Aku sedang mencari kehendak Tuhan atas hadirku di sini, menyusuri jalanan panjang berlimpah cahaya, melintasi rimba raya, menyibak belukar gulma. Di tengah jalan, sekelompok musafir berjubah merah hitam menyanyikan lagu kesaksian atas nestapa, prahara, ketidakadilan, ketimpangan sosial, kezaliman penguasa, dan makin terpinggirnya rakyat jelata.
Sayup kudengar suara Mbah Kiai dari Rembang; ternyata angkara masih saja ikut bicara…
Jubah merah hitam berkibar tertiup angin. Pernah kudengar, setiap warna adalah simbol. Merah, lambang keberanian, fajar, semangat kebaruan, perlawanan, kemarahan dan kekuatan frontal. Sedangkan hitam mewakili simbol bumi wesi, kekuatan tersembunyi, kerendahan hati, keteguhan, ketabahan dan kematangan inteligensi.
Kupercepat langkah, mungkin Tuhan sedang menungguku, karena sifat Rahman dan Rahim-Nya tak terkira-kira, tak terwakili apa saja, tak terjemahkan bahasa manusia, laisa kamistlihi syai’un1.

Simbah pernah dawuh, mengutip hadis qudsi tentang seorang hamba yang mendekati-Nya sejengkal, maka Tuhan akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia mendekati-Nya satu hasta, maka Tuhan akan mendekat padanya satu depa. Jika ia mendekati-Nya satu depa, maka Tuhan akan mendekat padanya dengan berlari. Betapa Agung sifat Tuhan yang menurunkan kitab suci. Atas alasan itulah, perjalanan panjang ini kutempuh.
“Berhenti, Kisanak!”
Satu dari mereka mengadang langkah, terpaksa aku berhenti.
“Kau bisa nyanyi?” tanya orang paling kurus di antara yang lain.
“Tidak, aku hanya bersalawat Nabi,” jawabku.
Sedetik kemudian kusesali, kenapa terlalu polos di hadapan orang asing? Harusnya tidak pamer apapun. Karena barangkali, aku hanya bisa membaca salawat Nabi, sedangkan ilmu orang lain telah mencapai lazuardi, mumpuni, hafal ratusan kitab wasiat orang-orang suci. Tapi sudah terlanjur, kata-kata yang terucap tak mungkin kembali.
Orang itu menyungging. Entah tersenyum, entah menyeringai—firasatku memberi kode kaucha2-silang.

“Kami butuh orang sepertimu, bersediakah Kisanak bergabung?”
Ajakan itu mengunciku di tempat. Sejenak aku terbuai. Menjadi orang yang mereka butuhkan? Sepenting itukah? Atas dasar apa mereka membutuhkanku?
“Kami bernyanyi siang malam, membaca puisi gelap, meluahkan kemarahan tak terlampiaskan. Kami butuh dengung penenang, berkenankah bergabung?”
Ujung kalimat itu kembali menodong. Jawaban apa yang harus kuberi? Bukankah aku sedang dalam perjalanan mencari kehendak Tuhan? Bagaimana jika kelompok ini ilusi setan untuk menyesatkan niat awalku?
Setelah mempertimbangkan cukup lama, aku menerima ajakan itu. Barangkali akan jadi pengalaman berharga. Mereka memberiku jubah merah hitam. Kini, aku dan mereka sama. Dari purnama ke purnama, kami menyanyikan lagu-lagu hayat, kadang mendengar hikayat, kadang merangsek jalanan kota untuk membangkitkan keadilan dari liang kubur. Kadang saling bertengkar, kadang saling mencakar, saling pithing saling banting. Kadang membisu, diam, lalu padam.
Ada satu waktu, musafir berjubah merah menggelar drama teatrikal. Kisah yang kami bawa tidak lepas dari misi progresif untuk menyebarkan fakta-fakta, melawan propaganda. Seorang di antara kami duduk bersimpuh di tengah lingkaran manusia; ia diharuskan menjiwai peran meratapi nasib, mengekspos ekspresi kesengsaraan, jika perlu bersimbah air mata darah. Kami mengitarinya, mengenakan topeng wajah bengis, menudingnya sebagai pelaku kejahatan moral, dan meneriakinya.
“Kerja!”
“Kerja!”
“Kerja!”
Suara kami bergaung menembus gendang telinga.

