Agen Perubahan

Reportase Bangbang Wetan Bulan Desember 2025

Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.
Kalimat agung mengenai penciptaan, melintasi dimensi ruang-waktu, sebelum akhirnya jatuh ke pangkuan makhluk bernama manusia.

Manusia, makhluk yang diliputi kecemasan dalam hampir setiap aspek kehidupannya, harus menanggung mandat sedemikian besar. Bagi makhluk sekecil itu, apa yang mungkin ia rawat dalam gelaran semesta dan jajarannya?

Di aula gedung tua Pos Bloc, dalam derasnya hujan yang mengguyur kota Surabaya. Manusia-manusia kecil itu tetap memilih datang, berkumpul dalam simpul Maiyah Bangbang Wetan. Tentu ada keterpautan yang terjalin diantara mereka, semacam percikan kesadaran yang membuat mereka terlibat dalam skenario besar penciptaan. Lakon pun dimulai.

Kearifan Lokal

Pukul setengah delapan malam, nderes dimulai. Surah Al-Fatihah dan bacaan Tahlil mengalir di sela rintik hujan, dibumbui aroma tanah basah. Doa dan sholawat  dipanjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ, para auliya’, sesepuh dan keluarga Besar Maiyah.

Moderator menyapa jamaah dan memberi pemaparan singkat tentang tema rutinan Maiyah Bangbang Wetan edisi Desember, —Lakon Khalifah.

Dengan meminjam konsep empat tahapan manusia dari Mbah Nun, moderator merinci setiap tahapan. Tahap pertama adalah makhluk, ketika manusia belum memiliki kesadaran atas dirinya. Tahap kedua, insan, makhluk yang diberi akal dan mulai memakai nalar serta hati untuk menimbang tindakan. Tahap ketiga, Abdullah, manusia yang sadar posisinya sebagai hamba dan menggunakan akal serta hatinya untuk mengabdi kepada Allah. Tahap keempat adalah Khalifah Allah, ketika manusia menyadari dirinya diturunkan ke bumi untuk memaksimalkan potensi sumber daya demi merawat kehidupan.

Penjelasan disampaikan dengan cukup gamblang, diikuti anggukan jamaah. Pak Darmaji dan Mas Probo turut bergabung meramaikan forum.

Mas Probo hadir dengan konsep hablum minallah dan hablum minannas, dengan modifikasi tambahan berupa hablum minal ‘alam. Kesadaran bahwa hidup berjalan beriringan dengan Sang Pencipta, manusia lain, serta alam.

Sebelum masuk pada diskusi yang lebih intens, grup musik Suar Marabahaya menampilkan lagu ciptannya sendiri berjudul ‘Onok Zaman’. Suara serak Mas Joshua dan backing vokal Mas Indra berpadu groove latin. Dilanjutkan “Hio”, karya Sawung Jabo, dengan hentakan beat cepat, sebelum ditutup dengan pekik “Hio… Hio… Hio” menggema di aula.

Diskusi berlanjut. Pak Darmaji yang sempat absen karena faktor kesehatan, Alhamdulillah bisa kembali menemani lingkar sederhana ini. Beliau meminta ijin tidak bisa menemani sampai forum berakhir, sembari mengapresiasi penampilan musik barusan.

Dalam pandangan beliau, manusia semestinya menjadi “wong sing bisa nguwongke uwong”, dalam arti mampu memahami karakter orang lain dan memperlakukannya sebagai manusia. Ia mengingatkan prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Bahwa di posisi apa pun, depan-tengah-belakang sekalipun, manusia tetap dituntut memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Jamaah dipersilakan memberi tanggapan. Mas Fikri menyoroti bagaimana masyarakat Jawa dulu menjaga harmoni dengan alam, misalnya lewat tradisi sedekah bumi sebagai bentuk syukur.

Mas Probo langsung menanggapi, dengan gestur nonverbal khas dosen. Beliau mengulas peradaban Jawa yang sarat kosmologi dan mistifikasi—warisan dari dinamisme dan animisme. Pada masa itu, alam tidak semata dipandang sebagai objek yang bebas dikeruk, melainkan sebagai warisan untuk generasi sesudahnya. Ia berulangkali menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari kearifan lokal yang begitu menghargai alam.

