Rahim Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/rahim/ Thu, 25 Sep 2025 04:21:55 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Rahim Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/rahim/ 32 32 Perjalanan https://bangbangwetan.org/perjalanan/ https://bangbangwetan.org/perjalanan/#respond Wed, 24 Sep 2025 12:14:54 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2451 Aku sedang mencari kehendak Tuhan atas hadirku di sini, menyusuri jalanan panjang berlimpah cahaya, melintasi rimba raya, menyibak belukar gulma. Di tengah jalan, sekelompok musafir berjubah merah hitam menyanyikan lagu […]

Artikel Perjalanan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Aku sedang mencari kehendak Tuhan atas hadirku di sini, menyusuri jalanan panjang berlimpah cahaya, melintasi rimba raya, menyibak belukar gulma. Di tengah jalan, sekelompok musafir berjubah merah hitam menyanyikan lagu kesaksian atas nestapa, prahara, ketidakadilan, ketimpangan sosial, kezaliman penguasa, dan makin terpinggirnya rakyat jelata.

Sayup kudengar suara Mbah Kiai dari Rembang; ternyata angkara masih saja ikut bicara…

Jubah merah hitam berkibar tertiup angin. Pernah kudengar, setiap warna adalah simbol. Merah, lambang keberanian, fajar, semangat kebaruan, perlawanan, kemarahan dan kekuatan frontal. Sedangkan hitam mewakili simbol bumi wesi, kekuatan tersembunyi, kerendahan hati, keteguhan, ketabahan dan kematangan inteligensi.

Kupercepat langkah, mungkin Tuhan sedang menungguku, karena sifat Rahman dan Rahim-Nya tak terkira-kira, tak terwakili apa saja, tak terjemahkan bahasa manusia, laisa kamistlihi syai’un1.

Simbah pernah dawuh, mengutip hadis qudsi tentang seorang hamba yang mendekati-Nya sejengkal, maka Tuhan akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia mendekati-Nya satu hasta, maka Tuhan akan mendekat padanya satu depa. Jika ia mendekati-Nya satu depa, maka Tuhan akan mendekat padanya dengan berlari. Betapa Agung sifat Tuhan yang menurunkan kitab suci. Atas alasan itulah, perjalanan panjang ini kutempuh.

“Berhenti, Kisanak!”

Satu dari mereka mengadang langkah, terpaksa aku berhenti.

“Kau bisa nyanyi?” tanya orang paling kurus di antara yang lain.

“Tidak, aku hanya bersalawat Nabi,” jawabku.

Sedetik kemudian kusesali, kenapa terlalu polos di hadapan orang asing? Harusnya tidak pamer apapun. Karena barangkali, aku hanya bisa membaca salawat Nabi, sedangkan ilmu orang lain telah mencapai lazuardi, mumpuni, hafal ratusan kitab wasiat orang-orang suci. Tapi sudah terlanjur, kata-kata yang terucap tak mungkin kembali.

Orang itu menyungging. Entah tersenyum, entah menyeringai—firasatku memberi kode kaucha2-silang.

Sumber: pexels-cottonbro

“Kami butuh orang sepertimu, bersediakah Kisanak bergabung?”

Ajakan itu mengunciku di tempat. Sejenak aku terbuai. Menjadi orang yang mereka butuhkan? Sepenting itukah? Atas dasar apa mereka membutuhkanku?

“Kami bernyanyi siang malam, membaca puisi gelap, meluahkan kemarahan tak terlampiaskan. Kami butuh dengung penenang, berkenankah bergabung?”

Ujung kalimat itu kembali menodong. Jawaban apa yang harus kuberi? Bukankah aku sedang dalam perjalanan mencari kehendak Tuhan? Bagaimana jika kelompok ini ilusi setan untuk menyesatkan niat awalku?

Setelah mempertimbangkan cukup lama, aku menerima ajakan itu. Barangkali akan jadi pengalaman berharga. Mereka memberiku jubah merah hitam. Kini, aku dan mereka sama. Dari purnama ke purnama, kami menyanyikan lagu-lagu hayat, kadang mendengar hikayat, kadang merangsek jalanan kota untuk membangkitkan keadilan dari liang kubur. Kadang saling bertengkar, kadang saling mencakar, saling pithing saling banting. Kadang membisu, diam, lalu padam.

Ada satu waktu, musafir berjubah merah menggelar drama teatrikal. Kisah yang kami bawa tidak lepas dari misi progresif untuk menyebarkan fakta-fakta, melawan propaganda. Seorang di antara kami duduk bersimpuh di tengah lingkaran manusia; ia diharuskan menjiwai peran meratapi nasib, mengekspos ekspresi kesengsaraan, jika perlu bersimbah air mata darah. Kami mengitarinya, mengenakan topeng wajah bengis, menudingnya sebagai pelaku kejahatan moral, dan meneriakinya.

