#SpiritualJourney Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/spiritualjourney/ Mon, 26 Jan 2026 03:07:58 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg #SpiritualJourney Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/tag/spiritualjourney/ 32 32 NGABUDAYA   https://bangbangwetan.org/ngabudaya/ https://bangbangwetan.org/ngabudaya/#respond Mon, 26 Jan 2026 03:02:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2629 Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026 Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada […]

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026

Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti Reog Ponorogo, jathilan, ludruk, atau dalam bentuk arsitektur seperti candi atau tempat-tempat bersejarah yang memiliki makna. Tidak salah berpikir seperti itu. Namun, lebih tepatnya semua simbol dan kesenian itu adalah output dari yang namanya “budaya”.

Kita tahu Mbah Nun juga sering disebut budayawan. Tapi tahukah kita bagaimana sebenarnya Mbah Nun memahami budaya dan apa nilai penting budaya menurut beliau? dalam sebuah esai “apa pentingnya budaya?” Beliau memberikan pintu masuk yang sangat fundamental untuk memahami arti budaya. Bahwa salah satu pengertian budaya adalah mutu berekspresi manusia.

Sumber: Kata Maiyah

Ekspresi apa yang dimaksud oleh Mbah Nun sebagai elemen penting dalam budaya? Lalu,  bagaimana ekspresi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari sehingga kita bisa secara sempurna “ngabudaya”?

Jawaban itu akan kita temukan bersama dalam forum Bangbang Wetan edisi bulan Februari 2026 di Pendopo Cak Durasim.

Teka ya rek, Ngabudaya bareng-bareng.
Selasa, 3 Februari 2026 / Shaʻban 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ngabudaya/feed/ 0
Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0
Eling lan nge-Rumangsani https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/ https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/#respond Fri, 02 Jan 2026 07:47:25 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2586 Kita maklum bersama bahwa kompleksitas berada pada ranah realitas itu sendiri, bukan semata pada cara kita memandangnya. Bukti paling sederhana, sebuah teori tidak pernah mampu memeluk realitas secara utuh. Sebab […]

Artikel Eling lan nge-Rumangsani pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Kita maklum bersama bahwa kompleksitas berada pada ranah realitas itu sendiri, bukan semata pada cara kita memandangnya. Bukti paling sederhana, sebuah teori tidak pernah mampu memeluk realitas secara utuh. Sebab teori hanyalah salah satu alat baca yang bersifat parsial terhadap realitas yang holistik. Itulah mengapa, dewasa ini kita sering terpolarisasi dalam “persegi panjang–persegi panjang”—bukan lagi kotak-kotak—sebuah dinamika yang tampaknya berangkat dari kesalahpahaman epistemologis. Seperti melihat warna dengan pendengaran, membaca kata dengan penglihatan, atau memahami kenyataan dengan penciuman.

Ada sisi ke-ada-an manusia yang sementara menghilang, yakni rasa ta‘rif terhadap realitas bersama. Ta‘rif di sini bermakna ganda, sebagai rasa dan sebagai definisi. Rasa sebagai upaya memahami kebenaran bersama (pengertian), sekaligus mendefinisikan benere dewe sebagai pergulatan personal. Dimensinya jelas—dari ta‘rif diri menuju ta‘rif sosial. Di ranah ini, diperlukan cadangan toleransi, karena kebenarannya memang tidak tunggal. Yang terpenting adalah benere bareng-bareng dan tetap nir-konflik.

Sumber: Kata Maiyah

Dasarnya jelas bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan, dan rahmat Tuhan perlu dikelola dengan ihsan—tanpa perpecahan dan permusuhan. Proyeksinya sederhana, yakni kesadaran diri bahwa saya mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari, yang tentu berbeda dengan apa yang kamu ketahui; dan kamu mengetahui sesuatu berdasarkan apa yang kamu pelajari, yang berbeda dengan apa yang saya ketahui.

