Kemlagen Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/kemlagen/ Tue, 27 May 2025 07:39:23 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Kemlagen Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/kemlagen/ 32 32 Sang Guru – Kemlagen Edisi 06 https://bangbangwetan.org/sang-guru-kemlagen-edisi-06/ https://bangbangwetan.org/sang-guru-kemlagen-edisi-06/#respond Tue, 27 May 2025 07:39:23 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2149 Drs. KH. Syihabul Irfan Arif, MPd, Yang Mencontohkan Bagaimana Menjadi Orang Yang Benar, Baik dan Indah Yamaha “YB”, itulah sepeda motor pertama miliknya. Perawakannya ganteng, cerdas, energik, dan komunikatif. Sangat […]

Artikel Sang Guru – Kemlagen Edisi 06 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Drs. KH. Syihabul Irfan Arif, MPd,

Yang Mencontohkan Bagaimana Menjadi Orang Yang Benar, Baik dan Indah

Yamaha “YB”, itulah sepeda motor pertama miliknya. Perawakannya ganteng, cerdas, energik, dan komunikatif. Sangat menghargai lawan bicara. Kitab ‘Idhotun Nasyi’in karya Syaikh  Al-Mushthofa Al-Ghulayainy adalah salah satu buku yang tekun diamalkannya. Berolahraga badminton dan lari pagi menjadi rutinitas dalam menjaga kesehatannya. Main catur merupakan hobi dan kegemaran utamanya. Universitas Negeri Malang jurusan Bahasa Inggris adalah almamaternya. Dunia pendidikan adalah fokus utama urusan dan medan juangnya. Kemajuan pendidikan formal di pondok pesantren adalah prioritasnya. Santri bisa diterima di perguruan tinggi negeri terbaik adalah perhatian utamanya. Menjadi guru dan pendidik adalah pilihan hidupnya. Sampai wafatnya masih terjadwal mengajar dan mengaji kitab kuning di pondok pesantrennya.

Tahun 1983 saya masuk sekolah MA “Roudlotun Nasyiin Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto. Beliau adalah guru bahasa Inggris sekaligus kepala sekolahnya. Beliau sangat dekat dan dicintai murid-muridnya. Kalau mengajar sangat menyenangkan sehingga membuat suasana belajar menjadi hidup. Penjelasannya mudah dipahami. Dengan imajinasinya kami terbawa melayang ke Inggris dan Amerika yang menjadi kiblat bahasa Inggris dunia. Hal ini membuat kami para muridnya sangat suka dan gemar belajar bahasa Inggris. Hal itu membuat 2 teman saya melanjutkan kuliah mengambil jurusan bahasa Inggris karena ingin mengikuti jejak Beliau. Sekarang teman saya mengajar mapel bahasa Inggris di MAN Mojosari dan SMAN Kota Mojokerto. Kakak kelas saya persis menjadi dosen bahasa Inggris di UNISMA Malang. Kisaran tahun 1989-1994 saya berinteraksi aktif dengan turis asing di Kuta – Bali dengan modal bahasa Inggris yang saya dapat dari pengajaran Beliau di Aliyah.

Beliau sangat dermawan.  Sebelum  menikah dan kontrak rumah di Mojokerto, saya sering ditimbali untuk  disuruh  mencuci pakaian dan sepeda yamaha “YB”nya. Setelah melaksanakan tugas tersebut tidak jarang saya dikasih uang saku. Pada tahun ajaran 1984/1985, dalam perjalanan pulang sekolah Aliyah sekitar jam 17.00 seperti biasa kami semua para santri melewati depan Ndalem Romo Kiai. Saya tidak tahu apakah kebetulan atau sengaja, Beliau berdiri di balai rumah ndalem. Menyaksikan para santriwan santriwati pulang sekolah dari gedung MTs dan MA. Begitu melihat saya, Beliau memanggil, “Besok pagi kamu mulai mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Kamu resmi menjadi guru tetap MI.” Begitu perintahnya. Waktu itu saya kelas 3 MA dengan bisyaroh Rp 17.500 per bulan. Sudah cukup bahkan lebih untuk kebutuhan biaya hidup sebulan.

