Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026
Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian.
Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, mengaburkan arah cakrawala. Manusia di bawahnya kerap tak jauh berbeda. Hidup berlanjut, meski kepastian arah tak kunjung tiba.
Jama’ah datang meramaikan pendopo Taman Budaya Cak Durasim, saling bertegur sapa, duduk berdempetan, berbagi hangat dari sajian yang mereka bawa masing-masing. Kehadiran semacam ini tak selalu mudah dijumpai.
Tata Langkah
Para Pegiat bergerak menyiapkan acara. Menggelar tikar, memasang banner, serta mengecek volume pengeras suara dan kecukupan pencahayaan menjadi bagian dari persiapan rutin.
Pukul delapan malam, nderes dilantunkan. Duo santri, Mas Wildan dan Mas Jembar, mengantarkan bacaan pembuka dengan tartil yang terjaga. Jamaah menyimak dengan khidmat.

Selepas nderes, bacaan tawasul didengungkan. Diawali dengan istighfar dan syahadat, sebelum doa dilangitkan. Sholawat dan salam pun dipanjatkan. “Allahumma sholli alaih,” seru jamaah.
Rangkaian doa dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah, ditujukan kepada Rasulullah, para nabi, para auliya’, Mbah Nun beserta keluarga besar Maiyah. Pujian dan doa dihantarkan bersama, suara jama’ah menyebar di sekeliling pendopo Cak Durasim.
Doa ditinggikan, sebelum mengisi ruang perjumpaan. Hening doa pun berganti dengan percakapan.
Moderator mengawali perbincangan dengan ucap syukur, lalu menyapa jama’ah. Jama’ah hadir dari Surabaya, Lamongan, hingga Kudus. Sejumlah jama’ah dipersilakan berbagi cerita dan kegelisahan, menghidupkan dialog sejak awal.
Mas Yusuf mengisahkan kunjungan pertamanya ke Surabaya. Ia menyebut perjalanan itu istimewa. “Saya percaya, sampai di sini karena diperjalankan Allah,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengapresiasi keguyuban Maiyah dan mengaku, ke mana pun ia bertugas dinas luar kota, kehangatan jama’ah Maiyah selalu menyambutnya.
Bagi Mas Yusuf, bahtera bukan hanya soal negara yang sedang diuji, tetapi juga diri masing-masing, tentang siapa yang memegang kemudi, dan ke mana arah hidup dijalankan.

Perbincangan berlanjut, Mas Irfa’i mengajak jama’ah membayangkan betapa rumitnya membangun bahtera Nabi Nuh, terlebih dengan mengandalkan teknologi pada masa lampau.
Diskusi kemudian diarahkan kembali pada kisah bahtera Nabi Nuh yang dibangun atas mandat Tuhan, bukan dorongan nafsu pribadi. Ia menyandingkannya dengan bahtera negara, yang semestinya juga dirancang dan dijalankan atas amanat Ilahi, dengan tujuan utama mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan segelintir orang.
Di sisi panggung, Mas Arul tampak bersiap. Gitar warna-warni, ia bopong ke dada, kaos sederhana dan ikat kepala melengkapi kostumnya. Jari-jarinya lirih memetik senar. Lagu ciptaannya, Demi Kehidupan, mengalun khidmat.
“Bumi, air, udara, dan tumbuhan adalah sahabat kita semua. Rawat dan jagalah sepanjang masa, demi kehidupan kita…”
Siulan jamaah kompak menyertai, dududu,dudu,,
Tak berhenti pada lagu, Mas Arul diajak berbagi cerita. Senyum tipis melintas di wajahnya. Wejangan Mbah Nun tentang hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua yang kian menipis, belakangan sering terlintas di pikirannya.
Ia lalu bercerita pengalaman mendaki Gunung Penanggungan bersama anaknya. Dengan lugunya, sang anak nyeletuk, “Kenapa hutan isinya pohon semua, yah?” Mas Arul terdiam, jawabannya tertahan, kalau pohon-pohon berkurang, yang terancam bukan cuma alam, tapi juga jiwa manusia.
Kegelisahan pun meluber ke ruang lebih luas. Surabaya mungkin masih terasa aman hari ini. Namun banjir di berbagai daerah yang saling terhubung mengundang pertanyaan, sejauh mana dampaknya bisa menjalar ke Kota Pahlawan.

