#MbahNun Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mbahnun/ Thu, 05 Mar 2026 05:06:03 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #MbahNun Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/mbahnun/ 32 32 Kiblat Politik dan Doa https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/ https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/#respond Thu, 05 Mar 2026 05:06:03 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2665 Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran […]

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran ini selalu tiba-tiba berpikir liar seperti itu. Dan tangan ini selalu gatal untuk mengabadikan pola ketauhidan antara peristiwa penting zaman Rasulullah yang diromantisasi dengan keadaan politik sekarang.

Mungkin, karena memang saya sehari-hari bergelut dengan ilmu-ilmu politik, baik politik domestik maupun politik luar negeri. Jadi bahasan-bahasan politik sudah menjadi “sego jangan” saya setiap hari, dan lebih “gong”-nya saya sudah terbiasa untuk mengait-ngaitkan khazanah Islam dengan situasi politik sekarang karena kampus saya sangat islami dan menuntut untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu modern dengan Islam.

Kali ini, saya akan berpikir liar lagi, tetapi saya memakai senjata tadabbur. Apa yang saya maknai, interpretasikan, atau saya jadikan argumen, itu semua dalam ranah tadabburan. Merasakan Al-Qur’an, merasakan peristiwa penting Kanjeng Nabi, dan mencoba untuk memaknainya sebagai ladang manfaat, baik buat diri saya maupun untuk khalayak yang membaca.

Ketika saya menulis ini, tepat di tengah-tengah bulan Sya’ban. Saya “nenger”-nya adalah bahwa besok malam adalah padhang mbulan, di mana itu tanda pertengahan bulan. Kalau di bulan Sya’ban kita familiar menyebutnya sebagai “Nisfu Sya’ban”. Biasanya, kalau di desa-desa ada acara ruwahan atau ruwah desa, yang memang sifatnya lebih kultural. Kalau sifatnya agak-agak agamis, ya biasanya tepat pertengahan bulan Sya’ban jamaah-jamaah langgar membaca surat Yasin tiga kali antara Maghrib dan Isya.

Itu semua adalah sebuah budaya yang sering kita temui di bulan Sya’ban. Saya tidak akan membahas itu karena sudah pasti banyak orang yang memaknai itu, paham akan acara itu, dan sudah menjadi acara tahunan yang wajib diselenggarakan. Namun, saya ingin mengajak para pembaca untuk menengok pada satu peristiwa yang jarang terdengar di telinga kita, yaitu pada bulan Sya’ban ada sebuah peristiwa Tahwilul Qiblah.

Tahwilul Qiblah adalah sebuah proses pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis yang sekarang Palestina berubah ke Masjidil Haram, yaitu Mekkah. Hal ini jarang dicapture oleh banyak orang, padahal ini adalah peristiwa yang sangat penting di zaman Rasulullah dan itu pun sangat berpengaruh pada ibadah mahdhah kita, yaitu sholat yang sekarang berkiblat di Mekkah. Sejenak mari kita perdalam.

Lagi-lagi, Allah menurunkan perintah pada Rasulullah untuk memindahkan arah kiblat itu tidak hanya urusan ibadah mahdhah. Tapi kita bisa mengambil beberapa nilai dari peristiwa itu dan kita romantisasi dengan kondisi sekarang, khususnya politik. Sangat liar sekali kita langsung memaknainya dalam lingkar politik. Tapi itulah tadabbur. Maknai apa saja asal manfaat.

Kita runtut dari awal. Kenapa kok umat Islam pada saat itu beribadah menghadap Baitul Maqdis? Apa maknanya? KH Bisri Musthofa, ayah dari KH Musthofa Bisri (Gus Mus), pernah dikutip dalam beberapa penelitian bahwa alasan kenapa berkiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk melunakkan hati orang Yahudi. Mungkin, pada saat itu agar umat Yahudi bisa mualaf. Namun, sebenarnya Rasulullah sangat ingin sekali kembali untuk berkiblat ke Makkah, di mana tempat ibadah “persasat” bapaknya, yaitu Nabi Ibrahim.

