Setelah bereuforia merayakan milad dua dekade BangbangWetan di Kota Lama pada September lalu, BangbangWetan edisi Oktober kembali ke STIKOSA-AWS dengan setting sarana dan prasarana yang sederhana, seperti penyelenggaraan rutinan biasanya.
Mas Doni dan beberapa pengiat sudah mempersiapkan diri dan lokasi Maiyahan sejak sore. Mulai dari menata backdrop, memasang lampu, hingga menyiapkan tempat, guna memastikan bahwa kenyamanan jamaah adalah nomor satu. Menjelang maghrib, tim sound system dari Paramarta datang dan langsung menata box-box sound system sesuai rencana.
Kali ini, kampus STIKOSA-AWS menjadi saksi terselenggaranya forum yang berkumpul atas keresahan sebagian rakyat Indonesia soal kebakaran hutan. Tim tema membungkus keresahan itu dengan tema PATIGENI, sebuah laku yang oleh Mbah Nun dimaknai sebagai upaya mematikan ego dan hawa nafsu.
Setelah sarana dan prasarana siap, tepat tiga puluh menit setelah azan Isya, Mas Wildan, Mas Ridho, dan Mas Rizki membuka Maiyahan dengan mendaras Surat Ibrahim. Ada tadabbur surat Ibrahim dengan tema PATIGENI ini berkelindan dengan kisah Nabi Ibrahim yang dibakar oleh Raja Namrud. Nderes kali ini semakin khusyuk ketika Mas Wildan melantunkan wirid Padhangmbulan dan wirid syahadat, wirid lawas Maiyah yang berusaha diistikamahi BangbangWetan.

Dokumentasi official bangbangwetan
Setelah nderes, langit yang awalnya hitam pekat berubah menjadi hitam keabu-abuan. Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, malam itu sebagian wilayah Surabaya sudah diguyur hujan yang lumayan deras. Teman-teman penggiat berkhusnudzon, semoga hujannya tidak datang ke lokasi terselenggaranya rutinan BangbangWetan. Sebab, setting rutinan kali ini dibuat tanpa atap sama sekali.
Usainya prosesi mendaras dan wirid Maiyah, menandai moderator untuk menaiki panggung dan membuka sesi pertama dengan menjelaskan tema, lalu berinteraksi dengan jamaah yang hadir soal PATIGENI. Moderator menjelaskan bahwa secara harfiah, tema ini memang merupakan bentuk respons kita terhadap kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Secara maknawiyah, moderator mengajak jamaah untuk mundur selangkah dan melihat bahwa kebakaran hutan sebenarnya adalah hilir. Hulunya adalah berbagai tindakan dan keputusan yang lahir dari situasi ketika ego yang tidak stabil. Ego inilah yang menjadi salah satu makna dari geni itu.
Setelah menjelaskan, moderator menunjuk beberapa jamaah untuk menemaninya di panggung guna mereaksi dan menambahi pembabaran tema yang disampaikan. Terpilihlah Mas Puji dari Tuban dan Mas Fery dari Malang.
Mas Puji merespons dengan perspektifnya soal api. Api sering dikonotasikan dengan tindakan-tindakan buruk. Padahal, menurut Mas Puji, kebahagiaan, semangat, dan kecintaan kita juga berarti api. Titik tekannya, segala sesuatu yang tidak terkontrol berpotensi menjadi api yang berbahaya. Gunanya mengontrol api adalah agar api tidak membakar, tetapi memberikan penerangan.
Mas Fery pun merespons dari sudut pandang lain. PATIGENI sebenarnya tidak bisa dimaknai secara saklek sebagai mematikan ego atau nafsu. Lebih tepatnya, Mas Fery mengubah diksi mematikan menjadi mengendalikan. Mustahil manusia hidup tanpa ego, ambisi, dan nafsu karena semua itu berkaitan dengan kebutuhan fisiknya, seperti makan, minum, dan sejenisnya. Pengendalian itulah yang membuat manusia tidak hidup dengan ego berlebihan, sehingga menjadi tukang kritik yang ofensif, sekaligus tidak kehilangan ego sepenuhnya hingga menjadi apatis terhadap keadaan negara saat ini.

