Melawan Arus Ghorib

Islam Indonesia beberapa bulan ini banyak menjadi sorotan dan pemantik fenomena-fenomena yang menggetarkan Indonesia. Mulai dari Alkhoziny, Wahabi lingkungan, feodalisme pesantren, sampai yang terakhir terkait fenomena gus-gusan. Rasanya Islam sangat populer akhir tahun ini. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, tapi kejadian ini kok selalu dibarengi juga keputusan atau tindakan kontroversial oleh para elite pejabat atau wakil rakyat kita. Sudahlah, mungkin hanya kebetulan.

Kejadian yang membuat Islam merasa ‘digoreng’ ini tidak hanya terjadi lingkup Indonesia. Namun sekarang umat Islam dunia mulai ada polarisasi politik pada sistem internasional, di mana solidaritas keumatan kita antar negara-negara Islam sedikit ada indikasi untuk terpecah karena kepentingan politik. Kita ambil contoh ketika ketegangan di Gaza masih terjadi, banyak negara-negara Arab yang menormalisasikan hubungannya dengan Israel, salah satunya dengan Perjanjian Abraham, di mana aktor sentralnya adalah Amerika Serikat.

Perjanjian itu yang semakin intensif hingga saat ini membuat keretakan benar-benar terasa dan sangat kontradiksi dengan kejadian di Laut Merah bagaimana Houti menyerang kapal komersial AS sebagai bentuk anti-hegemoni Barat, begitu pun Iran dengan kekuatannya yang luar biasa dan bargaining position yang kuat di mata dunia.

Kejadian baik domestik dan internasional ini rasanya sangat menjadikan Islam sebagai objek yang sangat konfliktual. Seakan-akan Islam itu penuh dengan ketegangan-ketegangan, tindakan-tindakan irasional, dan sangat debatable oleh masyarakat modern. Ini akan menjadi suatu hal yang sangat bahaya karena beberapa framing yang terjadi ini membuat umat Islam semakin tidak PD dengan keislamannya.

Framing tersebut menyebabkan umat Muslim jauh dari Islam. Apalagi anak-anak muda yang daya rasionalnya sangat tajam. Sedangkan Islam, bahkan Allah pun sulit jika dirasionalkan. Meskipun ini masih dugaan saja. Tetapi dengan pola-pola yang terjadi baik di domestik atau internasional, kita diperlihatkan sebuah doktrin-doktrin Barat yang menjadi penyebab dari semua gerakan ini.

Sumber: CakNun.com

Gerakan rasional, anti-feodal, sekularisme radikal, standarisasi ethic oleh Barat itulah doktrin-doktrin Barat yang sudah menjadi patokan hidup kita. Dan menganggap bahwa itulah sistem yang benar dan absolut. Sedangkan secara antropologis kita sebagai masyarakat Islam Nusantara pernah punya peradaban yang luar biasa sebelum kolonialisme seperti era Walisongso atau era keemasan Kesultanan. Tetapi kita tidak percaya diri untuk menyingsingkan lengan dan memerahkan mata terhadap doktrin Barat tersebut.

Islam dan Barat itu sejak dahulu kala seperti air dan minyak. Salah satu tonggaknya adalah pemikiran orientalisme, yaitu pemikiran Barat soal Islam. Bahwa Islam adalah othering atau dapat dikatakan orang lain. Dan dianggap peradaban Islam adalah peradaban yang polos dan tidak beradab. Pemikiran itu yang membuat sekarang negara-negara Barat datang ke negara-negara Arab atau Islam karena Barat menganggap Islam perlu diperbaiki ‘adabnya’, mungkin dengan demokrasi, liberalisasi ekonomi, atau sejenisnya.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Adab menurut umat Islam seakan-akan selalu tidak cocok dengan pemikiran modern. Celah-celah Islam yang itu pun dibuat oleh oknum-oknum pun dijadikan senjata untuk ‘menggoreng’. Begitu ganasnya era modern yang secara tidak langsung mematikan Islam pelan-pelan. Padahal prinsip-prinsip Islam juga mampu untuk selalu adaptasi dengan rentang zaman. Sebab, level Islam sudah pada peradaban.

Peradaban salah satu signature utamanya adalah sesuatu yang terus bisa berjalan sepanjang zaman. Dan dinamikanya selalu bersifat progres, bukan regres. Semakin lama semakin sempurna peradabannya. Sebab dahulu kita memiliki peradaban yang maju tetapi dinamikanya regres sehingga peradaban itu mati. Maka dari itu mungkin sekarang yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam adalah mengembalikan peradaban Islam. Bukan kita membawa sistem-sistem negara Islam atau sejenisnya. Tapi bagaimana prinsip-prinsip Islam berusaha dijadikan sebagai gelombang yang selalu sesuai dengan arus zaman.

Bicara keberlanjutan peradaban Islam. Dengan kompleksitas masalah saat ini, kita seakan-akan dibuat ghorib dengan Islam. Ghorib adalah situasi pengasingan dalam arti situasi yang saat ini membuat kita seakan-akan baru mempelajari Islam, baru tahu khazanah Islam, dan seakan-akan terkejut dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Situasi ghorib yang seperti ini adalah salah satu indikator ancaman sebuah peradaban.

Peradaban secara formal, dalam arti adanya sistem pemerintahan Islam, memang sudah selesai pada era dahulu. Tapi peradaban dalam masalah prinsip dan nilai harus selalu berprogres mengikuti arus zaman. Konsep-konsep seperti menjadi khalifah, sulh (perdamaian), ukhuwah (persatuan), maqashid asy-syariah (hak asasi manusia), dan nilai-nilai lainnya harus kembali ke permukaan peradaban dunia sekarang. Tujuannya hanya satu, membuat generasi selanjutnya tidak merasa gharib atas Islam.

Usaha-usaha seperti itulah yang dapat kita lakukan sekarang. Sebagai orang-orang Islam yang tawazzun dalam arti seimbang dalam hal apa pun, tidak ikut arus ketegangan pun tidak ikut membangga-banggakan sesuatu secara berlebihah. langkah untuk menghilangkan keghoriban yang seperti itu adalah langkah yang semoga Tuhan pun tersenyum melihatnya.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top