Menghargai Jejak Abadi Cita-Cita

Di desa saya, ada seorang pekerja keras. Menco, namanya. Ia adalah putra asli desa yang lahir dan besar di sini. Ketika dewasa, ia merantau ke pulau seberang, Kalimantan, untuk mengadu nasib. Menco dikenal sebagai sosok yang sangat rajin bekerja. Ia sering sekali pulang ke Jawa, berbeda dengan kebanyakan perantau yang biasanya hanya pulang saat lebaran. Entah apa pekerjaannya di Kalimantan, sampai bisa sebebas itu pulang-pergi.

Kepulangan Menco yang sering ternyata ada tujuannya. Ia sedang membangun rumah di desa. Uang hasil keringatnya di Kalimantan disulap menjadi bangunan rumah. Luar biasanya, sampai saat ini rumah itu ia kerjakan sendirian. Mungkin pada awalnya ia dibantu ketika membuat pondasi dan mengecor tiang. Namun selebihnya, hingga kini, ia kerjakan sendiri. Entah apa alasannya. Yang jelas, mungkin karena faktor biaya.

Menco mencari uang di Kalimantan, lalu ketika sudah cukup untuk membeli semen 10 sak, ia pulang. Setelah habis, ia kembali lagi ke Kalimantan. Siklus ini seakan sudah tertata rapi dan sistematis. Tetapi, yang menarik untuk dilihat adalah bagaimana Menco membangun rumahnya sendiri. Siang malam. Bahkan tengah malam pun ia masih mengaduk semen. Entah untuk menutup tembok bata, mengecor sedikit bagian, atau sekadar “melamir” sebelum tembok itu dicat.

Suatu malam saya berinisiatif untuk menengoknya. Sekitar pukul 12 malam, waktu di mana rata-rata orang sudah menikmati istirahatnya, ia masih sibuk mengaduk semen.
“Di lembur, rek,” sapa saya.
“Yoopo maneh gok, sak iso-iso ne pokok digarap terus,” jawabnya sambil menuangkan air ke adonan semen. (Gimana lagi, sebisanya saja, pokoknya terus dikerjakan.)
“Lah, terus kapan selesainya kalau sampean kerjakan sendiri?” tanya saya.
“Ora mikir unu gok. Pokok e digarap wes,” balas Menco. (Tidak mikir begitu, pokoknya dikerjakan terus.)

Jawabannya seakan menandakan ia tidak punya niatan untuk segera menyelesaikan rumah itu. Ia ingin rumah tersebut menjadi saksi nyata perjuangannya. Tidak hanya dari uang hasil jerih payahnya, tetapi juga dari tenaga dan keringat yang ia curahkan.

Suatu hari, beberapa anak kecil menjadikan rumah Menco yang belum setengah jadi itu sebagai tempat bermain. Menco lalu menyuruh anak-anak itu bermain di tempat lain. Ia bukan sombong, hanya merasa rumah itu belum selesai. Ia tidak ingin ada gangguan atau kejadian tak terduga yang bisa membuat hatinya sakit, sebab semua dikerjakan dengan tangannya sendiri.

Tindakan itu adalah wujud Menco menghargai perjuangannya. Rumah yang dibangun dengan keringatnya tidak boleh dirusak atau diotak-atik oleh orang yang tidak ikut berjuang, meskipun itu anak-anak sekalipun.

Saat saya berpamitan malam itu, Menco bertanya,
“Kuliahmu mari ta? Kuliah nang ndi? Ga melok demo ta wingi? Wes ga karuan aku ndelok nang TV karo TikTok.” (Kuliahmu sudah selesai? Kuliah di mana? Tidak ikut demo kemarin? Aku lihatnya di TV dan TikTok sudah tidak karuan.)
“Gak mikir unu sek, cak. Pokok digarap sak iso-isone,” jawab saya meniru gaya bicaranya, yang ternyata juga relevan dengan kondisi saya.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya sedikit liar. Apa yang dilakukan Menco ini kok rasanya mirip dengan situasi negara kita. “Ahh, cuma nyambung-nyambungin aja,” batin saya. Tapi setelah saya refleksikan, memang ada kesamaannya. Menco tidak ingin rumahnya dijadikan mainan anak kecil. Karena baginya rumah itu adalah hasil perjuangan. Ia yang tahu susahnya membangun pondasi, mengaduk semen, dan menata bata. Maka wajar jika ia tidak ingin ada orang lain mengotak-atik rumah itu.

Begitu juga dengan negara kita. Situasi sekarang terasa kacau karena yang berkuasa bukanlah orang yang ikut membangun pondasi awal bangsa ini. Indonesia berdiri dengan cita-cita besar yang lahir dari darah, air mata, dan perjuangan melawan penjajah. Orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan hari ini tidak ikut merasakan pahitnya perjuangan itu. Bahkan sebagian masih kecil ketika peristiwa 1998 terjadi.

Karena tidak merasakan langsung perjuangan merumuskan cita-cita bangsa, yang terjadi adalah seenaknya mengotak-atik hukum, mempolitisasi aturan, dan mengubah arah tujuan negara. Padahal, salah satu cita-cita Indonesia sudah jelas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945:
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Memajukan kesejahteraan umum.
Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Semua itu menuju pada terwujudnya rakyat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Itulah pondasi awal yang dirumuskan para founding fathers kita. Dengan tenaga, pikiran, bahkan darah mereka. Sebagai generasi penerus yang tidak ikut merasakannya, kita punya kewajiban untuk menjaga arah cita-cita itu. Andai Soekarno, Hatta, dan para perumus lain masih hidup, mungkin mereka akan marah melihat kondisi sekarang yang tidak sesuai dengan pondasi awal.

Ambil contoh “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Seharusnya pendidikan menjadi prioritas utama. Namun nyatanya cita-cita itu ternodai oleh kasus korupsi seorang menteri pendidikan. Itu terjadi karena ia tidak ikut merumuskan cita-cita tersebut. Ia hanya menafsirkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” sesuai kepentingannya.

Lalu bagaimana langkah kita sekarang? Tentu kita tidak bisa memanggil arwah para perumus bangsa untuk memberi tafsir yang benar. Yang bisa kita lakukan adalah belajar kembali, memahami kembali, dan menafsirkan ulang cita-cita bangsa sesuai dengan wewenang kita. Dengan begitu, Indonesia akan tetap berjalan menuju tujuan awal yang telah dirumuskan.

Ketika Menco meninggal, rumahnya sudah jadi. Ia hanya meninggalkan seorang anak. Anak itu memang tidak ikut berjuang membangun rumah, tapi ia punya tugas: menjaga rumah itu agar tetap utuh, tidak diubah sedikit pun, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ayahnya. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, tetapi simbol perjuangan dan nilai yang harus dijaga.

Sama halnya dengan kita, generasi yang tidak ikut merumuskan negara ini. Cita-cita bangsa sudah jadi. Tugas kita adalah menjaganya, bukan mengubah demi kepentingan pribadi apalagi sampai merugikan rakyat. Mengubahnya sama saja tidak menghargai jasa para perumus cita-cita terdahulu. Kita memang tidak ikut mendirikan, tapi kita punya kewajiban untuk menjaga.

Kita perlu menafsirkan ulang Indonesia bukan sekadar sebagai negara kaya, melainkan sebagai sebuah cita-cita, sebuah tujuan. Rumah bernama Indonesia tidak akan pernah sempurna jika cita-citanya tidak diwujudkan.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top