“Sebelum tiba waktu senja, kugenggam tanganmu dan bertanya, apakah bisa kau membawa rasa yang engkau punya selamanya.”
Penggalan lirik lagu Fatwa Hati dari Letto ini membuat banyak tafsir yang lahir. Sudah barang pasti, penulis lagu ini–dalam hal ini Mas Sabrang–punya makna tersendiri soal lagu itu. Namun, Al-Qur’an saja boleh ditadaburi, terserah si penadabur selama output-nya bermanfaat dan bijak, apalagi hanya lagu Letto. Saya akan menadaburinya dengan nada dan irama pikiran saya sendiri.
Ketika mendengar lirik di atas, mungkin pikiran awam kita membayangkan sepasang kekasih yang duduk di tepi sungai sambil menunggu senja. Mereka saling menggenggam tangan, lalu si lelaki berkata, “Dik, apakah kamu rela mencintaiku selamanya.” Jawaban si perempuan tidak saya analogikan karena perempuan adalah makhluk tentatif, tidak semua sama.
Jika pemahaman kita hanya seperti itu, sangat boleh. Lagi-lagi, sang penulis membuat lirik perlirik tersebut multitafsir. Namun, banyak yang mengira, bahkan sampai membuat penelitian ilmiah, bahwa lirik-lirik yang Letto ciptakan muatannya adalah spiritualitas. Jelas, tidak hanya masalah hubungan antar kekasih.
“Senja” dalam penggalan lirik itu, menurut saya, adalah situasi terbenamnya matahari dan munculnya bulan sebagai cahaya di tengah kegelapan. Saya membayangkan seperti seorang bayi dalam keadaan suci yang terlahir dari suasana alam ruh yang sangat bercahaya, lalu turun ke bumi yang gelap dan penuh dosa.
Lirik “sebelum tiba waktu senja” bisa ditadaburi bahwa sebelum bayi lahir, terdapat beberapa kejadian penting dalam alam ruh. Dalam lirik tersebut ada sebuah kejadian: genggaman tangan dan pertanyaan tentang konsistensi rasa yang akan dibawa setelah lahir. Ini sejalan dengan apa yang Allah ceritakan dalam wahyu-Nya. Ketika bayi sebelum lahir, mereka di alam ruh akan diberikan sebuah pertanyaan tentang kesaksian: “Alastu bi rabbikum?” Bahasa Suroboyoan-nya, “Opo aku iki Pengeranmu?” Si jabang bayi yang akan lahir ini dengan kesadaran ruhnya yakin mengatakan, “Bala syahidna,” yang berarti “Nggeh, kulo nyekseni.”

Makna “genggaman” dalam lirik tersebut adalah masalah konsistensi kita kepada Allah. Tuhan membuat sebuah “MoU” dengan ruh kita: apakah Allah selalu kita hadirkan selama kita hidup? Secara yakin, ruh kita dengan tegas mengiyakan. Namun, sayang, ketika bayi itu lahir dan menjalani perjalanan hidupnya–tidak hanya dengan ruh, tetapi juga jasad dan pikiran–genggaman itu rawan terlepas.
Konsistensi itu sangat terlihat meyakinkan dengan ungkapan “bala syahidna”. Ibarat kita menjadi saksi tabrak lari, ketika ditanya di persidangan, kita yakin mengatakan, “Ya, saya menyaksikan yang salah pihak A.” Kita menyaksikan secara sungguh-sungguh. Itulah mengapa Allah mewajibkan kita sebagai orang Islam bahwa yang utama adalah syahadat. Syahidna dan syahadat itu berasal dari akar kata yang sama, yaitu menyaksikan. Jadi, menjaga konsistensi genggaman Tuhan tidak cukup hanya percaya kepada Allah, tetapi juga menyaksikan Allah.
Menyaksikan Allah ini jangan hanya dipahami secara saklek, seakan kita harus menemui Tuhan di puncak Semeru atau gunung lainnya. Wujud penyaksian Tuhan adalah melihat bahwa setiap apapun yang terjadi dan ada di dunia ini adalah kuasa-Nya. Menyaksikan berarti kita merasakannya secara langsung. Kalau hanya percaya, itu sekadar “kata orang”, “opo jare wong kae”, alias tidak benar-benar dirasakan.
Itulah konsistensi genggaman yang bisa saya tadaburi dari lirik Fatwa Hati. Bahwa konsistensi genggaman itu berbentuk penyaksian kita terhadap kuasa dan kehadiran Tuhan yang selalu kita rasakan. Terakhir, ada lirik yang menurut saya paling “gong”:
“Tentang kita dan tentang cinta.
Tentang janji yang kau bawa.
Jika nanti saat kau sendiri,
Temukanku di fatwa hatimu.”
Pengembaraan syahadat hidup kita juga harus diwarnai dengan hablum minallah dan hablum minannas. Itu yang digambarkan dalam frasa “tentang kita,” yaitu hubungan kita dengan Tuhan yang menegaskan ikatan cinta penghambaan. Begitu juga frasa “tentang cinta,” yaitu cinta yang kita berikan kepada sesama manusia. Sebab, lebih tepat jika hubungan antarmanusia disambung dengan kata cinta. Hablum minallah dan minannas itulah salah satu janji yang kita bawa terus-menerus dalam menjalani hidup: janji kepada Tuhan dan janji terhadap hamba Tuhan yang lain. Ini harus menjadi prinsip yang dibawa sampai titik akhir kehidupan.
Lalu, ketika kita berada pada titik nadir, kita tidak seimbang ketika membawa janji itu. Kita seakan sedikit oleng oleh pergulatan ruh, jasad, dan pikiran. Situasi itu membuat kita merasa sendiri, membuat kita meragukan keberadaan Tuhan sebagai pemegang dalih rahman dan rahim-Nya. Maka, kembalilah ke fatwa hatimu.
Kita terlalu sibuk memerangkan ruh, jasad, dan pikiran sampai lupa bahwa kita mempunyai hati sebagai penyeimbang antara ketiga elemen diri. Tiga elemen itu menjadi first touch ketika menghadapi sesuatu. Namun, hati adalah second touch ketika first touch tidak mampu menghasilkan output yang bermanfaat dan bijak.
Kata Habib Ja’far, “Tuhan bukan di Mekkah ataupun di Vatikan, tetapi Tuhan ada di hatimu.”
Waru, 31 Maret 2026

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.
Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)