Pencipta Kecil

Memasuki pukul sembilan malam, Mas Sabrang & Mas Amin Tarjo tiba di aula Pos Bloc, setelah ditemani hujan deras di sepanjang perjalanan. Pegiat menyambut dan mempersilakan keduanya untuk rehat sejenak di area transit.

Selang beberapa waktu, giliran Mas Amin menyapa jamaah. Senyumnya mengembang, Mas Amin mengungkap syukur atas kehadiran seluruh jamaah. Ia mengajak jamaah tidak buru-buru memaknai kata khalifah. Secara bahasa, khalifah bisa berarti “pemimpin” maupun “penerus”.

Dari situ, ia masuk ke persoalan yang lebih luas. Banyak istilah dalam tradisi keilmuan kita, menurut Mas Amin, mengalami penyempitan makna. Ia mencontohkan kata ‘alim, yang kini sering dipahami hanya sebagai orang berilmu agama. Padahal, dalam makna asalnya, ‘alim adalah siapa saja yang berilmu, orang yang cakap dan mendalam dalam bidangnya masing-masing.

Penyempitan makna semacam ini, ujarnya sambil sesekali berkelakar, tanpa sadar kita seperti memberi sekat pada “ilmu agama” di satu sisi, dan “ilmu selain agama” di sisi lain. Karena itu, Mas Amin mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pemaknaan teks secara harfiah, tetapi berani menyelami lebih dalam makna di balik kata-kata.

Mas Probo menguatkan pernyataan tersebut. Ia menilai telah terjadi “pengerdilan” pada kata khalifah, termasuk ketika amanah hanya dipandang sebagai beban moral, bukan ruang tumbuh dan tanggung jawab.

Diskusi berpindah dari pandangan satu ke pandangan lain. Mas Sabrang tampak menyimak dari area transit. Sesaat kemudian, beliau turut bergabung dalam forum.

Mas Sabrang memberi urun rembug, dengan menanyakan batas ruang diskusi. Ia melontarkan pertanyaan ke jamaah, sejauh mana pembahasan tentang khalifah ingin dibahas? Sebab kata ini memiliki banyak dimensi, dan masing-masing membuka pintu pemahaman yang berbeda.

Ia mulai dari makna penerus atau representatif. Jika manusia adalah penerus, maka apa yang harus diteruskan? Apakah ada makhluk sebelumnya? Dan apa sebenarnya mandat dari Gusti Allah yang diwariskan kepada manusia?

Mas Sabrang mengajukan konsep hubungan Creator dan co-creator. Manusia mampu membuat konsep atau aturan yang kemudian dipatuhi sesamanya. Tuhan dengan segala ke-Maha Agung-an membuat hukum sunnatullah yang dipatuhi seluruh alam. Jika manusia ingin menjadi penerus, maka posisinya sebagai co-creator, semacam rekan atau asisten pencipta.

Ia mencontohkan pembuatan kursi. Manusia tidak menciptakan kayu atau lem, tetapi menyusun bahan-bahan itu menjadi bentuk baru. Namun kualitas kursi itu tergantung apakah manusia meneruskan hikmah Tuhan atau tidak. “Kalau pakai kayu randu yang bersifat lapuk, sehingga membuat kursi yang kamu cipta tidak mampu menopang beban yang duduk di atasnya, berarti kamu belum meneruskan hikmah ilmu dari Tuhan,” ujarnya sambil tersenyum.

Khalifah, lanjutnya, berarti manusia membuat hukum di antara sesama manusia dan memastikan bahwa hukum itu merupakan perpanjangan dari hikmah yang telah Tuhan berikan. Al-Qur’an adalah salah satu bentuk ekstensi hikmah tersebut, penyaring dari jutaan hukum alam yang tersebar di semesta. “Alam itu jujur, apa adanya. Dalih dari hukum alam sudah tersaji dalam Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut beliau, manusia mengalami hukum Tuhan, sekaligus diharapkan menjadi co-creator atas hukum itu.

Mas Amin berkelakar, menantang jamaah untuk meresume hikmah Mas Sabrang barusan. Mas Rendy dengan sigap mengambil mic di depan, menjawab challenge yang diberi. Bahwa Tuhan sebagai creator dan manusia sebagai co-creator dengan Al-Qur’an sebagai pedoman.

