Hampir setengah hari kota Surabaya diguyur hujan yang sangat deras dan awet. Membuat seluruh kegiatan, baik sekolah, ngantor, ngampus, dan kerja apa pun, nampak terasa basah-basah tidak enak. Tetapi, hujan ini bukankah yang kita idam-idamkan pada saat musim panas kemarin? Sekarang ini kesegaran itu diberikan Tuhan, tapi mungkin Tuhan terlalu baik, jadi terasa dilebihkan hujannya.
Setelah diguyur hujan hampir setengah hari, malam ketika sudah reda, saya keliling hanya memakai sarung dan kaos sambil merasakan lapar yang saya tahan sejak selesai ngampus siang tadi. Keluar kompleks kos, terlihat banyak genangan-genangan bahkan sampai menyebabkan banjir dan membuat macet jalan. Memang, ketika membuka media sosial pun, banyak wilayah-wilayah yang banjir dengan curah hujan yang sangat tinggi hari ini.
Sambil menikmati macet karena banjir, saya melihat gerobak nasi goreng, tahu tek, dan penyetan ramai dikerubung orang. Mungkin orangnya sama seperti saya yang merasakan lapar. Saya keliling untuk mencari makan dan mampir mungkin ke empat gerobak, selalu mengatakan habis. Dan di gerobak kelima, saya akhirnya beruntung mendapatkan satu porsi terakhir nasi goreng.

Dari dua kejadian itu, antara banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Surabaya dengan ramainya gerobak-gerobak orang jualan makanan, saya sedikit terpikirkan soal kata-kata orang ketika hujan. Dengan dua kondisi itu, kita dihadapkan dengan narasi “hujan itu musibah” dan “hujan itu rahmat.” Mana yang benar? Apakah bisa hujan dimaknai dalam satu narasi?
Saya secara tegas mengatakan bahwa hujan itu musibah. Bukan menolaknya sebagai rahmat, tapi sebenarnya kita itu masih belum paham apa itu sebenarnya musibah. Apa bedanya bencana dengan musibah? Dua kata yang sering disamakan, padahal jika kita dalami, itu sebuah narasi yang berbeda.
Kita berangkat dari sebuah narasi Tuhan yang akan kita tadabburi bersama, yaitu surat Al-Baqarah ayat 156:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).
Dalam narasi Tuhan tersebut, kita diajak berpikir sebenarnya apa makna musibah dan kejadian apa saja yang dapat dikategorikan sebagai musibah. Allah memberikan esensi makna yang sangat jelas bahwa musibah adalah sesuatu yang menimpa manusia yang membuat manusia mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Mbah Nun menegaskan bahwa musibah berarti “sesuatu yang menimpa.” Tidak ada ketentuan apakah itu buruk atau baik, menyenangkan atau menyusahkan, menyakitkan atau menggembirakan. Apa saja yang menimpa kehidupan manusia disebut musibah.
Jadi, musibah itu adalah sesuatu yang menimpa, tidak peduli itu sesuatu yang buruk atau yang baik. Asal kejadian itu memancing dan memicu mulut serta pikiran kita berpikir bahwa semua ini milik Allah dan semua akan kembali kepada-Nya. Konotasi musibah dalam hal ini bukan sesuatu yang buruk. Namun, pertanyaan lanjutannya: jika kita mengikuti makna konvensional soal musibah yang dikonotasikan buruk, apakah kita ingat bahwa semua ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya ketika dalam keadaan tertimpa hal buruk saja?

Ingat bahwa semua milik Tuhan itu sebenarnya tidak hanya pada situasi tertimpa musibah. Tetapi, ketika kita dijatuhi banyak berkah dan kebahagiaan, pemikiran Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn digunakan sebagai pemicu untuk bersyukur dan mengembalikan tenaga yang dikeluarkan pada saat kejadian itu lillāhi ta‘ālā. Ketika kita melihat kejadian hari ini, makna musibah itu sebenarnya mampu digunakan sebagai kacamata analisis untuk banjir yang terjadi di wilayah Surabaya dan ramainya gerobak-gerobak dagang oleh pembeli. Di mana titik temunya?
Secara konvensional, kita akan mudah memaknai Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn pada kejadian banjir. Itu musibah yang secara umum manusia akan paham bahwa itu semua adalah musibah, dan itu akan memunculkan proses Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn karena fakta adegannya adalah hal yang merugikan kita.
Ketika menjelaskan soal ramainya pembeli yang datang ke gerobak-gerobak makanan, itu kita bisa maknai bahwa mengingat semua milik Tuhan itu juga bisa dilakukan ketika pedagang itu ramai pembeli. Pedagang senang dagangan laris, uangnya banyak, dan bisa pulang cepat—itu harus disyukuri, dan pemicu syukur itu adalah memaknai bahwa rezeki yang ia dapat adalah dari Allah dan nanti akan kembali kepada-Nya. Dalam arti, si pedagang harus meyakini bahwa ada kalanya gerobaknya sepi pembeli. Karena pada saat sepi itulah proses rezekinya si pedagang kembali kepada-Nya.

Ini sebenarnya bukan sepenuhnya menggunakan arti musibah terhadap dua kasus tersebut, tapi bagaimana mengingat bahwa semua milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya itu tidak hanya pada masa sulit seperti arti konvensional musibah pada umumnya. Tapi ini pemicu bahwa musibah itu kejadian apa pun yang menimpa kita, yang selalu memicu kita untuk selalu ingat bahwa semua ini milik Tuhan.
Terakhir, makna Innā lillāhi itu dimaknai Mbah Nun bukan sesungguhnya kita dari Allah, tapi kita ini milik Allah. Semua elemen aksi kehidupan kita itu adalah hak milik penuh Allah. Ini mampu membuat orang yang terkena banjir untuk bersabar dan si pedagang yang ramai tadi untuk tidak sombong. Sebab, di dunia ini tidak ada yang absolut milik kita. Kita hanya pion di panggung teater, kadang merasa dikasih dan kadang merasa harus mengorbankan semuanya. Itulah life script sutradara Tuhan.

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