Kesadaran atas keterbatasan pengetahuan personal inilah yang menjadi peringatan Khidir kepada Nabi Musa saat keduanya pertama kali bertemu. Khidir mengingatkan bahwa sumber ilmu kita sama, tetapi prosesnya berbeda, demikian pula cara mengekspresikannya. Karena itu, Nabi Musa tidak mampu menahan pertanyaan-pertanyaan syariatnya terhadap apa yang dilakukan Khidir secara hakikat. Di titik ini, perbedaan epistemologis memang tak terelakkan.

Sumber: Kata Maiyah

Melalui kesadaran ala Khidir tersebut, kita diajak untuk eling lan ngerumangsani. Ngerumangsani, dalam pemahaman filsafat, bermakna kebijaksanaan: mengambil sikap secara objektif (haq) dan tidak dikendalikan hawa nafsu yang subjektif. Dengan rasa ta‘rif dan ngerumangsani ini, manusia menjadi eling—berdzikir dan berkesadaran—bahwa realitas itu kompleks dan pengetahuan manusia memiliki batas. Maka perbedaan pun menjadi sesuatu yang wajar dalam keseharian, tidak serta-merta berubah menjadi sumber konflik.


Anas Mn. Someone yang tertarik perihal kebudayaan dan hal-hal sehari-hari yang bermakna.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Eling lan nge-Rumangsani pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/eling-lan-nge-rumangsani/feed/ 0
Melawan Arus Ghorib https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/ https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/#respond Thu, 27 Nov 2025 09:34:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2539 Islam Indonesia beberapa bulan ini banyak menjadi sorotan dan pemantik fenomena-fenomena yang menggetarkan Indonesia. Mulai dari Alkhoziny, Wahabi lingkungan, feodalisme pesantren, sampai yang terakhir terkait fenomena gus-gusan. Rasanya Islam sangat […]

Artikel Melawan Arus Ghorib pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Islam Indonesia beberapa bulan ini banyak menjadi sorotan dan pemantik fenomena-fenomena yang menggetarkan Indonesia. Mulai dari Alkhoziny, Wahabi lingkungan, feodalisme pesantren, sampai yang terakhir terkait fenomena gus-gusan. Rasanya Islam sangat populer akhir tahun ini. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, tapi kejadian ini kok selalu dibarengi juga keputusan atau tindakan kontroversial oleh para elite pejabat atau wakil rakyat kita. Sudahlah, mungkin hanya kebetulan.

Kejadian yang membuat Islam merasa ‘digoreng’ ini tidak hanya terjadi lingkup Indonesia. Namun sekarang umat Islam dunia mulai ada polarisasi politik pada sistem internasional, di mana solidaritas keumatan kita antar negara-negara Islam sedikit ada indikasi untuk terpecah karena kepentingan politik. Kita ambil contoh ketika ketegangan di Gaza masih terjadi, banyak negara-negara Arab yang menormalisasikan hubungannya dengan Israel, salah satunya dengan Perjanjian Abraham, di mana aktor sentralnya adalah Amerika Serikat.

Perjanjian itu yang semakin intensif hingga saat ini membuat keretakan benar-benar terasa dan sangat kontradiksi dengan kejadian di Laut Merah bagaimana Houti menyerang kapal komersial AS sebagai bentuk anti-hegemoni Barat, begitu pun Iran dengan kekuatannya yang luar biasa dan bargaining position yang kuat di mata dunia.

Kejadian baik domestik dan internasional ini rasanya sangat menjadikan Islam sebagai objek yang sangat konfliktual. Seakan-akan Islam itu penuh dengan ketegangan-ketegangan, tindakan-tindakan irasional, dan sangat debatable oleh masyarakat modern. Ini akan menjadi suatu hal yang sangat bahaya karena beberapa framing yang terjadi ini membuat umat Islam semakin tidak PD dengan keislamannya.

Framing tersebut menyebabkan umat Muslim jauh dari Islam. Apalagi anak-anak muda yang daya rasionalnya sangat tajam. Sedangkan Islam, bahkan Allah pun sulit jika dirasionalkan. Meskipun ini masih dugaan saja. Tetapi dengan pola-pola yang terjadi baik di domestik atau internasional, kita diperlihatkan sebuah doktrin-doktrin Barat yang menjadi penyebab dari semua gerakan ini.

