Metaforatma Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/metaforatma/ Sat, 24 Jan 2026 04:58:47 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Metaforatma Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/metaforatma/ 32 32 Refleksi Digital Era Modern https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/ https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/#respond Sat, 24 Jan 2026 04:58:28 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2623 Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki […]

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan

Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki era Post-Truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta. Sejenak mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya seperti pada saat bangun tidur, seringkali refleks tangan kita pertama kali biasanya adalah mengambil ponsel. Bahkan kita seringkali lupa untuk berdo’a atau bersyukur terlebih dahulu, tetapi lebih ingat pada sebuah notifikasi yang muncul untuk meminta sebuah respons. Memang, semua kemudahan bisa lebih mudah didapatkan di era kemajuan teknologi. Namun, ada satu hal yang tertinggal, yakni waktu untuk sejenak merenung sambil berpikir pelan.

Kemajuan teknologi sebenarnya bukan hanya sekadar alat bantu dalam sebuah kehidupan modern. Ia merupakan sebuah ruang sosial baru yang membentuk cara manusia belajar, berinteraksi, dan memaknai diri. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para pemikir seperti McLuhan, Bauman, dan Freire bahwa kemajuan manusia tidak selalu sejalan dengan dengan kematangan manusia di era digital. Sejenak, mari kita mencoba untuk memahami sebuah kejadian kecil seperti sebuah pesan dalam potongan video di media sosial yang bisa membuat orang marah sehingga membuat algoritma emosi begerak lebih cepat daripada nalar. Kecepatan teknologi membawa manusia pada sebuah kebiasaan baru, yakni cepat membaca, cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Banyak sekali hal yang bisa kita ketahui informasinya dari sebuah teknologi, tetapi seringkali kita tak sempat untuk memahami makna persoalannya.

Sumber: Kata Maiyah

Menguji Kemanusiaan

Hari ini, banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi. Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu. Artinya bukan soal sepi atau ramai, melainkan perihal kehadiran makna. Banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi karena pada era digital seringkali terjadi perbincangan dalam pertukaran kata seperti komentar, emoji, atau respons dalam merefleksi sebuah persoalan. Padahal komunikasi sesungguhnya lebih dari sekadar pertukaran kata, tetapi adanya sebuah niat untuk memahami, kesediaan dalam mendengarkan, dan sebuah ikhtiar dalam memahami makna di balik sebuah kata. Ketika kebanyakan orang ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan, maka percakapan akan berubah menjadi sebuah monolog yang saling bertabrakan sehingga perbedaan kecil membesar menjadi sebuah konflik. Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena potongan sebuah konteks dan menafsirkannya secara sepihak tanpa mendengar secara utuh akibat kurang adanya kesediaan untuk memahami.

Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu karena seringkali kita berada pada suatu ruang yang sama seperti rumah, forum, ataupun tempat nongkrong, tetapi jarang memperhatikan percakapan atau komunikasi yang berlangsung seperti saat dua orang saling berjumpa pada satu meja di sebuah tempat nongkrong. Satu orang sedang bercerita dengan lawan bicaranya, bermaksud ingin didengarkan, diperhatikan, dan direspons ceritanya sedangkan orang kedua atau lawan bicaranya malah sibuk bermain gadget sehingga tubuhnya hadir secara fisik, tetapi batinnya jauh secara manusiawi karena kurangnya simpati dan empati terhadap lawan bicara saat komunikasi berlangsung.

Membiasakan Kesadaran Kritis

Saat ini, ruang digital di era modern menjelma menjadi sebuah laboratorium kepribadian yang memproduksi dan mereproduksi nilai, identitas, dan perilaku manusia setiap hari. Maka dari itu, kesadaran kritis manusia dalam merefleksikan ruang digital di era modern sangatlah penting agar manusia tidak menjadi objek yang dibentuk, tetapi bisa menjadi subjek yang mampu untuk mengendalikan ruang digital. Secara tidak sadar, seringkali pandangan manusia dibentuk oleh sebuah algoritma arus informasi yang bersumber dari media. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang pernah dituangkan oleh Edward Bernays tentang Organized Habits yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan preferensi individu dibentuk melalui pengulangan pesan yang terencana. Artinya kepribadian kita dalam dunia digital tidak sepenuhnya dibentuk oleh pemikiran dan pilihan pribadi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh cara media menyajikan informasi yang membentuk kebiasaan kita.

