Surat Dari Desa Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/surat-dari-desa/ Mon, 24 Nov 2025 15:15:34 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Surat Dari Desa Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/kolom-jamaah/surat-dari-desa/ 32 32 Secangkir Kopi Pagi https://bangbangwetan.org/secangkir-kopi-pagi/ https://bangbangwetan.org/secangkir-kopi-pagi/#respond Tue, 25 Nov 2025 01:00:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2533 Pagi, selalu punya cara sendiri untuk menyambut kita. Bagi sebagian atau bahkan banyak orang, kopi adalah bagian penting dari penyambutan itu. Secangkir kopi pagi bukan cuma soal rasa atau kafein […]

Artikel Secangkir Kopi Pagi pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pagi, selalu punya cara sendiri untuk menyambut kita. Bagi sebagian atau bahkan banyak orang, kopi adalah bagian penting dari penyambutan itu. Secangkir kopi pagi bukan cuma soal rasa atau kafein yang bikin melek, tapi tentang kehangatan yang mulai merayapi tubuh dan pikiran. Seperti banyak motivator yang bilang, bahwasanya aktivitas atau mood pagi hari menentukan kelanjutan hidup setelahnya. Maka kopi pagi atau kopag, untuk bahasa gaul anak-anak gen Z, sangat tepat menjadi pembuka hari.

Seperti halnya matahari yang membuka lembaran hari dengan sinarnya. Menghangatkan bumi sebagai pertanda kehidupan mahkluk hidup harus dimulai, dilanjutkan lagi. Tumbuhan menyerap panas, burung-burung berkicau, manusia pergi ke ladang, ke laut, ke pasar, ke kantor, ataupun ke warung kopi. Untuk membuka warung kopi ataupun ngopi.

Semenjak kopi mulai diseduh, aromanya sudah menjalari setiap sudut ruangan jiwa maupun sudut dapur, meja makan, meja ngopi atau apapun itu, bergantung arah angin pagi itu kemana. Semerbak aroma kopi tak kalah dengan aroma bunga mawar, melati, sedap malam, ataupun aroma pacarmu (bagi yang punya dan pernah membaui). Harum, segar, menenangkan. Ada kopi, selesai sudah semua urusan, kata beberapa orang yang maniak kopi.

Saat pertama kali menyesap kopi, ada rasa hangat yang mengalir pelan, bak pelukan kecil yang bikin hati lebih tenang, damai. Aroma kopinya yang khas juga seperti alarm lembut untuk pikiran, mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Di momen-momen itu, ketenangan datang tanpa dipaksa. Pikiran yang tadinya ternginag-ngiang oleh tugas dan deadline jadi punya ruang buat bernapas. Jiwa raga menjadi lebih siap menjalani lika-liku hidup sepanjang hari.

Nah, momen minum kopi pagi ini sering banget jadi waktu refleksi tanpa disadari. Kita bisa memikirkan, merenungkan apa yang sudah terjadi, apa yang sedang ingin kita capai, atau sekadar bersyukur pernah sampai di pagi ini. Di balik kesederhanaan kopi, ada ruang untuk ngobrol sama diri sendiri, tanpa gangguan. Kecuali anda tiba-tiba dipanggil istri karena gas habis ketika memasak.

Jadi, kopi pagi itu seperti teman baik yang bukan hanya memberi energi, tapi juga mengajarkan kita buat menghargai kehangatan, menikmati ketenangan, dan menyisipkan waktu untuk refleksi dalam hidup yang kadang cepat bahkan sangat cepat laju jalannya. Apalagi kalau ditemani kepulan asap tembakau, setiap hisapan menjadikan permenungan semakin dalam, tapi tetap chill. Dengan kopi, santai, tapi penuh makna.

Tapi bagi penulis sebenarnya ada faktor lain yang sangat tidak filosofis kenapa harus ngopi setiap pagi. Yakni untuk memperlancar pencernaan, yapp! Dengan ngopi pagi perut akan lebih cepat dan lancar untuk buang air besar. Sebuah kenikmatan lain yang tidak bisa dijelaskan. Nikmat dan sehat!

