Dialog Imajiner Kakek dan Cucunya

Cucuku Bertanya

Aku ada Dimana?

Cucu : “Lho? Dimana saya ini Kek?”

Kakek : “Lho? Kamu sekarang ada di alam dunia Naaak.”

Cucu : “Lha, memangnya sebelumnya saya ada dimana Kek?”

Kakek : “Kamu kemarin ada di alam Rahim ibumu Nak.”

Cucu : “Kenapa saya pindah alam  dunia Kek? Bukankah  di alam rahim  ibuku, aku lebih tenang, lebih aman, lebih nyaman dan lebih terjaga? Tidak ada apapun dan siapapun yang bisa mengganguku.”

Kakek : “Kamu harus hijrah Nak. Kamu harus pindah alam Nak.”

Cucu : “Memangnya kenapa Kek? Kenapa aku harus pindah alam?”

Kakek : “Iya. Kamu akan menerima tugas suci dari Robb-mu Naak. Tugas mulia.”

Cucu : “Lho? Siapa Rabb-ku itu Kek?”

Kakek : “Rabb-mu ya yang kamu saksikan di alam rahim ibumu itu Nak. Kamu kan sudah menyaksikan-Nya. Bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengasuhmu, Maha Memeliharamu, Yang memberimu ketenangan, keamanan, kenyamanan dan Yang Maha Menjagamu.”

Cucu : “Lha? Kalau sekarang Kek? Selama saya berada di alam dunia ini? Apa Rabb-ku gak berubah?”

Kakek : “Ya tetaplah Nak. Tidak akan berubah. Robb-mu itu maha Kekal dan Maha Abadi kepengasuhan-Nya. Itulah  sebabnya, sebelum kamu terlahir ke muka bumi ini Rabb-mu menanyakan kesaksianmu. Apakah kamu benar-benar bersaksi dan menyaksikan langsung atas kepengasuhan-Nya bahwa Dia adalah Yang Maha Mengasuhmu, Yang Maha Memeliharamu, Yang Memberimu ketenangan, keamanan, kenyamanan dan Yang Maha Menjagamu.”

Cucu: “Benar Kek. Dia betanya kepadaku, minta persaksianku:

الست بربكم

“Bukankah Aku ini Rabb-mu?”

Dan dengan tegas tanpa ragu sedikitpun saya jawab:

بلى شهدنا

“Iya. Benar. Saya telah bersaksi dan menyaksikan bahwa Engkau adalah benar-benar Robb-ku”

Cucuku Bertanya

Tugas Suci Apa Keek?

Cucu : “Tugas suci itu apa sih Kek?”

Kakek : “Tugas suci itu simpel Nak. Gampang. Tidak neko-neko. Tidak mbulet. Yaitu kamu menjadi khalifatullah. Yaitu menjalani hidup sesuai dengan kehendak dan kemauan Robb-mu. Tidak menjalani hidup sekehendakmu. Gak sak karepmu dewe.

Cucu : “Lha, caranya bagaimana Kek?”

Kakek :  “gemping.”

Cucu : “Apa itu gemping Kek?”

Kakek : “Gemping itu artinya sangat gampang sekali.”

Cucu : “Jelaskan dong Kek! Please Kek?”

Kakek : “Dengarkan selalu kata hatimu cucuku! Setia pada kata hati. Jangan perna mengingkari kata hati.”

Cucu : “Siap, ndan! Eee. Siap, Kek. Kakek.”

Kakek : “heemmm. Dasar anak sholeh. Selalu bikin kakek gemes.”

 

Penulis adalah santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Effendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top