Negara kita ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan memiliki kekayaan yang luar biasa. Luasnya kekayaan alam, beragam kekayaan budaya, dan dalam sekali kekayaan moralnya. Kekayaan yang sifatnya murni dari Tuhan ini sudah hadir sebelum ada idiom negara. Kekayaan-kekayaan yang kita bangga-banggakan sekarang itu sudah ada sebelum Indonesia sah dikatakan sebagai negara.
Hal itulah yang membuat para penjajah datang ke Nusantara dengan ambisi gold, glory, dan gospel. Dan sasaran empuk ambisi tersebut salah satunya Indonesia. Niat awal ingin berdagang, namun lama-kelamaan kolonialisme pun terjadi. Hal ini bermuara pada motivasi yang sama, yaitu soal kekayaan Nusantara.
Tidak salah orang menyebut tanah kita tanah surga. Karena begitu diidam-idamkan dan memiliki sesuatu yang mampu menarik para penjajah itu datang ke bumi Nusantara ini. Seperti yang dianalogikan oleh Koes Plus bahwa kayu dan batu saja bisa jadi tanaman di tanah ini. Sampai segitunya surga Indonesia digambarkan.
Ini yang menyebabkan Indonesia dari dulu sampai sekarang itu “layak royok”.
Selepas Jumatan saya membuka buku Mbah Nun Dari Pojok Sejarah. Saya sampai pada satu chapter dengan subjudul “Negeri Layak Royok”. Dalam satu judul tulisan itu, Mbah Nun menggambarkan betapa surganya tanah Indonesia. Bahkan sampai mengatakan kita ini sebenarnya lebih kaya dari Jepang dan Jerman. Meskipun ada alasan tersendiri kenapa itu tidak terjadi. Tapi saat ini Indonesia masih layak royok. Layak untuk diperebutkan.
Setidaknya ada dua jalur respons yang ingin saya korelasikan dengan kondisi saat ini soal negeri yang layak royok itu.

1. Semakin banyak yang membuat negeri mulai tidak “layak royok”
Yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, banyak isu-isu lingkungan yang sudah menjadi “sego jangan” orang-orang Indonesia. Mulai dari tambang GAG nikel di kawasan yang dekat dengan Raja Ampat, lalu aktivis-aktivis lingkungan yang diperkarakan secara hukum yang sampai saat ini pun belum selesai. Sampai pada kondisi sekarang, yaitu banjir Sumatra yang masih menyimpan masalah-masalah ekologis.
Lingkungan, masalah yang sangat inti, adalah masalah tanah. Tempat semua makhluk hidup melangsungkan kehidupannya. Apalagi tumbuhan yang bahkan tidak hanya berjalan di atas tanah, tapi sudah menancap dengan tanah.
Karena Indonesia tanah surga, banyak oknum yang menerakakan tanah Indonesia. Banyak yang melepas hak-hak tanah untuk disuburkan. Terjadinya cetak sawah, pembabatan hutan tanpa berpikir jangka panjang atau reboisasi, penanaman sawit dengan membabat hutan murni tempat berbagai macam satwa hidup. Itu sebuah cara untuk menerakakan tanah ini. Apalagi ada seseorang yang dicap spiritualis mengucapkan, “Apa gunanya mengembalikan ke ekosistem awal?”
Ternyata yang mau memasukkan tanah Indonesia ke hawa neraka itu orang yang dicap sebagai ahli peta surga. Miris.
Menerakakan tanah Indonesia itu sebagian dari upaya yang membuat tanah Indonesia sudah tidak layak royok. Hilang harga dirinya sebagai negara yang kaya. Negara yang bagus sumber dayanya secara kualitas, negara yang udaranya segar dari hutan-hutan murni. Signature Indonesia yang semacam itu sepertinya perlahan-lahan mulai hilang “ajinya”. Mungkin yang kaya sekarang itu: kaya korupsinya, kaya konfliknya, kaya kebijakan ngawurnya.

2. Mudah mengalihpersepsikan layak royok
Negeri yang layak royok ini harus dijaga. Dalam arti harga diri kita sebagai negara maritim dan agraris yang sangat menjaga lingkungan juga itu tidak boleh luntur. Agar negara ini punya keunggulan-keunggulan yang berbeda dengan negara-negara lain. Ibarat Indonesia yang layak royok ini menjadi bargaining power.
Namun, tidak lantas kita seperti “nyah nyoh” kepada pihak-pihak lain untuk meroyok negeri kita. Seperti halnya wanita ketika ingin didekati pria. Dia memoles wajahnya sedemikian rupa sehingga layak dihampiri seorang pria. Tapi kalau layak royok bagi Indonesia diwujudkan dengan kita punya kekayaan alam yang masih terjaga dan luar biasa banyaknya, itu tidak bisa dijual kepada siapa pun kecuali untuk kepentingan rakyat semata. Membuat Indonesia menjadi negara yang “jual mahal” dalam masalah alam.
Dari beberapa narasi soal layak royok yang harus dijaga, ada yang memaknai sebagai sebuah narasi ajakan nafsu. Dengan kekayaan yang seperti ini, para pemegang kekuasaan atau semua yang berada dalam lingkup kekuasaan pantas memperoleh, menggunakan, dan mempermainkan alam yang ada di Indonesia. Dalam arti “wong pantas direbut kok”.
Layak atau pantas di sini dimaknai oleh para oknum sebagai ajakan. Maka dari itu, semua orang yang punya kuasa berebut akses-akses kekayaan alam. Seperti berebut konsesi tambang. Salah satu yang terpengaruh dengan itu adalah ormas. Tidak peduli masalah internal apa yang terjadi, yang penting masing-masing pribadinya bisa secara optimal memperebutkan kekayaan itu.
Mungkin itu yang membuat sebenarnya kita bisa lebih kaya dari Jepang atau Jerman tadi. Ya, fokusnya itu masih memperebutkan kekayaan alam, bukan fokus untuk mengoptimalkan kekayaan alam. Sebenarnya ini logika-logika dasar. Tapi semakin ke sini kok malah negara ini diperjalankan oleh nafsu saja, tanpa aktivasi akal. Apalagi menyeimbangkan nafsu dan akal, masih sulit.
Dengan dua arah tersebut, sebenarnya narasi negeri kita layak royok itu adalah narasi kebanggaan. Menunjukkan bahwa kita masih punya bargaining power yang masih kuat. Tapi jangan sampai narasi layak royok ini malah dibuat sebagai ajakan atau slogan yang sifatnya persuasif untuk menerakakan tanah Indonesia. Yang pada akhirnya tanah Indonesia bukan dianggap sebagai ladang keindahan ekosistem, tapi ladang perebutan untung dan pengaruh. Ya, kembali lagi ke zaman kuno: seleksi alam dan kepemilikan wilayah lagi. Yang punya pengaruh, yang kaya, yang punya lahan sawit besar, yang punya konsesi tambang yang luar biasa, dan lain sebagainya.
Tetap waras, kawan. Anggap bahwa selamanya tanah kita tanah surga!!

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.
Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)