Tahun 1993 saya menikah dan malnjutkan hidup di Kuta, Bali sekitar 5 bulan dengan kost di satu kamar. Pada satu titik kami jenuh dengan keadaan sehingga kami pun pulang ke rumah mertua di Mojokerto. Sampai anak pertama lahir, pekerjaan saya tetap di Bali. Maka setiap dua minggu sekali harus mondar mandir Bali-Mojokerto. Sangat tidak enak rasanya tidak setiap hari bisa bertemu anak dan istri. Akhirnya, saya sholat istikharah dan berunding dengan istri.

Surat Ali-Imran (3) Ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

Akhirnya, kami memutuskan untuk pisah rumah dengan mertua dan pindah kontrak rumah di pondok pesantren Roudlotun Nasyi’in, Berat Kulon untuk mengabdi sebagai guru di pondok pesantren tersebut. Kebetulan kami  berdua  sepondok dan sealmamater di pesantren ini. Tahun 1995 saya menemui Beliau, di rumah kontrakannya, Kota Mojokerto. Saya sampaikan niat saya kalau mau boyong ke pondok Berat Kulon. Apa jawab Beliau. “Sudah lama kamu saya tunggu untuk bisa mengabdi di pondok. Mulai besok kamu sudah boleh mulai mengajar di MA. Temui saya di  kantor MA.” Setelah itu saya segera mencari rumah kontrakan di dekat Pondok. Alhamdulillah, saya mendapat rumah kontrakan yang jaraknya hanya 50 m dari pondok. Mulailah istri saya mengajar di MI dan Madrasah Diniyah sedangkan saya mengajar di MTs, MA, dan Madrasah Diniyah

Sekitar tahun 1997, saat mulai ramai orang-orang rombongan bus untuk ziarah Wali Songo, saya diajak teman mendampingi ziarah wali. Gratis, bahkan dapat uang saku. Saya ijin Beliau untuk tidak mengajar satu minggu karena saya akan ziarah selama enam hari. Apa jawab Beliau? “Kalau kamu ziarah, meninggalkan anak-anak seminggu, yang mendapat manfaat darimu hanya satu atau dua bus tetapi yang rugi 600 anak (12 kelas X 50 anak), tetapi kalau kamu tidak ikut ziarah wali songo, yang untung 600 anak dan yang “rugi” hanya satu atau dua bus rombongan. Terserah. Berangkat? Silahkan. Tidak jadi berangkat, ya tidak apa-apa. Pertimbangkan sendiri.” begitulah respon Beliau. Akhirnya saya putuskan tidak menerima tawaran ziarah dan memilih tetap mengajar anak- anak.

Sejak tahun 2000 saya pindah rumah dari rumah kontrakan. Membersamai nenek yang semakin menua di Dsn. Rejoso, Ds. Payungrejo, Kec. Kutorejo. Jaraknya sekitar 35 km dari pesantren tempat saya mengabdi. Empat hari dalam seminggu saya terjadwal mengajar di pondok. Hampir bisa dipastikan kalau jam 07.00 saya belum sampai di kantor madrasah, saya akan ditelpon langsung. Kalau “tidak berhasil” menelpon saya, Beliau akan menelpon istri saya dan menanyakan keadaan dan keberadaan saya. Inilah sebabnya kalau saya terlambat berangkat ngajar ke pondok, saya “dimarahi” istri tercinta.

Tentu saja masih banyak kenangan indah dan manis selama berinteraksi bersama Beliau yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi saya. Beliau sering menukil kitab ‘Idhotun Nasyiin karya Asy Syaikh Mushthofa Al-Ghulayainy

إن في يدكم أمر الامة وفي أقدامكم حياتها فأقدموا إقدام

كالاسد الباسل

“Wahai pemuda! Di tangan kalian urusan bangsa. Di kaki kalian tegak hidup suatu bangsa maka bergerak majulah kalian seperti gerak majunya seekor singa yang gagah perkasa”

Abah Yai! Engkau adalah bapak yang menyayangiku. Ayah yang menjagaku. Guru yang mendidikku. Kiai teladanku. Engkau tidak hanya benar dan baik namun juga indah. Lebih dari meneladankan kebenaran dan  kebaikan, engkau meneladankan keindahan hidup.


Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu.

Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Sang Guru – Kemlagen Edisi 06 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/sang-guru-kemlagen-edisi-06/feed/ 0
Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/ https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/#respond Wed, 23 Apr 2025 04:33:53 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2066 Guruku adalah salah satu santri kesayangan dari almarhum Romo KH. Arif Hasan, pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon, Mojokerto. Sosoknya masih muda, belum menikah, dan berwajah tampan. Beliau dikenal […]

Artikel Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Guruku adalah salah satu santri kesayangan dari almarhum Romo KH. Arif Hasan, pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon, Mojokerto. Sosoknya masih muda, belum menikah, dan berwajah tampan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tawadhu, jarang berbicara, namun sangat berwibawa. Seorang ustadz yang begitu dicintai dan dihormati, baik oleh rekan-rekan seprofesi maupun murid-muridnya.

Saya teringat dawuh Mbah Nun yang mengutip kata-kata dari seorang bandar narkoba kelas kakap asal Amerika: “Jadilah orang yang dicintai. Karena orang yang dicintai akan dihormati sekaligus ditakuti. Jika tak mampu dicintai, setidaknya jadilah sosok yang dihormati atau disegani. Tapi jangan hanya menjadi orang yang ditakuti.”

Guruku, selain patuh total pada perintah Romo Kiai, juga bekerja sebagai penjahit, namun hanya melayani orang-orang tertentu. Salah satu pelanggan setianya adalah Romo Kiai sendiri yang sangat menyukai baju-baju hasil jahitannya.

Rumahnya berjarak sekitar dua kilometer dari pesantren, dan beliau rutin menempuh perjalanan itu pulang-pergi dengan sepeda onta miliknya. Saat saya duduk di MTs, beliau mengajar kitab berat seperti Tafsir Jalalain. Mata pelajaran agama saat itu juga menggunakan kitab Jurumiyah untuk nahwu, dan Fathul Mu’in untuk fiqih – kurikulum yang sangat berbeda dengan madrasah masa kini. Pada masa saya mondok (1977–1985), pelajaran pesantren masih terintegrasi dengan pendidikan formal. Barulah setelah saya lulus, sekitar tahun 1986, Romo Kiai meresmikan Madrasah Diniyah.

Guru saya adalah anak sulung yang harus memikul tanggung jawab keluarga sejak sang ayah wafat. Semua kebutuhan adik-adiknya, termasuk biaya pendidikan, menjadi tanggung jawab beliau. Barangkali ini pula alasan mengapa beliau memilih untuk tetap membujang.

Tahun 1982, beliau sudah memiliki motor Yamaha bebek baru. Pada masa itu pula, beliau membiayai adiknya yang kuliah di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Suatu hari, dalam perjalanan menjenguk adiknya dan mengantarkan kebutuhan bulanan, beliau mengalami kecelakaan tragis di sekitar pabrik kertas Ciwi, Mojokerto – tepat di perbatasan Mojokerto-Pasuruan. Kecelakaan itu merenggut nyawanya seketika.

اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

“Kita semua ini milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya”.  (QS. Al-Baqarah: 156)

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ۝٣٤

 “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf: 34)

Sore itu, jenazah beliau dibawa pulang dengan ambulans ke kampung halamannya di Desa Mojojajar. Duka menyelimuti desa tempat tinggalnya dan juga desa Beratkulon. Masyarakat yang sehari-hari melihat beliau melintasi jalan menuju pondok pun ikut larut dalam kesedihan. Terutama Romo KH. Arif Hasan – guru, kiai, sekaligus bapak ideologisnya – yang sangat terpukul kehilangan santri kesayangannya.

Romo Kiai pun memohon keridhaan keluarga agar jenazah beliau dimakamkan di Beratkulon, di tempat beliau mengabdi dan menebarkan ilmu. Permohonan itu dikabulkan oleh keluarga.

Malam itu juga, setelah sholat Isya’, seluruh santri putra diperintahkan oleh pengurus pondok untuk berjalan kaki menuju Desa Mojojajar guna menghadiri takziah. Subhanallah, sepanjang jalan dua kilometer menuju lokasi pemakaman di Beratkulon, masyarakat secara spontan memasang dan menyalakan lampu Petromax di pinggir jalan. Warga desa berdiri berjajar di sepanjang rute jenazah, memberikan penghormatan terakhir untuk guru tercinta ini.