Itulah yang direspons oleh Allah, dan akhirnya turun sebuah ayat atau wahyu bahwa kiblat akan dipindahkan ke Mekkah. Beberapa ayat kuncinya adalah:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu …” (QS. Al-Baqarah: 144)

Dengan penjelasan sekilas itu, saya mencoba untuk menarik pada kondisi saat ini. Indonesia sempat ramai dengan Board of Peace, organisasi bentukan Amerika Serikat, di mana Amerika Serikat dengan Trump sebagai kepala atau promotor utama organisasi itu. Tujuannya adalah untuk perdamaian Gaza. Naasnya, dalam organisasi itu hanya ada Israel. Tidak ada negara Palestina. Ini menimbulkan banyak pro dan kontra para ahli geopolitik dan hubungan internasional, apalagi yang ada di Indonesia. Seakan-akan merasakan kebingungan kebijakan luar negeri Indonesia yang lepas dari doktrin bebas aktif.

Ibarat kisah Tahwilul Qiblah, menurut saya kita sedang dalam posisi masih berkiblat di Baitul Maqdis. Kita seakan-akan berfokus pada Palestina, memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Gaza, namun dengan cara dekat dan seorganisasi dengan Israel(yahudi). Kalau saya memaknai itu, proses Indonesia sebagai negara pembela Palestina itu seperti umat Islam dulu berkiblat ke Baitul Maqdis untuk melunakkan hati kaum Yahudi.

(Sumber : https://www.caknun.com/2017/para-penguasa-menyangka-2)

Melunakkan hati kaum Yahudi dalam hal ini bisa Israel dan sekutunya, tapi tidak untuk mualaf seperti zaman Nabi dahulu. Semata-mata tujuannya untuk menyelesaikan wacana two state solution, kemerdekaan Palestina, dan pemberhentian aksi genosida. Itulah yang dilakukan oleh Indonesia sekarang. Mendekati musuh atau ancaman gunanya untuk melunakkan. Dalam beberapa teori Barat hubungan internasional, ini bisa disebut sebagai balance of threat atau penyeimbangan ancaman.

Alarm bahaya tetap akan siap-siap berbunyi. Balance of threat atau berusaha membela Gaza dengan mendekati musuh atau ancamannya dapat memunculkan dua kemungkinan. Pertama, Indonesia berhasil merayu Israel dan Amerika Serikat dari dalam untuk memerdekakan Palestina secara sempurna. Kedua, Indonesia akan dijadikan negara yang tidak memiliki pengaruh apa pun. Negara Indonesia akan terjebak pada lingkaran setan, dan otomatis kerugian material serta sikap akan didapatkan oleh Indonesia, dan otomatis juga Indonesia gagal memperjuangkan Palestina.

Menurut saya, merespons kondisi geopolitik saat ini, kita menunggu hidayah atau keajaiban Tuhan turun agar seluruh negara Indonesia kembali berkiblat ke Mekkah. Dalam arti, Mekkah adalah simbol persatuan, solidaritas, dan perkumpulan umat Islam seluruh dunia. Tempat seluruh energi ibadah kepada Tuhan tumpuk-menumpuk di sana. Kita lihat saja upaya presiden kita gagal atau tidak. Tapi sejak sekarang kita harus bersiap. Siap-siap menguatkan solidaritas antarumat. Jaga persatuan umat Islam, khususnya di Indonesia, karena memungkinkan banyak masalah-masalah “kriwikan” yang akan jadi grojokan dalam hal Islam di Indonesia. Dan itu akan menjadi pondasi yang rapuh untuk kita membela Palestina. Karena konflik internal adalah akal-akalan oknum untuk mengalihkan hati dan pikiran kita terhadap Palestina.

