#KeadilanSosial Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/keadilansosial/ Tue, 20 Jan 2026 01:51:18 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #KeadilanSosial Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/keadilansosial/ 32 32 Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Indonesia Harus Tetap Layak Royok, Tapi Jangan Salah Paham https://bangbangwetan.org/indonesia-harus-tetap-layak-royok-tapi-jangan-salah-paham/ https://bangbangwetan.org/indonesia-harus-tetap-layak-royok-tapi-jangan-salah-paham/#respond Wed, 24 Dec 2025 02:17:17 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2572 Negara kita ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan memiliki kekayaan yang luar biasa. Luasnya kekayaan alam, beragam kekayaan budaya, dan dalam sekali kekayaan moralnya. Kekayaan yang sifatnya murni dari Tuhan ini […]

Artikel Indonesia Harus Tetap Layak Royok, Tapi Jangan Salah Paham pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Negara kita ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan memiliki kekayaan yang luar biasa. Luasnya kekayaan alam, beragam kekayaan budaya, dan dalam sekali kekayaan moralnya. Kekayaan yang sifatnya murni dari Tuhan ini sudah hadir sebelum ada idiom negara. Kekayaan-kekayaan yang kita bangga-banggakan sekarang itu sudah ada sebelum Indonesia sah dikatakan sebagai negara.

Hal itulah yang membuat para penjajah datang ke Nusantara dengan ambisi gold, glory, dan gospel. Dan sasaran empuk ambisi tersebut salah satunya Indonesia. Niat awal ingin berdagang, namun lama-kelamaan kolonialisme pun terjadi. Hal ini bermuara pada motivasi yang sama, yaitu soal kekayaan Nusantara.

Tidak salah orang menyebut tanah kita tanah surga. Karena begitu diidam-idamkan dan memiliki sesuatu yang mampu menarik para penjajah itu datang ke bumi Nusantara ini. Seperti yang dianalogikan oleh Koes Plus bahwa kayu dan batu saja bisa jadi tanaman di tanah ini. Sampai segitunya surga Indonesia digambarkan.

Ini yang menyebabkan Indonesia dari dulu sampai sekarang itu “layak royok”.

Selepas Jumatan saya membuka buku Mbah Nun Dari Pojok Sejarah. Saya sampai pada satu chapter dengan subjudul “Negeri Layak Royok”. Dalam satu judul tulisan itu, Mbah Nun menggambarkan betapa surganya tanah Indonesia. Bahkan sampai mengatakan kita ini sebenarnya lebih kaya dari Jepang dan Jerman. Meskipun ada alasan tersendiri kenapa itu tidak terjadi. Tapi saat ini Indonesia masih layak royok. Layak untuk diperebutkan.

Setidaknya ada dua jalur respons yang ingin saya korelasikan dengan kondisi saat ini soal negeri yang layak royok itu.

Sumber: Kata Maiyah
1. Semakin banyak yang membuat negeri mulai tidak “layak royok”

Yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, banyak isu-isu lingkungan yang sudah menjadi “sego jangan” orang-orang Indonesia. Mulai dari tambang GAG nikel di kawasan yang dekat dengan Raja Ampat, lalu aktivis-aktivis lingkungan yang diperkarakan secara hukum yang sampai saat ini pun belum selesai. Sampai pada kondisi sekarang, yaitu banjir Sumatra yang masih menyimpan masalah-masalah ekologis.

Lingkungan, masalah yang sangat inti, adalah masalah tanah. Tempat semua makhluk hidup melangsungkan kehidupannya. Apalagi tumbuhan yang bahkan tidak hanya berjalan di atas tanah, tapi sudah menancap dengan tanah.

Karena Indonesia tanah surga, banyak oknum yang menerakakan tanah Indonesia. Banyak yang melepas hak-hak tanah untuk disuburkan. Terjadinya cetak sawah, pembabatan hutan tanpa berpikir jangka panjang atau reboisasi, penanaman sawit dengan membabat hutan murni tempat berbagai macam satwa hidup. Itu sebuah cara untuk menerakakan tanah ini. Apalagi ada seseorang yang dicap spiritualis mengucapkan, “Apa gunanya mengembalikan ke ekosistem awal?”

Ternyata yang mau memasukkan tanah Indonesia ke hawa neraka itu orang yang dicap sebagai ahli peta surga. Miris.

