#MaiyahSurabaya Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/maiyahsurabaya/ Mon, 02 Jun 2025 11:34:27 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #MaiyahSurabaya Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/maiyahsurabaya/ 32 32 Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/ https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/#respond Mon, 02 Jun 2025 11:30:57 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2165 Malam itu, 27 Mei 2025, Simbah—Emha Ainun Nadjib—genap berusia 72 tahun. Seperti biasa, kami para anak cucunya tidak merayakan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi, doa, dan renungan. Karena memang […]

Artikel Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Malam itu, 27 Mei 2025, Simbah—Emha Ainun Nadjib—genap berusia 72 tahun. Seperti biasa, kami para anak cucunya tidak merayakan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi, doa, dan renungan. Karena memang begitulah Simbah: tidak mencari sorotan, tapi menjadi cahaya yang muncul diam-diam.

Saya teringat satu video lama yang pernah beredar, ketika Almarhum Syekh Nursamad Kamba menyampaikan satu rangkaian pesan dalam rangka ulang tahun Simbah. Di situ, beliau menyebut ajaran yang pernah disampaikan Simbah di masa lampau: “Jalan tol itu bernama Muhammadkan hamba.”

Ungkapan itu sederhana tapi dalam sekali. Tidak langsung membahas ritual, tidak sibuk dengan kerangka normatif. Simbah menawarkan satu jalan spiritual yang padat makna: menjadikan diri ini semakin mencerminkan Kanjeng Nabi dalam sepanjang kehidupan kita. Itu inti dari ibadah, dari ilmu, dari hidup itu sendiri.

Namun, hari ini, saya harus jujur: saya belum mengerti. Bahkan bayangannya pun masih kabur. Saya belum bisa me-Muhammadkan diri saya. Jangankan menjadi rahmatan lil ‘alamin, membawa kesejukan bagi sekitar pun saya masih gagal.

Tapi, syukurlah, Simbah itu seperti jembatan. Ketika kami tak mampu melihat cahaya Kanjeng Nabi karena kotor dan sempitnya hati, kami bisa melihat bias cahaya itu dalam keseharian Simbah. Kami bisa belajar mencintai Nabi melalui cara Simbah mencintai manusia.

Simbah bukan hanya guru, tapi juga pangkuan. Beliau bukan hanya penutur hikmah, tapi juga “rumah”. Yang dilakukan Simbah adalah membaca, mendengar, menyimak, meneduhkan, dan menampung semua bentuk luka dan kegelisahan.

Kalau kami tidak cukup mampu untuk meneladani Kanjeng Nabi secara langsung, mungkin kami bisa memulai dengan meneladani Simbah. Meniru senyumnya yang tak pernah merendahkan. Meniru kesungguhan hidup beliau, meniru cara beliau mengayomi, meniru cara beliau bersabar, bahkan kepada orang yang paling menyakitinya sekalipun. Meniru caranya menemani manusia: para pemulung, pelacur, pengusaha, santri, preman, intelektual, dan siapapun itu.

Simbah hidup dalam kesadaran lintas dimensi: sosial, spiritual, politik, budaya, dsb. Semua dijalani bukan untuk pencitraan, melainkan untuk merawat kehidupan itu sendiri. Beliau bukan aktivis formal, tapi segala kegiatannya mengandung aktivisme: membela yang dilemahkan, menyuarakan yang ditindas, menegur yang congkak, dan merangkul semua yang ditinggal.

Seperti yang pernah dikatakan Mbah Ahmad Mustofa Bisri: “Cak Nun itu Santri tanpa sarung, Haji tanpa peci, Kiai tanpa sorban, Dai tanpa mimbar, Mursyid tanpa tarekat, Sarjana tanpa wisuda, Guru tanpa sekolahan, Aktifis tanpa LSM, Pendemo tanpa spanduk, Politisi tanpa partai, Wakil rakyat tanpa dewan, Pemberontak tanpa senjata, Kstaria tanpa kuda, Saudara tanpa hubungan darah”. Ini dapat kita artikan bahwa Simbah memang memiliki kualitas multi-dimensi, tanpa perlu perantara formal.

Satu hal lagi yang tidak bisa dinafikkan dari Simbah adalah keikhlasan yang terpancar begitu nyata. Ia tidak sibuk membela diri, tidak sibuk menampilkan citra agung. Ia tidak menuntut dihormati, maka ia begitu dihormati. Ia tidak meminta dicintai, justru dengan mudah kami mencintainya. Ia tidak pernah menyebut diri ulama, tapi kami sangat menantikan ilmunya. Bahkan ia adalah rindu tanpa sebelumnya pernah bertemu.

Kalau jalan tol yang ditunjukkan Simbah adalah dengan memohon “Muhammadkan hamba” kepada Allah, kami ingin memulainya dengan “Simbahkan diri kami”. Bukan karena Simbah adalah pengganti Kanjeng Nabi—tidak, Simbah sendiri menolak pengkultusan. Tapi karena Simbah menawarkan kami jalan yang manusiawi untuk belajar manunggal. Menjadi lebih jernih. Menjadi lebih baik dalam bahasa yang bisa kami pahami.

