Reportase Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/reportase/ Fri, 27 Mar 2026 03:08:45 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Reportase Arsip - Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/category/reportase/ 32 32 Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/ https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/#respond Fri, 27 Mar 2026 02:44:21 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2673 BangbangWetan bulan ini hadir bertepatan dengan bulan suci yang sedang dijalani oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, seperti hari-hari biasanya, setiap orang menjalani rutinitasnya […]

Artikel Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
BangbangWetan bulan ini hadir bertepatan dengan bulan suci yang sedang dijalani oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, seperti hari-hari biasanya, setiap orang menjalani rutinitasnya masing-masing. Ada yang menikmati waktu libur di akhir pekan, ada pula yang tetap berjuang mencari penghidupan di sela-sela hari istirahat. Namun pada hari itu, kita dipertemukan oleh satu tujuan yang sama: berkumpul dalam kerinduan untuk saling berbagi ilmu dan berbagi rasa, dalam forum yang setia menemani perjalanan kita dari bulan ke bulan.

Seperti biasa, panggung telah dipersiapkan oleh para pengiat untuk menyambut jalannya acara. Tikar yang terbentang dan banner yang kembali terpasang seakan menjadi penanda kerinduan akan kehangatan yang selalu hadir dalam setiap pertemuan. Gema dari pengeras suara yang mulai terdengar perlahan menjadi isyarat bahwa kita siap memulai sebuah kegiatan yang penuh sarat makna.

Kita pun kembali ke tempat yang telah akrab bagi kebersamaan ini—tempat di mana jalinan persaudaraan disulam dari waktu ke waktu. Ditemani oleh tiang-tiang pendopo yang berdiri kokoh saling menopang satu sama lain, di Gedung Cak Durasim kita kembali berkumpul, menggelar pertemuan yang telah lama kita nantikan bersama.

Acara diawali dengan jamaah yang menunaikan shalat Isya dan tarawih bersama. Seusai itu, sekitar pukul 20.30, Mas Haris dan Mas Rangga memimpin nderes Al-Qur’an dan wirid bersama sebagai penanda bahwa forum diskusi kita segera dimulai.

Tak berselang lama, tepat pukul 20.45, moderator naik ke panggung. Ia membuka dengan salam dan menyapa para jamaah yang hadir dari berbagai kota. Dengan senyum hangat, moderator kemudian mengajak para jamaah untuk berkumpul dan merapat sebagai penanda dimulainya forum diskusi pada malam ini.

Perlahan para jamaah mendekat, duduk saling merapat, di dalam pendopo menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Senyum-senyum penuh semangat tampak di wajah para jamaah yang hadir, seolah menandai kerinduan untuk kembali duduk bersama dalam lingkaran ilmu dan kebersamaan.

Suasana kemudian memasuki sesi bershalawat bersama yang dipandu oleh grup hadrah Alhamdulillah. Dengan penuh kekhidmatan, mereka melantunkan Shalawat Asyghil dan Shalawat Tibbil Qulub. Lantunan shalawat itu menggema lembut di ruang pendopo, mengalun perlahan namun terasa menguatkan kebersamaan di antara para jamaah.

Bersama-sama melantunkan shalawat, malam itu terasa semakin hangat dan khidmat. Shalawat menjadi pembuka yang menenangkan, sekaligus mengantarkan langkah para jamaah untuk memasuki forum diskusi BangbangWetan yang kembali digelar dalam suasana penuh kebersamaan.

Pada pukul 21.02, moderator memanggil para narasumber untuk naik ke atas panggung. Gus Binnur, Mas Karim, serta Pak Yusuf dari Stand Up Indo Surabaya kemudian bergabung bersama di hadapan para jamaah. Kehadiran mereka menandai dimulainya sesi berikutnya, yaitu “Mbabar Tema,” di mana pembahasan malam itu mulai dibuka dan dibagikan kepada seluruh jamaah yang hadir.

Sesi Mbabar Tema dibuka oleh Mas Diki dengan mengawali pembahasan tentang tirakat. Ia menjelaskan bahwa dalam pengertian sederhana, tirakat bisa dimaknai sebagai bentuk “ngempet” atau menahan diri sebagai sebuah metode bertirakat. Tirakat tidak selalu hadir dalam bentuk ritual tertentu, tetapi dapat dijalani melalui berbagai metode, salah satunya melalui kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Mas Diki kemudian mengajak Pak Yusuf—yang memiliki latar belakang militer—untuk berbagi pandangan mengenai hubungan antara kedisiplinan dengan tema “Tirakat Ahsani Taqwim.”