Selamat jalan, guruku, bapak ideologisku, teladan hidupku.

Beliau pula yang dulu memanggil saya dan lima teman ke kantor, mengabarkan bahwa kami “naik gantungan” ke kelas 6 MI. Beliaulah Ustadz Asmuhin – guruku, bapakku, dan Kiaiku. Guruku itu, benar adanya, adalah seorang waliyullah.

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۝٦٢

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Yunus: 62)

Demikianlah kenangan hidup tentang beliau. Sosok yang menjalani hidup tanpa kekhawatiran dan kesedihan, hingga akhirnya dipanggil menghadap Sang Khaliq dalam keadaan syahid akibat musibah yang menimpanya.

رحمه الله تعالى ونفعنا الله به وبعلومه وبإيمانه وأعماله وبركاته وأمدنا بأسراره في الدارين آمين

“Semoga Allah Ta’ala merahmatinya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kami melalui dirinya, ilmunya, imannya, amalnya, dan keberkahannya, serta menganugerahi kami rahasia-rahasianya di dunia dan akhirat. Aamiin”.

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Guruku itu Waliyyullah – Kemlagen Edisi 05 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/guruku-itu-waliyyullah-kemlagen-edisi-05/feed/ 0
Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/ https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/#respond Thu, 10 Apr 2025 08:18:34 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1949 “Kalau kamu punya keinginan, kemauan, dan   cita-cita,   maka   segerahlah untuk membulatkan tekad dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya”, begitulah dawuh Murabbi Ruhii, Romo KH. Zainul Arifin Arif, pengasuh PP Roudlotunnasyi’in […]

Artikel Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
“Kalau kamu punya keinginan, kemauan, dan   cita-cita,   maka   segerahlah untuk membulatkan tekad dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya”, begitulah dawuh Murabbi Ruhii, Romo KH. Zainul Arifin Arif, pengasuh PP Roudlotunnasyi’in Beratkulon kepada para santri dan alumni. Beliau adalah putra kedua pendiri pondok yang terletak di kecamtan Kemlagi Mojokerti itu, Al-Maghfurlah Romo KH. Arif Hasan, seorang santri kesayangan Hadratu Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau sering menukil syair Arab karya Syauqi Bik sebagai landasannya

قف دون رأيك في الحياة مجاهدا # إن الحياة عقيدة وجهاد

“Peganglah gagasanmu dalam hidup ini dengan penuh kesungguhan, sebab sesungguhnya hidup tak lain adalah keyakinan dan perjuangan.”

Demikian halnya saya. Ketika berada pada titik nadir –naik kelas gantungan– maka segera saya bulatkan tekad untuk bangkit, cancut tali wondo agar segera bisa lepas dari ikatan tali naik gantungan menuju naik permanen. Segala daya dan upaya saya kerahkan. Malu rasanya kalau tali gantungannya putus dan jatuh, turun lagi di kelas lima MI. Dijelaskan dalam kitab Ta’limul Muta’allim:

من قرع الباب ولج ولج

“Barang siapa mengetuk pintu kemudian dia maju maka dia niscaya berhasil masuk ke dalam dan memperoleh apa yang ia maksud.”

Waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih lumayan bagus. Kiriman bulanan berjalan lancar dan cukup untuk biaya kebutuhan mondok. Saya meminta Bapak membelikan semua kitab-kitab turots (kitab kuning) dan buku-buku yang saya perlukan. Alhamdulillah, Bapak memenuhinya. Buku dan kitab-kitab itu saya jaga, saya rawat dengan satu cara yaitu memberinya samak dengan kertas kalender usang atau beberapa dengan samak plastik. Bahkan kitab-kitab turots seperti kitab Mabadil Fiqhi, Nurul Yaqin, Aqidatul Awwam, Washoya saya tulis ulang di buku tulis. Jarak tulisan garis pertama ke garis kedua, garis kedua ke garis ketiga dan seterusnya saya buat lima baris. Lima baris yang kosong itu untuk ditulisi makna arab pegongandul atau “jenggot” dari terjemahan Ustad yang “mbalah” kitab-kitab tersebut. Saya pastikan tidak ada satupun kalimah (kata) dalam kitab itu yang saya tidak tahu artinya, karena setiap kata yang saya tidak tahu artinya, saya kasih makna/ terjemah. Setiap selesai ngaji kitab, selalu saya baca ulang. Makna dan intonasi, titik dan komanya saya pastikan sama persis dengan pembacaan Kiai dan Ustadz. Hal ini akhirnya menjadi perilaku dan kebiasaan saya di dalam mengaji.