“Kerja!”

“Kerja!”

“Kerja!”

Suara kami bergaung menembus gendang telinga.

Sumber: pexels-cottonbro

Orang di tengah lingkaran meratap, ia mengadu, merintih, dan mengiba, tapi suaranya lesap digempur suara lantang kami bertubi-tubi.

“Kerja!”

“Kerja!”

“Kerja!”

Orang di tengah lingkaran meraung-raung, gidro-gidro3, lalu terbahak-bahak. Tawanya satire, sarat amuk dalam sekam, penuh luka, namun memilih terus tertawa sampai bibirnya kaku, menjadi kayu.

Kemudian semua orang menjelma kayu di atas rel nasib, diperkuda etos kerja, bergerak cepat mengejar garis edar. Tidak ada yang peduli seberapa lelah usaha mencapai ambang aman dalam hidup, hingga nama tenggelam, terbenam, dan terlupakan. Sedangkan penguasa memasang mesin-mesin pengisap penghasilan rakyat jelata dari sisi manapun, tanpa ampun.

Drama teatrikal itu disudahi dengan doa untuk kemaslahatan umat serta memohon curahan rahmat Tuhan semesta alam bagi kebebasan bangsa dari monster tirani. Bangsa ini tetap hidup memangku negara, menjaga, dan tetap menyusuinya kendati terus dimarjinalkan, didurhakai, dan tak henti dikhianati.

Dalam sunyi kurenungi, apa yang kulakukan bersama musafir berjubah merah selama ini? Bukankah aku sedang dalam perjalanan mencari kehendak Tuhan? Dengung tipis KaKa menggaung di benak; Duh Gusti, mugi paringa ing margi kaleresan, sanes margine manungsa kang Paduka laknati. Ya Tuhan, semoga berkenan membimbing di jalan kebenaran, bukan jalannya manusia yang Engkau laknati.

Kuputuskan meninggalkan musafir berjubah merah untuk meneruskan perjalanan mencari kehendak Tuhan.

“Kami juga sedang dalam perjalanan mencari kitab paling suci,” kata orang kurus itu ketika kupamiti.

“Adakah kitab paling suci? Kenapa tidak kitab suci saja?” tanyaku tak mengerti.

“Kami ke barat, kitab paling suci itu disimpan di sebuah peti bernama Nurani.”

“Semua kitab berasal dari Timur; kenapa kalian ke barat? Nurani tidak tersimpan dalam peti. Ia ada dalam setiap diri. Jika ia hidup, kau hidup, jika ia mati, sejatinya kau telah mati saat hidup,”

“Beraninya kau, orang sesat!” tudingnya murka.

Aku tertegun, sesat?

“Enyah kau! Kami akan tetap ke barat menemukan peti Nurani.”

Sumber: pexels-margerretta

Tangannya tangkas merampas jubah merahku, kemudian semua orang berkumpul, menatapku bagai tersangka korupsi dana haji di pengadilan.

Kini aku anomali. Hijabku selembar Bismillah, pakaianku Al-fatihah, bekalku sebuntal salawat Rasulillah, tongkatku nasihat Simbah.

Orang bilang, jangan bertahan di tempat yang tidak menginginkanmu. Aku menjura pada firasat yang dulu kuabaikan, ia menegakkan leher, tidak mau memandangku lagi.

Wahai diri, apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan siapa-siapa. Jalani.  Alami. Sebab tidak ada jalan untuk lari.

Syi’ir Wakafa billahi Ilaha bergema di udara.

Tongkatku mengetuk jalanan berdebu. Matahari telah condong, cahayanya meredup perlahan. Kulanjutkan misi utama, meniti jalanan panjang, menjadi yang dikehendaki Tuhan.


Sun Kwai Hing Gardens, 23 September 2025

Ayundha Lestari, satu dari milyaran debu dunia, penjelajah semesta imaginer paling absurd sekaligus penyuka penyet tempe.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Sumber gambar utama: pexels-Matheus Bertelli.