Mas Arul menutup dengan ajakan merawat alam, sambil mempopulerkan istilah dulkelas (dulinan keliling alas). Hemat beliau, banyak manfaat alam yang bisa dijelajahi. “Seperti tanaman jelatang yang sering ditemui di gunung, rasanya panas di kulit, tapi justru ampuh buat obat nyeri,” tuturnya.
Perwakilan jama’ah dipersilakan kembali. Cendera mata berupa buku dibagi, senyum simpul pun menghiasi.
Pelabuhan Makna
Menginjak pukul sembilan malam. Moderator merangkum sekilas gagasan yang telah disampaikan jama’ah, sebelum mempersilakan Lek Hammad, Mas Amin Tarjo, Mas Tridjoyo, dan Gus Binnur memantik ruang diskusi. Lagu perjalanan hidup manusia, menemani langkah kehadiran mereka.
Mas Tridjoyo membuka perbincangan. Beliau memulai dari fondasi wahyu, bahwa perintah membangun bahtera merupakan mandat Ilahi yang tidak lahir dari kehendak pribadi, melainkan dari kehendak Tuhan untuk menjaga kehidupan. Sesekali tangannya terangkat, memberi penekanan.
Menyambung kisah bahtera, Mas Tridjoyo menegaskan makna istiqamah. Ia mengutip hadis tentang umat yang kelak berjumlah besar, namun laksana buih di lautan—banyak, tetapi mudah terombang-ambing dan kehilangan arah. Jama’ah mengangguk pelan.
Ia kemudian mengajak jama’ah menoleh pada rujukan Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 14, yang menggambarkan kecenderungan manusia pada kesenangan duniawi; pasangan, anak-anak, harta yang menumpuk, serta kenikmatan hidup lainnya. “Di titik inilah,” ujarnya sambil menatap jama’ah, “istiqamah diuji.”
Rujukan selanjutnya diarahkan pada Surah Hud ayat 29, “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu sebagai upah. Upahku hanyalah dari Allah…” sebuah pernyataan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang dakwah yang tidak berorientasi pada kepentingan materi.
Teladan Nabi Nuh kemudian disandingkan dengan sosok Mbah Nun, yang sejatinya memiliki banyak peluang untuk hidup bergelimang harta dan menaikkan status sosialnya, namun memilih jalan lain. Ia menjaga keteguhan dalam mengajak cinta kepada Allah dan kebenaran, tetap berjalan meski ditengah banyaknya godaan; sebuah kepemimpinan yang mengupayakan kemaslahatan tanpa menunggu balasan. “Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ada manfaatnya,” tutup Mas Tridjoyo.
Mas Amin menimpali dengan nada gumun. “Coba bayangno rek,” ujarnya sambil tersenyum, “disuruh bikin kapal, lah airnya saja belum kelihatan. Itu kalau gak kekuatan iman dan keteguhan akan rahmat dan pertolongan Allah, mustahil terwujud.” Jama’ah pun terkekeh.