Selamat ngopi semuanya…


Alif Putra Lestari. Pelajar di warkop.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Secangkir Kopi Pagi pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/secangkir-kopi-pagi/feed/ 0
Menghargai Jejak Abadi Cita-Cita https://bangbangwetan.org/menghargai-jejak-abadi-cita-cita/ https://bangbangwetan.org/menghargai-jejak-abadi-cita-cita/#respond Tue, 23 Sep 2025 03:55:36 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2442 Di desa saya, ada seorang pekerja keras. Menco, namanya. Ia adalah putra asli desa yang lahir dan besar di sini. Ketika dewasa, ia merantau ke pulau seberang, Kalimantan, untuk mengadu […]

Artikel Menghargai Jejak Abadi Cita-Cita pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Di desa saya, ada seorang pekerja keras. Menco, namanya. Ia adalah putra asli desa yang lahir dan besar di sini. Ketika dewasa, ia merantau ke pulau seberang, Kalimantan, untuk mengadu nasib. Menco dikenal sebagai sosok yang sangat rajin bekerja. Ia sering sekali pulang ke Jawa, berbeda dengan kebanyakan perantau yang biasanya hanya pulang saat lebaran. Entah apa pekerjaannya di Kalimantan, sampai bisa sebebas itu pulang-pergi.

Kepulangan Menco yang sering ternyata ada tujuannya. Ia sedang membangun rumah di desa. Uang hasil keringatnya di Kalimantan disulap menjadi bangunan rumah. Luar biasanya, sampai saat ini rumah itu ia kerjakan sendirian. Mungkin pada awalnya ia dibantu ketika membuat pondasi dan mengecor tiang. Namun selebihnya, hingga kini, ia kerjakan sendiri. Entah apa alasannya. Yang jelas, mungkin karena faktor biaya.

Menco mencari uang di Kalimantan, lalu ketika sudah cukup untuk membeli semen 10 sak, ia pulang. Setelah habis, ia kembali lagi ke Kalimantan. Siklus ini seakan sudah tertata rapi dan sistematis. Tetapi, yang menarik untuk dilihat adalah bagaimana Menco membangun rumahnya sendiri. Siang malam. Bahkan tengah malam pun ia masih mengaduk semen. Entah untuk menutup tembok bata, mengecor sedikit bagian, atau sekadar “melamir” sebelum tembok itu dicat.

Suatu malam saya berinisiatif untuk menengoknya. Sekitar pukul 12 malam, waktu di mana rata-rata orang sudah menikmati istirahatnya, ia masih sibuk mengaduk semen.
“Di lembur, rek,” sapa saya.
“Yoopo maneh gok, sak iso-iso ne pokok digarap terus,” jawabnya sambil menuangkan air ke adonan semen. (Gimana lagi, sebisanya saja, pokoknya terus dikerjakan.)
“Lah, terus kapan selesainya kalau sampean kerjakan sendiri?” tanya saya.
“Ora mikir unu gok. Pokok e digarap wes,” balas Menco. (Tidak mikir begitu, pokoknya dikerjakan terus.)

Jawabannya seakan menandakan ia tidak punya niatan untuk segera menyelesaikan rumah itu. Ia ingin rumah tersebut menjadi saksi nyata perjuangannya. Tidak hanya dari uang hasil jerih payahnya, tetapi juga dari tenaga dan keringat yang ia curahkan.

Suatu hari, beberapa anak kecil menjadikan rumah Menco yang belum setengah jadi itu sebagai tempat bermain. Menco lalu menyuruh anak-anak itu bermain di tempat lain. Ia bukan sombong, hanya merasa rumah itu belum selesai. Ia tidak ingin ada gangguan atau kejadian tak terduga yang bisa membuat hatinya sakit, sebab semua dikerjakan dengan tangannya sendiri.

Tindakan itu adalah wujud Menco menghargai perjuangannya. Rumah yang dibangun dengan keringatnya tidak boleh dirusak atau diotak-atik oleh orang yang tidak ikut berjuang, meskipun itu anak-anak sekalipun.

Saat saya berpamitan malam itu, Menco bertanya,
“Kuliahmu mari ta? Kuliah nang ndi? Ga melok demo ta wingi? Wes ga karuan aku ndelok nang TV karo TikTok.” (Kuliahmu sudah selesai? Kuliah di mana? Tidak ikut demo kemarin? Aku lihatnya di TV dan TikTok sudah tidak karuan.)
“Gak mikir unu sek, cak. Pokok digarap sak iso-isone,” jawab saya meniru gaya bicaranya, yang ternyata juga relevan dengan kondisi saya.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya sedikit liar. Apa yang dilakukan Menco ini kok rasanya mirip dengan situasi negara kita. “Ahh, cuma nyambung-nyambungin aja,” batin saya. Tapi setelah saya refleksikan, memang ada kesamaannya. Menco tidak ingin rumahnya dijadikan mainan anak kecil. Karena baginya rumah itu adalah hasil perjuangan. Ia yang tahu susahnya membangun pondasi, mengaduk semen, dan menata bata. Maka wajar jika ia tidak ingin ada orang lain mengotak-atik rumah itu.