Dokumentasi official bangbangwetan
Setelah Mas Puji dan Mas Fery berbagi perspektif, nampaknya rintik hujan mulai jatuh. Rintik-rintik hujan itu disambut dengan puisi Sajak-Sajak Buruh yang dibacakan oleh Mbak Safira dengan penuh penghayatan dan khidmat. Pembacaan puisi itu berakhir ketika rintik hujan semakin rapat.
Hujan, Transisi Alami Sesi
Hujan semakin deras. Moderator memutuskan untuk break sementara dan meminta para jamaah berteduh di gedung-gedung sekitar lapangan. Hujan ini tidak mematahkan semangat jamaah Maiyah. Mereka sudah terlatih menganggap hujan sebagai rahmat, bukan masalah. Para jamaah tetap setia menunggu hingga sesi Maiyahan dimulai kembali.
Situasi sudah tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke lokasi awal. Sebab, panggung dan tempat jamaah sama sekali tidak bertenda, sedangkan hujan, meskipun tidak deras, tetap turun. Tak hanya hujan, pemadaman listrik pun menjadi rahmat selanjutnya setelah hujan.
Dengan mempertimbangkan beberapa hal, tim penggiat langsung bergerak memindahkan forum ke pendopo kampus STIKOSA-AWS. Walaupun pendopo itu rasanya tidak cukup untuk menampung jamaah yang lumayan banyak, penggiat tetap teguh untuk terus menjalankan rutinan maiyahan.

Dokumentasi official bangbangwetan
Di samping para penggiat dan beberapa jamaah menata tempat darurat, jamaah lainnya ikut membantu menggelar karpet yang menjadi duduk lesehan jamaah. Di sela-sela itu, Mas Jun menghibur dengan beberapa nomor lagu meskipun tanpa pengeras suara. Jamaah ikut bernyanyi dan menikmatinya dengan riang dan nyaman. Tak hanya itu, setelah bernyanyi, moderator mengajak jamaah bersalawat bersama agar suasana batin semakin hangat di tengah hujan.
Tepat pukul 22.15, setelah hampir satu jam melakukan transisi, akhirnya forum bisa dilanjutkan dengan beberapa keterbatasan.
Moderator langsung mengundang Pak Widagdo DAMKAR Surabaya, Gus Miftah, Mas Aminullah, dan Mas Sabrang untuk naik ke panggung yang sangat sederhana. Tepuk tangan jamaah bergemuruh di pendopo itu, menyambut kedatangan para narasumber. Gemuruh itu tampaknya menandakan bahwa dalam situasi apa pun, jamaah Maiyah tetap bersemangat untuk sinau bareng.
Belajar Memadamkan Api
Tak berselang lama, setelah seluruh narasumber menempati tempat masing-masing, moderator langsung memberikan kesempatan kepada Pak Widagdo, perwakilan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, untuk turut ngramesi tema PATIGENI. Sebagai orang yang sehari-hari berhadapan dengan api, ia membagikan perspektifnya berdasarkan pengalaman di lapangan. Pak Widagdo menjelaskan bahwa melalui informasi live update malam itu, pada hujan pertama di Surabaya, terdapat dua trafo listrik yang terbakar. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran bisa mengintai kita setiap saat. Ia kemudian menjelaskan bahwa api terbentuk dari tiga unsur, yakni bahan bakar, panas, dan oksigen. Ketika salah satu unsur tersebut hilang, api akan padam.

Dokumentasi official bangbangwetan
Api akan mati ketika bahan bakarnya habis. Pak Widagdo mengaitkan hal ini dengan kebakaran hutan. Menurutnya, api akan berhenti membakar ketika seluruh bahan bakarnya, yakni hutan, habis. “kalau mau padam, ya tunggu hutannya habis,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran terkadang bermula dari hal-hal sepele yang kerap luput dari perhatian.
Tanpa bermaksud menyinggung Pak Widagdo, Mas Amin mencairkan suasana dengan membagikan kisah spiritual. Ia bercerita bahwa ada anggapan, rumah yang menyimpan kitab Bukhari Muslim akan terhindar dari kebakaran. Ia kemudian mengaitkannya dengan pengalaman pribadi ketika rumahnya hampir terbakar akibat lupa mematikan kompor. Kisah tersebut menghadirkan sudut pandang lain yang melengkapi pembahasan, tanpa menafikan penjelasan teknis yang sebelumnya disampaikan Pak Widagdo.