Dari peristiwa besar, pertolongan Allah kerap hadir dalam keseharian. Motor mogok saat banjir ada yang menolong, hidup lagi capek-capeknya tiba-tiba disapa orang yang menguatkan. Mas Amin berhenti bicara sejenak, nadanya sedikit melunak. Beliau berbagi kisahnya saat berada di titik ingin menyerah, tenaga menipis, pikiran buntu, dan keberlanjutan rutinan Bangbang Wetan terasa berat untuk dilanjutkan.
Namun, di saat-saat seperti itu, pertolongan datang dengan cara yang tak disangka. Ia disapa jama’ah di tempat umum, ditanya kapan rutinan kembali digelar, disemangati dengan kalimat sederhana yang justru menegakkan langkah. “Di situ saya sadar,” ujarnya ringan, “kalau ini bukan urusan saya sendiri, melainkan urusan kemaslahatan bersama.” Senyum beliau pun mengembang, disambut celetukan jama’ah yang turut menguatkan.
Moderator kembali menegaskan makna pertolongan Allah dalam segala kondisi. Dengan nada spontan, ia melempar pertanyaan ke jama’ah, “Apakah sudah berputus asa melihat kondisi negara saat ini? “Putus asa!” jawab jama’ah serempak. Tawa pun pecah membahana.
Celetukan jama’ah segera ditimpali dengan senyum, “Tidak apa-apa putus asa pada kondisi negara, asal jangan pernah putus asa pada pertolongan Allah SWT.” Jama’ah mengamini dengan penuh kelegaan, Aamiin Allahumma Aamiin.
Suasana pun bergeser, ruang diskusi membuka lapisan berikutnya. Gus Binnur maju, sosok yang tak asing bagi sebagian jama’ah lama Bangbang Wetan, rutin mengikuti forum ini sekitar 2015-an. Ia menyapa jama’ah dengan bahasa Jowoan. “Sehat rek?” tanyanya. “Sehat,” sahut jama’ah. “Indonesia sehat?” lanjutnya. “Dianggap sehat”, disambut tawa kecil.
Ia lalu bercerita soal undangan sinau bareng yang diterimanya beberapa hari sebelumnya, sebelum masuk ke kisah dakwah Nabi Nuh. “Iki Nabi luar biasa,” ujarnya, “ngajak-ngajak kebaikan iso nganti 950 tahun.” Jama’ah manggut-manggut.
Gus Binnur mengajak jama’ah membayangkan posisi Nabi Nuh. “Coba sekarang,” katanya sambil tersenyum, “onok wong ngaku nabi neng kampung panjenengan, kira-kira dipercaya apa malah diuncali sandal?” Jama’ah tertawa.
“Nah, di situlah beratnya,” lanjutnya. Perintah Tuhan, lanjutnya, tidak selalu datang bersama karpet merah. Justru ujian kerap menyertai ketaatan.
Gus Binnur kemudian menurunkan kisah itu menjadi hikmah. Maiyah, tegasnya, tidak diukur dari banyaknya jama’ah yang hadir, melainkan dari kesetiaan untuk terus berjalan. Dalam sejumlah riwayat, pengikut Nabi Nuh disebut hanya sekitar delapan puluh orang. Bukti bahwa kebenaran bisa tumbuh dalam lingkaran kecil yang terjaga, bukan dalam kerumunan besar yang rapuh.
Bahtera Nabi Nuh, lanjutnya, bukan sekadar alat penyelamat dari banjir, melainkan ruang aman untuk merawat kehidupan. Di sanalah kesabaran diuji, dari bagaimana manusia belajar berbagi ruang, hewan dijaga keberlangsungannya, dan sumber daya diolah secukupnya selama perjalanan panjang mengarungi bahtera.

Maiyah Bangbang Wetan pun demikian, bahtera sederhana yang diupayakan tetap berlayar dengan niat lurus. Selama arah dijaga dan langkah ditata, jumlah bukan perkara utama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di dalamnya, manusia tidak saling menenggelamkan, dan perjalanan tetap menghadirkan makna. “Makna telah menjelma barang mahal dewasa ini”, tegas Gus Binnur.
Gus Binnur menutup dengan refleksi kepemimpinan Setiap orang, tegasnya, adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam ruang sosial, memilih pemimpin adalah keniscayaan; namun menilai nurani menjadi perkara sulit jika pilihan masih dituntun oleh nafsu.
Dengan sedikit berkelakar, mengajak jama’ah pada laku maritim: mari ikuti Muhammad SAW. Meneladani Rasul berarti berpasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahului istikharah, lalu berikhtiar sekuat tenaga. Menghindari keburukan sebisanya, dan bila harus memilih di antara keterbatasan, memilih yang paling mungkin meneruskan hikmah kebaikan.
Lagu kembali mengisi ruang. Sajak Padhang Mbulan karya Mbah Nun dilantunkan—sebuah permintaan yang datang tepat sebelum acara dimulai.
Cahaya kasih sayang menaburi malam. Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan. Alam raya, cakrawala, sedang bersembahyang… Ouuoo…
Muara Keberagaman
Makna mengendap perlahan. Pandangan beralih pada Lek Hammad. Beliau mengapresiasi kekayaan makna gagasan yang telah hadir; dari Gus, ustadz, hingga seniman. Beragam latar itu, menurutnya, semakin memperkaya ruang perjumpaan, tempat makna tumbuh dari banyak arah.
Kisah Nabi Nuh kembali diulas dengan lontaran pertanyaan, “Apa alasan besar kisah Nabi Nuh diceritakan dalam Al-Qur’an? Pasti ada hikmah besar terkandung di dalamnya,” ujar Lek Hammad.
Suara Lek Hammad menurun pelan, dengan pitutur ngemong , “kalau bahtera itu kita ibaratkan negara, jangan buru-buru tanya kapalnya mau ke mana. Sing luwih penting, Gusti Allah iki isih diajak bareng apa ora.”