______________

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:

Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/feed/ 0
Tirakat Ahsani Taqwim https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/ https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/#respond Wed, 25 Feb 2026 06:18:17 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2649 Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai […]

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan Tuhan atas kapasitas rasional manusia. Lalu, potensi apa yang sebenarnya sedang diuji melalui kepercayaan itu?

Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa puasa adalah metode tirakat untuk memproses diri menuju ahsani taqwim. Gagasan tersebut membuka ruang renung tentang manusia sebagai proyek yang terus dibentuk.

Sumber : caknun.com

Jika mentadabburi Al-Qur’an Surat At-Tin ayat 4–5, manusia disebut diciptakan dalam ahsani taqwim dan berpotensi njlungup ke asfala safilin. Kontras itu menandakan kondisi yang naik turun. Struktur tersebut dipahami sebagai perpaduan akal dan nafsu. Dari sanalah manusia memiliki kemungkinan untuk naik menuju kemuliaan atau turun pada kerendahan. Maka, apakah gelar luhur itu telah kita wujudkan, atau baru sebatas sebutan?

Ramadhan menghadirkan kesempatan membaca ulang posisi kita di antara dua kemungkinan tersebut. Di sinilah Bangbang Wetan edisi Maret 2026 mengajak bertirakat dengan kesadaran utuh, bukan hanya menjalani rutinitas tahunan. Apakah kita bertirakat Ahsani Taqwim, atau bahkan gak mengerti blas makna tirakat?

Mari temukan jawaban bersama di forum pencerahan Bangbangwetan pada tanggal 8 Maret 2026, Nang Pendopo Cak Durasim. Teko yo rek!

Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/feed/ 0
Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0
POROS PERJALANAN         https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/ https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/#respond Sat, 10 Jan 2026 02:57:18 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2594 Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026 Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian. Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, […]

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026

Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian.

Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, mengaburkan arah cakrawala. Manusia di bawahnya kerap tak jauh berbeda. Hidup berlanjut, meski kepastian arah tak kunjung tiba.

Jama’ah datang meramaikan pendopo Taman Budaya Cak Durasim, saling bertegur sapa, duduk berdempetan, berbagi hangat dari sajian yang mereka bawa masing-masing. Kehadiran semacam ini tak selalu mudah dijumpai.

Tata Langkah 

Para Pegiat bergerak menyiapkan acara. Menggelar tikar, memasang banner, serta mengecek volume pengeras suara dan kecukupan pencahayaan menjadi bagian dari persiapan rutin.

Pukul delapan malam, nderes dilantunkan. Duo santri, Mas Wildan dan Mas Jembar, mengantarkan bacaan pembuka dengan tartil yang terjaga. Jamaah menyimak dengan khidmat.

Selepas nderes, bacaan tawasul didengungkan. Diawali dengan istighfar dan syahadat, sebelum doa dilangitkan. Sholawat dan salam pun dipanjatkan. “Allahumma sholli alaih,” seru jamaah.

Rangkaian doa dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah, ditujukan kepada Rasulullah, para nabi, para auliya’, Mbah Nun beserta keluarga besar Maiyah. Pujian dan doa dihantarkan bersama, suara jama’ah menyebar di sekeliling pendopo Cak Durasim.

Doa ditinggikan, sebelum mengisi ruang perjumpaan. Hening doa pun berganti dengan percakapan.

Moderator mengawali perbincangan dengan ucap syukur, lalu menyapa jama’ah. Jama’ah hadir dari Surabaya, Lamongan, hingga Kudus. Sejumlah jama’ah dipersilakan berbagi cerita dan kegelisahan, menghidupkan dialog sejak awal.

Mas Yusuf mengisahkan kunjungan pertamanya ke Surabaya. Ia menyebut perjalanan itu istimewa. “Saya percaya, sampai di sini karena diperjalankan Allah,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengapresiasi keguyuban Maiyah dan mengaku, ke mana pun ia bertugas dinas luar kota, kehangatan jama’ah Maiyah selalu menyambutnya.