Artikel Perjalanan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/perjalanan/feed/ 0
Ketika Hati Menemukan Rumahnya https://bangbangwetan.org/ketika-hati-menemukan-rumahnya/ https://bangbangwetan.org/ketika-hati-menemukan-rumahnya/#respond Thu, 08 May 2025 07:50:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2133 Sudah cukup lama saya mengenal Jamaah Maiyah, meskipun hanya sebatas potongan-potongan video nasihat dari Mbah Nun atau Mas Sabrang yang berseliweran di TikTok. Tapi justru dari cuplikan pendek itu, saya […]

Artikel Ketika Hati Menemukan Rumahnya pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Sudah cukup lama saya mengenal Jamaah Maiyah, meskipun hanya sebatas potongan-potongan video nasihat dari Mbah Nun atau Mas Sabrang yang berseliweran di TikTok. Tapi justru dari cuplikan pendek itu, saya merasa ada sesuatu yang sangat relevan dengan hidup dan pikiran saya. Beberapa kali saya mendengar bahwa BBW (Bangbang Wetan) diadakan di Cak Durasim—tempat yang cukup dekat dari kos lama saya—tapi sayangnya waktunya selalu tidak selaras, seringkali bertepatan dengan agenda pulang kampung.

Baru seminggu lalu, saya benar-benar meniatkan diri untuk datang. Saya memilih untuk tidak pulang kampung dan tetap di Surabaya untuk datang ke BBW, meski tidak tahu topik apa yang akan dibahas malam itu. Kebetulan juga, sekarang saya sudah pindah kos ke daerah timur kota. Tanpa disengaja, ternyata lokasi acaranya sangat dekat dari tempat tinggal saya yang baru. Rasanya seperti semesta memberi tanda, dan saya pun memberanikan diri untuk datang sendirian—untuk pertama kalinya.

Ternyata malam itu penuh kejutan yang menyenangkan. Yang pertama, saya duduk di samping seorang perempuan cantik. Kami tidak saling kenal, tapi obrolan kami mengalir hangat dan alami. Rasa canggung karena datang sendiri langsung lenyap. Yang kedua, saya baru tahu kalau Mas Sabrang akan hadir malam itu. Sebuah kebetulan yang terasa seperti jackpot, apalagi saya memang sudah lama menjadi penggemar Letto.

Topik diskusi malam itu berkaitan dengan keresahan terhadap kondisi negara. Jujur saja, saya biasanya menghindari pembahasan seperti ini. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sering kali diskusi semacam ini berubah menjadi perdebatan yang melelahkan. Tapi di BBW, suasananya berbeda. Kami diajak berdiskusi dengan dewasa—tanpa saling menghakimi, tanpa merasa paling benar. Justru diajak untuk memahami dari berbagai sudut pandang, dan menyelami makna secara lebih utuh. Forum semacam ini, rupanya, adalah hal yang diam-diam saya rindukan.

Yang paling menyentuh, apa yang disampaikan para narasumber malam itu seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi yang selama ini menghantui saya. Saya sampai meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena merasa Tuhan sedang menyapa lewat kata-kata mereka. Ada satu kalimat dari Mas Sabrang yang benar-benar membekas dalam hati saya:

“Segala yang ada di dunia ini terdiri dari tiga hal: cinta, cahaya, dan intelek. Cinta (perasaan) cenderung menyatukan, sedangkan akal (pikiran) cenderung memisahkan. Perpaduan keduanya akan melahirkan wisdom.”

Kalimat itu seperti mengetuk ruang paling dalam dalam diri saya,jawaban atas dilema yang sedang saya alami. Tentang kebingungan memilih: mengikuti hati, atau mendengarkan akal. Tuhan benar-benar menjawab lewat cara yang tidak saya duga. Dan saya bersyukur, saya memutuskan untuk hadir malam itu.

Acara ditutup dengan Mas Sabrang menyanyikan “Ruang Rindu”. Lagu itu menjadi penutup yang sempurna. Hangat, menenangkan, dan membuka ruang untuk merenung. Dari sana, saya menulis jurnal pendek ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, dan mungkin juga kamu yang sedang membaca ini:

Terkadang, Tuhan tidak menjawab doa-doa kita dengan cara yang langsung menyelesaikan masalah.
Tapi lewat kejadian kecil di sekitar kita, atau melalui kehadiran seseorang. Bisa jadi mereka datang sebagai partner untuk bertumbuh, atau sebagai pelajaran yang harus kita pahami. Apa pun peran yang Tuhan titipkan padamu dalam hidup orang lain, berusahalah untuk menjadi berkah. Setidaknya, dengan kehadiranmu, seseorang bisa tersenyum lebih lepas dan merasa sedikit lebih Bahagia dalam bentuk yang paling sederhana.