Bangbangwetan adalah api yang terkontrol
Mas Sabrang membuka statement-nya dengan membahas api yang bermacam-macam, salah satunya api yang lahir dari keresahan rakyat. Ia mengingatkan bahwa kita bisa berbicara kepada pemerintah agar jangan sampai keresahan masyarakat berkembang menjadi api. Di tengah pembahasan itu, beberapa jamaah menyahut bahwa pidato dan pernyataan pejabat akhir-akhir ini justru menjadi bahan bakar api. Ia merespons sahutan tersebut dengan guyonan, “Itu bukan bahan bakar. Itu pemantik.”
Menurutnya, keresahan masyarakat adalah bahan bakar yang jangan sampai dipantik oleh tindakan yang memperkeruh keadaan. Misal, Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan seret, jangan sampai ada pejabat yang dengan sengaja memamerkan kekayaan. Ia mencontohkan kasus penjarahan rumah pejabat yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia juga mengingatkan agar kita jangan sampai menjadi bahan bakar bagi api yang dinyalakan orang lain. “Jangan-jangan kita ini jadi bahan bakar yang membakar hutan, dan nantinya hasil dari pembakaran hutan itu yang diuntungkan orang lain,” ujarnya.
Dari situ, pembahasan beralih pada bagaimana manusia menyikapi api. Kita jangan sampai kehilangan potensi untuk membakar, sebab manusia memiliki daya untuk bertindak sekaligus kemampuan untuk mengendalikannya. Ia mengibaratkannya dengan kambing dan singa. Kambing diam di hadapan manusia karena tidak berdaya untuk menggigit, sedangkan singa bisa menggigit, tetapi juga bisa memilih untuk tidak melakukannya. Kita perlu menjadi seperti singa: memiliki daya, tetapi mampu menentukan kapan harus menggunakannya. Diamnya kita bukan karena tidak berdaya, melainkan sebuah sikap. Di tengah pembahasan itu, ia menyelipkan guyonan tentang makna yang tergandung di dalam namanya, “Jenengku iki yo mowo, yo damar, pie teko jeneng ae wes dikongkon obong-obong.”

Dokumentasi official bangbangwetan
Gagasan tentang daya dan pengendalian itu kemudian berkelindan dengan kata panuluh, yang dimaknai sebagai upaya menyeberangi kesulitan-kesulitan dan menaklukkan api. Tidak semua api berbahaya. Tanpa api, kehidupan juga tidak akan berjalan. Persoalannya adalah bagaimana manusia memahami dan mengendalikannya. Pengetahuan diperlukan agar api tidak terlalu besar hingga membakar diri sendiri, tetapi juga tidak padam sehingga kehangatan dan cahayanya tetap dirasakan. “BangbangWetan kudu tetep ono genine, ning geni seng terkontrol,” ajaknya.
Dalam konteks Indonesia, gagasan tentang pengendalian itu berkaitan dengan cara kita menyikapi keadaan negara. Ia menegaskan bahwa kita tidak sedang melawan Indonesia. Musuh kita adalah ketidakadilan dan segala tindakan yang mencederai cita-cita Indonesia, yang hingga kini belum sepenuhnya tercapai. Karena itu, kritik seharusnya lahir dari kesedihan melihat sesuatu yang tidak ideal dan perlu dibenahi, bukan untuk mencari kepuasan atau sekadar melampiaskan emosi. Sebagaimana api yang perlu dikendalikan, kritik pun harus diarahkan untuk membenahi keadaan.
Antara Dorongan (Id) dan Tuntutan (Super ego)
Untuk menggali perspektif Mas Sabrang lebih jauh, moderator mengarahkan diskusi kembali pada makna PATIGENI yang telah dibahas sebelumnya. Jika geni diibaratkan sebagai ego, maka PATIGENI menjadi laku untuk mengendalikan ego sebelum bertindak atau mengambil keputusan. Dalam lingkup politik, gagasan ini dapat dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam sebuah kebijakan.
Mas Sabrang kemudian menjelaskan karakteristik ego manusia dengan merujuk pada pemikiran Sigmund Freud tentang id, ego, dan superego. Id merupakan dorongan naluriah dari dalam diri, seperti kebutuhan fisik dan hawa nafsu. Sementara itu, superego berkaitan dengan nilai dan harapan masyarakat tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap, misalnya harus saleh dan menghormati orang lain. Setiap peradaban memiliki standar superego yang berbeda-beda. Pertemuan antara dorongan id dan tuntutan superego inilah yang membentuk ego.