Sumber: Kata Maiyah

Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai objek yang dibentuk dan dikendalikan oleh media. Syarat utama agar setiap individu yang mengkonsumsi media bisa berdaulat atas identitas dan tindakannya adalah membangun kesadaran kritis dalam literasi digital sehingga media menjadi suatu ruang pembelajaran dan wadah ekspresi agar tidak menjadi sebuah laboratorium manipulatif yang membentuk manusia sesuai dengan kepentingan sistem. Tanpa pemikiran kritis dan sikap reflektif, manusia hanya akan dipimpin tanpa pernah menyadari siapa yang memegang kendali seperti yang pernah dinyatakan oleh Edward Bernays dalam bukunya yang berjudul Propaganda Manipulasi Opini Masyarakat.

Media teknologi hanyalah sebuah alat bantu, bukan musuh manusia. Hal yang harus kita waspadai adalah ketika manusia berhenti menjadi pengendali media teknologi lalu berubah menjadi manusia yang reaktif tanpa menggunakan kesadaran dan pemikiran kritis. Padahal, awal mula diciptakannya sebuah media teknologi adalah untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, mengapa dengan adanya segala kemudahan malah membuat manusia merasa sensitif dan mudah tersulut emosi? Bisa jadi, bukan karena media teknologinya yang dipersalahkan, melainkan masih adanya kesalahan dari cara manusia dalam menyikapi media teknologi. Maka dari itu, saat kita menggunakan teknologi dan mengkonsumsi media, juga perlu berpikir kritis sebelum bereaksi.


Muchammad Syuhada’. Pemikir yang berjalan, bisa dijumpai di Warung Kopi.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0
Eling lan nge-Rumangsani https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/ https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/#respond Fri, 02 Jan 2026 07:47:25 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2586 Kita maklum bersama bahwa kompleksitas berada pada ranah realitas itu sendiri, bukan semata pada cara kita memandangnya. Bukti paling sederhana, sebuah teori tidak pernah mampu memeluk realitas secara utuh. Sebab […]

Artikel Eling lan nge-Rumangsani pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Kita maklum bersama bahwa kompleksitas berada pada ranah realitas itu sendiri, bukan semata pada cara kita memandangnya. Bukti paling sederhana, sebuah teori tidak pernah mampu memeluk realitas secara utuh. Sebab teori hanyalah salah satu alat baca yang bersifat parsial terhadap realitas yang holistik. Itulah mengapa, dewasa ini kita sering terpolarisasi dalam “persegi panjang–persegi panjang”—bukan lagi kotak-kotak—sebuah dinamika yang tampaknya berangkat dari kesalahpahaman epistemologis. Seperti melihat warna dengan pendengaran, membaca kata dengan penglihatan, atau memahami kenyataan dengan penciuman.

Ada sisi ke-ada-an manusia yang sementara menghilang, yakni rasa ta‘rif terhadap realitas bersama. Ta‘rif di sini bermakna ganda, sebagai rasa dan sebagai definisi. Rasa sebagai upaya memahami kebenaran bersama (pengertian), sekaligus mendefinisikan benere dewe sebagai pergulatan personal. Dimensinya jelas—dari ta‘rif diri menuju ta‘rif sosial. Di ranah ini, diperlukan cadangan toleransi, karena kebenarannya memang tidak tunggal. Yang terpenting adalah benere bareng-bareng dan tetap nir-konflik.

Sumber: Kata Maiyah

Dasarnya jelas bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan, dan rahmat Tuhan perlu dikelola dengan ihsan—tanpa perpecahan dan permusuhan. Proyeksinya sederhana, yakni kesadaran diri bahwa saya mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari, yang tentu berbeda dengan apa yang kamu ketahui; dan kamu mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang kamu pelajari, yang berbeda dengan apa yang saya ketahui.

Kesadaran atas keterbatasan pengetahuan personal inilah yang menjadi peringatan Khidir kepada Nabi Musa saat keduanya pertama kali bertemu. Khidir mengingatkan bahwa sumber ilmu kita sama, tetapi prosesnya berbeda, demikian pula cara mengekspresikannya. Karena itu, Nabi Musa tidak mampu menahan pertanyaan-pertanyaan syariatnya terhadap apa yang dilakukan Khidir secara hakikat. Di titik ini, perbedaan epistemologis memang tak terelakkan.