Nadella Putri Shintani
Seorang perempuan desa yang sedang mencari jati diri
Instagram @nadellaps

Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Ketika Hati Menemukan Rumahnya pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ketika-hati-menemukan-rumahnya/feed/ 0
Yat Sang Yat Sei https://bangbangwetan.org/yat-sang-yat-sei/ https://bangbangwetan.org/yat-sang-yat-sei/#respond Thu, 24 Apr 2025 05:00:39 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2077 Sudahkah engkau temukan seseorang yang mejadi pusat tata surya hidupmu? Pernahkah hatimu merindukan seseorang yang tanpanya engkau hanya bilangan ganjil? Jika telah menemukannya, engkau adalah insanul mahdud, orang beruntung. Sebagaimana […]

Artikel Yat Sang Yat Sei pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Sudahkah engkau temukan seseorang yang mejadi pusat tata surya hidupmu? Pernahkah hatimu merindukan seseorang yang tanpanya engkau hanya bilangan ganjil?

Jika telah menemukannya, engkau adalah insanul mahdud, orang beruntung. Sebagaimana kau tahu, banyak pasangan hanyalah dua badan bersanding, tanpa saling melebur menjadi aku adalah engkau, engkau adalah aku. Konsep kelengkapan yang melahirkan nilai-nilai sakinah meski melalui perjuangan bersama untuk kontinyu menapaki kehidupan.

Baiklah, sebenarnya aku hanya ingin membagi satu cerita denganmu tentang cinta sejati. Kemarilah, kubukakan sedikit jendela ngoi zyeng gu xii, love story dari Negeri Beton, agar bisa kau intai apa yang kusaksikan.

Di negeri ini, sepasang lansia bergandeng tangan sembari menyeberang jalan, meski sang lelaki mengandalkan tongkat untuk menopang badan, sebelah tangannya erat menggenggam jemari wanitanya. Lelaki Negeri Beton tidak risih membawakan tas tangan istrinya, mendorong kereta bayi, membawakan tas belanjaan, demi sebelah tangannya tetap menggenggam tangan kekasih jiwanya. Bahkan mereka akan setia menunggui istrinya di ujung lorong toilet umum sebelum akhirnya pandangan mereka bertemu, dan kembali bergandengan tangan menyusuri jalanan. Romantisme yang tidak lazim kita temui di sekitar.

Kakek Wong telah 94 tahun saat aku didapuk sebagai daily care-nya, istrinya, 80 tahun, perempuan mungil berparas manis nan elegan. Harmonisme di rumah ini berbalut welas asih. Perhatian dan cinta sarat rasa kasih – mengasihi, sayang – menyayangi. Mungkin, cinta sejati memang exis. Orang sini bilangnya, yat sang yat sei, sehidup semati. Kakek Wong yang telah renta, dan tidak ingat apa-apa, bisa dengan jelas menuliskan nama istrinya, lengkap dengan marga, sedang ia lupa namanya sendiri.

Lansia 94 tahun itu selalu menggenggam jemari istrinya meski sedang aku suapi, sedang ada kunjungan perawat dari pemerintah, pokoknya nenek harus ada di sisinya dalam kondisi apapun. Jika ia mogok makan, tantrum dan kumat karena pengaruh dementia dan alzeimer yang dideritanya sejak dua setengah tahun lalu, nenek hadir sebagai dewi penyelamat. Pandangan Mbah Wong tidak pernah luput dari an apple of his eyes. Sebaliknya, nenek betah menatapi suaminya penuh kebanggaan seakan tengah melihat manusia ajaib yang tercipta hanya untuknya. Pasangan lansia ini mengalami vibes pengantin baru setiap hari, pepatah Jawa-nya, ora kenek kaling-kalingan godhong selembar.

Elder Care. Sumber: Pexel-olly.

Meski aku adalah robot bernyawa yang siap bekerja 24 jam, dan anak-anaknya bergantian datang menyumbang tenaga dan pikiran, si Nyai tidak pernah tega meninggalkan suaminya kecuali untuk urusan penting. Ketika Mbah Wong lelap terlena dalam tidur, Nyai Ming setia di sisi ranjang, memandangi wajah suaminya yang… ya mangap ya ngiler. Sering kudengar ia berbisik lirih.

“Papa, nanti kalau aku tiada, anak-anak akan menjagamu. Kamu harus berumur panjang sampai 120 tahun.”

Kalau anaknya alasan tidak bisa bermalam karena suatu urusan, Nyai pasti sewot.

“Satu, dua begitu semua, mereka mengabaikan perintah langit dan bumi untuk berbakti pada orang tua!”

Urusan birul walidain ternyata bukan hanya budaya sosial umat beragama, orang agnostik pun meyakini budi pekerti terhadap orang tua bukan soal balas budi, tetapi adab luhur sebagai manusia yang ditautkan benang takdir.

Aku pernah bertanya, apa kunci selalu rukun dengan pasangan?

Jawab Nyai Ming; Mana ada pasangan rukun seratus persen, setiap keluarga punya cerita. Pasti ada salah paham, pasti pernah bertengkar. Marah sebentar tidak masalah, setelah itu harus saling memaafkan. Jangan ada rasa saling mengungguli, semua punya peran penting menyangga pilar rumah tangga.