Pelajaran pertama, ma’a, menjalin kebersamaan dengan Allah. Kalau sejak awal perjalanan tidak bareng Gusti Allah, arah bisa salah, keputusan bisa tergelincir. Maka jangan heran kalau orang bisa duduk berdekatan, tapi hatinya ke mana-mana. Di kapal yang sama, belum tentu tujuannya sama.
Pelajaran lain bermunculan. Mengapa makhluk hidup diselamatkan berpasang-pasangan, jantan dan betina? “Lha iki tandane,” katanya lirih, “urip iku ora mung kanggo saiki.” Ada tanggung jawab pada kelanjutan generasi.
Kemudian ia menyentuh bentuk bahtera yang berlapis-lapis. “Ora kabeh disimpen sak panggonan,” begitu kira-kira pesannya. Setiap lapisan punya fungsi. Dari situ ia menuntun pada pelajaran ketiga, yaitu, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saat bicara soal pemimpin, nada pitutur itu makin pelan. Lek Hammad mengutip wejangan Mbah Nun tentang pemimpin yang takut kelaparan. “Yen pemimpine wae wedi ora mangan,” ujarnya halus, “awakmu arep nitipke uripmu nang sopo?” Maka jangan hanya menggantungkan harapan di luar. Sing paling aman, kata Lek Hammad, bangun bahteramu sendiri dulu, di dalam hati. Nurani dijaga, keadilan ditimbang, kebajikan dilakoni setahap demi setahap.
Suara Bahtera
Sesi tanya jawab pun dibuka.
Mas Robbi angkat tangan lebih dulu. “Kalau saya menangkapnya,” ujarnya, “Nabi Nuh itu pemimpin visioner. Bayangkan—disuruh membangun bahtera di tengah padang pasir.” Jama’ah mengangguk. “Secara nalar saja sudah aneh,” lanjutnya sambil tersenyum, “tapi justru di situ ketaatan dan keistiqamahan diuji.”
Moderator menimpali ringan, “Ibarat disuruh beli payung pas matahari terik, ya?” Tawa kecil menyambut.
Mas Sangrila kemudian masuk dengan rentetan pertanyaan. “Saya ingin menariknya ke first principles thinking,” katanya, “istilah yang dipopulerkan Elon Musk, juga pernah disinggung Mas Sabrang.” Ia berhenti sejenak, menatap jama’ah. “Kenapa Nabi Nuh yang dipilih, bukan nabi lain, pada titik kehancuran total peradaban?”
Beberapa jama’ah saling pandang. Mas Adi melanjutkan, “Lalu pertanyaan yang lebih dekat, Indonesia hari ini, apa memungkinkan diselamatkan?” Suasana hening sesaat.
“Menurut saya,” sambungnya, “tujuan agama bukan semata menyelamatkan manusia, tapi menjaga kebenaran. Dan kebenaran tidak selalu mau berkompromi dengan mayoritas.” Ia menyinggung bencana yang datang silih berganti. “Pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar mengubah kita? Waktu adalah alat uji yang objektif, atau jangan-jangan kita masih merasa waktunya belum cukup?”