Sumber: Kata Maiyah

Melalui kesadaran ala Khidir tersebut, kita diajak untuk eling lan ngerumangsani. Ngerumangsani, dalam pemahaman filsafat, bermakna kebijaksanaan: mengambil sikap secara objektif (haq) dan tidak dikendalikan hawa nafsu yang subjektif. Dengan rasa ta‘rif dan ngerumangsani ini, manusia menjadi eling—berdzikir dan berkesadaran—bahwa realitas itu kompleks dan pengetahuan manusia memiliki batas. Maka perbedaan pun menjadi sesuatu yang wajar dalam keseharian, tidak serta-merta berubah menjadi sumber konflik.


Anas Mn. Someone yang tertarik perihal kebudayaan dan hal-hal sehari-hari yang bermakna.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Eling lan nge-Rumangsani pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/feed/ 0
Bertanya pada Mas Sabrang: Influencer, dan Posisi Maiyah https://bangbangwetan.org/bertanya-pada-mas-sabrang-influencer-dan-posisi-maiyah/ https://bangbangwetan.org/bertanya-pada-mas-sabrang-influencer-dan-posisi-maiyah/#respond Tue, 23 Dec 2025 02:04:19 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2566 Malam ini saya datang ke Bangbang Wetan tanpa membawa niat apa pun, selain kembali melingkar untuk sinau bareng, sebuah kemewahan yang semakin langka di zaman yang gegap gempita ini. Tidak […]

Artikel Bertanya pada Mas Sabrang: Influencer, dan Posisi Maiyah pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Malam ini saya datang ke Bangbang Wetan tanpa membawa niat apa pun, selain kembali melingkar untuk sinau bareng, sebuah kemewahan yang semakin langka di zaman yang gegap gempita ini. Tidak ada target, tidak ada ambisi, hanya ingin duduk, mendengar, dan membiarkan diri hanyut dalam keteduhan yang selalu dipancarkan oleh lingkaran ini. Di tengah riuh dunia yang makin gaduh, Maiyah menjadi ruang di mana tepian kesunyian tetap punya nilai.

Kedatangan Mas Sabrang selalu menjadi momen favorit arek-arek. Tapi menariknya, rawuh atau tidaknya beliau, suasana sinau bareng tetap saja ramai, hangat, dan khusyuk. Seolah-olah setiap orang sudah cukup menemukan rumahnya sendiri di lingkaran ini. Malam ini, hujan deras turun sejak sore, hujan yang di kota-kota besar biasanya menjadi alasan untuk membatalkan janji. Di Maiyah, hujan justru disambut sebagai rahmat dan rezeki. Anak-anak Maiyah tahu persis bahwa air yang jatuh dari langit adalah perintah Allah. Bahkan, bagi anak Maiyah hujan adalah penyejuk hati dan menjadi sumber kesehatan fisik dan rohani. Maka malam Bangbang Wetan tetap ramai seperti bulan-bulan biasanya. Tidak ada semangat yang surut oleh air.

Sudah sekian lama sejak saya terakhir kali memegang mikrofon untuk berbicara di depan banyak orang, barangkali sejak tahun 2020. Malam ini menjadi kali perdana saya kembali melakukannya, menyalakan keberanian lama untuk bertanya. Padahal sebelumnya saya sama sekali tidak berniat berbicara apapun. Namun di tengah acara, saya teringat pada sebuah kebingungan yang mungkin bukan hanya saya yang merasakan, barangkali juga banyak jamaah lain: tentang influencer yang semakin dianggap sebagai penyelamat sosial, semacam “satrio piningit digital” yang muncul di tengah lambannya peran government dalam mengurus persoalan masyarakat.

Dewasa ini, kita menyaksikan fenomena yang nyaris tak terbantahkan: influencer menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Mereka disanjung, diikuti, dipercaya; mereka muncul sebagai problem solver yang apalagi dalam situasi genting nan mendesak, lebih cepat, lebih efektif, atau setidaknya lebih responsif dibanding government. Legitimasi publik seperti berada di tangan mereka. Semua orang memujinya, hampir tidak ada perdebatan tentang yang dilakukan influencer-influencer tersebut, kecuali mereka yang merasa legitimasi kekuasaannya terancam, yakni government dan pendukungnya yang nir-empati, atau setidaknya kehilangan kemampuan untuk mengurus masyarakatnya.