Pak Yusuf memulai tanggapannya dengan candaan, “Masa ada TNI tirakat?” Tawa jamaah pun pecah di pendopo. Ia lalu menegaskan bahwa yang ia sampaikan malam itu hanyalah pandangan pribadinya. “Kalau menurut panjenengan benar, silakan diambil. Kalau tidak, ya silakan dibuang,” ujarnya santai.

Dokumentasi official bangbangwetan

Menurut Pak Yusuf, tirakat berakar dari rasa syukur yang lahir dari keikhlasan. Dari situlah manusia belajar memahami dirinya sebagai ciptaan terbaik, sebagaimana konsep Ahsani Taqwim. Namun manusia sering merasa tidak sempurna karena belum mampu melihat sisi kesempurnaan yang ada dalam dirinya.

Ia menyinggung persoalan gangguan kejiwaan sebagai contoh. Bisa jadi, menurutnya, di balik keadaan itu tersimpan rahmat yang tidak dipahami manusia lain. Dengan nada bercanda ia bahkan menyebut orang dengan gangguan jiwa mungkin saja masuk surga tanpa melalui hisab—candaan yang kembali memancing tawa jamaah.

Pak Yusuf juga berbagi kisah tentang perjalanan kehamilan istrinya yang beberapa kali mengalami keguguran. Saat berkonsultasi dengan dokter, ia sempat menyebut istilah “kandungan lemah”. Namun dokter menjelaskan bahwa dalam istilah medis sebenarnya tidak ada kandungan lemah—setiap kandungan pada dasarnya diciptakan sempurna.

Dari pengalaman tujuh kali kehamilan dengan berbagai ujian, Pak Yusuf menegaskan bahwa semuanya tetap dijalani dengan rasa syukur. Candaan Mas Diki tentang kemungkinan “istri kedua” pun sempat menyelingi cerita itu dan kembali mengundang tawa jamaah.

Pembicaraan kemudian kembali pada tirakat. Pak Yusuf melihat tirakat memiliki kemiripan dengan kedisiplinan yang ia pelajari di militer. Disiplin lahir dari kebiasaan kecil yang dilatih terus-menerus, seperti merapikan tempat tidur setiap pagi—hal sederhana yang melatih ketelitian dan kesiapan.

Mas Diki menambahkan bahwa tirakat bukan untuk menghindari ujian hidup, melainkan untuk memperkuat diri dalam menghadapinya. Pada akhirnya, menurut Pak Yusuf, tirakat bermuara pada kemuliaan manusia. Namun semuanya harus diawali dari rasa syukur, agar manusia tetap berada pada jalan Ahsani Taqwim dan tidak terjatuh pada Asfala Safilin.

Diskusi malam itu semakin menarik ketika Mas Karjo mengajak jamaah melihat puasa dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, laku menahan diri tidak hanya dijalani manusia, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan makhluk lain di alam.

Ia mencontohkan fenomena dormansi pada tumbuhan. Biji yang baru dipanen tidak selalu langsung tumbuh, melainkan menunggu kondisi lingkungan yang tepat. Masa menunggu itu, menurut Mas Karjo, dapat diibaratkan sebagai “puasanya” tumbuhan sebelum memulai kehidupan baru.

Contoh lain datang dari dunia hewan, seperti beruang yang menjalani hibernasi saat musim salju dengan mengurangi aktivitas dan tidak makan selama berbulan-bulan. Dengan nada ringan ia membandingkannya dengan manusia yang berpuasa dari fajar hingga magrib. Candaan tentang orang yang “puasanya sampai dzuhur saja” pun disambut tawa jamaah.

Namun Mas Karjo kemudian menekankan bahwa puasa manusia berbeda dengan makhluk lain. Hewan dan tumbuhan mengikuti mekanisme alam, sedangkan manusia berpuasa dengan kesadaran dan niat. Justru karena manusia memiliki banyak cara untuk memenuhi kebutuhannya, ia perlu belajar menahan diri.