Menurut dawuh Mbah Nun; Salah satu unsur cinta dewasa adalah empati. Kalau kekasih kita haus, kita yang gugup mencarikannya air minum, kalau kekasih kita yang terluka, perasaan kita yang mengucurkan darah.

Whatever, yang tengah kau alami saat ini cinta monyet atau cinta kuda, tetaplah setulus hati menjaga amanah.

Sun Kwai Hing Gardens, 19 April 2025

Sumber: Pexel-tiagotins.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ayundha Lestari, satu dari milyaran debu dunia, penjelajah semesta imaginer paling absurd sekaligus penyuka penyet tempe ini bisa disapa di sosial media intagram @ayundha.lestari55. Fb: Ayundha Lestari. Sumber gambar utama: Pexel-alina kurson.

Artikel Yat Sang Yat Sei pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/yat-sang-yat-sei/feed/ 0
Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/ https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/#respond Tue, 15 Apr 2025 09:35:54 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1974 Tanpa terasa, Syawal sudah berjalan setengahnya. Undangan pernikahan berdatangan nyaris tanpa jeda. Bahkan, salah satu teman fotograferku sudah sibuk sejak dua hari setelah Lebaran. Entah ini disebut ironi atau tidak, […]

Artikel Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Tanpa terasa, Syawal sudah berjalan setengahnya. Undangan pernikahan berdatangan nyaris tanpa jeda. Bahkan, salah satu teman fotograferku sudah sibuk sejak dua hari setelah Lebaran. Entah ini disebut ironi atau tidak, tapi ada campur aduk antara rasa bahagia dan sedikit nestapa saat satu per satu teman mulai meninggalkan masa lajang. Beberapa baru saja bertunangan, seolah-olah semua mulai bergerak ke arah yang sama. Ada yang mengalami hal serupa? Atau justru seperti aku? Hahaha.

Sumber: Pexel-The glorious studio.

Jodoh memang bagian dari takdir Allah yang sering kali butuh usaha dan kesabaran ekstra untuk memahaminya. Tak sedikit teman merasa sudah berjuang sekuat tenaga demi menjadi sosok pasangan yang ideal, namun sang jodoh tak juga datang. Sementara yang terlihat santai malah lebih dulu menikah. Ketika kita merasa sudah siap dengan siapa pun yang hadir, asal memenuhi kriteria dasar, justru yang datang di luar bayangan dan ini sering menimbulkan dilema. Apalagi di zaman sekarang, di mana pilihan berlimpah namun banyak yang palsu—fenomena yang dikenal sebagai overchoice.

Fenomena Over Choice. Sumber: Pexel-googledeepmind.

Kita tentu percaya pada firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” Ini menandakan bahwa jodoh bukan hanya hasil pencarian, tapi juga bagian dari ketetapan-Nya.

Namun, jika memang sudah ditentukan, mengapa proses menemukan jodoh sering begitu rumit dan melelahkan? Dalam psikologi, ada istilah illusory correlation, yaitu kecenderungan kita mengaitkan dua hal yang tampak berkaitan padahal sebenarnya tidak. Contohnya, karena sering bertemu atau punya banyak kesamaan, kita merasa seseorang itu adalah jodoh. Padahal, kecocokan sejati jauh lebih dalam—terkait nilai hidup, visi masa depan, dan komitmen.

Illusory correlation. Sumber: Pexel-vladimir konoplev.

Nabi Muhammad SAW pun pernah bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berkelompok. Apabila mereka saling mengenal maka akan bersatu, dan apabila mereka tidak saling mengenal maka akan berpisah.” Artinya, ada aspek yang tak kasat mata dalam hubungan antarindividu, yang terkadang tak bisa dijelaskan secara logis.

Lantas, bagaimana jika yang hadir bukan sosok yang kita harapkan?

Mungkin inilah saatnya kita menyadari bahwa ekspektasi kadang terlalu tinggi dan tak realistis. Kebahagiaan dalam pernikahan bukan hanya tentang fisik atau intelektual, tapi juga keberkahan dan ketenangan hati. Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan, dan yang terbaik belum tentu sesuai dengan keinginan kita sekarang.

Pada akhirnya, perjalanan mencari jodoh adalah proses panjang yang penuh hikmah. Ini bukan hanya tentang siapa yang datang, tapi juga tentang sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang layak membangun hubungan yang diridhai. Jika yang hadir terasa jauh dari ekspektasi, mungkin itu adalah jalan Allah mengajarkan arti keikhlasan dan penerimaan.