Masih dari Ta’limul Muta’allim, disebutkan:

بقدرالكد تعطى ما تروم #  فمن رام المنى ليال يقوم

“Capaian itu berbanding lurus dengan upaya atau pengorbanannya, maka barang siapa yang ingin mendapat anugrah Allah harus mau bangun di malam hari.”

Kerja keras saya berbuah. Saya bisa bertahan di kelas enam sampai akhir tahun pelajaran. Saya sangat bersyukur karena bukan hanya bisa lolos dari sanksi “naik gantungan” namun juga langsung mencolot menjadi santri The Best Three. Pengalaman batin ini mengingatkan  saya  pada  dawuh  Mbah  Nun  bahwa

“Rejeki, nikmat dan anugerah Allah iku gak rupo sing enak-enak thok reeek. Masiyo gak enak, yo iso dadi rejeki songko Allah tergantung awakmu kabeh iki sikape. Enak soro, seneng sumpek, bathi rugi iku kabeh iso dadi rejeki teko Pengeran nek atimu iso nrimo lan iso husnudhon nang Pengeran.”

Dari sini saya terus belajar dan membiasakan diri untuk selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. Naik kelas gantungan saya jadikan pijakan kokoh untuk melompat tinggi dan capaian dari-Nya saya syukuri sebagai upaya untuk mengaktualisasi anugerah-Nya.

Surat Ibrahim (14) Ayat 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab- Ku sangat pedih.”

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Santri Mencolot – Kemlagen Edisi 04 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/santri-mencolot-kemlagen-edisi-04/feed/ 0
Santri “Dihukum Gantung” – Kemlagen Edisi 03 https://bangbangwetan.org/santri-dihukum-gantung-kemlagen-edisi-03/ https://bangbangwetan.org/santri-dihukum-gantung-kemlagen-edisi-03/#respond Sun, 09 Mar 2025 10:32:28 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1850 Surat Az-Zalzalah (99) Ayat 7 dan 8 فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨) “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia […]

Artikel Santri “Dihukum Gantung” – Kemlagen Edisi 03 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

Surat Az-Zalzalah (99) Ayat 7 dan 8

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya(7). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula(8)”

Ngunduh Wohing Pakarti (pitutur Jawa). Tahun 1977 saya lulus MI, Madrasah Ibtidaiyah, di Lamongan, dan berijazah. Namun, ijazah itu ditolak sebagai syarat masuk ke MTs di Pondok Pesantren “Roudlotun Nasyi’in” Beratkulon, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto. Penolakan didasarkan penilaian para pengasuh pondok mengenai kualitas pengajaran madrasah desa tempat saya belajar sebelumnya. Karena alasan akademik inilah, saya harus mengulang jenjang persekolahan MI di kelas lima. Turun dua tingkat dari yang seharusnya saya jalani.

Belajar Kitab. Sumber: Kak Syaiful BbW.

Gedung MI di pondok pesantren Beratkulon dibangun terpisah antara gedung untuk siswa putra dan putri. Jarak antar gedung sekitar 500 meter. Seragam pakaiannya bercelana dan berkopyah. Gedungnya berada di luar kompleks pondok. Kurikulum yang digunakan terdiri atas mata pelajaran umum dan agama Islam. Pelajaran umumnya sama dengan yang diajarkan di Sekolah Dasar pada umumnya. Untuk pelajaran agama, kitab kuning (turots) merupakan rujukan utama. Di antaranya kitab Washoya untuk pelajaran akhlak, kitab Mabadil Fiqhi empat jilid untuk pelajaran fiqih, kitab Nurul Yaqin untuk sejarah Islam, dan kitab ‘Aqidatul Awwam untuk pelajaran tauhid.