Bagi Mas Yusuf, bahtera bukan hanya soal negara yang sedang diuji, tetapi juga diri masing-masing, tentang siapa yang memegang kemudi, dan ke mana arah hidup dijalankan.

Perbincangan berlanjut, Mas Irfa’i mengajak jama’ah membayangkan betapa rumitnya membangun bahtera Nabi Nuh,  terlebih dengan mengandalkan teknologi pada masa lampau.

Diskusi kemudian diarahkan kembali pada kisah bahtera Nabi Nuh yang dibangun atas mandat Tuhan, bukan dorongan nafsu pribadi. Ia menyandingkannya dengan bahtera negara, yang semestinya juga dirancang dan dijalankan atas amanat Ilahi, dengan tujuan utama mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan segelintir orang.

Di sisi panggung, Mas Arul tampak bersiap. Gitar warna-warni, ia bopong ke dada, kaos sederhana dan ikat kepala melengkapi kostumnya. Jari-jarinya lirih memetik senar. Lagu ciptaannya, Demi Kehidupan, mengalun khidmat.
“Bumi, air, udara, dan tumbuhan adalah sahabat kita semua. Rawat dan jagalah sepanjang masa, demi kehidupan kita…”
Siulan jamaah kompak menyertai, dududu,dudu,,

Tak berhenti pada lagu, Mas Arul diajak berbagi cerita. Senyum tipis melintas di wajahnya. Wejangan Mbah Nun tentang hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua yang kian menipis, belakangan sering terlintas di pikirannya.

Ia lalu bercerita pengalaman mendaki Gunung Penanggungan bersama anaknya. Dengan lugunya, sang anak nyeletuk, “Kenapa hutan isinya pohon semua, yah?” Mas Arul terdiam, jawabannya tertahan, kalau pohon-pohon berkurang, yang terancam bukan cuma alam, tapi juga jiwa manusia.

Kegelisahan pun meluber ke ruang lebih luas. Surabaya mungkin masih terasa aman hari ini. Namun banjir di berbagai daerah yang saling terhubung mengundang pertanyaan, sejauh mana dampaknya bisa menjalar ke Kota Pahlawan.

Mas Arul menutup dengan ajakan merawat alam, sambil mempopulerkan istilah dulkelas (dulinan keliling alas). Hemat beliau, banyak manfaat alam yang bisa dijelajahi. “Seperti tanaman jelatang yang sering ditemui di gunung, rasanya panas di kulit, tapi justru ampuh buat obat nyeri,” tuturnya.

Perwakilan jama’ah dipersilakan kembali. Cendera mata berupa buku dibagi, senyum simpul pun menghiasi.

Pelabuhan Makna

Menginjak pukul sembilan malam. Moderator merangkum sekilas gagasan yang telah disampaikan jama’ah, sebelum mempersilakan Lek Hammad, Mas Amin Tarjo, Mas Tridjoyo, dan Gus Binnur memantik ruang diskusi. Lagu perjalanan hidup manusia, menemani langkah kehadiran mereka.

Mas Tridjoyo membuka perbincangan. Beliau memulai dari fondasi wahyu, bahwa perintah membangun bahtera merupakan mandat Ilahi yang tidak lahir dari kehendak pribadi, melainkan dari kehendak Tuhan untuk menjaga kehidupan. Sesekali tangannya terangkat, memberi penekanan.

Menyambung kisah bahtera, Mas Tridjoyo menegaskan makna istiqamah. Ia mengutip hadis tentang umat yang kelak berjumlah besar, namun laksana buih di lautan—banyak, tetapi mudah terombang-ambing dan kehilangan arah. Jama’ah mengangguk pelan.

