Sudahkah engkau temukan seseorang yang mejadi pusat tata surya hidupmu? Pernahkah hatimu merindukan seseorang yang tanpanya engkau hanya bilangan ganjil?
Jika telah menemukannya, engkau adalah insanul mahdud, orang beruntung. Sebagaimana kau tahu, banyak pasangan hanyalah dua badan bersanding, tanpa saling melebur menjadi aku adalah engkau, engkau adalah aku. Konsep kelengkapan yang melahirkan nilai-nilai sakinah meski melalui perjuangan bersama untuk kontinyu menapaki kehidupan.
Baiklah, sebenarnya aku hanya ingin membagi satu cerita denganmu tentang cinta sejati. Kemarilah, kubukakan sedikit jendela ngoi zyeng gu xii, love story dari Negeri Beton, agar bisa kau intai apa yang kusaksikan.

Di negeri ini, sepasang lansia bergandeng tangan sembari menyeberang jalan, meski sang lelaki mengandalkan tongkat untuk menopang badan, sebelah tangannya erat menggenggam jemari wanitanya. Lelaki Negeri Beton tidak risih membawakan tas tangan istrinya, mendorong kereta bayi, membawakan tas belanjaan, demi sebelah tangannya tetap menggenggam tangan kekasih jiwanya. Bahkan mereka akan setia menunggui istrinya di ujung lorong toilet umum sebelum akhirnya pandangan mereka bertemu, dan kembali bergandengan tangan menyusuri jalanan. Romantisme yang tidak lazim kita temui di sekitar.
Kakek Wong telah 94 tahun saat aku didapuk sebagai daily care-nya, istrinya, 80 tahun, perempuan mungil berparas manis nan elegan. Harmonisme di rumah ini berbalut welas asih. Perhatian dan cinta sarat rasa kasih – mengasihi, sayang – menyayangi. Mungkin, cinta sejati memang exis. Orang sini bilangnya, yat sang yat sei, sehidup semati. Kakek Wong yang telah renta, dan tidak ingat apa-apa, bisa dengan jelas menuliskan nama istrinya, lengkap dengan marga, sedang ia lupa namanya sendiri.
Lansia 94 tahun itu selalu menggenggam jemari istrinya meski sedang aku suapi, sedang ada kunjungan perawat dari pemerintah, pokoknya nenek harus ada di sisinya dalam kondisi apapun. Jika ia mogok makan, tantrum dan kumat karena pengaruh dementia dan alzeimer yang dideritanya sejak dua setengah tahun lalu, nenek hadir sebagai dewi penyelamat. Pandangan Mbah Wong tidak pernah luput dari an apple of his eyes. Sebaliknya, nenek betah menatapi suaminya penuh kebanggaan seakan tengah melihat manusia ajaib yang tercipta hanya untuknya. Pasangan lansia ini mengalami vibes pengantin baru setiap hari, pepatah Jawa-nya, ora kenek kaling-kalingan godhong selembar.

Meski aku adalah robot bernyawa yang siap bekerja 24 jam, dan anak-anaknya bergantian datang menyumbang tenaga dan pikiran, si Nyai tidak pernah tega meninggalkan suaminya kecuali untuk urusan penting. Ketika Mbah Wong lelap terlena dalam tidur, Nyai Ming setia di sisi ranjang, memandangi wajah suaminya yang… ya mangap ya ngiler. Sering kudengar ia berbisik lirih.
“Papa, nanti kalau aku tiada, anak-anak akan menjagamu. Kamu harus berumur panjang sampai 120 tahun.”
Kalau anaknya alasan tidak bisa bermalam karena suatu urusan, Nyai pasti sewot.
“Satu, dua begitu semua, mereka mengabaikan perintah langit dan bumi untuk berbakti pada orang tua!”
Urusan birul walidain ternyata bukan hanya budaya sosial umat beragama, orang agnostik pun meyakini budi pekerti terhadap orang tua bukan soal balas budi, tetapi adab luhur sebagai manusia yang ditautkan benang takdir.
Aku pernah bertanya, apa kunci selalu rukun dengan pasangan?
Jawab Nyai Ming; Mana ada pasangan rukun seratus persen, setiap keluarga punya cerita. Pasti ada salah paham, pasti pernah bertengkar. Marah sebentar tidak masalah, setelah itu harus saling memaafkan. Jangan ada rasa saling mengungguli, semua punya peran penting menyangga pilar rumah tangga.

Menurut dawuh Mbah Nun; Salah satu unsur cinta dewasa adalah empati. Kalau kekasih kita haus, kita yang gugup mencarikannya air minum, kalau kekasih kita yang terluka, perasaan kita yang mengucurkan darah.
Whatever, yang tengah kau alami saat ini cinta monyet atau cinta kuda, tetaplah setulus hati menjaga amanah.
Sun Kwai Hing Gardens, 19 April 2025

Ayundha Lestari, satu dari milyaran debu dunia, penjelajah semesta imaginer paling absurd sekaligus penyuka penyet tempe ini bisa disapa di sosial media intagram @ayundha.lestari55. Fb: Ayundha Lestari. Sumber gambar utama: Pexel-alina kurson.