Sumber: Pexel-padrinan.

Seperti yang sering diingatkan Mas Sabrang, membangun kebahagiaan dari dalam diri adalah hal utama. Karena saat sudah menikah, tujuan kita bukan lagi menuntut kebahagiaan, tapi membaginya. Maka, mengenal diri sendiri—memahami batas antara kebutuhan, keinginan, dan harapan—adalah langkah awal agar kita lebih terarah dalam menjemput takdir, tanpa terjebak pada ilusi pilihan-pilihan yang semu.

 

Saufa Rohmatun Nazila, yang lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa, lahir di Riau, 27 Mei 2000. Sejak masa remaja, ia telah menempuh pendidikan di berbagai pesantren, sebelum melanjutkan studi di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, dan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, untuk memperluas pengetahuannya dalam bidang yang lebih luas.

Dengan latar belakang sebagai santri dan akademisi, Nazila memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam. Anda dapat menghubungi Nazila melalui email di saufarohmatunnazila@gmail.com, serta mengikuti aktivitasnya di media sosial X @PuanAksa dan Instagram @_rahmanazilaa. –Sumber Foto Utama: Pexel-blitzboy.


Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Bulan Syawal sudah separuh jalan, tapi jodohku dimana? pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/bulan-syawal-sudah-separuh-jalan-tapi-jodohku-dimana/feed/ 0
Spiritualitas vs Dogma: Menemukan Esensi Iman di Era Informasi https://bangbangwetan.org/spiritualitas-vs-dogma-menemukan-esensi-iman-di-era-informasi/ https://bangbangwetan.org/spiritualitas-vs-dogma-menemukan-esensi-iman-di-era-informasi/#respond Tue, 25 Feb 2025 08:28:33 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1805 Di era informasi yang berkembang pesat, manusia semakin mudah mengakses berbagai sumber pengetahuan, termasuk dalam memahami agama dan keyakinan. Keberagaman informasi ini membuka peluang bagi individu untuk mendalami iman mereka, […]

Artikel Spiritualitas vs Dogma: Menemukan Esensi Iman di Era Informasi pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Di era informasi yang berkembang pesat, manusia semakin mudah mengakses berbagai sumber pengetahuan, termasuk dalam memahami agama dan keyakinan. Keberagaman informasi ini membuka peluang bagi individu untuk mendalami iman mereka, tetapi di sisi lain juga menimbulkan kebingungan. Salah satu perdebatan yang muncul adalah tentang hubungan antara spiritualitas dan dogma. Spiritualitas sering dianggap sebagai pengalaman personal yang mendalam dalam mencari hubungan dengan Tuhan, sementara dogma merupakan seperangkat ajaran dan aturan resmi yang menjadi dasar keimanan dalam suatu agama. Memahami agama di era modern memang menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika banyak orang mulai mempertanyakan ajaran-ajaran yang bersifat dogmatis. Di satu sisi, agama memberikan nilai-nilai moral dan spiritual yang penting. Namun, di sisi lain, jika dipahami secara kaku, agama bisa terasa membatasi kebebasan berpikir.

Perdebatan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana menemukan esensi iman yang sejati di tengah benturan antara spiritualitas dan dogma? Lalu, bagaimana membangun pemahaman agama yang lebih rasional tanpa kehilangan esensi spiritualnya?

Memahami Spiritualitas dan Dogma

Spiritualitas adalah pengalaman batin yang menghubungkan individu dengan sesuatu yang lebih tinggi, seperti Tuhan atau realitas transenden. Ia lebih bersifat personal, intuitif, dan sering kali melampaui batasan-batasan formal dalam agama. Dalam Islam, konsep ihsan mencerminkan spiritualitas ini, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim:

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim No. 8)

Cadar, Iman, dan Identitas Muslimah .Sumber: Pexel-hamed farahpour

Sebaliknya, dogma adalah ajaran resmi yang ditetapkan oleh suatu agama dan menjadi dasar keyakinan serta praktik keagamaan. Dogma berfungsi sebagai pedoman yang menjaga kesinambungan dan kemurnian ajaran agama. Dalam Islam, pentingnya mengikuti syariat ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Jatsiyah:

“Kemudian Kami jadikan kamu (umat Islam) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Ketegangan antara Spiritualitas dan Dogma

Dalam sejarah perkembangan agama, sering terjadi ketegangan antara mereka yang menekankan dogma dan mereka yang lebih mengutamakan spiritualitas. Perbedaan ini melahirkan dua cara pandang dalam beragama. Ada kelompok yang melihat agama sebagai kumpulan aturan dan hukum yang harus ditaati secara ketat. Mereka berpegang teguh pada ajaran yang telah ditetapkan tanpa banyak mempertanyakan makna di baliknya. Pendekatan ini memastikan ajaran agama tetap murni dan tidak menyimpang, tetapi jika diterapkan secara kaku tanpa pemahaman lebih dalam, agama bisa berubah menjadi sekadar formalitas yang kehilangan makna. Agama hanya dijalankan sebagai serangkaian aturan tanpa pemahaman batin. Selain itu, sikap yang terlalu dogmatis bisa menimbulkan fanatisme dan eksklusivitas, di mana seseorang merasa hanya pemahamannya yang benar, sehingga membuka peluang munculnya konflik antarumat beragama.