Menerakakan tanah Indonesia itu sebagian dari upaya yang membuat tanah Indonesia sudah tidak layak royok. Hilang harga dirinya sebagai negara yang kaya. Negara yang bagus sumber dayanya secara kualitas, negara yang udaranya segar dari hutan-hutan murni. Signature Indonesia yang semacam itu sepertinya perlahan-lahan mulai hilang “ajinya”. Mungkin yang kaya sekarang itu: kaya korupsinya, kaya konfliknya, kaya kebijakan ngawurnya.

Sumber: Kata Maiyah
2. Mudah mengalihpersepsikan layak royok

Negeri yang layak royok ini harus dijaga. Dalam arti harga diri kita sebagai negara maritim dan agraris yang sangat menjaga lingkungan juga itu tidak boleh luntur. Agar negara ini punya keunggulan-keunggulan yang berbeda dengan negara-negara lain. Ibarat Indonesia yang layak royok ini menjadi bargaining power.

Namun, tidak lantas kita seperti “nyah nyoh” kepada pihak-pihak lain untuk meroyok negeri kita. Seperti halnya wanita ketika ingin didekati pria. Dia memoles wajahnya sedemikian rupa sehingga layak dihampiri seorang pria. Tapi kalau layak royok bagi Indonesia diwujudkan dengan kita punya kekayaan alam yang masih terjaga dan luar biasa banyaknya, itu tidak bisa dijual kepada siapa pun kecuali untuk kepentingan rakyat semata. Membuat Indonesia menjadi negara yang “jual mahal” dalam masalah alam.

Dari beberapa narasi soal layak royok yang harus dijaga, ada yang memaknai sebagai sebuah narasi ajakan nafsu. Dengan kekayaan yang seperti ini, para pemegang kekuasaan atau semua yang berada dalam lingkup kekuasaan pantas memperoleh, menggunakan, dan mempermainkan alam yang ada di Indonesia. Dalam arti “wong pantas direbut kok”.

Layak atau pantas di sini dimaknai oleh para oknum sebagai ajakan. Maka dari itu, semua orang yang punya kuasa berebut akses-akses kekayaan alam. Seperti berebut konsesi tambang. Salah satu yang terpengaruh dengan itu adalah ormas. Tidak peduli masalah internal apa yang terjadi, yang penting masing-masing pribadinya bisa secara optimal memperebutkan kekayaan itu.

Mungkin itu yang membuat sebenarnya kita bisa lebih kaya dari Jepang atau Jerman tadi. Ya, fokusnya itu masih memperebutkan kekayaan alam, bukan fokus untuk mengoptimalkan kekayaan alam. Sebenarnya ini logika-logika dasar. Tapi semakin ke sini kok malah negara ini diperjalankan oleh nafsu saja, tanpa aktivasi akal. Apalagi menyeimbangkan nafsu dan akal, masih sulit.

Dengan dua arah tersebut, sebenarnya narasi negeri kita layak royok itu adalah narasi kebanggaan. Menunjukkan bahwa kita masih punya bargaining power yang masih kuat. Tapi jangan sampai narasi layak royok ini malah dibuat sebagai ajakan atau slogan yang sifatnya persuasif untuk menerakakan tanah Indonesia. Yang pada akhirnya tanah Indonesia bukan dianggap sebagai ladang keindahan ekosistem, tapi ladang perebutan untung dan pengaruh. Ya, kembali lagi ke zaman kuno: seleksi alam dan kepemilikan wilayah lagi. Yang punya pengaruh, yang kaya, yang punya lahan sawit besar, yang punya konsesi tambang yang luar biasa, dan lain sebagainya.

Tetap waras, kawan. Anggap bahwa selamanya tanah kita tanah surga!!


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Indonesia Harus Tetap Layak Royok, Tapi Jangan Salah Paham pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/indonesia-harus-tetap-layak-royok-tapi-jangan-salah-paham/feed/ 0
Melawan Arus Ghorib https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/ https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/#respond Thu, 27 Nov 2025 09:34:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2539 Islam Indonesia beberapa bulan ini banyak menjadi sorotan dan pemantik fenomena-fenomena yang menggetarkan Indonesia. Mulai dari Alkhoziny, Wahabi lingkungan, feodalisme pesantren, sampai yang terakhir terkait fenomena gus-gusan. Rasanya Islam sangat […]

Artikel Melawan Arus Ghorib pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Islam Indonesia beberapa bulan ini banyak menjadi sorotan dan pemantik fenomena-fenomena yang menggetarkan Indonesia. Mulai dari Alkhoziny, Wahabi lingkungan, feodalisme pesantren, sampai yang terakhir terkait fenomena gus-gusan. Rasanya Islam sangat populer akhir tahun ini. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, tapi kejadian ini kok selalu dibarengi juga keputusan atau tindakan kontroversial oleh para elite pejabat atau wakil rakyat kita. Sudahlah, mungkin hanya kebetulan.