Dalam konteks PATIGENI, Mas Sabrang mengaitkannya dengan laku puasa dan cara tradisional untuk mengambil jarak dari lingkungan. Seseorang menahan dorongan id sekaligus menjauh sejenak dari pengaruh superego yang dibentuk masyarakat. Ketika asupan dari luar dibatasi dan tubuh ditahan untuk tidak melakukan berbagai hal, seseorang memiliki kesempatan untuk berhadapan dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, ego dapat dibentuk melalui kesadaran diri, bukan sekadar mengikuti dorongan naluriah atau harapan lingkungan.
Ia juga menjelaskan bahwa id dan superego memiliki asupan yang berbeda. Id dipengaruhi oleh apa yang kita makan dan minum. Karena itu, agama mengajarkan batasan mengenai apa yang boleh dikonsumsi agar dorongan tersebut tetap terjaga. Sementara itu, superego mendapat asupan dari apa yang kita cari, ketahui, lihat, dan pelajari melalui indra. Hal-hal yang kita serap dari lingkungan turut membentuk gambaran tentang sosok ideal yang ingin kita tampilkan.
Mas Sabrang mengingatkan agar kita memastikan bahwa tindakan yang diambil tidak semata-mata digerakkan oleh id atau superego. Riya, misalnya, merupakan bentuk perilaku yang bergantung pada penilaian lingkungan: seseorang berusaha menjadi sosok yang diharapkan masyarakat, tetapi justru memalsukan dirinya sendiri. Sebaliknya, dorongan diri yang paling naluriah juga perlu ditata dengan akal agar tidak serta-merta diwujudkan dalam tindakan. Di sinilah ego berperan sebagai ruang untuk mengolah keduanya sehingga manusia dapat mencapai kedaulatan diri, yakni ketika dirinya dibentuk melalui kesadaran dan pilihannya sendiri.
Pada akhirnya, Mas Sabrang mengajak jamaah bertanya kepada diri sendiri: ego kita saat ini lebih banyak menuruti superego atau id? Menurutnya, superego sebaiknya menjadi referensi, sedangkan id merupakan dorongan yang perlu ditahan. Biarkan diri kita sendiri yang menentukan pilihan dan dengarkanlah fatwa hati. Dengan demikian, PATIGENI menjadi laku untuk mengambil jarak dari dorongan dan tuntutan luar, sebelum memutuskan sesuatu berdasarkan kesadaran diri.
Mikrofon beralih kepada Gus Miftah. Ia membuka pembahasan dengan istilah sabuiyah, yang disamakannya dengan konsep id, yakni dorongan dan naluri dasar manusia, seperti keinginan untuk makan dan minum. Menurutnya, makan dan minum sejatinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gagasan ini mengajak kita memahami bahwa kebutuhan fisik perlu dipenuhi secukupnya, tanpa harus selalu menuruti setiap keinginan yang muncul.

Dokumentasi official bangbangwetan
Gus Miftah kemudian mengutip kembali pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang empat hal yang perlu diwaspadai agar manusia tidak terjerumus ke dalam neraka dunia, yaitu meri (iri terhadap orang lain), pambegan (membanggakan diri atau merasa lebih unggul), getun (menyesali sesuatu yang telah terjadi), dan sumelang (cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi). Keempatnya berkaitan dengan bagaimana manusia menyikapi keinginan, penilaian terhadap diri sendiri, masa lalu, dan masa depan. Bagi Gus Miftah, ajaran tersebut merupakan salah satu cara untuk melatih pengendalian diri, agar manusia tidak terus-menerus diperbudak oleh dorongan dan pikirannya sendiri.
Mendekati Kebenaran, Menata Diri
Pertanyaan pertama datang dari Mas Anggara. Dalam pengantarnya, ia mengutip pemikiran Mahatma Gandhi yang mengaitkan cairan di atas dan di bawah perut dengan bentuk-bentuk nafsu. Mas Anggara merasa bahwa dorongan tersebut relatif mudah ditaklukkan. Ia mengaku telah berpuasa dalam hal itu. Namun, dorongan iri dan dengki, serta kesulitan mendengarkan fatwa hati, masih menjadi persoalan dalam hidupnya.