Tahun pertama pembelajaran di pondok maupun sekolah formal saya lalui biasa-biasa saja. Masa itu, pembagian waktu tahun ajaran adalah tiga segmen dengan panjang empat bulan per segmennya. Catur wulan ketiga adalah masa penentuan naik-tidaknya seorang siswa ke kelas selanjutnya.

Di MI saya mempunyai seorang guru yang terbilang tampan. Wajahnya selalu berseri-seri tetapi tegas dan berwibawa. Beliau masih jejaka. Selalu bersepeda “onta wedhok”. Waktu itu, dikenal 3 jenis sepeda kayuh yakni sepeda jengki, wedhok dan lanang. Namanya Ustadz Asmuhin. Tinggalnya di Desa Mojojajar, sekitar dua kilometer dari kawasan pondok.

Satu hari, saat istirahat sekolah, saya dan keempat teman ditimbali Ustadz Asmuhin. Kami berlima menghadap beliau di kantornya yang berada di lingkungan gedung MI putra di samping Masjid Jami’ Beratkulon. Ruang itu terpisah dari gedung sekolah, yaitu di bangunan rumah kecil milik ayah dari Aba Nidhom, pemilik toko bangunan terbesar di kawasan itu.

Kami datangi kantor itu dengan perasaan was-was. Ndredeg atau cepatnya debar jantung saya dan kawan- kawan mewakili perasaan itu. Di hadapan ustadz tampan itu, kami hanya bisa menunduk. Tak ada keberanian menatap wajah mulia beliau.  Guru-guru MI bagi kami memang sangat berwibawa satu hal yang diimbangi dengan perilaku tawadhu’ para santri.

Walau dengan suara yang terjaga ketenangannya, dawuh beliau bagaikan sambaran petir. “Kalian dihukum gantung. Tahu kenapa?”. Wajah kami semakin tertunduk. Detak jantung kami kian kencang. Kami tidak paham, kenapa harus mendapat hukuman itu. Apa kesalahan kami. Beliau meneruskan ucapannya, “Kalian tidak naik kelas. Rapor kalian terbakar. Banyak nilai merahnya”. Nilai lima ke bawah memang ditulis merah di rapor. Kami tidak berani bertanya kenapa rapor kami terbakar. Apalagi bertanya mengapa kami tidak naik kelas. Beliau melanjutkan “Nek awakmu kabeh pancet gak tayo, gak beneh, mblah mbleh, klowar klowor, males, aras-arasen, maka kalian tetap di kelas lima permanen. Sekarang kalian naik kelas enam tetapi digantung selama satu catur wulan. Kalau ada perubahan dalam prestasi belajar kalian, maka bisa lanjut di kelas enam. Tetapi kalau tidak ada perubahan, kalian akan diturunkan kembali ke kelas lima”.

Peristiwa ini seumur hidup tidak akan pernah terlupakan dan sejak saat itu saya bertekad untuk bangkit. Sangat tak nyaman mendapati hukuman naik kelas gantung. Saya menyatakan perang melawan kemalasan, ketidakseriusan, dan kesembronoan hidup. Maka “perang itu wajib” berdasarkan hakikat kehendak dan perintah Allah:

Surat Al-Baqarah (2) Ayat 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Aba Yai bersenda gurau dengan sang murid.

Singkatnya, perang itu sudah digariskan, diniscayakan, atau ditetapkan untuk manusia. Di antara sekian jenis peperangan, yang paling dahsyat dan hebat adalah perang melawan hawa nafsu untuk ditundukkan dan dikendalikan. Tidak untuk dibunuh atau dimusnahkan.