Kejadian yang membuat Islam merasa ‘digoreng’ ini tidak hanya terjadi lingkup Indonesia. Namun sekarang umat Islam dunia mulai ada polarisasi politik pada sistem internasional, di mana solidaritas keumatan kita antar negara-negara Islam sedikit ada indikasi untuk terpecah karena kepentingan politik. Kita ambil contoh ketika ketegangan di Gaza masih terjadi, banyak negara-negara Arab yang menormalisasikan hubungannya dengan Israel, salah satunya dengan Perjanjian Abraham, di mana aktor sentralnya adalah Amerika Serikat.

Perjanjian itu yang semakin intensif hingga saat ini membuat keretakan benar-benar terasa dan sangat kontradiksi dengan kejadian di Laut Merah bagaimana Houti menyerang kapal komersial AS sebagai bentuk anti-hegemoni Barat, begitu pun Iran dengan kekuatannya yang luar biasa dan bargaining position yang kuat di mata dunia.

Kejadian baik domestik dan internasional ini rasanya sangat menjadikan Islam sebagai objek yang sangat konfliktual. Seakan-akan Islam itu penuh dengan ketegangan-ketegangan, tindakan-tindakan irasional, dan sangat debatable oleh masyarakat modern. Ini akan menjadi suatu hal yang sangat bahaya karena beberapa framing yang terjadi ini membuat umat Islam semakin tidak PD dengan keislamannya.

Framing tersebut menyebabkan umat Muslim jauh dari Islam. Apalagi anak-anak muda yang daya rasionalnya sangat tajam. Sedangkan Islam, bahkan Allah pun sulit jika dirasionalkan. Meskipun ini masih dugaan saja. Tetapi dengan pola-pola yang terjadi baik di domestik atau internasional, kita diperlihatkan sebuah doktrin-doktrin Barat yang menjadi penyebab dari semua gerakan ini.

Sumber: CakNun.com

Gerakan rasional, anti-feodal, sekularisme radikal, standarisasi ethic oleh Barat itulah doktrin-doktrin Barat yang sudah menjadi patokan hidup kita. Dan menganggap bahwa itulah sistem yang benar dan absolut. Sedangkan secara antropologis kita sebagai masyarakat Islam Nusantara pernah punya peradaban yang luar biasa sebelum kolonialisme seperti era Walisongso atau era keemasan Kesultanan. Tetapi kita tidak percaya diri untuk menyingsingkan lengan dan memerahkan mata terhadap doktrin Barat tersebut.

Islam dan Barat itu sejak dahulu kala seperti air dan minyak. Salah satu tonggaknya adalah pemikiran orientalisme, yaitu pemikiran Barat soal Islam. Bahwa Islam adalah othering atau dapat dikatakan orang lain. Dan dianggap peradaban Islam adalah peradaban yang polos dan tidak beradab. Pemikiran itu yang membuat sekarang negara-negara Barat datang ke negara-negara Arab atau Islam karena Barat menganggap Islam perlu diperbaiki ‘adabnya’, mungkin dengan demokrasi, liberalisasi ekonomi, atau sejenisnya.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Adab menurut umat Islam seakan-akan selalu tidak cocok dengan pemikiran modern. Celah-celah Islam yang itu pun dibuat oleh oknum-oknum pun dijadikan senjata untuk ‘menggoreng’. Begitu ganasnya era modern yang secara tidak langsung mematikan Islam pelan-pelan. Padahal prinsip-prinsip Islam juga mampu untuk selalu adaptasi dengan rentang zaman. Sebab, level Islam sudah pada peradaban.

Peradaban salah satu signature utamanya adalah sesuatu yang terus bisa berjalan sepanjang zaman. Dan dinamikanya selalu bersifat progres, bukan regres. Semakin lama semakin sempurna peradabannya. Sebab dahulu kita memiliki peradaban yang maju tetapi dinamikanya regres sehingga peradaban itu mati. Maka dari itu mungkin sekarang yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam adalah mengembalikan peradaban Islam. Bukan kita membawa sistem-sistem negara Islam atau sejenisnya. Tapi bagaimana prinsip-prinsip Islam berusaha dijadikan sebagai gelombang yang selalu sesuai dengan arus zaman.

