Bertanya pada Mas Sabrang: Influencer, dan Posisi Maiyah

Malam ini saya datang ke Bangbang Wetan tanpa membawa niat apa pun, selain kembali melingkar untuk sinau bareng, sebuah kemewahan yang semakin langka di zaman yang gegap gempita ini. Tidak ada target, tidak ada ambisi, hanya ingin duduk, mendengar, dan membiarkan diri hanyut dalam keteduhan yang selalu dipancarkan oleh lingkaran ini. Di tengah riuh dunia yang makin gaduh, Maiyah menjadi ruang di mana tepian kesunyian tetap punya nilai.

Kedatangan Mas Sabrang selalu menjadi momen favorit arek-arek. Tapi menariknya, rawuh atau tidaknya beliau, suasana sinau bareng tetap saja ramai, hangat, dan khusyuk. Seolah-olah setiap orang sudah cukup menemukan rumahnya sendiri di lingkaran ini. Malam ini, hujan deras turun sejak sore, hujan yang di kota-kota besar biasanya menjadi alasan untuk membatalkan janji. Di Maiyah, hujan justru disambut sebagai rahmat dan rezeki. Anak-anak Maiyah tahu persis bahwa air yang jatuh dari langit adalah perintah Allah. Bahkan, bagi anak Maiyah hujan adalah penyejuk hati dan menjadi sumber kesehatan fisik dan rohani. Maka malam Bangbang Wetan tetap ramai seperti bulan-bulan biasanya. Tidak ada semangat yang surut oleh air.

Sudah sekian lama sejak saya terakhir kali memegang mikrofon untuk berbicara di depan banyak orang, barangkali sejak tahun 2020. Malam ini menjadi kali perdana saya kembali melakukannya, menyalakan keberanian lama untuk bertanya. Padahal sebelumnya saya sama sekali tidak berniat berbicara apapun. Namun di tengah acara, saya teringat pada sebuah kebingungan yang mungkin bukan hanya saya yang merasakan, barangkali juga banyak jamaah lain: tentang influencer yang semakin dianggap sebagai penyelamat sosial, semacam “satrio piningit digital” yang muncul di tengah lambannya peran government dalam mengurus persoalan masyarakat.

Dewasa ini, kita menyaksikan fenomena yang nyaris tak terbantahkan: influencer menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Mereka disanjung, diikuti, dipercaya; mereka muncul sebagai problem solver yang apalagi dalam situasi genting nan mendesak, lebih cepat, lebih efektif, atau setidaknya lebih responsif dibanding government. Legitimasi publik seperti berada di tangan mereka. Semua orang memujinya, hampir tidak ada perdebatan tentang yang dilakukan influencer-influencer tersebut, kecuali mereka yang merasa legitimasi kekuasaannya terancam, yakni government dan pendukungnya yang nir-empati, atau setidaknya kehilangan kemampuan untuk mengurus masyarakatnya.

Maka ketika waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, saya mengangkat mic dan bertanya: mengapa saya tidak merasakan kegandrungan yang sama dengan kebanyakan orang? Apakah saya nir-empati? Atau adakah sesuatu yang lebih dalam yang tidak saya pahami? Dan bila ternyata saya berbeda, apakah saya harus ikut larut dalam arus itu? Apapun pertanyaannya, saya tidak dapat menguraikannya. Sebab itulah sebaiknya saya tanyakan pada orang yang bagi saya ahli dalam mengamati sosio-kultur masyarakat modern ini: Mas Sabrang.

Mas Sabrang menjawab pertanyaan itu dengan ketenangan yang khas. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mengajak kami semua melihat teori Iceberg: sebuah cara memandang fenomena sosial lewat empat lapisan—event, pola, struktur, dan mental model.

Influencer, katanya, mayoritas bekerja di lapisan teratas: event. Mereka gesit mengikuti isu, cepat merespons, dan piawai memanfaatkan momentum. Beberapa influencer yang lebih matang sudah mulai mengolah pattern dan struktur, tetapi tetap saja mereka hidup dari “kehebohan” dan “kejadian”. Dan masyarakat Indonesia, menurut pembacaan Mas Sabrang, memang sangat menyukai event. Kita cenderung terpesona pada yang tampak, yang viral, yang tiba-tiba. Maka influencer yang terus bergerak mengikuti event menjadi magnet bagi publik.