Ia kemudian mengajak jama’ah menoleh pada rujukan Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 14, yang menggambarkan kecenderungan manusia pada kesenangan duniawi; pasangan, anak-anak, harta yang menumpuk, serta kenikmatan hidup lainnya. “Di titik inilah,” ujarnya sambil menatap jama’ah, “istiqamah diuji.”

Rujukan selanjutnya diarahkan pada Surah Hud ayat 29, “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu sebagai upah. Upahku hanyalah dari Allah…” sebuah pernyataan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang dakwah yang tidak berorientasi pada kepentingan materi.

Teladan Nabi Nuh kemudian disandingkan dengan sosok Mbah Nun, yang sejatinya memiliki banyak peluang untuk hidup bergelimang harta dan menaikkan status sosialnya, namun memilih jalan lain. Ia menjaga keteguhan dalam mengajak cinta kepada Allah dan kebenaran, tetap berjalan meski ditengah banyaknya godaan; sebuah kepemimpinan yang mengupayakan kemaslahatan tanpa menunggu balasan. “Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ada manfaatnya,” tutup Mas Tridjoyo.

Mas Amin menimpali dengan nada gumun. “Coba bayangno rek,” ujarnya sambil tersenyum, “disuruh bikin kapal, lah airnya saja belum kelihatan. Itu kalau gak kekuatan iman dan keteguhan akan rahmat dan pertolongan Allah, mustahil terwujud.” Jama’ah pun terkekeh.

Dari peristiwa besar, pertolongan Allah kerap hadir dalam keseharian. Motor mogok saat banjir ada yang menolong, hidup lagi capek-capeknya tiba-tiba disapa orang yang menguatkan. Mas Amin berhenti bicara sejenak, nadanya sedikit melunak. Beliau berbagi kisahnya saat berada di titik ingin menyerah, tenaga menipis, pikiran buntu, dan keberlanjutan rutinan Bangbang Wetan terasa berat untuk dilanjutkan.

Namun, di saat-saat seperti itu, pertolongan datang dengan cara yang tak disangka. Ia disapa jama’ah di tempat umum, ditanya kapan rutinan kembali digelar, disemangati dengan kalimat sederhana yang justru menegakkan langkah. “Di situ saya sadar,” ujarnya ringan, “kalau ini bukan urusan saya sendiri, melainkan urusan kemaslahatan bersama.” Senyum beliau pun mengembang, disambut celetukan jama’ah yang turut menguatkan.

Moderator kembali menegaskan makna pertolongan Allah dalam segala kondisi. Dengan nada spontan, ia melempar pertanyaan ke jama’ah, “Apakah sudah berputus asa melihat kondisi negara saat ini? “Putus asa!” jawab jama’ah serempak. Tawa pun pecah membahana.

Celetukan jama’ah segera ditimpali dengan senyum, “Tidak apa-apa putus asa pada kondisi negara, asal jangan pernah putus asa pada pertolongan Allah SWT.” Jama’ah mengamini dengan penuh kelegaan, Aamiin Allahumma Aamiin.

Suasana pun bergeser, ruang diskusi membuka lapisan berikutnya. Gus Binnur maju, sosok yang tak asing bagi sebagian jama’ah lama Bangbang Wetan, rutin mengikuti forum ini sekitar 2015-an. Ia menyapa jama’ah dengan bahasa Jowoan. “Sehat rek?” tanyanya. “Sehat,” sahut jama’ah. “Indonesia sehat?” lanjutnya. “Dianggap sehat”, disambut tawa kecil.

Ia lalu bercerita soal undangan sinau bareng yang diterimanya beberapa hari sebelumnya, sebelum masuk ke kisah dakwah Nabi Nuh. “Iki Nabi luar biasa,” ujarnya, “ngajak-ngajak kebaikan iso nganti 950 tahun.” Jama’ah manggut-manggut.

Gus Binnur mengajak jama’ah membayangkan posisi Nabi Nuh. “Coba sekarang,” katanya sambil tersenyum, “onok wong ngaku nabi neng kampung panjenengan, kira-kira dipercaya apa malah diuncali sandal?” Jama’ah tertawa.