Di sisi lain, ada kelompok yang lebih menekankan pengalaman langsung dengan Tuhan tanpa terikat aturan yang ketat. Mereka mencari makna batiniah dalam agama dan lebih fokus pada hubungan pribadi dengan Tuhan. Pendekatan ini memungkinkan seseorang merasakan kehadiran Tuhan secara lebih mendalam dan bebas dari formalitas yang dianggap membatasi. Namun, jika tidak diimbangi dengan dasar ajaran yang kuat, spiritualitas semacam ini bisa menjadi terlalu subjektif dan rentan terhadap penyimpangan. Tanpa bimbingan aturan yang jelas, seseorang bisa tersesat dalam pemahamannya sendiri yang belum tentu sesuai dengan ajaran agama yang benar.

Memohon Petunjuk Allah sebagai jalan permenungan. Sumber: Pexel-Thirdman.

Dalam Islam, keseimbangan antara syariat dan hakikat sangat penting. Ajaran tasawuf menawarkan jalan tengah dengan mengajarkan bahwa hukum agama harus dijalankan dengan pemahaman mendalam tentang hakikat ketuhanan. Syariat berfungsi sebagai kerangka hukum yang mengarahkan kehidupan beragama agar tetap sesuai dengan ajaran Islam, sementara hakikat membantu seseorang memahami makna spiritual di balik aturan tersebut.

Misalnya, dalam sholat, syariat mengajarkan tata cara ibadah yang harus dilakukan, tetapi hakikatnya adalah membangun kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Jika seseorang hanya menjalankan sholat secara fisik tanpa memahami maknanya, ibadah bisa menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, jika seseorang hanya mengejar pengalaman spiritual tanpa mengikuti syariat, ia bisa kehilangan pegangan dalam menjalankan agamanya. Oleh karena itu, keseimbangan antara dogma dan spiritualitas, atau dalam Islam antara syariat dan hakikat, sangat penting agar agama tidak hanya menjadi aturan kosong, tetapi juga memberikan kedalaman makna dalam kehidupan manusia.

Selain itu, pemahaman agama yang rasional seharusnya bisa menjembatani wahyu dan akal. Dalam sejarah pemikiran Islam, banyak ulama dan filsuf seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd yang mencoba menyeimbangkan antara ajaran agama dan pemikiran logis. Mereka memahami bahwa agama tidak boleh bertentangan dengan akal sehat, karena jika Tuhan menciptakan manusia dengan akal, tentu akal itu harus digunakan untuk memahami kehendak-Nya. Oleh karena itu, dogma yang ada dalam agama perlu dikaji kembali dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga realitas sosial yang terus berkembang.

Era Informasi dan Tantangan Keimanan

Di era digital, akses terhadap berbagai ajaran spiritual maupun dogmatis semakin luas. Orang bisa dengan mudah mencari informasi tentang berbagai agama dan kepercayaan dari seluruh dunia. Hal ini membuka peluang bagi banyak individu untuk mencari makna iman yang lebih dalam, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa banjir informasi yang bisa membingungkan.

Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan tentang kebingungan dalam mencari kebenaran di akhir zaman:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh dengan tipu daya. Saat itu, pendusta dipercaya dan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah dan orang yang amanah justru dianggap pengkhianat, dan Ruwaibidhah akan berbicara.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara dalam urusan publik.” (HR. Ibnu Majah No. 4036)

Teknologi & Kemajuan Muslimah. Sumber: Pexel-Monstera Production.

Kondisi ini mirip dengan era digital saat ini, di mana banyak informasi yang beredar tanpa filter yang jelas, sehingga penting untuk memilah mana yang benar-benar membawa kebaikan bagi keimanan. Di era informasi ini, ilmu pengetahuan membantu memahami agama dengan lebih baik. Sejarah, linguistik, hingga psikologi bisa memberikan wawasan baru tentang bagaimana ajaran agama berkembang dan apa manfaatnya bagi kehidupan manusia. Dengan memadukan ilmu dan iman, seseorang bisa memiliki pemahaman yang lebih utuh, tidak hanya sekadar menjalankan agama karena tradisi atau warisan keluarga, tetapi benar-benar karena kesadaran dan keyakinan yang mendalam.