Mas Sabrang menjawab singkat, “Benar. Sudah tepat,” dengan isyarat dua jempol ke atas. Jamaah tertawa kecil menyimak tingkah mas-mas di atas panggung.

Lab Kehidupan

Penampilan suar marabahaya mencipta jeda permenungan. Grup Suar memindahkan instrumen ke area bawah untuk menghormati narasumber yang duduk di depan. Mereka membuka dengan “Senja Terakhir”, karya Suar Marabahaya sendiri.

Apakah esok terulang kembali… apabila esok tak kudapat… biarlah ini menjadi senja terakhir…

Petikan gitar dan alunan piano bersahut mesra, disusul pembacaan puisi. Mas Indra, dengan dandanan khas topi besar dan syal merah darah, mengeluarkan buku catatan kecil berisi puisi tentang kehilangan dan harapan. Suasana menjadi riuh.

Lagu berikutnya adalah “Sandaran Hati” karya Letto. Intro ikoniknya mengalun lembut. Diikuti suara Mas Sabrang berdendang merdu, membuat jamaah terdiam membisu.

Aku dan napasku, merindukanmu…
Jika Kaulah sandaran hati.. sandaran hati… Ouoo

Pandangan Mas Sabrang menyusuri barisan jamaah, layaknya mempertontonkan permenungan panjang. Saat bagian akhir lagu mendekat, Mas Joshua menambahkan suara dua yang membuat penonton semakin larut. Tepuk tangan panjang menutup penampilan.

Sesi respon jamaah kemudian dibuka.
Mas Ilham mengangkat tangan lebih dulu. “Mas, tiap manusia punya pemaknaan yang berbeda tentang Tuhan. Kalau begitu, apakah ada parameter yang lebih gamblang untuk memahami posisi manusia sebagai khalifah? Apa standar kebenaran agar kita yakin benar-benar meneruskan hikmah Tuhan?”

Disusul Mbak Fitri. “Saya mohon doa dan restu untuk kelancaran studi ke luar negeri,” katanya, lalu menoleh ke jamaah. “Sekalian ingin menyemangati teman-teman agar berani mengejar mimpi. Saya juga ingin bertanya: di mana batas antara hukum yang harus diteruskan, dan hukum yang perlu diperbarui?”

Mas Sabrang menanggapi dengan penuh semangat. “Kita ini sering sekali terobsesi dengan benar dan salah,” ujarnya. “Padahal klaim benar-salah tidak selalu melahirkan ukuran yang objektif. Bahkan dengan diri sendiri, manusia sering tidak sinkron. Kamu ingin lulus kuliah, tapi malas sinau, katanya sambil tersenyum. Mas Ilham pun tersipu.

“Secara teoritis, benar-salah tetap memiliki derajatnya. Namun dalam kehidupan, manfaat kerap menjadi ukuran paling praktis menilai sebuah tindakan”, lanjut beliau.

Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan, yang mungkin dilakukan hanyalah memaksimalkan ikhtiar, lalu mengakui keterbatasan diri. Sikap ini selaras dengan bacaan surah Al-Fatihah, permohonan untuk diarahkan ke jalan yang lurus “Gusti, maksimalku segini,” ujarnya dengan hela napas panjang.

Mas Sabrang merapatkan kedua tangan, sebelum melanjutkan pemaparan. Lebih jauh, kebenaran normatif tidak selalu bermuara pada satu bentuk hasil praktis. Keseimbangan di padang pasir tentu berbeda dengan keseimbangan di wilayah tropis. Masing-masing ditentukan oleh variabel ekologis, iklim, dan struktur sosial yang berbeda. Karena itu, sistem yang layak bagi manusia semestinya bersifat kontekstual dan adaptif, selaras dengan lingkungan tempat ia diterapkan.

“Di titik ini,” lanjutnya, “peradaban-peradaban lampau bisa kita baca sebagai laboratorium historis.”
Cara mereka mengelola relasi manusia dan alam bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan dipahami prinsip dasarnya.