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Santri “Dihukum Gantung” – Kemlagen Edisi 03 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/santri-dihukum-gantung-kemlagen-edisi-03/feed/ 0
Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/ https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/#respond Tue, 04 Mar 2025 10:28:40 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1828 رضيت بالله ربا # رضيت بالله قديرا رضيت بالله عدلا # رضيت بالله حكيما “Saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang […]

Artikel Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

رضيت بالله ربا # رضيت بالله قديرا
رضيت بالله عدلا # رضيت بالله حكيما

“Saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Menentukan takdir, saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Adil, dan saya rida kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Bijaksana.” (Wirid Tawassulan Maiyah)

Kata Mbah Nun, “Endi sih anak-anak zaman dulu yang tidur di langgar atau masjid yang tidak memiliki wadanan? Semua pasti punya wadanan.” Apa yang beliau katakan memang benar. Dulu, hampir setiap pemuda tidur di langgar atau masjid dan mereka memiliki “laqob” atau julukan, yang sering disebut “wadanan“. Saya sendiri juga mengalami hal itu. Tanpa tahu asal-usulnya, saya pun mendapat panggilan akrab “kapsul,” atau di pondok, sering disebut “sodéq”.

Surau di tengah Sawah. Sumber: Explore Rejang Lebong

Pada tahun 1977, setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Nurul Islam, Keduk-Sambeng-Lamongan, saya diantar oleh Bapak menuju Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in di Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto. Bapak dan Ibu menitipkan saya pada pendiri pondok tersebut, Al-Maghfurlah Romo KH. Arief Hasan. Beliau adalah santri kesayangan Hadlratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, seorang santri yang memiliki julukan “si Thowil” karena tubuhnya yang tinggi dan kurus, akibat dari laku tirakat yang dijalani.

اطلبوا العلم ولو بالصين
“Carilah ilmu meski di negeri Cina,” kata Nabi Muhammad SAW.

Sekitar pukul 10.00, saya tiba di pondok, dibonceng sepeda motor Suzuki A3 warna pink oleh Bapak. Waktu itu, ekonomi Bapak masih cukup baik. Sebelum 1975, kondisi keluarga kami bisa dibilang cukup mapan, bahkan termasuk kategori keluarga kaya. Bapak memiliki motor gede Norton dari Jerman dan Honda ulung (Honda C70 – red) baru dari Jepang.

Namun, takdir berkata lain. Sekitar tahun 1975, Bapak mengalami kecelakaan berat di Sambong-Jombang. Beliau menabrak sepeda onta yang membawa rumput. Bapak mengalami cedera kepala parah hingga koma. Sejak itu, kondisi ekonomi keluarga kami terus menurun, tetapi Bapak tetap berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Meski ekonomi kami mengalami penurunan, Alhamdulillah, Bapak dan Ibu berhasil membimbing kelima anak-anaknya untuk mondok di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in. Hanya satu yang tidak mondok, dia dititipkan kepada Kiai Muhtarom di kampung. Sekarang dia menjadi ustaz di Kuta, Bali, mendirikan TPQ dan musholla, serta aktif dalam pengurus PCNU Badung.

Pendidikan Bapak dan Ibu sederhana, tidak lulus SR, dan bacaan Al-Qur’an mereka pun masih terbata-bata. Namun, berkat ketekunan dan istiqomah, mereka berhasil membimbing kami untuk menuntut ilmu. Saya datang ke pondok dengan penampilan yang berbeda: bercelana pendek, baju dimasukkan, bersepatu, tanpa kopiah. Penampilan saya yang aneh itu membuat para santri terkejut.

Sahabat saya yang kini menjadi guru senior di pondok itu menggoda saya, “Déq, Sodéq: pean iku santri ‘mlethe pol. Guaya.” Saya tak mengerti maksudnya, sampai dia berkata, “Yo iyo ta. Mosok budal mondok kok kathokan, sepatuan, klambi dilebokno. Gak kopyahan pisan.”

Kini sahabat saya itu, Al-Mukarrom Ustaz Nasron, menjadi guru senior di Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in, angkatan 1984. Dia menyebut saya santri “mlete” karena penampilan saya yang berbeda saat pertama kali datang ke pesantren.

Namun, apakah penilaian pertama itu juga menggambarkan sikap saya selama menjalani kehidupan sebagai santri? Saya teringat sebuah kata-kata dari Sayyidina Ali, “Jangan terlalu menunjukkan dirimu pada orang lain, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Sebaliknya, yang tidak suka padamu pasti tidak akan percaya.”

 

Samsul Huda (Abi Syam). Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Abah Yai Zainul Arifin Arif dan Abah Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Efendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Santri “Mlethe” – Kemlagen Edisi 02 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/santri-mlethe-kemlagen-edisi-02/feed/ 0