Bicara keberlanjutan peradaban Islam. Dengan kompleksitas masalah saat ini, kita seakan-akan dibuat ghorib dengan Islam. Ghorib adalah situasi pengasingan dalam arti situasi yang saat ini membuat kita seakan-akan baru mempelajari Islam, baru tahu khazanah Islam, dan seakan-akan terkejut dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Situasi ghorib yang seperti ini adalah salah satu indikator ancaman sebuah peradaban.

Peradaban secara formal, dalam arti adanya sistem pemerintahan Islam, memang sudah selesai pada era dahulu. Tapi peradaban dalam masalah prinsip dan nilai harus selalu berprogres mengikuti arus zaman. Konsep-konsep seperti menjadi khalifah, sulh (perdamaian), ukhuwah (persatuan), maqashid asy-syariah (hak asasi manusia), dan nilai-nilai lainnya harus kembali ke permukaan peradaban dunia sekarang. Tujuannya hanya satu, membuat generasi selanjutnya tidak merasa gharib atas Islam.

Usaha-usaha seperti itulah yang dapat kita lakukan sekarang. Sebagai orang-orang Islam yang tawazzun dalam arti seimbang dalam hal apa pun, tidak ikut arus ketegangan pun tidak ikut membangga-banggakan sesuatu secara berlebihah. langkah untuk menghilangkan keghoriban yang seperti itu adalah langkah yang semoga Tuhan pun tersenyum melihatnya.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Melawan Arus Ghorib pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/feed/ 0
Lir Ilir, Kemerdekaan, dan Paradox of Plenty https://bangbangwetan.org/lir-ilir-kemerdekaan-dan-paradox-of-plenty/ https://bangbangwetan.org/lir-ilir-kemerdekaan-dan-paradox-of-plenty/#respond Fri, 26 Sep 2025 04:09:57 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2462 Kemerdekaan itu seperti lagu Lir Ilir. Betapa kita dimanjakan oleh tanah yang subur, laut yang luas, dan gunung yang kaya mineral. “Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro.” […]

Artikel Lir Ilir, Kemerdekaan, dan Paradox of Plenty pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Kemerdekaan itu seperti lagu Lir Ilir. Betapa kita dimanjakan oleh tanah yang subur, laut yang luas, dan gunung yang kaya mineral. “Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro.” Dalam bait itu, Kanjeng Sunan Kalijaga seakan mengingatkan kita untuk berusaha memanjat pohon blimbing, meski licin, demi membasuh pakaian kita sendiri. Pekerjaan itu tidak mudah, tapi justru di situlah kemerdekaan diuji. Kekayaan alam adalah blimbing yang menggoda, tapi butuh usaha, ketekunan, dan integritas untuk mengelolanya demi membersihkan diri—bukan mengotori nurani.

Sayangnya, kita terjebak dalam apa yang Richard Auty sebut pertama kali pada awal 1990-an, dan yang kemudian dibahas lebih mendalam oleh Terry Lynn Karl (1997) dalam The Paradox of Plenty: Oil Booms and Petro-States. Negeri yang kaya justru sering terperosok dalam kemiskinan struktural. Sumber daya alam yang melimpah berubah menjadi sumber malapetaka. Kekayaan itu habis dikeruk demi keuntungan segelintir orang, sementara rakyat yang hidup di sekitar tambang hanya kebagian debu, lumpur, dan air keruh. Kita lupa pada pesan berikutnya dalam Lir Ilir: “Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore.” Menjahit kembali dodot itu, mempersiapkan diri untuk “menghadap” nanti sore. Dalam konteks hari ini, artinya kita wajib menata, memulihkan, dan mempersiapkan sumber daya ini sebagai titipan untuk anak cucu. Bukan dihabiskan seolah warisan leluhur yang bisa dibagi-bagi habis di meja makan.