Ia menutup dengan lugasnya. “Kegagalan Nabi Nuh dalam mengasuh anaknya bukan aib,” katanya. “Itu kejujuran sistem, bahwa ikhtiar manusia ada batasnya.” Jama’ah mengangguk pelan.
Mas Tridjoyo menyahut. “Apa pun yang terjadi,” katanya, “asal kesadarannya bukan slamet dewe, tapi slamet bareng-bareng, fondasinya satu, yaitu cinta.”
Ia tersenyum, “Semua nabi merawat umatnya dengan cinta. Ngurus tumbuhan, hewan, apalagi manusia—tanpa cinta, yo angel.” Jama’ah terkekeh.
“Allah tidak menghukum nabi karena pengikutnya sedikit,” lanjutnya, “yang diperingatkan itu kalau putus asa dari pertolongan-Nya. Nah, di situ pelajarannya.”
Moderator menambahkan, “Bahtera Nabi Nuh juga tidak berlayar di air tenang.”
Mas Tridjoyo mengangguk. “Iya, terombang-ambing. Seperti perasaan banyak orang hari ini berada di bahtera negara, antara harapan dan kebobrokan.” Ia menunduk sejenak. “Doanya sederhana: Robbi anzilni—Ya Allah, turunkan kami di tempat yang selamat.”
“Kalau nabi saja diuji sedemikian rupa,” sahut moderator, “apalagi kita.” Tawa kecil kembali terdengar.
Lagu mengalun, menenangkan permenungan.
“Nak, janganlah seperti Bapak yang susah mewujudkan mimpinya. Jagalah cinta, sebarkan dengan nurani—jiwa yang meneduhkan semesta.”
Usai lagu, Gus Binnur angkat bicara. “Masalah kita sekarang ini,” katanya, “degradasi ketuhanan jalan bareng degradasi moral.”
Ia menatap jama’ah. “Maiyah itu majelis kemurnian. Bukan kanggo kepentingan pribadi.”
“Majelis seperti ini,” lanjutnya, “dinikmati wae. Mikir bareng, rembugan bareng, sinau bareng.”
Ia lalu menyinggung sejarah Maiyah, dari Balai Pemuda hingga berbagai ruang lain. “Isine macem-macem. Tujuane siji, mung golek manfaat.”
“Kalau Mbah Nun membangun Maiyah dengan segitiga cinta—Allah, Rasul, dan sesama makhluk—insyaAllah langgeng.”
Menjelang penutup, Gus Binnur menurunkan suaranya. “Bahtera Nuh itu perjalanan spiritual masing-masing.”
Pertanyaannya sederhana, “Allah wis diajak durung saben langkah? Rasul wis dijadikan teladan durung? Sinau bareng boleh ngalor-ngidul,” ia tersenyum, “tapi muarane yo ilmu.”
Setiap ilmu yang diserap dan setiap laku yang ditempuh tidak pernah sia-sia. Ia terus berjalan, diuji oleh waktu, hingga akhirnya menemukan muara manfaatnya, sering kali tidak segera, namun selalu tepat saat dibutuhkan.

Catatan Arah
Gus Binnur menutup dengan pitutur. “Jangan cepat puas pada satu sumber. Tetep luwe ilmu.”
“Hidup ojo mandek,” katanya. “Ngono wae, pelan-pelan. Kita benahi bareng, nganggo andhap asor lan tawakal.” Diikuti anggukan dan senyum jama’ah.
Dengan luwes, Lek Hammad menyelipkan celetukan dalam wejangan.
Ndasku mumet, ndasmu piye… yo ojo saling nambah mumet…
Beliau membiarkan air menjadi pengajar kehidupan. Air mengajarkan cara berjalan dalam hidup. Ia mengalir tanpa banyak bicara, namun selalu sampai. Ia tahu kapan harus lembut, kapan mencari celah, dan kapan menggenang untuk memberi kehidupan. Air tidak memilih wadah, tidak menuntut bentuk. Ia menerima lalu menyesuaikan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai air.
Karena itu, jadilah penikmat sekaligus bos bagi diri sendiri, seperti air yang menyegarkan namun tahu arah alirannya. Ma’a, kebersamaan dengan Allah, dijalani dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun secara terus-menerus, sesuai kemampuan. Air tidak memaksa menjadi sungai besar, ia setia pada tetesannya. Setiap orang pun memiliki takaran masing-masing; tenaga, ilmu, waktu, atau apa pun yang dapat menghidupkan sekitar.
Air memberi tanpa menghitung siapa yang akan membalas. Ia menyirami tanah, menguatkan akar, dan tetap mengalir meski tak pernah disebut namanya. “Memelihara segala sesuatu tanpa menuntut balasan, itulah hakikat kebajikan. Seperti air, cukup setia mengalir, dan biarkan kehidupan yang tumbuh menjawabnya,” pungkas Lek Hammad.
Indal qiyam dikumandangkan, menandai kepulangan. Langkah kaki jama’ah terseret, sebagian masih menikmati rembulan. Semuanya berjalan, masing-masing ke arah yang mereka yakini.

Redaksi Maiyah Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



