Sudah cukup lama saya mengenal Jamaah Maiyah, meskipun hanya sebatas potongan-potongan video nasihat dari Mbah Nun atau Mas Sabrang yang berseliweran di TikTok. Tapi justru dari cuplikan pendek itu, saya merasa ada sesuatu yang sangat relevan dengan hidup dan pikiran saya. Beberapa kali saya mendengar bahwa BBW (Bangbang Wetan) diadakan di Cak Durasim—tempat yang cukup dekat dari kos lama saya—tapi sayangnya waktunya selalu tidak selaras, seringkali bertepatan dengan agenda pulang kampung.
Baru seminggu lalu, saya benar-benar meniatkan diri untuk datang. Saya memilih untuk tidak pulang kampung dan tetap di Surabaya untuk datang ke BBW, meski tidak tahu topik apa yang akan dibahas malam itu. Kebetulan juga, sekarang saya sudah pindah kos ke daerah timur kota. Tanpa disengaja, ternyata lokasi acaranya sangat dekat dari tempat tinggal saya yang baru. Rasanya seperti semesta memberi tanda, dan saya pun memberanikan diri untuk datang sendirian—untuk pertama kalinya.

Ternyata malam itu penuh kejutan yang menyenangkan. Yang pertama, saya duduk di samping seorang perempuan cantik. Kami tidak saling kenal, tapi obrolan kami mengalir hangat dan alami. Rasa canggung karena datang sendiri langsung lenyap. Yang kedua, saya baru tahu kalau Mas Sabrang akan hadir malam itu. Sebuah kebetulan yang terasa seperti jackpot, apalagi saya memang sudah lama menjadi penggemar Letto.
Topik diskusi malam itu berkaitan dengan keresahan terhadap kondisi negara. Jujur saja, saya biasanya menghindari pembahasan seperti ini. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sering kali diskusi semacam ini berubah menjadi perdebatan yang melelahkan. Tapi di BBW, suasananya berbeda. Kami diajak berdiskusi dengan dewasa—tanpa saling menghakimi, tanpa merasa paling benar. Justru diajak untuk memahami dari berbagai sudut pandang, dan menyelami makna secara lebih utuh. Forum semacam ini, rupanya, adalah hal yang diam-diam saya rindukan.
Yang paling menyentuh, apa yang disampaikan para narasumber malam itu seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi yang selama ini menghantui saya. Saya sampai meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena merasa Tuhan sedang menyapa lewat kata-kata mereka. Ada satu kalimat dari Mas Sabrang yang benar-benar membekas dalam hati saya:

“Segala yang ada di dunia ini terdiri dari tiga hal: cinta, cahaya, dan intelek. Cinta (perasaan) cenderung menyatukan, sedangkan akal (pikiran) cenderung memisahkan. Perpaduan keduanya akan melahirkan wisdom.”
Kalimat itu seperti mengetuk ruang paling dalam dalam diri saya,jawaban atas dilema yang sedang saya alami. Tentang kebingungan memilih: mengikuti hati, atau mendengarkan akal. Tuhan benar-benar menjawab lewat cara yang tidak saya duga. Dan saya bersyukur, saya memutuskan untuk hadir malam itu.
Acara ditutup dengan Mas Sabrang menyanyikan “Ruang Rindu”. Lagu itu menjadi penutup yang sempurna. Hangat, menenangkan, dan membuka ruang untuk merenung. Dari sana, saya menulis jurnal pendek ini untuk mengingatkan diri saya sendiri, dan mungkin juga kamu yang sedang membaca ini:

Terkadang, Tuhan tidak menjawab doa-doa kita dengan cara yang langsung menyelesaikan masalah.
Tapi lewat kejadian kecil di sekitar kita, atau melalui kehadiran seseorang. Bisa jadi mereka datang sebagai partner untuk bertumbuh, atau sebagai pelajaran yang harus kita pahami. Apa pun peran yang Tuhan titipkan padamu dalam hidup orang lain, berusahalah untuk menjadi berkah. Setidaknya, dengan kehadiranmu, seseorang bisa tersenyum lebih lepas dan merasa sedikit lebih Bahagia dalam bentuk yang paling sederhana.
Nadella Putri Shintani
Seorang perempuan desa yang sedang mencari jati diri
Instagram @nadellaps
Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



