dan kontra para ahli geopolitik dan hubungan internasional, apalagi yang ada di Indonesia. Seakan-akan merasakan kebingungan kebijakan luar negeri Indonesia yang lepas dari doktrin bebas aktif.

Ibarat kisah Tahwilul Qiblah, menurut saya kita sedang dalam posisi masih berkiblat di Baitul Maqdis. Kita seakan-akan berfokus pada Palestina, memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Gaza, namun dengan cara dekat dan seorganisasi dengan Israel(yahudi). Kalau saya memaknai itu, proses Indonesia sebagai negara pembela Palestina itu seperti umat Islam dulu berkiblat ke Baitul Maqdis untuk melunakkan hati kaum Yahudi.

(Sumber : https://www.caknun.com/2017/para-penguasa-menyangka-2)

Melunakkan hati kaum Yahudi dalam hal ini bisa Israel dan sekutunya, tapi tidak untuk mualaf seperti zaman Nabi dahulu. Semata-mata tujuannya untuk menyelesaikan wacana two state solution, kemerdekaan Palestina, dan pemberhentian aksi genosida. Itulah yang dilakukan oleh Indonesia sekarang. Mendekati musuh atau ancaman gunanya untuk melunakkan. Dalam beberapa teori Barat hubungan internasional, ini bisa disebut sebagai balance of threat atau penyeimbangan ancaman.

Alarm bahaya tetap akan siap-siap berbunyi. Balance of threat atau berusaha membela Gaza dengan mendekati musuh atau ancamannya dapat memunculkan dua kemungkinan. Pertama, Indonesia berhasil merayu Israel dan Amerika Serikat dari dalam untuk memerdekakan Palestina secara sempurna. Kedua, Indonesia akan dijadikan negara yang tidak memiliki pengaruh apa pun. Negara Indonesia akan terjebak pada lingkaran setan, dan otomatis kerugian material serta sikap akan didapatkan oleh Indonesia, dan otomatis juga Indonesia gagal memperjuangkan Palestina.

Menurut saya, merespons kondisi geopolitik saat ini, kita menunggu hidayah atau keajaiban Tuhan turun agar seluruh negara Indonesia kembali berkiblat ke Mekkah. Dalam arti, Mekkah adalah simbol persatuan, solidaritas, dan perkumpulan umat Islam seluruh dunia. Tempat seluruh energi ibadah kepada Tuhan tumpuk-menumpuk di sana. Kita lihat saja upaya presiden kita gagal atau tidak. Tapi sejak sekarang kita harus bersiap. Siap-siap menguatkan solidaritas antarumat. Jaga persatuan umat Islam, khususnya di Indonesia, karena memungkinkan banyak masalah-masalah “kriwikan” yang akan jadi grojokan dalam hal Islam di Indonesia. Dan itu akan menjadi pondasi yang rapuh untuk kita membela Palestina. Karena konflik internal adalah akal-akalan oknum untuk mengalihkan hati dan pikiran kita terhadap Palestina.

______________

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:

Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top