“Nah, di situlah beratnya,” lanjutnya. Perintah Tuhan, lanjutnya, tidak selalu datang bersama karpet merah. Justru ujian kerap menyertai ketaatan.

Gus Binnur kemudian menurunkan kisah itu menjadi hikmah. Maiyah, tegasnya, tidak diukur dari banyaknya jama’ah yang hadir, melainkan dari kesetiaan untuk terus berjalan. Dalam sejumlah riwayat, pengikut Nabi Nuh disebut hanya sekitar delapan puluh orang. Bukti bahwa kebenaran bisa tumbuh dalam lingkaran kecil yang terjaga, bukan dalam kerumunan besar yang rapuh.

Bahtera Nabi Nuh, lanjutnya, bukan sekadar alat penyelamat dari banjir, melainkan ruang aman untuk merawat kehidupan. Di sanalah kesabaran diuji, dari bagaimana manusia belajar berbagi ruang, hewan dijaga keberlangsungannya, dan sumber daya diolah secukupnya selama perjalanan panjang mengarungi bahtera.

Maiyah Bangbang Wetan pun demikian, bahtera sederhana yang diupayakan tetap berlayar dengan niat lurus. Selama arah dijaga dan langkah ditata, jumlah bukan perkara utama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di dalamnya, manusia tidak saling menenggelamkan, dan perjalanan tetap menghadirkan makna. “Makna telah menjelma barang mahal dewasa ini”, tegas Gus Binnur.

Gus Binnur menutup dengan refleksi kepemimpinan Setiap orang, tegasnya, adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam ruang sosial, memilih pemimpin adalah keniscayaan; namun menilai nurani menjadi perkara sulit jika pilihan masih dituntun oleh nafsu.

Dengan sedikit berkelakar, mengajak jama’ah pada laku maritim: mari ikuti Muhammad SAW. Meneladani Rasul berarti berpasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahului istikharah, lalu berikhtiar sekuat tenaga. Menghindari keburukan sebisanya, dan bila harus memilih di antara keterbatasan, memilih yang paling mungkin meneruskan hikmah kebaikan.

Lagu kembali mengisi ruang. Sajak Padhang Mbulan karya Mbah Nun dilantunkan—sebuah permintaan yang datang tepat sebelum acara dimulai.
Cahaya kasih sayang menaburi malam. Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan. Alam raya, cakrawala, sedang bersembahyang… Ouuoo…

Muara Keberagaman

Makna mengendap perlahan. Pandangan beralih pada Lek Hammad. Beliau mengapresiasi kekayaan makna gagasan yang telah hadir; dari Gus, ustadz, hingga seniman. Beragam latar itu, menurutnya, semakin memperkaya ruang perjumpaan, tempat makna tumbuh dari banyak arah.

Kisah Nabi Nuh kembali diulas dengan lontaran pertanyaan, “Apa alasan besar kisah Nabi Nuh diceritakan dalam Al-Qur’an? Pasti ada hikmah besar terkandung di dalamnya,” ujar Lek Hammad.

Suara Lek Hammad menurun pelan, dengan pitutur ngemong , “kalau bahtera itu kita ibaratkan negara, jangan buru-buru tanya kapalnya mau ke mana. Sing luwih penting, Gusti Allah iki isih diajak bareng apa ora.”

Pelajaran pertama, ma’a, menjalin kebersamaan dengan Allah. Kalau sejak awal perjalanan tidak bareng Gusti Allah, arah bisa salah, keputusan bisa tergelincir. Maka jangan heran kalau orang bisa duduk berdekatan, tapi hatinya ke mana-mana. Di kapal yang sama, belum tentu tujuannya sama.