Begitu juga dengan negara kita. Situasi sekarang terasa kacau karena yang berkuasa bukanlah orang yang ikut membangun pondasi awal bangsa ini. Indonesia berdiri dengan cita-cita besar yang lahir dari darah, air mata, dan perjuangan melawan penjajah. Orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan hari ini tidak ikut merasakan pahitnya perjuangan itu. Bahkan sebagian masih kecil ketika peristiwa 1998 terjadi.

Karena tidak merasakan langsung perjuangan merumuskan cita-cita bangsa, yang terjadi adalah seenaknya mengotak-atik hukum, mempolitisasi aturan, dan mengubah arah tujuan negara. Padahal, salah satu cita-cita Indonesia sudah jelas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945:
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Memajukan kesejahteraan umum.
Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Semua itu menuju pada terwujudnya rakyat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Itulah pondasi awal yang dirumuskan para founding fathers kita. Dengan tenaga, pikiran, bahkan darah mereka. Sebagai generasi penerus yang tidak ikut merasakannya, kita punya kewajiban untuk menjaga arah cita-cita itu. Andai Soekarno, Hatta, dan para perumus lain masih hidup, mungkin mereka akan marah melihat kondisi sekarang yang tidak sesuai dengan pondasi awal.

Ambil contoh “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Seharusnya pendidikan menjadi prioritas utama. Namun nyatanya cita-cita itu ternodai oleh kasus korupsi seorang menteri pendidikan. Itu terjadi karena ia tidak ikut merumuskan cita-cita tersebut. Ia hanya menafsirkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” sesuai kepentingannya.

Lalu bagaimana langkah kita sekarang? Tentu kita tidak bisa memanggil arwah para perumus bangsa untuk memberi tafsir yang benar. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kembali, memahami kembali, dan menafsirkan ulang cita-cita bangsa sesuai dengan wewenang kita. Dengan begitu, Indonesia akan tetap berjalan menuju tujuan awal yang telah dirumuskan.

Ketika Menco meninggal, rumahnya sudah jadi. Ia hanya meninggalkan seorang anak. Anak itu memang tidak ikut berjuang membangun rumah, tapi ia punya tugas: menjaga rumah itu agar tetap utuh, tidak diubah sedikit pun, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ayahnya. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, tetapi simbol perjuangan dan nilai yang harus dijaga.

Sama halnya dengan kita, generasi yang tidak ikut merumuskan negara ini. Cita-cita bangsa sudah jadi. Tugas kita adalah menjaganya, bukan mengubah demi kepentingan pribadi apalagi sampai merugikan rakyat. Mengubahnya sama saja tidak menghargai jasa para perumus cita-cita terdahulu. Kita memang tidak ikut mendirikan, tapi kita punya kewajiban untuk menjaga.

Kita perlu menafsirkan ulang Indonesia bukan sekadar sebagai negara kaya, melainkan sebagai sebuah cita-cita, sebuah tujuan. Rumah bernama Indonesia tidak akan pernah sempurna jika cita-citanya tidak diwujudkan.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Menghargai Jejak Abadi Cita-Cita pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/menghargai-jejak-abadi-cita-cita/feed/ 0
Seperti Semut, Kita Merambat https://bangbangwetan.org/seperti-semut-kita-merambat/ https://bangbangwetan.org/seperti-semut-kita-merambat/#respond Thu, 26 Jun 2025 12:08:06 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2294 Minggu, sekitar jam 3 sore seperti biasa Sanggar Gubuk Sinau menenani adik-adik untuk belajar matematika. Alhamdulillah sore ini cuaca cerah, langit agak mendung tapi cahaya matahari tetap tersenyum menghangatkan. Sudah […]

Artikel Seperti Semut, Kita Merambat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Minggu, sekitar jam 3 sore seperti biasa Sanggar Gubuk Sinau menenani adik-adik untuk belajar matematika. Alhamdulillah sore ini cuaca cerah, langit agak mendung tapi cahaya matahari tetap tersenyum menghangatkan. Sudah sebulan lebih kelas matematika hadir untuk adik-adik yang berminat belajar matematika. Sebenarnya kelas matematika merupakan hal baru di sanggar gubuk sinau, setelah berbulan-bulan libur menemani adik-adik belajar. Rumusan baru ini hadir dengan lebih sederhana dan tertata.

