Secangkir Kopi Pagi

Pagi, selalu punya cara sendiri untuk menyambut kita. Bagi sebagian atau bahkan banyak orang, kopi adalah bagian penting dari penyambutan itu. Secangkir kopi pagi bukan cuma soal rasa atau kafein yang bikin melek, tapi tentang kehangatan yang mulai merayapi tubuh dan pikiran. Seperti banyak motivator yang bilang, bahwasanya aktivitas atau mood pagi hari menentukan kelanjutan hidup setelahnya. Maka kopi pagi atau kopag, untuk bahasa gaul anak-anak gen Z, sangat tepat menjadi pembuka hari.

Seperti halnya matahari yang membuka lembaran hari dengan sinarnya. Menghangatkan bumi sebagai pertanda kehidupan mahkluk hidup harus dimulai, dilanjutkan lagi. Tumbuhan menyerap panas, burung-burung berkicau, manusia pergi ke ladang, ke laut, ke pasar, ke kantor, ataupun ke warung kopi. Untuk membuka warung kopi ataupun ngopi.

Semenjak kopi mulai diseduh, aromanya sudah menjalari setiap sudut ruangan jiwa maupun sudut dapur, meja makan, meja ngopi atau apapun itu, bergantung arah angin pagi itu kemana. Semerbak aroma kopi tak kalah dengan aroma bunga mawar, melati, sedap malam, ataupun aroma pacarmu (bagi yang punya dan pernah membaui). Harum, segar, menenangkan. Ada kopi, selesai sudah semua urusan, kata beberapa orang yang maniak kopi.

Saat pertama kali menyesap kopi, ada rasa hangat yang mengalir pelan, bak pelukan kecil yang bikin hati lebih tenang, damai. Aroma kopinya yang khas juga seperti alarm lembut untuk pikiran, mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Di momen-momen itu, ketenangan datang tanpa dipaksa. Pikiran yang tadinya ternginag-ngiang oleh tugas dan deadline jadi punya ruang buat bernapas. Jiwa raga menjadi lebih siap menjalani lika-liku hidup sepanjang hari.

Nah, momen minum kopi pagi ini sering banget jadi waktu refleksi tanpa disadari. Kita bisa memikirkan, merenungkan apa yang sudah terjadi, apa yang sedang ingin kita capai, atau sekadar bersyukur pernah sampai di pagi ini. Di balik kesederhanaan kopi, ada ruang untuk ngobrol sama diri sendiri, tanpa gangguan. Kecuali anda tiba-tiba dipanggil istri karena gas habis ketika memasak.

Jadi, kopi pagi itu seperti teman baik yang bukan hanya memberi energi, tapi juga mengajarkan kita buat menghargai kehangatan, menikmati ketenangan, dan menyisipkan waktu untuk refleksi dalam hidup yang kadang cepat bahkan sangat cepat laju jalannya. Apalagi kalau ditemani kepulan asap tembakau, setiap hisapan menjadikan permenungan semakin dalam, tapi tetap chill. Dengan kopi, santai, tapi penuh makna.

Tapi bagi penulis sebenarnya ada faktor lain yang sangat tidak filosofis kenapa harus ngopi setiap pagi. Yakni untuk memperlancar pencernaan, yapp! Dengan ngopi pagi perut akan lebih cepat dan lancar untuk buang air besar. Sebuah kenikmatan lain yang tidak bisa dijelaskan. Nikmat dan sehat!

Selamat ngopi semuanya…


Alif Putra Lestari. Pelajar di warkop.

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top