Pelajaran lain bermunculan. Mengapa makhluk hidup diselamatkan berpasang-pasangan, jantan dan betina? “Lha iki tandane,” katanya lirih, “urip iku ora mung kanggo saiki.” Ada tanggung jawab pada kelanjutan generasi.

Kemudian ia menyentuh bentuk bahtera yang berlapis-lapis. “Ora kabeh disimpen sak panggonan,” begitu kira-kira pesannya. Setiap lapisan punya fungsi. Dari situ ia menuntun pada pelajaran ketiga, yaitu, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saat bicara soal pemimpin, nada pitutur itu makin pelan. Lek Hammad mengutip wejangan Mbah Nun tentang pemimpin yang takut kelaparan. “Yen pemimpine wae wedi ora mangan,” ujarnya halus, “awakmu arep nitipke uripmu nang sopo?” Maka jangan hanya menggantungkan harapan di luar. Sing paling aman, kata Lek Hammad, bangun bahteramu sendiri dulu, di dalam hati. Nurani dijaga, keadilan ditimbang, kebajikan dilakoni setahap demi setahap.

Suara Bahtera

Sesi tanya jawab pun dibuka.
Mas Robbi angkat tangan lebih dulu. “Kalau saya menangkapnya,” ujarnya, “Nabi Nuh itu pemimpin visioner. Bayangkan—disuruh membangun bahtera di tengah padang pasir.” Jama’ah mengangguk. “Secara nalar saja sudah aneh,” lanjutnya sambil tersenyum, “tapi justru di situ ketaatan dan keistiqamahan diuji.”
Moderator menimpali ringan, “Ibarat disuruh beli payung pas matahari terik, ya?” Tawa kecil menyambut.

Mas Sangrila kemudian masuk dengan rentetan pertanyaan. “Saya ingin menariknya ke first principles thinking,” katanya, “istilah yang dipopulerkan Elon Musk, juga pernah disinggung Mas Sabrang.” Ia berhenti sejenak, menatap jama’ah. “Kenapa Nabi Nuh yang dipilih, bukan nabi lain, pada titik kehancuran total peradaban?”
Beberapa jama’ah saling pandang. Mas Adi melanjutkan, “Lalu pertanyaan yang lebih dekat, Indonesia hari ini, apa memungkinkan diselamatkan?” Suasana hening sesaat.
“Menurut saya,” sambungnya, “tujuan agama bukan semata menyelamatkan manusia, tapi menjaga kebenaran. Dan kebenaran tidak selalu mau berkompromi dengan mayoritas.” Ia menyinggung bencana yang datang silih berganti. “Pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar mengubah kita? Waktu adalah alat uji yang objektif, atau jangan-jangan kita masih merasa waktunya belum cukup?”

Ia menutup dengan lugasnya. “Kegagalan Nabi Nuh dalam mengasuh anaknya bukan aib,” katanya. “Itu kejujuran sistem, bahwa ikhtiar manusia ada batasnya.” Jama’ah mengangguk pelan.

Mas Tridjoyo menyahut. “Apa pun yang terjadi,” katanya, “asal kesadarannya bukan slamet dewe, tapi slamet bareng-bareng, fondasinya satu, yaitu cinta.”
Ia tersenyum, “Semua nabi merawat umatnya dengan cinta. Ngurus tumbuhan, hewan, apalagi manusia—tanpa cinta, yo angel.” Jama’ah terkekeh.
“Allah tidak menghukum nabi karena pengikutnya sedikit,” lanjutnya, “yang diperingatkan itu kalau putus asa dari pertolongan-Nya. Nah, di situ pelajarannya.”

Moderator menambahkan, “Bahtera Nabi Nuh juga tidak berlayar di air tenang.”
Mas Tridjoyo mengangguk. “Iya, terombang-ambing. Seperti perasaan banyak orang hari ini berada di bahtera negara, antara harapan dan kebobrokan.” Ia menunduk sejenak. “Doanya sederhana: Robbi anzilni—Ya Allah, turunkan kami di tempat yang selamat.”
“Kalau nabi saja diuji sedemikian rupa,” sahut moderator, “apalagi kita.” Tawa kecil kembali terdengar.