Sekitar tahun 2019, di awal berdirinya Sanggar Gubuk Sinau menemani anak anak belajar namun tidak terfokus pada satu mata pelajaran melainkan ke semua pelajaran dan malah cenderung sebagai tempat untuk mengerjakan PR di sekolah. Kondisi demikian menjadi agak ndak enak karena mengabaikan bagaimana anak-anak mengerti pelajaran. Mereka datang hanya ingin PR mereka selesai.

Sanggar Gubuk Sinau lahir dari dorongan Simpul Maiyah Jimat yang berada di Kabupaten Tuban. Sanggar Gubuk Sinau merupakan lingkaran kecil Maiyah yang berada di Desa Sumberjo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban.

Kelas matematika adalah kegiatan kecil yang kita kerjakan. Hal ini terinspirasi dari kisah sekor semut yang memadamkan api saat Nabi Ibrahim dibakar.

Dari serangkaian kesibukan para penggiat Sanggar Gubuk Sinau, kami mengambil 1 jam di tiap hari minggu untuk Istiqomah di kelas matematika. Di zaman sekarang dengan kesibukan mencari uang dan sebagainya menyisihkan waktu sedikit saja memang bulan hal yang mudah.

Merambat, mungkin kalimat yang sangat cocok untuk mewakili apa yang telah teman-teman kerjakan. Tidak muluk-muluk dengan hal hal besar atau dengan capaian- capaian besar, tapi bermanfaat meski sangat kecil dan melangkah pelan dengan sepenuh hati.

Teman-teman semua mungkin sering mendengar kata “tandang” atau “nyengkuyung”. Ibarat membangun rumah, mungkin kami hanya mampu menyumbang sebilah paku, atau sekadar membantu mengangkat satu genteng. Kecil, nyaris tak terlihat. Namun kami percaya, rumah tetap tak akan kokoh tanpa hal-hal sederhana itu.

Begitu pula kelas matematika ini. Hanya satu jam setiap Minggu. Tapi di tengah derasnya kesibukan zaman, menyisihkan waktu, menjaga konsistensi, dan tetap hadir bagi sesama adalah bentuk keberanian kecil yang tak semua orang sanggup lakukan.

Dengan Bismillah, kami memilih untuk tetap hadir. Mungkin peran ini tak besar, mungkin tak tercatat dalam laporan resmi. Tapi kami percaya, setiap peradaban besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang terus dilakukan dengan keyakinan dan cinta.


Kupret. Bapake gendhis dan penggiat Sanggar Gubuk Sinau. Bisa disapa di ig @Kupret.np.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Artikel Seperti Semut, Kita Merambat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/seperti-semut-kita-merambat/feed/ 0
Mudik: Jejak Kembali ke Asal https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/ https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/#respond Tue, 01 Apr 2025 01:55:53 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1928 Apa kabar kawan? sudah berlebaran? Sudahkah merasakan udara damai pedesaan setelah sekian lama paru-paru menghirup udara kota yang penuh hiruk-pikuk duniawi? Ataukah tahun ini memilih menyelesaikan puasa di kota dan […]

Artikel Mudik: Jejak Kembali ke Asal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Apa kabar kawan? sudah berlebaran? Sudahkah merasakan udara damai pedesaan setelah sekian lama paru-paru menghirup udara kota yang penuh hiruk-pikuk duniawi? Ataukah tahun ini memilih menyelesaikan puasa di kota dan baru pulang ke desa setelah lebaran? Atau bahkan, tahun ini tidak ada kata mudik?

Kata “mudik” seolah menjadi sesuatu yang mustahil dihilangkan dari para perantau. Mahasiswa, pekerja, dan buruh yang menggantungkan hidupnya di kota pasti akan merindukan kampung halaman. Akan terasa gundah gulana jika lantunan takbir Idulfitri hanya terdengar dari kamar kos tanpa kehangatan keluarga.