Mungkin kami tidak bisa membangun rumah untuk orang lain, tapi kami bisa tidak menggusur rumah yang sudah ada. Mungkin kami tidak bisa menyembuhkan luka orang lain, tapi kami bisa tidak menambah luka baru. Mungkin kami belum bisa meneduhkan, tapi kami bisa tidak membawa panas.

Kami tahu, perjalanan ini panjang. Jalan tol ini tetap harus ditempuh. Tapi selama kami terus sinau bareng, Maiyah akan terus menjadi ladang subur, dan tempat kami percaya bahwa kami belum kehilangan arah.

Karena Simbah, maka ada harapan. Maka kami belajar. Maka kami berusaha. Maka kami jalan. Bersama Allah setiap saat.

Ya Allah, Muhammadkan hamba.

Mulai dari menyayangi, mulai dari Simbah.

Sugeng Ambal Warsa yang ke-72, Mbah Nun.


M Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah. Menyukai Desa dan Kebudayaan. Instagram  : @myudhaif. WA : 082377842632.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Di Hari Ulang Tahun Ke-72: “Muhammadkan Hamba” dan “Jalan Simbah” pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-di-hari-ulang-tahun-ke-72-muhammadkan-hamba-dan-jalan-simbah/feed/ 0
Sugeng Ambal Warsa, Mbah https://bangbangwetan.org/sugeng-ambal-warsa-mbah/ https://bangbangwetan.org/sugeng-ambal-warsa-mbah/#respond Tue, 27 May 2025 08:17:05 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2160 Lir-ilir, Lir-ilirTandure wis sumilirTak ijo royo-royoTak senguh temanten anyar “Lir-ilir” adalah salah satu lagu yang paling membekas dalam ingatan masa kecil saya. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu bapak […]

Artikel Sugeng Ambal Warsa, Mbah pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Lir-ilir, Lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak senguh temanten anyar

“Lir-ilir” adalah salah satu lagu yang paling membekas dalam ingatan masa kecil saya. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu bapak membeli sebuah kaset yang berisi lagu “Lir-ilir” dibalut dengan lantunan sholawat. Bukan hanya nadanya yang merdu, tapi cara lagu itu disajikan benar-benar berbeda—sholawat dalam iringan gamelan, sesuatu yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Yang membuat saya semakin terkesan adalah penjabaran makna lagu tersebut oleh Mbah Nun dalam kaset itu. Selama ini saya mengira “Lir-ilir” hanyalah lagu dolanan biasa, namun Mbah Nun membuka cakrawala baru dalam memaknainya—dalam, menyentuh, dan penuh nilai kehidupan. Dari sanalah, perkenalan saya dengan beliau dimulai.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman memberi tahu bahwa Mbah Nun sering datang ke Surabaya dan mengisi forum diskusi yang rutin diadakan di Balai Pemuda. Saya pun memutuskan untuk ikut hadir. Kesan pertama saya begitu kuat—forum ini dihadiri berbagai kalangan: dari anak-anak, orang tua, hingga anak-anak punk yang begitu nyaman berada di sana. Forum itu bernama Bangbang Wetan.

Dari forum inisiasi Mbah Nun ini, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana memaknai ayat-ayat Al-Qur’an secara ringan namun mendalam. Beliau mampu menjelaskan ayat-ayat suci dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari—membuat saya lebih mudah memahami dan meresapi nilai-nilainya.

Terima kasih, Mbah Nun, atas kehadiranmu di Surabaya melalui Forum Bangbang Wetan. Terima kasih atas energi, ilmu, dan cinta yang telah engkau tumpahkan selama ini. Di bulan yang penuh syukur ini, saya dan cucu-cucumu di Surabaya merayakan hari kelahiranmu dengan doa yang kami panjatkan kepada Allah. Semoga engkau senantiasa diberi kesehatan, panjang umur, dan kekuatan untuk terus membersamai kami.

Sugeng Ambal Warsa, Mbah.
Mugi tansah pinaringan sehat.
Semoga kita segera dipertemukan kembali—untuk kembali menyerap ilmu dan energi yang engkau pancarkan.


Ammar, Jamaah Maiyah

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Sugeng Ambal Warsa, Mbah pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/sugeng-ambal-warsa-mbah/feed/ 0
Hujan, Mbah Nun, dan Ruang-Ruang Sunyi dalam Rintik Doa https://bangbangwetan.org/hujan-mbah-nun-dan-ruang-ruang-sunyi-dalam-rintik-doa/ https://bangbangwetan.org/hujan-mbah-nun-dan-ruang-ruang-sunyi-dalam-rintik-doa/#respond Tue, 27 May 2025 08:07:24 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2155 Rabu malam, 14 Mei 2025, Surabaya diguyur hujan deras. Hari itu bertepatan dengan Rebo Legi — hari yang diyakini sebagai hari kelahiran Mbah Nun. Kami, para penggiat dan jamaah Maiyah, […]

Artikel Hujan, Mbah Nun, dan Ruang-Ruang Sunyi dalam Rintik Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Rabu malam, 14 Mei 2025, Surabaya diguyur hujan deras. Hari itu bertepatan dengan Rebo Legi — hari yang diyakini sebagai hari kelahiran Mbah Nun. Kami, para penggiat dan jamaah Maiyah, merayakan ulang tahun Mbah Nun dengan berkumpul di kompleks makam Sunan Ampel, tepatnya di makam Mbah Sholeh.

