Rabu malam, 14 Mei 2025, Surabaya diguyur hujan deras. Hari itu bertepatan dengan Rebo Legi — hari yang diyakini sebagai hari kelahiran Mbah Nun. Kami, para penggiat dan jamaah Maiyah, merayakan ulang tahun Mbah Nun dengan berkumpul di kompleks makam Sunan Ampel, tepatnya di makam Mbah Sholeh.
Malam itu, kota ini seakan tenggelam dalam derasnya hujan. Perjalanan saya dari Waru–Wonokromo–Tunjungan–Undaan diselimuti hujan tanpa jeda. Dalam hati, saya mencoba berdamai, “Santai saja dulu, mungkin acara akan molor sedikit.” Saya memilih berteduh di depan sebuah toko yang tutup. Sendirian di tengah hujan membuat pikiran saya mengembara. Banyak kenangan yang datang, tapi dua peristiwa tentang Mbah Nun dan hujan tiba-tiba muncul begitu jelas di benak saya.
Yang pertama adalah peristiwa di Benowo Sekar, Mojokerto. Seusai Mahallul Qiyam bersama jamaah Ishari, Mbah Nun turun dari panggung dalam hujan lebat. Beliau tetap mengajak kami semua bersholawat, dengan almarhum Mas Zainul memimpin sholawat Burdah dengan penuh semangat di tengah guyuran hujan. Yang kedua adalah saat Mbah Nun hadir di Lumajang dalam forum bertajuk Ngai Madodera, sebuah sebutan penuh cinta untuk beliau. Di sana, Mbah Nun pernah berkata, “Kelak jika saya sudah dipanggil Allah, saya akan tetap berusaha hadir. Salah satu tanda kehadiran itu adalah hujan.”
Saya terdiam, memandangi derasnya hujan dari balik toko. Apakah ini isyarat? Apakah hujan malam ini tanda bahwa secara energi Mbah Nun hadir? Walau beliau memang masih belum meninggalkan kita, suasana malam itu terasa begitu mesra — seolah-olah hujan, jamaah Maiyah, dan Mbah Nun sedang berpelukan dalam diam.

Mbah Nun telah sering mengajarkan kami untuk memaknai hujan dengan penuh syukur. Bahwa hujan adalah milik Allah, dan datangnya hujan adalah karunia. Tak patut kita sambut dengan keluh kesah, apalagi umpatan. Hujan adalah ruang untuk syukur, peluang untuk khusnudzon, bukan alasan untuk mengeluh.
Sejak kecil, saya sudah diajak ikut Maiyahan oleh orang tua. Berkali-kali kami duduk berhujan ria dalam forum itu. Tak bergeming, meski hujan mengguyur. Bahkan, pada saat sesi salaman, Mbah Nun tetap “meladeni” jamaah dalam gerimis. Dan saya, ibu, dan ayah baik-baik saja. Tak pernah sakit. Justru, esoknya saya bangun dengan tubuh segar dan semangat bersekolah yang penuh. Barangkali itu bukti bahwa Tuhan tergantung prasangka hamba-Nya. Jika kita meyakini hujan membawa berkah, maka berkah itulah yang kita dapatkan.
Kalau hujan kita jadikan analogi hidup, maka hidup adalah tentang mencari celah di antara rintik-rintik hujan. Rintik itu adalah masalah. Ia hadir, menyapa, dan tak bisa dihindari. Tapi selalu ada ruang-ruang kosong di antara rintiknya. Di situlah kita berjalan, berlalu, melanjutkan hidup. Tidak semua ruang terisi rintik, dan tugas manusia adalah mencari jalan di antara rintik-rintik itu. Masalah adalah bukti bahwa hidup kita utuh. Bukankah manusia tanpa masalah justru tidak lengkap?

Hidup itu bukan tentang menghindari hujan, tapi menari bersama hujan — menjadikan masalah sebagai permainan agar kita tidak mudah dipermainkan oleh masalah itu sendiri.
Hujan mulai reda. Perjalanan menuju Ampel tinggal sekitar tiga kilometer. Saya melanjutkan langkah dengan semangat yang justru makin menguat karena hujan — sebab saya merasa, malam ini adalah malam kedekatan hujan dengan Maiyah dan Mbah Nun. Saya merasa kita sedang merayakan milad Emha Ainun Nadjib, dengan membawa spirit kerinduan dan keintiman.
Namun, sesampainya di wilayah Ampel, saya kaget. Tanahnya kering. Tak ada setetes air pun. Rupanya tak hujan di sana.
Sesaat saya tertegun, “Lho, kok nggak hujan? Suasananya kok beda?” Tapi lalu saya tersenyum. Mungkin kehadiran tidak selalu basah oleh hujan. Kadang, kehadiran itu ada dalam dzikir, dalam sholawat, dalam kemesraan bersama Allah dan Rasulullah. Kadang, hujan hadir bukan di langit, tapi di dada dan hati yang diguyur cinta, rindu, dan rahmat.
Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah
Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