Bait-bait Lir Ilir penuh makna yang sering luput dari perhatian kita. “Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi” adalah panggilan untuk generasi muda agar berani memanjat tantangan. “Dodot iro” adalah identitas dan kehormatan yang harus dirawat, dijahit kembali jika robek. “Sebo mengko sore” adalah pertemuan kita dengan Sang Pencipta, pertanggungjawaban atas apa yang kita kerjakan di dunia. Bahkan “suraka… surak hore…” bukanlah sorakan kemenangan yang kosong, tetapi sukacita yang lahir dari perjuangan yang benar dan lurus.

Kemerdekaan sejati bukanlah bebas mengeruk semua yang ada di bumi, melainkan berani menahan diri. Bukan sekadar bangga karena “tanah kita kaya”, tapi cerdas dan bijak mengelola kekayaan itu agar tak menjadi kutukan. Bukan merayakan hasil, tapi menjaga proses.

Di tengah wacana global, kemerdekaan kita juga diuji oleh cara kita mengelola kekayaan alam di era jargon-jargon manis. Sustainable Development Goals (SDGs) sering kita sebut dalam seminar, pidato, dan proposal proyek. Indah di atas kertas, lengkap dengan 17 tujuan yang tampak suci. Namun di sini, kita lebih sering terjebak pada slogannya saja. Di ruang rapat, spanduk SDGs berkibar; di lapangan, excavator bekerja siang malam. Penguasa terus mengeruk kekayaan alam, mempertontonkannya kepada rakyat dengan dalih “demi bangsa dan negara.”

Hutan-hutan dibabat habis, diganti dengan tebu dan jagung, semua dibungkus dengan label “perhutanan sosial” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Padahal mengelola hutan bukanlah sekadar menanam. Mengurus hutan berbeda dengan mengurus kebun, tegal, sawah, atau tambak. Hutan punya daur ekologisnya sendiri, mengatur air, udara, dan oksigen yang kita hirup setiap hari. Tapi semua itu sering dilupakan demi target produksi jangka pendek. Negeri yang katanya “paru-paru dunia” ini malah tergesa-gesa menyulap hutan menjadi kebun monokultur tanpa memikirkan napas panjangnya.

Di atas kertas, program ini bahkan dibungkus dengan iming-iming “membagi-bagi lahan dua hektaran” untuk masyarakat. Sebuah narasi manis yang seolah memberi kedaulatan tanah pada warga. Namun, kita jarang diajak bertanya: entah ke mana sertifikat HGU yang katanya bisa diwariskan itu akan berlabuh nanti. Besar kemungkinan ia akan lepas dari genggaman warga kecil dan jatuh ke belenggu korporasi besar, entah lewat jual-beli paksa, skema utang, atau permainan harga yang memojokkan pemilik lahan.

Kita juga disuguhi istilah keren seperti carbon trading dan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation). Katanya, ini adalah cara untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dengan memberi insentif finansial bagi negara yang menjaga hutannya. Nyatanya, alam kekayaan kita tetap disikat habis, hanya saja kali ini dengan sertifikat internasional sebagai pembungkusnya. Inilah ironi terbesar: kita diberi “hadiah” karena menjaga hutan, tapi di sisi lain hutan itu hilang perlahan-lahan, dan yang tersisa hanya angka di laporan. Padahal kita, sebagai negara hutan hujan tropis sebagaimana kawasan Amazon dan sebagian besar Afrika, berhak untuk mengelola hutannya sendiri dengan membentuk standar yang berbeda dari yang ditetapkan oleh Barat.

“Kita diajari menghargai lingkungan hidup oleh orang yang peradabannya mengeksploitasi alam dan isinya, seolah-olah itu milik mereka.” — Mbah Nun

Saya teriris hati ketika masa SMP mendapatkan kesempatan melancong ke Malaysia. Pada saat melintasi kawasan Genting Highlands di Malaysia dengan kereta gantung dan melihat belantara hutannya yang masih lestari, saya hanya heran. Sementara di negeri ini, hutan-hutan dibabat menjadi kebun sawit, dan setiap orang yang memprotes dianggap “wahabi lingkungan” oleh mereka yang ingin mencari pembenaran. Lebih menyedihkan lagi ketika ucapan itu datang dari seorang menantu kiai besar, sosok yang selama ini setiap kata-katanya menjadi pencerah hidup kita semua. Ada yang patah di dalam hati ketika hikmah yang seharusnya menyejukkan malah menjadi cap yang menyakitkan bagi mereka yang peduli pada kelestarian bumi. Fakta bahwa 30 persen luasan hutan yang dibutuhkan Pulau Jawa sebagai penyangga oksigen dan air Indonesia, nyatanya hanya 24 persen atau 128.297 kmdengan tutupan riil hanya 19 persen.