Mudik telah menjadi tradisi yang melekat dalam masyarakat Indonesia, dan setiap orang memiliki motifnya masing-masing. Ada yang ingin bertemu kembali dengan keluarga di desa, ada yang sekadar bersilaturahmi dengan tetangga meskipun keluarga sudah tiada, ada pula yang ingin menunjukkan keberhasilannya di kota kepada sanak saudara. Tak sedikit juga yang menjadikan mudik sebagai formalitas belaka—”Idulfitri tanpa mudik, rasanya hambar.”

Namun, apakah mudik memiliki makna filosofis? Jika ditelusuri secara historis, ceritanya akan panjang dan berbeda di setiap daerah. Namun, kita bisa memulai dengan memahami makna mudik sebagai implementasi dari kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Mbah Nun pernah mengatakan bahwa perjalanan manusia itu melingkar—dari Allah, lalu kembali kepada Allah. Ibarat seseorang yang ingin ke Surabaya padahal sudah berada di Surabaya, ia tetap harus berputar dulu, mungkin melewati Gresik atau Sidoarjo. Begitu pula perjalanan hidup kita; sejauh apa pun kita melangkah, sesukses apa pun pencapaian kita, sejatinya kita semakin mendekat ke arah kepulangan sejati: kembali kepada Allah.

Mudik dan Idulfitri mengajarkan kita makna “kembali.” Kembali tidak hanya bermakna pulang ke desa, tetapi juga kembali kepada diri yang lebih fitri. Dalam hiruk-pikuk kehidupan kota yang penuh dengan perjuangan duniawi, Idulfitri mengajak kita untuk membersihkan diri, menyucikan hati dari berbagai penyakit yang menodai fitrah kita. Kullu mauludin yuuladu ‘alal fitroh—setiap manusia lahir dalam keadaan suci. Itulah yang ingin kita kembalikan di hari kemenangan ini.

Namun, mencapai kesucian sejati tentu bukan perkara mudah. Sebanyak apa pun kita meminta maaf kepada sesama, dosa kepada Tuhan tetap menjadi tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Maka, sebanyak apa pun maaf yang kita tebar, jangan merasa diri ini sudah benar-benar bersih. Hanya Allah yang Mahasuci dan Mahabenar. Idulfitri hendaknya menjadi momentum untuk berusaha menjadi lebih baik, dengan tetap bersikap tawadhu dan tidak merasa paling benar.

Selain menjadi ajang refleksi diri, mudik juga mengingatkan kita tentang kebahagiaan yang sering kali terlupakan. Di kota, kebahagiaan seolah menjadi sesuatu yang sulit dan mahal. Standar kebahagiaan pun semakin tinggi. Namun, di desa, kita diajak untuk kembali menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Ingatkah ketika kecil, kita mencari ikan dan mendapatkan dua ekor saja sudah membuat hati riang? Atau ketika diterima di kampus impian, ibu langsung memasak banyak dan membagikannya kepada tetangga? Kebahagiaan yang demikian tulus dan sederhana, yang sering kali dianggap remeh oleh logika kehidupan kota.

Momentum mudik juga memiliki aspek sosial yang tak kalah penting. Bagi para perantau, kota sering kali terasa seperti medan perang yang penuh dengan persaingan hidup. Kehidupan yang individualistis membuat interaksi sosial semakin berjarak. Di desa, kita kembali diingatkan bahwa sejak kecil kita telah diajarkan pentingnya bersosialisasi oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Mudik menjadi ajang untuk menyegarkan kembali nilai-nilai sosial yang barangkali mulai luntur setelah sekian lama hidup di kota. Sehingga, yang kita bawa pulang dari mudik tidak hanya pakaian baru, tetapi juga semangat baru dalam bersosialisasi dan bermanfaat bagi orang lain.

Jadi, Idulfitri bukan sekadar ajang bersalaman dan mengucap “Minal aidin wal faizin.” Lebih dari itu, desa asal kita menjadi pusat refleksi bahwa Idulfitri bukan hanya tentang momentum perbaikan diri, tetapi juga momentum sosial. Selamat mudik, kawan-kawan! Selamat berkumpul dengan keluarga, dan selamat berefleksi di Idulfitri tahun ini.