Sumber: CakNun.com

Gerakan rasional, anti-feodal, sekularisme radikal, standarisasi ethic oleh Barat itulah doktrin-doktrin Barat yang sudah menjadi patokan hidup kita. Dan menganggap bahwa itulah sistem yang benar dan absolut. Sedangkan secara antropologis kita sebagai masyarakat Islam Nusantara pernah punya peradaban yang luar biasa sebelum kolonialisme seperti era Walisongso atau era keemasan Kesultanan. Tetapi kita tidak percaya diri untuk menyingsingkan lengan dan memerahkan mata terhadap doktrin Barat tersebut.

Islam dan Barat itu sejak dahulu kala seperti air dan minyak. Salah satu tonggaknya adalah pemikiran orientalisme, yaitu pemikiran Barat soal Islam. Bahwa Islam adalah othering atau dapat dikatakan orang lain. Dan dianggap peradaban Islam adalah peradaban yang polos dan tidak beradab. Pemikiran itu yang membuat sekarang negara-negara Barat datang ke negara-negara Arab atau Islam karena Barat menganggap Islam perlu diperbaiki ‘adabnya’, mungkin dengan demokrasi, liberalisasi ekonomi, atau sejenisnya.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Adab menurut umat Islam seakan-akan selalu tidak cocok dengan pemikiran modern. Celah-celah Islam yang itu pun dibuat oleh oknum-oknum pun dijadikan senjata untuk ‘menggoreng’. Begitu ganasnya era modern yang secara tidak langsung mematikan Islam pelan-pelan. Padahal prinsip-prinsip Islam juga mampu untuk selalu adaptasi dengan rentang zaman. Sebab, level Islam sudah pada peradaban.

Peradaban salah satu signature utamanya adalah sesuatu yang terus bisa berjalan sepanjang zaman. Dan dinamikanya selalu bersifat progres, bukan regres. Semakin lama semakin sempurna peradabannya. Sebab dahulu kita memiliki peradaban yang maju tetapi dinamikanya regres sehingga peradaban itu mati. Maka dari itu mungkin sekarang yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam adalah mengembalikan peradaban Islam. Bukan kita membawa sistem-sistem negara Islam atau sejenisnya. Tapi bagaimana prinsip-prinsip Islam berusaha dijadikan sebagai gelombang yang selalu sesuai dengan arus zaman.

Bicara keberlanjutan peradaban Islam. Dengan kompleksitas masalah saat ini, kita seakan-akan dibuat ghorib dengan Islam. Ghorib adalah situasi pengasingan dalam arti situasi yang saat ini membuat kita seakan-akan baru mempelajari Islam, baru tahu khazanah Islam, dan seakan-akan terkejut dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Situasi ghorib yang seperti ini adalah salah satu indikator ancaman sebuah peradaban.

Peradaban secara formal, dalam arti adanya sistem pemerintahan Islam, memang sudah selesai pada era dahulu. Tapi peradaban dalam masalah prinsip dan nilai harus selalu berprogres mengikuti arus zaman. Konsep-konsep seperti menjadi khalifah, sulh (perdamaian), ukhuwah (persatuan), maqashid asy-syariah (hak asasi manusia), dan nilai-nilai lainnya harus kembali ke permukaan peradaban dunia sekarang. Tujuannya hanya satu, membuat generasi selanjutnya tidak merasa gharib atas Islam.

Usaha-usaha seperti itulah yang dapat kita lakukan sekarang. Sebagai orang-orang Islam yang tawazzun dalam arti seimbang dalam hal apa pun, tidak ikut arus ketegangan pun tidak ikut membangga-banggakan sesuatu secara berlebihah. langkah untuk menghilangkan keghoriban yang seperti itu adalah langkah yang semoga Tuhan pun tersenyum melihatnya.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Melawan Arus Ghorib pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/melawan-arus-ghorib/feed/ 0