Drs. KH. Syihabul Irfan Arif, MPd,
Yang Mencontohkan Bagaimana Menjadi Orang Yang Benar, Baik dan Indah
Yamaha “YB”, itulah sepeda motor pertama miliknya. Perawakannya ganteng, cerdas, energik, dan komunikatif. Sangat menghargai lawan bicara. Kitab ‘Idhotun Nasyi’in karya Syaikh Al-Mushthofa Al-Ghulayainy adalah salah satu buku yang tekun diamalkannya. Berolahraga badminton dan lari pagi menjadi rutinitas dalam menjaga kesehatannya. Main catur merupakan hobi dan kegemaran utamanya. Universitas Negeri Malang jurusan Bahasa Inggris adalah almamaternya. Dunia pendidikan adalah fokus utama urusan dan medan juangnya. Kemajuan pendidikan formal di pondok pesantren adalah prioritasnya. Santri bisa diterima di perguruan tinggi negeri terbaik adalah perhatian utamanya. Menjadi guru dan pendidik adalah pilihan hidupnya. Sampai wafatnya masih terjadwal mengajar dan mengaji kitab kuning di pondok pesantrennya.
Tahun 1983 saya masuk sekolah MA “Roudlotun Nasyiin Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto. Beliau adalah guru bahasa Inggris sekaligus kepala sekolahnya. Beliau sangat dekat dan dicintai murid-muridnya. Kalau mengajar sangat menyenangkan sehingga membuat suasana belajar menjadi hidup. Penjelasannya mudah dipahami. Dengan imajinasinya kami terbawa melayang ke Inggris dan Amerika yang menjadi kiblat bahasa Inggris dunia. Hal ini membuat kami para muridnya sangat suka dan gemar belajar bahasa Inggris. Hal itu membuat 2 teman saya melanjutkan kuliah mengambil jurusan bahasa Inggris karena ingin mengikuti jejak Beliau. Sekarang teman saya mengajar mapel bahasa Inggris di MAN Mojosari dan SMAN Kota Mojokerto. Kakak kelas saya persis menjadi dosen bahasa Inggris di UNISMA Malang. Kisaran tahun 1989-1994 saya berinteraksi aktif dengan turis asing di Kuta – Bali dengan modal bahasa Inggris yang saya dapat dari pengajaran Beliau di Aliyah.

Beliau sangat dermawan. Sebelum menikah dan kontrak rumah di Mojokerto, saya sering ditimbali untuk disuruh mencuci pakaian dan sepeda yamaha “YB”nya. Setelah melaksanakan tugas tersebut tidak jarang saya dikasih uang saku. Pada tahun ajaran 1984/1985, dalam perjalanan pulang sekolah Aliyah sekitar jam 17.00 seperti biasa kami semua para santri melewati depan Ndalem Romo Kiai. Saya tidak tahu apakah kebetulan atau sengaja, Beliau berdiri di balai rumah ndalem. Menyaksikan para santriwan santriwati pulang sekolah dari gedung MTs dan MA. Begitu melihat saya, Beliau memanggil, “Besok pagi kamu mulai mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Kamu resmi menjadi guru tetap MI.” Begitu perintahnya. Waktu itu saya kelas 3 MA dengan bisyaroh Rp 17.500 per bulan. Sudah cukup bahkan lebih untuk kebutuhan biaya hidup sebulan.
Tahun 1993 saya menikah dan malnjutkan hidup di Kuta, Bali sekitar 5 bulan dengan kost di satu kamar. Pada satu titik kami jenuh dengan keadaan sehingga kami pun pulang ke rumah mertua di Mojokerto. Sampai anak pertama lahir, pekerjaan saya tetap di Bali. Maka setiap dua minggu sekali harus mondar mandir Bali-Mojokerto. Sangat tidak enak rasanya tidak setiap hari bisa bertemu anak dan istri. Akhirnya, saya sholat istikharah dan berunding dengan istri.
Surat Ali-Imran (3) Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”
Akhirnya, kami memutuskan untuk pisah rumah dengan mertua dan pindah kontrak rumah di pondok pesantren Roudlotun Nasyi’in, Berat Kulon untuk mengabdi sebagai guru di pondok pesantren tersebut. Kebetulan kami berdua sepondok dan sealmamater di pesantren ini. Tahun 1995 saya menemui Beliau, di rumah kontrakannya, Kota Mojokerto. Saya sampaikan niat saya kalau mau boyong ke pondok Berat Kulon. Apa jawab Beliau. “Sudah lama kamu saya tunggu untuk bisa mengabdi di pondok. Mulai besok kamu sudah boleh mulai mengajar di MA. Temui saya di kantor MA.” Setelah itu saya segera mencari rumah kontrakan di dekat Pondok. Alhamdulillah, saya mendapat rumah kontrakan yang jaraknya hanya 50 m dari pondok. Mulailah istri saya mengajar di MI dan Madrasah Diniyah sedangkan saya mengajar di MTs, MA, dan Madrasah Diniyah

Sekitar tahun 1997, saat mulai ramai orang-orang rombongan bus untuk ziarah Wali Songo, saya diajak teman mendampingi ziarah wali. Gratis, bahkan dapat uang saku. Saya ijin Beliau untuk tidak mengajar satu minggu karena saya akan ziarah selama enam hari. Apa jawab Beliau? “Kalau kamu ziarah, meninggalkan anak-anak seminggu, yang mendapat manfaat darimu hanya satu atau dua bus tetapi yang rugi 600 anak (12 kelas X 50 anak), tetapi kalau kamu tidak ikut ziarah wali songo, yang untung 600 anak dan yang “rugi” hanya satu atau dua bus rombongan. Terserah. Berangkat? Silahkan. Tidak jadi berangkat, ya tidak apa-apa. Pertimbangkan sendiri.” begitulah respon Beliau. Akhirnya saya putuskan tidak menerima tawaran ziarah dan memilih tetap mengajar anak- anak.
Sejak tahun 2000 saya pindah rumah dari rumah kontrakan. Membersamai nenek yang semakin menua di Dsn. Rejoso, Ds. Payungrejo, Kec. Kutorejo. Jaraknya sekitar 35 km dari pesantren tempat saya mengabdi. Empat hari dalam seminggu saya terjadwal mengajar di pondok. Hampir bisa dipastikan kalau jam 07.00 saya belum sampai di kantor madrasah, saya akan ditelpon langsung. Kalau “tidak berhasil” menelpon saya, Beliau akan menelpon istri saya dan menanyakan keadaan dan keberadaan saya. Inilah sebabnya kalau saya terlambat berangkat ngajar ke pondok, saya “dimarahi” istri tercinta.
Tentu saja masih banyak kenangan indah dan manis selama berinteraksi bersama Beliau yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi saya. Beliau sering menukil kitab ‘Idhotun Nasyiin karya Asy Syaikh Mushthofa Al-Ghulayainy
إن في يدكم أمر الامة وفي أقدامكم حياتها فأقدموا إقدام
كالاسد الباسل
“Wahai pemuda! Di tangan kalian urusan bangsa. Di kaki kalian tegak hidup suatu bangsa maka bergerak majulah kalian seperti gerak majunya seekor singa yang gagah perkasa”

Abah Yai! Engkau adalah bapak yang menyayangiku. Ayah yang menjagaku. Guru yang mendidikku. Kiai teladanku. Engkau tidak hanya benar dan baik namun juga indah. Lebih dari meneladankan kebenaran dan kebaikan, engkau meneladankan keindahan hidup.
Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Beliau bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu.
Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