Menemukan Esensi Iman

Salah satu cara untuk mendekati agama dengan lebih rasional adalah dengan menggunakan pendekatan kritis tanpa harus menjadi skeptis. Mempertanyakan dogma bukan berarti menolak agama, tetapi justru bisa menjadi langkah untuk memahami lebih dalam. Banyak ajaran dalam kitab suci yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung. Dalam Islam misalnya, Al-Qur’an berkali-kali menyebutkan pentingnya tafakur dan tadabur, yang menunjukkan bahwa iman tidak hanya sekadar menerima begitu saja, tetapi juga perlu dipahami dengan akal dan hati.

Agama seharusnya tidak hanya menjadi kumpulan aturan dan larangan, tetapi juga harus membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Jika agama hanya dijalani sebagai serangkaian kewajiban tanpa adanya kesadaran batin, maka keimanan bisa terasa hampa. Oleh sebab itu, pemahaman agama yang lebih rasional seharusnya juga memberi ruang bagi pencarian spiritual yang lebih dalam. Bukan sekadar mengikuti aturan karena takut hukuman, tetapi karena ada kesadaran bahwa ibadah dan ajaran agama memiliki makna yang lebih besar bagi kehidupan manusia.

Untuk menemukan esensi iman di era informasi, beberapa hal dapat menjadi renungan. Pertama, dogma harus dijadikan sebagai panduan, bukan sebagai penjara yang membatasi pertumbuhan spiritual. Ajaran agama yang diwariskan oleh para leluhur dan ulama memiliki kebijaksanaan yang bisa dijadikan pedoman, tetapi harus dipahami dengan kesadaran yang mendalam, bukan sekadar kepatuhan buta.

Kedua, keimanan yang sejati bukan hanya tentang hafalan doktrin, tetapi juga pemahaman yang mendalam dan pengalaman spiritual yang otentik. Dalam Islam, pentingnya berpikir kritis ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ketiga, keimanan harus diintegrasikan dalam kehidupan nyata. Jika suatu keyakinan tidak membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam kehidupan, maka perlu ada refleksi lebih lanjut mengenai pemahaman tersebut. Agama seharusnya membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, bukan menjadi alat untuk membenarkan permusuhan atau perpecahan.

Keempat, membuka diri terhadap kearifan lokal dan tradisi spiritual yang selaras dengan nilai-nilai agama dapat membantu memperkaya pemahaman iman. Dalam budaya seperti Kejawen, konsep Manunggaling Kawula Gusti yang mengajarkan hubungan erat antara manusia dan Tuhan, yang memiliki kemiripan dengan konsep tauhid dalam Islam. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan dogma bisa berjalan berdampingan jika dipahami dengan baik.

Spiritualitas dan dogma bukanlah dua hal yang harus selalu bertentangan. Keseimbangan antara keduanya dapat membantu seseorang menemukan makna iman yang lebih dalam dan autentik. Di era informasi ini, di mana begitu banyak perspektif tersedia, penting untuk tetap berpijak pada kebijaksanaan serta tetap terbuka terhadap pengalaman spiritual yang lebih luas.

Pada akhirnya, iman bukanlah sekadar kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga perjalanan batin menuju pemahaman yang lebih tinggi tentang diri sendiri, Tuhan, dan alam semesta. Dengan menyeimbangkan spiritualitas dan dogma, seseorang dapat mencapai pemahaman iman yang lebih mendalam dan bermakna. Agama yang sehat adalah agama yang memberikan ruang bagi pemikiran kritis, tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Dalam perjalanan ini, keseimbangan antara akal dan hati menjadi kunci agar agama tetap relevan dan bermakna dalam kehidupan modern.

Saufa Rohmatun Nazila, yang lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa, lahir di Riau, 27 Mei 2000. Sejak masa remaja, ia telah menempuh pendidikan di berbagai pesantren, sebelum melanjutkan studi di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, dan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, untuk memperluas pengetahuannya dalam bidang yang lebih luas.

Dengan latar belakang sebagai santri dan akademisi, Nazila memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam. Anda dapat menghubungi Nazila melalui email di saufarohmatunnazila@gmail.com, serta mengikuti aktivitasnya di media sosial X @PuanAksa dan Instagram @_rahmanazilaa. Sumber Foto: Pexel-Simon Lovi.

Artikel Spiritualitas vs Dogma: Menemukan Esensi Iman di Era Informasi pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/spiritualitas-vs-dogma-menemukan-esensi-iman-di-era-informasi/feed/ 0