Maka ketika waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, saya mengangkat mic dan bertanya: mengapa saya tidak merasakan kegandrungan yang sama dengan kebanyakan orang? Apakah saya nir-empati? Atau adakah sesuatu yang lebih dalam yang tidak saya pahami? Dan bila ternyata saya berbeda, apakah saya harus ikut larut dalam arus itu? Apapun pertanyaannya, saya tidak dapat menguraikannya. Sebab itulah sebaiknya saya tanyakan pada orang yang bagi saya ahli dalam mengamati sosio-kultur masyarakat modern ini: Mas Sabrang.

Mas Sabrang menjawab pertanyaan itu dengan ketenangan yang khas. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mengajak kami semua melihat teori Iceberg: sebuah cara memandang fenomena sosial lewat empat lapisan—event, pola, struktur, dan mental model.

Influencer, katanya, mayoritas bekerja di lapisan teratas: event. Mereka gesit mengikuti isu, cepat merespons, dan piawai memanfaatkan momentum. Beberapa influencer yang lebih matang sudah mulai mengolah pattern dan struktur, tetapi tetap saja mereka hidup dari “kehebohan” dan “kejadian”. Dan masyarakat Indonesia, menurut pembacaan Mas Sabrang, memang sangat menyukai event. Kita cenderung terpesona pada yang tampak, yang viral, yang tiba-tiba. Maka influencer yang terus bergerak mengikuti event menjadi magnet bagi publik.

Sebaliknya, government hari demi hari hanya bergeming di level struktur, itu pun tidak dioptimalkan. Government memiliki institusi, anggaran, kewenangan, tetapi gagal menghadirkan presence dan empathy. Akibatnya, ketika influencer masuk sebagai aktor yang lebih cepat dan lebih sensitif terhadap keluhan rakyat, government justru merasa terusik. Dan sinisme itu bukan tanpa sebab, mereka kalah telak di wilayah legitimasi moral.

Di sinilah posisi Maiyah menjadi menarik. Mas Sabrang menjelaskan bahwa Maiyah tidak terfokus di lapisan event, tidak pula di pola, apalagi menyentuh struktur. Maiyah bekerja di wilayah terdalam: mental model—cara berpikir, akhlak personal, kesadaran sosial, dan keutuhan manusia.

Wilayah mental model adalah wilayah yang seharusnya diurus oleh institusi berbasis nilai—kelompok-kelompok yang mengikat dirinya dengan kesamaan nilai yang dianutnya. Namun karena banyak institusi itu gagal menjalankan perannya, maka Maiyah mengambil tugas itu: bukan menyaingi institusinya, apalagi menyaingi influencer, melainkan mengambil peran merawat akhlak, membenahi cara berpikir, menguatkan manusia agar ketika berhadapan dengan event apa pun, ia tidak mudah tergelincir, tidak menimbulkan kerusakan baru, dan tidak menjadi bagian dari kegaduhan.

Pada titik ini Mas Sabrang menghubungkan refleksi itu dengan tugas para nabi. Para nabi utamanya diutus untuk memperindah akhlak manusia. Bukan membangun negara, bukan mengejar viralitas, bukan membuat event. Para nabi memperbaiki manusia dari dalam—itulah wilayah mental model. Maka Maiyah, sejauh kemampuan manusia biasa, mencoba mengikuti jejak itu: memperbaiki akhlak, membimbing kesadaran, membentuk manusia yang tidak mudah digiring oleh arus.

Analogi berikutnya membuat seluruh lingkaran makin hanyut dalam keheningan. Mas Sabrang mencontohkan “kerusakan ekologis”. Mengapa hari ini banjir, longsor, dan bencana terjadi di mana-mana? Karena hutan rusak. Dan mengapa hutan rusak? Karena pohon-pohonnya dirusak satu per satu. Bencana besar tidak pernah berawal dari kehancuran hutan sebagai konsep, tetapi dari matinya individu-individu pohon.

