Eling lan nge-Rumangsani

Kita maklum bersama bahwa kompleksitas berada pada ranah realitas itu sendiri, bukan semata pada cara kita memandangnya. Bukti paling sederhana, sebuah teori tidak pernah mampu memeluk realitas secara utuh. Sebab teori hanyalah salah satu alat baca yang bersifat parsial terhadap realitas yang holistik. Itulah mengapa, dewasa ini kita sering terpolarisasi dalam “persegi panjang–persegi panjang”—bukan lagi kotak-kotak—sebuah dinamika yang tampaknya berangkat dari kesalahpahaman epistemologis. Seperti melihat warna dengan pendengaran, membaca kata dengan penglihatan, atau memahami kenyataan dengan penciuman.

Ada sisi ke-ada-an manusia yang sementara menghilang, yakni rasa ta‘rif terhadap realitas bersama. Ta‘rif di sini bermakna ganda, sebagai rasa dan sebagai definisi. Rasa sebagai upaya memahami kebenaran bersama (pengertian), sekaligus mendefinisikan benere dewe sebagai pergulatan personal. Dimensinya jelas—dari ta‘rif diri menuju ta‘rif sosial. Di ranah ini, diperlukan cadangan toleransi, karena kebenarannya memang tidak tunggal. Yang terpenting adalah benere bareng-bareng dan tetap nir-konflik.

Sumber: Kata Maiyah

Dasarnya jelas bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan, dan rahmat Tuhan perlu dikelola dengan ihsan—tanpa perpecahan dan permusuhan. Proyeksinya sederhana, yakni kesadaran diri bahwa saya mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari, yang tentu berbeda dengan apa yang kamu ketahui; dan kamu mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang kamu pelajari, yang berbeda dengan apa yang saya ketahui.

Kesadaran atas keterbatasan pengetahuan personal inilah yang menjadi peringatan Khidir kepada Nabi Musa saat keduanya pertama kali bertemu. Khidir mengingatkan bahwa sumber ilmu kita sama, tetapi prosesnya berbeda, demikian pula cara mengekspresikannya. Karena itu, Nabi Musa tidak mampu menahan pertanyaan-pertanyaan syariatnya terhadap apa yang dilakukan Khidir secara hakikat. Di titik ini, perbedaan epistemologis memang tak terelakkan.

Sumber: Kata Maiyah

Melalui kesadaran ala Khidir tersebut, kita diajak untuk eling lan ngerumangsani. Ngerumangsani, dalam pemahaman filsafat, bermakna kebijaksanaan: mengambil sikap secara objektif (haq) dan tidak dikendalikan hawa nafsu yang subjektif. Dengan rasa ta‘rif dan ngerumangsani ini, manusia menjadi eling—berdzikir dan berkesadaran—bahwa realitas itu kompleks dan pengetahuan manusia memiliki batas. Maka perbedaan pun menjadi sesuatu yang wajar dalam keseharian, tidak serta-merta berubah menjadi sumber konflik.


Anas Mn. Someone yang tertarik perihal kebudayaan dan hal-hal sehari-hari yang bermakna.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top