Malam itu, kota ini seakan tenggelam dalam derasnya hujan. Perjalanan saya dari Waru–Wonokromo–Tunjungan–Undaan diselimuti hujan tanpa jeda. Dalam hati, saya mencoba berdamai, “Santai saja dulu, mungkin acara akan molor sedikit.” Saya memilih berteduh di depan sebuah toko yang tutup. Sendirian di tengah hujan membuat pikiran saya mengembara. Banyak kenangan yang datang, tapi dua peristiwa tentang Mbah Nun dan hujan tiba-tiba muncul begitu jelas di benak saya.

Yang pertama adalah peristiwa di Benowo Sekar, Mojokerto. Seusai Mahallul Qiyam bersama jamaah Ishari, Mbah Nun turun dari panggung dalam hujan lebat. Beliau tetap mengajak kami semua bersholawat, dengan almarhum Mas Zainul memimpin sholawat Burdah dengan penuh semangat di tengah guyuran hujan. Yang kedua adalah saat Mbah Nun hadir di Lumajang dalam forum bertajuk Ngai Madodera, sebuah sebutan penuh cinta untuk beliau. Di sana, Mbah Nun pernah berkata, “Kelak jika saya sudah dipanggil Allah, saya akan tetap berusaha hadir. Salah satu tanda kehadiran itu adalah hujan.”

Saya terdiam, memandangi derasnya hujan dari balik toko. Apakah ini isyarat? Apakah hujan malam ini tanda bahwa secara energi Mbah Nun hadir? Walau beliau memang masih belum meninggalkan kita, suasana malam itu terasa begitu mesra — seolah-olah hujan, jamaah Maiyah, dan Mbah Nun sedang berpelukan dalam diam.

Mbah Nun telah sering mengajarkan kami untuk memaknai hujan dengan penuh syukur. Bahwa hujan adalah milik Allah, dan datangnya hujan adalah karunia. Tak patut kita sambut dengan keluh kesah, apalagi umpatan. Hujan adalah ruang untuk syukur, peluang untuk khusnudzon, bukan alasan untuk mengeluh.

Sejak kecil, saya sudah diajak ikut Maiyahan oleh orang tua. Berkali-kali kami duduk berhujan ria dalam forum itu. Tak bergeming, meski hujan mengguyur. Bahkan, pada saat sesi salaman, Mbah Nun tetap “meladeni” jamaah dalam gerimis. Dan saya, ibu, dan ayah baik-baik saja. Tak pernah sakit. Justru, esoknya saya bangun dengan tubuh segar dan semangat bersekolah yang penuh. Barangkali itu bukti bahwa Tuhan tergantung prasangka hamba-Nya. Jika kita meyakini hujan membawa berkah, maka berkah itulah yang kita dapatkan.

Kalau hujan kita jadikan analogi hidup, maka hidup adalah tentang mencari celah di antara rintik-rintik hujan. Rintik itu adalah masalah. Ia hadir, menyapa, dan tak bisa dihindari. Tapi selalu ada ruang-ruang kosong di antara rintiknya. Di situlah kita berjalan, berlalu, melanjutkan hidup. Tidak semua ruang terisi rintik, dan tugas manusia adalah mencari jalan di antara rintik-rintik itu. Masalah adalah bukti bahwa hidup kita utuh. Bukankah manusia tanpa masalah justru tidak lengkap?

Hidup itu bukan tentang menghindari hujan, tapi menari bersama hujan — menjadikan masalah sebagai permainan agar kita tidak mudah dipermainkan oleh masalah itu sendiri.

Hujan mulai reda. Perjalanan menuju Ampel tinggal sekitar tiga kilometer. Saya melanjutkan langkah dengan semangat yang justru makin menguat karena hujan — sebab saya merasa, malam ini adalah malam kedekatan hujan dengan Maiyah dan Mbah Nun. Saya merasa kita sedang merayakan milad Emha Ainun Nadjib, dengan membawa spirit kerinduan dan keintiman.

Namun, sesampainya di wilayah Ampel, saya kaget. Tanahnya kering. Tak ada setetes air pun. Rupanya tak hujan di sana.

Sesaat saya tertegun, “Lho, kok nggak hujan? Suasananya kok beda?” Tapi lalu saya tersenyum. Mungkin kehadiran tidak selalu basah oleh hujan. Kadang, kehadiran itu ada dalam dzikir, dalam sholawat, dalam kemesraan bersama Allah dan Rasulullah. Kadang, hujan hadir bukan di langit, tapi di dada dan hati yang diguyur cinta, rindu, dan rahmat.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Hujan, Mbah Nun, dan Ruang-Ruang Sunyi dalam Rintik Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/hujan-mbah-nun-dan-ruang-ruang-sunyi-dalam-rintik-doa/feed/ 0