Demikian pula masyarakat. Kita sering mengeluh bahwa bangsa ini rusak. Tetapi bangsa tidak pernah rusak sebagai entitas abstrak. Yang rusak adalah manusia-manusianya: pikiran yang keruh, akhlak yang menipis, relasi sosial yang rapuh, dan empati yang surut. Maka Maiyah memilih jalan sunyi memperbaiki pohon-pohon kecil itu—individu manusia—agar suatu hari tumbuh kembali menjadi hutan yang rimba, teduh, dan menyejukkan peradaban.

Malam ini, saya merasa jawaban Mas Sabrang bukan hanya menjawab kebingungan, tetapi sekaligus menguraikan anatomi sosial Indonesia hari ini. Bahwa kegandrungan pada influencer hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada pola kebiasaan, struktur yang tidak optimal, dan mental model masyarakat yang belum ideal. Dan bahwa tidak semua hal di dunia harus segera disembuhkan dengan kecepatan—meskipun dalam keadaan bencana dan mendesak seperti peristiwa Sumatera hari ini, kecepatan sangat dibutuhkan. Ada hal lain yang memerlukan kedalaman, kesabaran, dan ketekunan.

Itulah wilayah Maiyah. Wilayah yang sunyi, lambat, namun akan menentukan. Wilayah yang berproses menghidupkan hutan dari pohon-pohon kecil yang tidak terlihat oleh dunia. Dan mungkin di situlah tempat kita berdiri: menjaga akar, sebelum ramai kembali menjadi event. Terakhir, doaku untuk saudara-saudari yang sedang tertimpa musibah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah sekitarnya, agar Allah senantiasa memberi kepulihan kembali. Dan sebagian dari mereka yang telah mendahului: bihusnil khotimah. Aamiiin.


M. Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Bertanya pada Mas Sabrang: Influencer, dan Posisi Maiyah pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/bertanya-pada-mas-sabrang-influencer-dan-posisi-maiyah/feed/ 0
MUSIBAH ITU BAIK! https://bangbangwetan.org/musibah-itu-baik/ https://bangbangwetan.org/musibah-itu-baik/#respond Thu, 06 Nov 2025 16:29:44 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2507 Hampir setengah hari kota Surabaya diguyur hujan yang sangat deras dan awet. Membuat seluruh kegiatan, baik sekolah, ngantor, ngampus, dan kerja apa pun, nampak terasa basah-basah tidak enak. Tetapi, hujan […]

Artikel MUSIBAH ITU BAIK! pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Hampir setengah hari kota Surabaya diguyur hujan yang sangat deras dan awet. Membuat seluruh kegiatan, baik sekolah, ngantor, ngampus, dan kerja apa pun, nampak terasa basah-basah tidak enak. Tetapi, hujan ini bukankah yang kita idam-idamkan pada saat musim panas kemarin? Sekarang ini kesegaran itu diberikan Tuhan, tapi mungkin Tuhan terlalu baik, jadi terasa dilebihkan hujannya.

Setelah diguyur hujan hampir setengah hari, malam ketika sudah reda, saya keliling hanya memakai sarung dan kaos sambil merasakan lapar yang saya tahan sejak selesai ngampus siang tadi. Keluar kompleks kos, terlihat banyak genangan-genangan bahkan sampai menyebabkan banjir dan membuat macet jalan. Memang, ketika membuka media sosial pun, banyak wilayah-wilayah yang banjir dengan curah hujan yang sangat tinggi hari ini.

Sambil menikmati macet karena banjir, saya melihat gerobak nasi goreng, tahu tek, dan penyetan ramai dikerubung orang. Mungkin orangnya sama seperti saya yang merasakan lapar. Saya keliling untuk mencari makan dan mampir mungkin ke empat gerobak, selalu mengatakan habis. Dan di gerobak kelima, saya akhirnya beruntung mendapatkan satu porsi terakhir nasi goreng.

Dari dua kejadian itu, antara banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Surabaya dengan ramainya gerobak-gerobak orang jualan makanan, saya sedikit terpikirkan soal kata-kata orang ketika hujan. Dengan dua kondisi itu, kita dihadapkan dengan narasi “hujan itu musibah” dan “hujan itu rahmat.” Mana yang benar? Apakah bisa hujan dimaknai dalam satu narasi?