Mas Sabrang memberikan sebuah trik. Menurutnya, manusia mudah berubah. Kondisi diri pada pagi dan sore hari bisa berbeda. Untuk mengendalikan perubahan tersebut, diperlukan keputusan yang dibuat ketika pikiran sedang jernih. Misalnya, seseorang menetapkan keputusan pada pagi hari untuk menghadapi berbagai keadaan yang mungkin terjadi sepanjang hari. Setelah itu, ia berpegang pada keputusan tersebut tanpa terus-menerus mengambil keputusan baru. Dengan begitu, seseorang dapat menjaga kestabilan sikap dan tidak mudah bimbang.
Jika cara tersebut belum berhasil, Mas Sabrang menyarankan untuk mengganti kanal. “Salto peng loro,” ujarnya. Ia mengibaratkan hal ini dengan ajaran dalam Islam tentang perubahan posisi ketika marah, dari berdiri menjadi duduk, misalnya. Perubahan posisi menjadi salah satu cara untuk mengalihkan keadaan diri. Ia juga menjelaskan bahwa wirid memiliki hitungan tertentu agar pikiran terfokus pada hitungan tersebut dan tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal lain.
Mas Amin turut menambahkan penjelasan dari sisi mekanismenya. Jika seseorang merasa telah berpuasa untuk mengendalikan diri, tetapi masih ada dorongan yang lolos, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam mekanisme pengendalian dirinya. Menurutnya, sejak kecil kita diajarkan untuk beribadah, tetapi mekanisme untuk menjalankan dan menghayati ibadah tersebut sering kali belum diajarkan secara memadai.

Dokumentasi official bangbangwetan
Pertanyaan kedua datang dari Mas Mukhlis asal Madura. Dalam kesempatan pertamanya mengikuti forum Maiyah, ia mengungkapkan keresahan tentang beragamnya pikiran dan motivasi manusia. Setiap orang memiliki dorongan yang berbeda sehingga mereka tidak bisa dimotivasi dengan cara yang sama. Ia juga menyinggung mahasiswa yang belum melakukan kejahatan karena belum memiliki akses atau kesempatan. Namun, ketika peluang itu terbuka, bukan berarti mereka mustahil melakukannya. Dari persoalan tersebut, Mas Mukhlis bertanya tentang letak kebenaran sejati di tengah keberagaman manusia dan kerumitan hubungan antara id, ego, dan superego.
Mas Sabrang menjelaskan bahwa perbedaan memang selalu ada, tetapi manusia juga memiliki lebih banyak persamaan yang dapat menjadi titik temu. Dengan kata lain, perbedaan itu bersifat relatif. Dalam sebuah percakapan, ada irisan kesamaan yang memungkinkan orang saling memahami. Di sisi lain, perbedaan justru membuka kesempatan bagi seseorang untuk mengetahui hal yang sebelumnya belum ia pahami. Inilah salah satu dasar konsep sinau bareng. Ketika berhimpun sebagai bangsa Indonesia, ada kesamaan yang menyatukan kita. Salah satunya adalah kesadaran bahwa bekerja secara berkelompok dapat memperkuat upaya mencapai cita-cita negara dibandingkan berjalan sendirian.
Mas Sabrang juga mengingatkan bahwa id, ego, dan superego hanyalah salah satu pola untuk memahami manusia. Ada pola-pola lain yang dapat digunakan untuk melihat manusia secara lebih utuh. Adanya keterbatasan dalam suatu pola tidak lantas membuatnya kehilangan arti. Sebaliknya, kita perlu mempelajari sudut pandang lain agar pemahaman terhadap manusia menjadi lebih lengkap.
Mengenai pencarian kebenaran sejati, Mas Sabrang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin menggenggamnya secara mutlak. Selama hidup di dunia, manusia akan terus berjuang untuk mendekati kebenaran. “Agar tidak salah-salah amat di dunia,” ujarnya.
Jam menunjukkan pukul 01.15, menandai berakhirnya forum BangbangWetan edisi Oktober. Acara ditutup dengan membaca Surah At-Taubah ayat 128–129 secara bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan Indal Qiyam.
*******
Redaksi Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



