Minggu, sekitar jam 3 sore seperti biasa Sanggar Gubuk Sinau menenani adik-adik untuk belajar matematika. Alhamdulillah sore ini cuaca cerah, langit agak mendung tapi cahaya matahari tetap tersenyum menghangatkan. Sudah sebulan lebih kelas matematika hadir untuk adik-adik yang berminat belajar matematika. Sebenarnya kelas matematika merupakan hal baru di sanggar gubuk sinau, setelah berbulan-bulan libur menemani adik-adik belajar. Rumusan baru ini hadir dengan lebih sederhana dan tertata.
Sekitar tahun 2019, di awal berdirinya Sanggar Gubuk Sinau menemani anak anak belajar namun tidak terfokus pada satu mata pelajaran melainkan ke semua pelajaran dan malah cenderung sebagai tempat untuk mengerjakan PR di sekolah. Kondisi demikian menjadi agak ndak enak karena mengabaikan bagaimana anak-anak mengerti pelajaran. Mereka datang hanya ingin PR mereka selesai.
Sanggar Gubuk Sinau lahir dari dorongan Simpul Maiyah Jimat yang berada di Kabupaten Tuban. Sanggar Gubuk Sinau merupakan lingkaran kecil Maiyah yang berada di Desa Sumberjo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban.

Kelas matematika adalah kegiatan kecil yang kita kerjakan. Hal ini terinspirasi dari kisah sekor semut yang memadamkan api saat Nabi Ibrahim dibakar.
Dari serangkaian kesibukan para penggiat Sanggar Gubuk Sinau, kami mengambil 1 jam di tiap hari minggu untuk Istiqomah di kelas matematika. Di zaman sekarang dengan kesibukan mencari uang dan sebagainya menyisihkan waktu sedikit saja memang bulan hal yang mudah.
Merambat, mungkin kalimat yang sangat cocok untuk mewakili apa yang telah teman-teman kerjakan. Tidak muluk-muluk dengan hal hal besar atau dengan capaian- capaian besar, tapi bermanfaat meski sangat kecil dan melangkah pelan dengan sepenuh hati.
Teman-teman semua mungkin sering mendengar kata “tandang” atau “nyengkuyung”. Ibarat membangun rumah, mungkin kami hanya mampu menyumbang sebilah paku, atau sekadar membantu mengangkat satu genteng. Kecil, nyaris tak terlihat. Namun kami percaya, rumah tetap tak akan kokoh tanpa hal-hal sederhana itu.

Begitu pula kelas matematika ini. Hanya satu jam setiap Minggu. Tapi di tengah derasnya kesibukan zaman, menyisihkan waktu, menjaga konsistensi, dan tetap hadir bagi sesama adalah bentuk keberanian kecil yang tak semua orang sanggup lakukan.
Dengan Bismillah, kami memilih untuk tetap hadir. Mungkin peran ini tak besar, mungkin tak tercatat dalam laporan resmi. Tapi kami percaya, setiap peradaban besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang terus dilakukan dengan keyakinan dan cinta.
Kupret. Bapake gendhis dan penggiat Sanggar Gubuk Sinau. Bisa disapa di ig @Kupret.np.
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