Saya secara tegas mengatakan bahwa hujan itu musibah. Bukan menolaknya sebagai rahmat, tapi sebenarnya kita itu masih belum paham apa itu sebenarnya musibah. Apa bedanya bencana dengan musibah? Dua kata yang sering disamakan, padahal jika kita dalami, itu sebuah narasi yang berbeda.

Kita berangkat dari sebuah narasi Tuhan yang akan kita tadabburi bersama, yaitu surat Al-Baqarah ayat 156:

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).

Dalam narasi Tuhan tersebut, kita diajak berpikir sebenarnya apa makna musibah dan kejadian apa saja yang dapat dikategorikan sebagai musibah. Allah memberikan esensi makna yang sangat jelas bahwa musibah adalah sesuatu yang menimpa manusia yang membuat manusia mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Mbah Nun menegaskan bahwa musibah berarti “sesuatu yang menimpa.” Tidak ada ketentuan apakah itu buruk atau baik, menyenangkan atau menyusahkan, menyakitkan atau menggembirakan. Apa saja yang menimpa kehidupan manusia disebut musibah.

Jadi, musibah itu adalah sesuatu yang menimpa, tidak peduli itu sesuatu yang buruk atau yang baik. Asal kejadian itu memancing dan memicu mulut serta pikiran kita berpikir bahwa semua ini milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya. Konotasi musibah dalam hal ini bukan sesuatu yang buruk. Namun, pertanyaan lanjutannya: jika kita mengikuti makna konvensional soal musibah yang dikonotasikan buruk, apakah kita ingat bahwa semua ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya ketika dalam keadaan tertimpa hal buruk saja?

Ingat bahwa semua milik Tuhan itu sebenarnya tidak hanya pada situasi tertimpa musibah. Tetapi, ketika kita dijatuhi banyak berkah dan kebahagiaan, pemikiran Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn digunakan sebagai pemicu untuk bersyukur dan mengembalikan tenaga yang dikeluarkan pada saat kejadian itu lillāhi ta‘ālā. Ketika kita melihat kejadian hari ini, makna musibah itu sebenarnya mampu digunakan sebagai kacamata analisis untuk banjir yang terjadi di wilayah Surabaya dan ramainya gerobak-gerobak dagang oleh pembeli. Di mana titik temunya?

Secara konvensional, kita akan mudah memaknai Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn pada kejadian banjir. Itu musibah yang secara umum manusia akan paham bahwa itu semua adalah musibah, dan itu akan memunculkan proses Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn karena fakta adegannya adalah hal yang merugikan kita.

Ketika menjelaskan soal ramainya pembeli yang datang ke gerobak-gerobak makanan, itu kita bisa maknai bahwa mengingat semua milik Tuhan itu juga bisa dilakukan ketika pedagang itu ramai pembeli. Pedagang senang dagangan laris, uangnya banyak, dan bisa pulang cepat—itu harus disyukuri, dan pemicu syukur itu adalah memaknai bahwa rezeki yang ia dapat adalah dari Allah dan nanti akan kembali kepada-Nya. Dalam arti, si pedagang harus meyakini bahwa ada kalanya gerobaknya sepi pembeli. Karena pada saat sepi itulah proses rezekinya si pedagang kembali kepada-Nya.

Ini sebenarnya bukan sepenuhnya menggunakan arti musibah terhadap dua kasus tersebut, tapi bagaimana mengingat bahwa semua milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya itu tidak hanya pada masa sulit seperti arti konvensional musibah pada umumnya. Tapi ini pemicu bahwa musibah itu kejadian apa pun yang menimpa kita, yang selalu memicu kita untuk selalu ingat bahwa semua ini milik Tuhan.

Terakhir, makna Innā lillāhi itu dimaknai Mbah Nun bukan sesungguhnya kita dari Allah, tapi kita ini milik Allah. Semua elemen aksi kehidupan kita itu adalah hak milik penuh Allah. Ini mampu membuat orang yang terkena banjir untuk bersabar dan si pedagang yang ramai tadi untuk tidak sombong. Sebab, di dunia ini tidak ada yang absolut milik kita. Kita hanya pion di panggung teater, kadang merasa dikasih dan kadang merasa harus mengorbankan semuanya. Itulah life script sutradara Tuhan.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel MUSIBAH ITU BAIK! pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/musibah-itu-baik/feed/ 0