Parahnya, kita senantiasa dipertontonkan dikotomi pribumi, asing, dan aseng. Padahal ketika berbicara tentang para pihak yang mengeksploitasi lingkungan, kita sedang membicarakan oligarki secara luas, tanpa pandang bulu. Merekalah yang perlu bertanggung jawab, termasuk mereka yang selama ini dibangga-banggakan karena memiliki lahan tambang dan areal hutan yang luas. Persoalan lingkungan mestinya diselesaikan dengan Fikih Lingkungan yang berakar pada keadilan dan keberlanjutan, bukan hanya sebatas asumsi identitas dan gincu tebal di balik bingkai “konservasi” yang kita jumpai di hutan-hutan kota, kebun binatang, atau taman safari.

Bila kita kembali ke Lir Ilir, maka keadaan ini ibarat “dodot iro” yang robek besar. Tidak cukup hanya “dondomono” menjahitnya kembali, tapi kita harus mengubah cara berpikir tentang kekayaan alam: bahwa ia bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan untuk dijaga. Jika “penekno blimbing kuwi” berarti upaya yang gigih meski licin dan sulit, maka menjaga hutan adalah salah satu panjat paling terjal yang harus kita lakukan hari ini.

Terdiam saya, hening tanpa kata, saat mendengar syiir Lir Ilir dikumandangkan Mbah’e, diiringi bapak-bapak Bang-Bang Wetan dengan alunan instrumen musik gamelan dan band-band-an. Setiap petikan, gong, dan denting nada memanggil pulang hati yang letih, mengingatkan saya bahwa kemerdekaan adalah kesediaan menjaga titipan, dan kekayaan sejati adalah ketika kita meninggalkan bumi dalam keadaan lebih baik dari saat kita menerimanya.

Maka di tengah gumaman saya pada beberapa tahun yang lalu menyimak Bang Bang Wetan di depan pelataran halaman Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga saya sampai pada satu kesimpulan bahwa: Tidak harus seseorang berlatar belakang keilmuan yang seolah-olah pro terhadap lingkungan untuk membutakan paradigma kita bahwa yang bersangkutan peduli terhadap lingkungan. Terkadang, cukup tergerak sedikit saja untuk memahami bahwa kekayaan alam di Indonesia tidak untuk dihabiskan pada hari ini. Kesadaran sederhana itu saja sudah sangat menyelamatkan Indonesia dari berbagai persoalan yang mengintai.

Iwan Fals, ketika masih gagah menantang Orde Baru, juga menyampaikan “lestarikan alam hanya celoteh belaka.” Hingga, “melihat rimba yang dulu perkasa, kini tinggal cerita pengantar tidur si buyung.” Kontras dengan sistem pertahanan rakyat semesta yang dulu hingga sampai saat ini kita banggakan sebagai strategic culture pertahanan nasional kita, pada mulanya berangkat dari hutan tempat Jenderal Sudirman dan pasukannya bergerilya. Maka dari itu bangunlah pemikiran bahwa hutan atau alas adalah wit-witan, atau wiwitan. Alas adalah dasar, alas adalah permulaan. Dari hutanlah kehidupan berawal, dan dari hutan pula keberlanjutan negeri ini ditentukan karena dengan menyelamatkan hutan kita, selamat pula Indonesia.

Pada akhirnya, Lir Ilir bukan sekadar tembang dolanan atau warisan Sunan Kalijaga. Ia adalah peta jalan moral bagi sebuah bangsa yang ingin merdeka sepenuhnya: merdeka dari keserakahan, merdeka dari mental penjajah terhadap tanahnya sendiri. Setiap kali kita menyanyikannya, seharusnya kita juga sedang mengingatkan diri: blimbing itu masih di sana, licin untuk dipanjat, tapi bukan untuk diabaikan. Dodot itu masih robek, siap dijahit jika kita mau menundukkan ego dan mengutamakan masa depan. “Suraka… surak hore…” bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari tanggung jawab. Dan mungkin, itulah arti merdeka yang sesungguhnya. Ketika kita tak lagi meninggalkan bumi dalam keadaan terluka, tapi membiarkannya tersenyum saat kita berpamitan. Dirgahayu Indonesia.