 

Jembar Tahta Anillah
Mojokerto, 29 Maret 2025. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Artikel Mudik: Jejak Kembali ke Asal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/mudik-jejak-kembali-ke-asal/feed/ 0
Dialog Imajiner Kakek dan Cucunya https://bangbangwetan.org/dialog-imajiner-kakek-dan-cucunya/ https://bangbangwetan.org/dialog-imajiner-kakek-dan-cucunya/#respond Tue, 25 Mar 2025 15:15:24 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=1891 Cucuku Bertanya Aku ada Dimana? Cucu : “Lho? Dimana saya ini Kek?” Kakek : “Lho? Kamu sekarang ada di alam dunia Naaak.” Cucu : “Lha, memangnya sebelumnya saya ada dimana […]

Artikel Dialog Imajiner Kakek dan Cucunya pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Cucuku Bertanya

Aku ada Dimana?

Cucu : “Lho? Dimana saya ini Kek?”

Kakek : “Lho? Kamu sekarang ada di alam dunia Naaak.”

Cucu : “Lha, memangnya sebelumnya saya ada dimana Kek?”

Kakek : “Kamu kemarin ada di alam Rahim ibumu Nak.”

Cucu : “Kenapa saya pindah alam  dunia Kek? Bukankah  di alam rahim  ibuku, aku lebih tenang, lebih aman, lebih nyaman dan lebih terjaga? Tidak ada apapun dan siapapun yang bisa mengganguku.”

Kakek : “Kamu harus hijrah Nak. Kamu harus pindah alam Nak.”

Cucu : “Memangnya kenapa Kek? Kenapa aku harus pindah alam?”

Kakek : “Iya. Kamu akan menerima tugas suci dari Robb-mu Naak. Tugas mulia.”

Cucu : “Lho? Siapa Rabb-ku itu Kek?”

Kakek : “Rabb-mu ya yang kamu saksikan di alam rahim ibumu itu Nak. Kamu kan sudah menyaksikan-Nya. Bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengasuhmu, Maha Memeliharamu, Yang memberimu ketenangan, keamanan, kenyamanan dan Yang Maha Menjagamu.”

Cucu : “Lha? Kalau sekarang Kek? Selama saya berada di alam dunia ini? Apa Rabb-ku gak berubah?”

Kakek : “Ya tetaplah Nak. Tidak akan berubah. Robb-mu itu maha Kekal dan Maha Abadi kepengasuhan-Nya. Itulah  sebabnya, sebelum kamu terlahir ke muka bumi ini Rabb-mu menanyakan kesaksianmu. Apakah kamu benar-benar bersaksi dan menyaksikan langsung atas kepengasuhan-Nya bahwa Dia adalah Yang Maha Mengasuhmu, Yang Maha Memeliharamu, Yang Memberimu ketenangan, keamanan, kenyamanan dan Yang Maha Menjagamu.”

Cucu: “Benar Kek. Dia betanya kepadaku, minta persaksianku:

الست بربكم

“Bukankah Aku ini Rabb-mu?”

Dan dengan tegas tanpa ragu sedikitpun saya jawab:

بلى شهدنا

“Iya. Benar. Saya telah bersaksi dan menyaksikan bahwa Engkau adalah benar-benar Robb-ku”

Cucuku Bertanya

Tugas Suci Apa Keek?

Cucu : “Tugas suci itu apa sih Kek?”

Kakek : “Tugas suci itu simpel Nak. Gampang. Tidak neko-neko. Tidak mbulet. Yaitu kamu menjadi khalifatullah. Yaitu menjalani hidup sesuai dengan kehendak dan kemauan Robb-mu. Tidak menjalani hidup sekehendakmu. Gak sak karepmu dewe.

Cucu : “Lha, caranya bagaimana Kek?”

Kakek :  “gemping.”

Cucu : “Apa itu gemping Kek?”

Kakek : “Gemping itu artinya sangat gampang sekali.”

Cucu : “Jelaskan dong Kek! Please Kek?”

Kakek : “Dengarkan selalu kata hatimu cucuku! Setia pada kata hati. Jangan perna mengingkari kata hati.”

Cucu : “Siap, ndan! Eee. Siap, Kek. Kakek.”

Kakek : “heemmm. Dasar anak sholeh. Selalu bikin kakek gemes.”

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Artikel Dialog Imajiner Kakek dan Cucunya pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/dialog-imajiner-kakek-dan-cucunya/feed/ 0