Sebaliknya, government hari demi hari hanya bergeming di level struktur, itu pun tidak dioptimalkan. Government memiliki institusi, anggaran, kewenangan, tetapi gagal menghadirkan presence dan empathy. Akibatnya, ketika influencer masuk sebagai aktor yang lebih cepat dan lebih sensitif terhadap keluhan rakyat, government justru merasa terusik. Dan sinisme itu bukan tanpa sebab, mereka kalah telak di wilayah legitimasi moral.

Di sinilah posisi Maiyah menjadi menarik. Mas Sabrang menjelaskan bahwa Maiyah tidak terfokus di lapisan event, tidak pula di pola, apalagi menyentuh struktur. Maiyah bekerja di wilayah terdalam: mental model—cara berpikir, akhlak personal, kesadaran sosial, dan keutuhan manusia.

Wilayah mental model adalah wilayah yang seharusnya diurus oleh institusi berbasis nilai—kelompok-kelompok yang mengikat dirinya dengan kesamaan nilai yang dianutnya. Namun karena banyak institusi itu gagal menjalankan perannya, maka Maiyah mengambil tugas itu: bukan menyaingi institusinya, apalagi menyaingi influencer, melainkan mengambil peran merawat akhlak, membenahi cara berpikir, menguatkan manusia agar ketika berhadapan dengan event apa pun, ia tidak mudah tergelincir, tidak menimbulkan kerusakan baru, dan tidak menjadi bagian dari kegaduhan.

Pada titik ini Mas Sabrang menghubungkan refleksi itu dengan tugas para nabi. Para nabi utamanya diutus untuk memperindah akhlak manusia. Bukan membangun negara, bukan mengejar viralitas, bukan membuat event. Para nabi memperbaiki manusia dari dalam—itulah wilayah mental model. Maka Maiyah, sejauh kemampuan manusia biasa, mencoba mengikuti jejak itu: memperbaiki akhlak, membimbing kesadaran, membentuk manusia yang tidak mudah digiring oleh arus.

Analogi berikutnya membuat seluruh lingkaran makin hanyut dalam keheningan. Mas Sabrang mencontohkan “kerusakan ekologis”. Mengapa hari ini banjir, longsor, dan bencana terjadi di mana-mana? Karena hutan rusak. Dan mengapa hutan rusak? Karena pohon-pohonnya dirusak satu per satu. Bencana besar tidak pernah berawal dari kehancuran hutan sebagai konsep, tetapi dari matinya individu-individu pohon.

Demikian pula masyarakat. Kita sering mengeluh bahwa bangsa ini rusak. Tetapi bangsa tidak pernah rusak sebagai entitas abstrak. Yang rusak adalah manusia-manusianya: pikiran yang keruh, akhlak yang menipis, relasi sosial yang rapuh, dan empati yang surut. Maka Maiyah memilih jalan sunyi memperbaiki pohon-pohon kecil itu—individu manusia—agar suatu hari tumbuh kembali menjadi hutan yang rimba, teduh, dan menyejukkan peradaban.

Malam ini, saya merasa jawaban Mas Sabrang bukan hanya menjawab kebingungan, tetapi sekaligus menguraikan anatomi sosial Indonesia hari ini. Bahwa kegandrungan pada influencer hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada pola kebiasaan, struktur yang tidak optimal, dan mental model masyarakat yang belum ideal. Dan bahwa tidak semua hal di dunia harus segera disembuhkan dengan kecepatan—meskipun dalam keadaan bencana dan mendesak seperti peristiwa Sumatera hari ini, kecepatan sangat dibutuhkan. Ada hal lain yang memerlukan kedalaman, kesabaran, dan ketekunan.

Itulah wilayah Maiyah. Wilayah yang sunyi, lambat, namun akan menentukan. Wilayah yang berproses menghidupkan hutan dari pohon-pohon kecil yang tidak terlihat oleh dunia. Dan mungkin di situlah tempat kita berdiri: menjaga akar, sebelum ramai kembali menjadi event. Terakhir, doaku untuk saudara-saudari yang sedang tertimpa musibah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah sekitarnya, agar Allah senantiasa memberi kepulihan kembali. Dan sebagian dari mereka yang telah mendahului: bihusnil khotimah. Aamiiin.


M. Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top