Probo Darono Yakti, Akademisi separuh jalan, aktivis penuh perasaan pada lingkungan. Dosen Hubungan Internasional di FISIP Universitas Airlangga yang lebih betah ngobrol di warung kopi daripada pidato di podium. Direktur Nusantara Policy Lab, juga penggiat Budaya Nusantara Seni Tradisi Lokal.

Narahubung Media: Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Lir Ilir, Kemerdekaan, dan Paradox of Plenty pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/lir-ilir-kemerdekaan-dan-paradox-of-plenty/feed/ 0
Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/ https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/#respond Tue, 11 Mar 2025 23:38:07 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1858 Prolog BangbangWetan Maret 2025 Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan […]

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog BangbangWetan Maret 2025

Bulan Maret tahun ini terasa istimewa karena beriringan dengan Ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga sebagai latihan spiritual. Menurut Mbah Nun, puasa mengajarkan kita bahwa hidup tidak hanya tentang hak, tetapi juga tentang kewajiban, larangan, dan anjuran. Puasa melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kesadaran bahwa manusia sejati adalah yang mampu menahan diri demi mencapai ketakwaan.

Bagi banyak orang, Ramadan menyimpan kenangan masa kecil tentang tradisi seperti ngabuburit, berbagi takjil, tarawih, ronda keliling, hingga khataman Al-Qur’an. Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum pembentukan diri. Dalam berbagai Maiyahan, Mbah Nun menegaskan bahwa keistimewaan puasa terletak pada hubungannya dengan Allah. Jika ibadah lain pahalanya diberikan kepada pelakunya, puasa adalah milik eksklusif Tuhan. Dengan satire, beliau menyampaikan bahwa manusia sejatinya lebih mencintai makan daripada berpuasa, namun justru dalam menahan lapar dan dahaga itulah ketakwaan meningkat.

Setelah menjalani puasa Ramadan, kita menantikan lebaran pada hari raya Idul Fitri. Mbah Nun memiliki pandangan menarik tentang Idul Fitri. Dalam Puasa itu Puasa (hal. 143), beliau menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan pribadi, tetapi juga momentum kolektif yang menjadikan kita lebih dari sekadar komunitas (community) atau masyarakat (society). Kita menjadi ummah, sebuah persaudaraan yang berlandaskan kohesi, ketulusan, dan daya tarik-menarik nilai-nilai Allah: kesederajatan antar manusia, kebenaran nilai, keadilan realitas, dan kebaikan akhlak.

Namun, Mbah Nun mengingatkan bahwa Idul Fitri harus membawa perubahan sosial yang lebih mendalam, bukan sekadar kegembiraan bersama keluarga dan teman. Keceriaan Lebaran tak boleh melupakan realitas bahwa di sekitar kita masih ada ketidakadilan, diskriminasi, dan eksploitasi. Sensibilitas terhadap hal ini penting agar Idul Fitri benar-benar menjadi gerbang perubahan yang memperkuat persaudaraan sejati dalam ummah.

Maka, kita diajak bertafakkur: sejauh mana kita telah mengupayakan nilai-nilai Idul Fitri dalam kehidupan? Lebaran sejati bukan hanya tentang kembali bersih, tetapi juga tentang kepasrahan total kepada Allah. Mbah Nun sendiri merayakan Lebaran dengan kepasrahan yang dalam, menyadari bahwa hakikat Idul Fitri bukan hanya tentang pengampunan dosa, tetapi juga ketundukan sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Sikap ini lahir dari ketakutan mendalam: jika Tuhan ‘ikut berlebaran’, tidak lagi menahan murka-Nya, apa yang akan terjadi pada kita? Jika Tuhan tak lagi menangguhkan hukuman atas kekufuran dan kesewenangan kita, bagaimana nasib kita? Penguasa besar maupun kecil akan terguling, dan mereka yang haknya dirampas akan menuntut keadilan.

Dalam Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Maret 2025, yang akan berlangsung pada 18 Maret di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, mari kita pasrah total kepada Allah, meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, dan berdoa sebagaimana yang diajarkan Mbah Nun dalam Puasa itu Puasa (hal. 147): Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, lindungilah kami. Bantulah kami mengidulfitri di lutut kuasa-Mu. Wa la aqwa ‘ala naril jahim. Di neraka, tak kuat hamba, ya Rabbi!

Oleh: Tim Tema Bangbang Wetan

Artikel Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran’ pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/seandainya-tuhan-pun-berlebaran/feed/ 0