Orang di tengah lingkaran meratap, ia mengadu, merintih, dan mengiba, tapi suaranya lesap digempur suara lantang kami bertubi-tubi.
“Kerja!”
“Kerja!”
“Kerja!”
Orang di tengah lingkaran meraung-raung, gidro-gidro3, lalu terbahak-bahak. Tawanya satire, sarat amuk dalam sekam, penuh luka, namun memilih terus tertawa sampai bibirnya kaku, menjadi kayu.
Kemudian semua orang menjelma kayu di atas rel nasib, diperkuda etos kerja, bergerak cepat mengejar garis edar. Tidak ada yang peduli seberapa lelah usaha mencapai ambang aman dalam hidup, hingga nama tenggelam, terbenam, dan terlupakan. Sedangkan penguasa memasang mesin-mesin pengisap penghasilan rakyat jelata dari sisi manapun, tanpa ampun.
Drama teatrikal itu disudahi dengan doa untuk kemaslahatan umat serta memohon curahan rahmat Tuhan semesta alam bagi kebebasan bangsa dari monster tirani. Bangsa ini tetap hidup memangku negara, menjaga, dan tetap menyusuinya kendati terus dimarjinalkan, didurhakai, dan tak henti dikhianati.
Dalam sunyi kurenungi, apa yang kulakukan bersama musafir berjubah merah selama ini? Bukankah aku sedang dalam perjalanan mencari kehendak Tuhan? Dengung tipis KaKa menggaung di benak; Duh Gusti, mugi paringa ing margi kaleresan, sanes margine manungsa kang Paduka laknati. Ya Tuhan, semoga berkenan membimbing di jalan kebenaran, bukan jalannya manusia yang Engkau laknati.
Kuputuskan meninggalkan musafir berjubah merah untuk meneruskan perjalanan mencari kehendak Tuhan.
“Kami juga sedang dalam perjalanan mencari kitab paling suci,” kata orang kurus itu ketika kupamiti.
“Adakah kitab paling suci? Kenapa tidak kitab suci saja?” tanyaku tak mengerti.
“Kami ke barat, kitab paling suci itu disimpan di sebuah peti bernama Nurani.”
“Semua kitab berasal dari Timur; kenapa kalian ke barat? Nurani tidak tersimpan dalam peti. Ia ada dalam setiap diri. Jika ia hidup, kau hidup, jika ia mati, sejatinya kau telah mati saat hidup,”
“Beraninya kau, orang sesat!” tudingnya murka.
Aku tertegun, sesat?
“Enyah kau! Kami akan tetap ke barat menemukan peti Nurani.”

Tangannya tangkas merampas jubah merahku, kemudian semua orang berkumpul, menatapku bagai tersangka korupsi dana haji di pengadilan.
Kini aku anomali. Hijabku selembar Bismillah, pakaianku Al-fatihah, bekalku sebuntal salawat Rasulillah, tongkatku nasihat Simbah.
Orang bilang, jangan bertahan di tempat yang tidak menginginkanmu. Aku menjura pada firasat yang dulu kuabaikan, ia menegakkan leher, tidak mau memandangku lagi.
Wahai diri, apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan siapa-siapa. Jalani. Alami. Sebab tidak ada jalan untuk lari.
Syi’ir Wakafa billahi Ilaha bergema di udara.
Tongkatku mengetuk jalanan berdebu. Matahari telah condong, cahayanya meredup perlahan. Kulanjutkan misi utama, meniti jalanan panjang, menjadi yang dikehendaki Tuhan.
Sun Kwai Hing Gardens, 23 September 2025

Ayundha Lestari, satu dari milyaran debu dunia, penjelajah semesta imaginer paling absurd sekaligus penyuka penyet tempe.
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)
Sumber gambar utama: pexels-Matheus Bertelli.