Rahim Penciptaan

Pandangan Mas Sabrang melingkari jamaah. Kuncinya terletak pada kesediaan manusia untuk mengalami hukum Tuhan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Dalam perspektif filsafat Islam, hukum Tuhan (sunnatullah) bekerja secara konsisten melalui relasi sebab–akibat di alam semesta. Namun akal manusia kerap memelintir realitas, menghindari konsekuensi, menawar hukum, atau mencari jalan pintas yang memutus rantai kausalitas yang jelas.

Sebagai hamba, manusia belajar menerima dan memahami sebab–akibat, ia tunduk pada hukum yang telah ditetapkan. Sebagai salik, penempuh jalan pencarian kebenaran, manusia tidak berhenti pada kepatuhan, tetapi berusaha merumuskan relasi sebab–akibat itu secara sadar dan reflektif. Pada tahap ini, akal bekerja bukan untuk menyangkal hukum, melainkan untuk membacanya.

Sementara sebagai khalifah, manusia melangkah lebih jauh. Tidak sekedar memahami, tetapi ikut mendesain sebab–akibat dalam batas-batas amanah ilahiah. Artinya, manusia menggunakan pengetahuan dan rasionalitas untuk menyusun sistem, mengatur lingkungan, dan mengarahkan proses agar menghasilkan dampak tertentu. “Jika sebabnya begini,” jelasnya, “maka desainlah sedemikian rupa agar output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan kemaslahatan.” Jamaah tampak menopang dagu, mencoba mengolah hikmah barusan.

Suasana terdiam sejenak, sampai Mas Rudi berkelakar meniru adegan kanal YouTube Mas Sabrang—“Mas, Mas, Mas… Bagaimana bersikap ketika menyukai karya seseorang, yang secara personal memiliki perilaku kurang baik? Jamaah pun terbahak…

Menanggapi celetukan Mas Rudi, Mas Sabrang tersenyum simpul. Kadang sikap menghujat orang lain lahir dari iri hati. Dengan canda, beliau menyampaikan bahwa karya harus dipisahkan dari personal pembuatnya. Moral seseorang memang memberi pengaruh, tetapi tidak serta-merta menghapus sisi positifnya. Yang paling bijak adalah memberi batas, tidak mudah menghakimi, dan mendoakan agar kesalahan orang lain diterima taubatnya.

Mas Amin menutup sesi dengan permenungan. Ia mengajak jamaah menyadari, bahwa ketidaksinkronan dalam diri manusia bukanlah tanda kegagalan beriman, melainkan bagian dari proses menjadi. Menjadi hamba yang belajar tunduk, menjadi salik yang terus membaca sebab–akibat, dan menjadi khalifah yang bertanggung jawab atas desain tindakannya sendiri.

Diskusi hampir memasuki sesi akhir.  Suar Marabahaya kembali mengalun, membawakan lagu “Seperti Rahim Ibu” karya Efek Rumah Kaca.
Seandainya negeriku seperti rahim ibu, merawat kehidupan, menguatkan yang rapuh…

Mas Indra memberi puisi tentang rahim kehidupan. Lagu berikutnya adalah “Kamisan”, menyinggung ingatan kolektif tentang kasus hak asasi manusia yang pernah membayangi negeri.

Nada semakin naik ke puncak suara, berebut dengan hentakan musik yang semakin kencang. Jamaah tertegun pada suatu kesadaran yang mengental di titik tengah panggung. Jeritan vokal, dentuman puisi, dan bunyi gitar-piano berpadu menjadi luapan energi yang membuncah.

Tampaknya jamaah belum rela melepas kepergian Suar Marabahaya. Mereka meminta satu lagu tambahan. Suar pun membawakan “Bongkar” karya Iwan Fals, memuncaki semangat malam itu.

Jamaah bernyanyi lantang, sebagian mengabadikan momen dengan gawai.
Oo yaoo ya bongkar… diteriakkan bersama. Tepuk tangan membanjiri aula.

Energi Perubahan

Penampilan musik tadi memberi energi baru di ruang diskusi. Sesi tanya jawab pun dilanjutkan.

Mas Faisal memulai. “Kalau mengurus keluarga kecil saja sudah penuh konsekuensi,” katanya, “bagaimana rasanya memikul tanggung jawab yang meluas—keluarga besar, kabupaten, bahkan negara?”