Lagu mengalun, menenangkan permenungan.
“Nak, janganlah seperti Bapak yang susah mewujudkan mimpinya. Jagalah cinta, sebarkan dengan nurani—jiwa yang meneduhkan semesta.”

Usai lagu, Gus Binnur angkat bicara. “Masalah kita sekarang ini,” katanya, “degradasi ketuhanan jalan bareng degradasi moral.”
Ia menatap jama’ah. “Maiyah itu majelis kemurnian. Bukan kanggo kepentingan pribadi.”

“Majelis seperti ini,” lanjutnya, “dinikmati wae. Mikir bareng, rembugan bareng, sinau bareng.”
Ia lalu menyinggung sejarah Maiyah, dari Balai Pemuda hingga berbagai ruang lain. “Isine macem-macem. Tujuane siji, mung golek manfaat.”
“Kalau Mbah Nun membangun Maiyah dengan segitiga cinta—Allah, Rasul, dan sesama makhluk—insyaAllah langgeng.”

Menjelang penutup, Gus Binnur menurunkan suaranya. “Bahtera Nuh itu perjalanan spiritual masing-masing.”
Pertanyaannya sederhana, “Allah wis diajak durung saben langkah? Rasul wis dijadikan teladan durung? Sinau bareng boleh ngalor-ngidul,” ia tersenyum, “tapi muarane yo ilmu.”

Setiap ilmu yang diserap dan setiap laku yang ditempuh tidak pernah sia-sia. Ia terus berjalan, diuji oleh waktu, hingga akhirnya menemukan muara manfaatnya, sering kali tidak segera, namun selalu tepat saat dibutuhkan.

Catatan Arah

Gus Binnur menutup dengan pitutur. “Jangan cepat puas pada satu sumber. Tetep luwe ilmu.”
“Hidup ojo mandek,” katanya. “Ngono wae, pelan-pelan. Kita benahi bareng, nganggo andhap asor lan tawakal.” Diikuti anggukan dan senyum jama’ah.

Dengan luwes, Lek Hammad menyelipkan celetukan dalam wejangan.
Ndasku mumet, ndasmu piye… yo ojo saling nambah mumet…

Beliau membiarkan air menjadi pengajar kehidupan. Air mengajarkan cara berjalan dalam hidup. Ia mengalir tanpa banyak bicara, namun selalu sampai. Ia tahu kapan harus lembut, kapan mencari celah, dan kapan menggenang untuk memberi kehidupan. Air tidak memilih wadah, tidak menuntut bentuk. Ia menerima lalu menyesuaikan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai air.

Karena itu, jadilah penikmat sekaligus bos bagi diri sendiri, seperti air yang menyegarkan namun tahu arah alirannya. Ma’a, kebersamaan dengan Allah, dijalani dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun secara terus-menerus, sesuai kemampuan. Air tidak memaksa menjadi sungai besar, ia setia pada tetesannya. Setiap orang pun memiliki takaran masing-masing; tenaga, ilmu, waktu, atau apa pun yang dapat menghidupkan sekitar.

Air memberi tanpa menghitung siapa yang akan membalas. Ia menyirami tanah, menguatkan akar, dan tetap mengalir meski tak pernah disebut namanya. “Memelihara segala sesuatu tanpa menuntut balasan, itulah hakikat kebajikan. Seperti air, cukup setia mengalir, dan biarkan kehidupan yang tumbuh menjawabnya,” pungkas Lek Hammad.

Indal qiyam dikumandangkan, menandai kepulangan. Langkah kaki jama’ah terseret, sebagian masih menikmati rembulan. Semuanya berjalan, masing-masing ke arah yang mereka yakini.


Redaksi Maiyah Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/feed/ 0