Mas Arif menyusul dengan sudut lain. “Istilah golden age Indonesia sering kita dengar. Tapi bagaimana peluang itu dibaca dalam kaitannya dengan perubahan iklim yang kini jadi isu global?”

Mas Helmi mengangkat pertanyaan yang lebih personal. “Apa bedanya intuisi dan ego? Dan bagaimana caranya agar kita tidak tersesat oleh dorongan pribadi?”

Mas Sabrang menanggapi satu per satu.
“Secara ideal,” ujarnya, “pemimpin sejati sadar bahwa dirinya dan yang dipimpin adalah satu tubuh. Tidak ada kompromi untuk lari dari tanggung jawab itu.”
Ia lalu berkelakar, bahwa dirinya tidak punya “hak” menjawab persoalan pemerintahan secara teknis.
Namun, ia menegaskan pentingnya memprioritaskan lingkar pengaruh yang bisa dijangkau.
“Peduli isu global itu tidak salah,” katanya, “tetapi yang perlu ditata adalah dampak apa yang bisa kita hasilkan.” Ia pun mengurai kompleksitas perubahan iklim, dari level lokal hingga internasional.

Menjawab soal intuisi dan ego, Mas Sabrang menjelaskan,“Intuisi tidak mengganggu temperatur emosi. Ego justru mengacaukannya.” Intuisi bekerja otomatis dalam bawah sadar, sementara ruang kerja ego berada pada kesadaran yang diarahkan. Keduanya sama-sama mendorong tindakan, tetapi harus diuji dengan sebab–akibat.

“Abstraksikan dulu,” katanya. “Akibat apa yang ingin aku tuju? Tanyakan terus sampai ketemu jawabannya. Kalau tidak bisa menjawab, itu ego.”
Ia menyinggung metode STAR: stop, think, assess, respond—mendesain sebab untuk mengarahkan akibat, bersikap deliberatif atas perilaku sendiri.

Mas Amin memberi kesempatan berikutnya untuk tanggapan jamaah. Dengan sigap, Mas Aldi mengangkat tangan dan membenturkan dengan konsep entropi.
“Alam semesta bergerak menuju ketidakteraturan. Apakah khalifah itu antitesis entropi? Atau justru kerusakan manusia adalah bagian dari hukum alam?”

Tentang entropi, Mas Sabrang memberi penjelasan singkat teori fisika. Semacam kuliah dadakan.
“Entropi adalah derajat ketidakteraturan. Secara total, ketidakteraturan alam semesta cenderung naik. Tapi secara lokal, ketidakteraturan bisa diturunkan.”
Ia pun tersenyum. “Ini sejalan dengan Hukum Kedua Termodinamika yang menyatakan, dalam suatu sistem tertutup, total entropi memang tidak pernah berkurang. Namun dalam sistem terbuka seperti jagad semesta raya, entropi atau ketidakteraturan lokal bisa menurun selama ada aliran energi/materi keluar-masuk.”

“Dan itulah,” tegasnya, “yang sedang kita upayakan bersama malam ini. Mengalirkan energi untuk menurunkan ketidakteraturan di muka bumi”

Mas Sabrang menutup dengan konsep iceberg diagram.
“Ada empat lapisan dalam setiap realitas sosial,” jelasnya, “event, pola, struktur, dan mental model.”
Event bersifat reaktif dan cepat berlalu, sementara pola dan struktur lebih tahan lama. Namun yang paling menentukan adalah mental model, cara manusia memandang, menilai, dan memaknai kenyataan.
“Maiyah,” lanjutnya, “bekerja pada level mental model.”

Pertemuan malam itu mungkin tidak melahirkan banyak solusi praktis yang instan. Namun bukankah Nabi Muhammad ﷺ tidak pertama-tama diutus untuk merombak struktur politik atau ekonomi, melainkan untuk menyempurnakan akhlak? Akhlak, bukan sekadar perilaku lahiriah, melainkan bangunan batin—mental model—yang membimbing manusia membaca sebab–akibat, menimbang maslahat, dan menata tanggung jawabnya sebagai hamba sekaligus khalifah.

“Seiring kekuatan besar datang tanggung jawab besar” —Paman Ben.
Indal qiyam menjadi penutup malam panjang.


Redaksi Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top