Dokumentasi official bangbangwetan

Puasa, menurutnya, menjadi latihan untuk mengendalikan nafsu—mulai dari amarah hingga berbagai dorongan dalam diri. Ia bahkan mengajak jamaah mencoba latihan sederhana: menahan marah selama satu minggu untuk belajar mengenali dan mengendalikannya.

Mas Jembar menambahkan bahwa nafsu tidak bisa dimatikan karena ia bagian dari manusia. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikannya. Dalam latihan itulah, melalui puasa, manusia perlahan belajar memahami dirinya sendiri.

Forum kemudian beralih kepada Gus Binnur. Ia mengawali dengan mengajak jamaah berhenti sejenak untuk mendoakan saudara-saudara Muslim yang tengah menghadapi penderitaan, khususnya di Palestina dan Iran. Ia mengingatkan agar sekat-sekat seperti Sunni dan Syiah tidak menjadi penghalang rasa persaudaraan. “Al-muslimu akhul muslim,” ujarnya. Suasana forum pun hening ketika doa dipanjatkan bersama.

Memasuki tema Tirakat Ahsani Taqwim, Gus Binnur mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Menurutnya, kesempurnaan itu terletak pada keseimbangan yang dimiliki manusia. Namun anugerah tersebut tidak otomatis menjadikan manusia berada pada posisi terbaik. Tanpa tirakat, manusia justru bisa melenceng dari tujuan penciptaannya.

Ia menegaskan bahwa manusia bukan makhluk paling sempurna, melainkan makhluk yang dimuliakan. Kemuliaan itu perlu dirawat melalui laku spiritual. Secara sederhana, tirakat adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan wirid, sekaligus meninggalkan hal-hal yang dilarang-Nya.

Di antara berbagai laku tersebut, puasa menjadi tirakat yang paling nyata. Tradisi ini bahkan telah lama hidup dalam kebiasaan para leluhur melalui berbagai bentuk puasa tirakat.

Dokumentasi official bangbangwetan

Mas Diki kemudian merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa tirakat adalah latihan mengendalikan akal dan nafsu agar manusia tidak terjatuh pada derajat asfala sāfilīn. Dalam perjalanan hidup, puasa menjadi salah satu latihan sederhana yang menuntun manusia menuju kedewasaan batin.

Malam kian larut, namun suasana forum tetap hangat. Sebelum diskusi dilanjutkan, grup hadrah mengisi jeda dengan lantunan shalawat yang menggema di pendopo, menghadirkan suasana teduh bagi jamaah.

Usai shalawat, forum memasuki sesi kedua dengan kehadiran beberapa narasumber tambahan, di antaranya Mas Sabrang, Pak Zainal, Pak Suko, dan Mas Amin.

Mas Jembar sebagai moderator kembali membuka percakapan. Ia menegaskan bahwa pembahasan Tirakat Ahsani Taqwim bukan sekadar mencari definisi, melainkan menggali pemahaman tentang seperti apa manusia yang berada dalam keadaan ahsani taqwim. Setelah pengantar singkat itu, ia pun mempersilakan Pak Zainal untuk memulai sesi kedua malam itu.

Pak Zainal membuka tanggapannya dengan hamdalah dan rasa syukur karena malam itu kembali dapat berkumpul bersama jamaah Maiyah. Ia juga mendoakan agar seluruh jamaah senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.

Menurutnya, manusia telah diciptakan dalam keadaan terbaik sebagaimana disebut dalam Surat At-Tin. Namun perjalanan hiduplah yang menentukan apakah manusia mampu menjaga kemuliaan itu atau justru terjatuh pada keadaan asfala sāfilīn.

Dalam kerangka tersebut, tirakat dipahami sebagai upaya menjaga kualitas kemanusiaan. Tirakat tidak selalu berupa laku yang berat, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana—mengisi hidup dengan kegiatan yang membawa manfaat.

Mas Jembar kemudian menegaskan bahwa ahsani taqwim bukan sekadar gelar bagi manusia, melainkan amanah yang harus terus dijaga dalam perjalanan hidup.

Mas Jembar kemudian mengalihkan perhatian kepada narasumber di sampingnya. Dengan nada akrab ia mempersilakan Pak Suko untuk melanjutkan percakapan malam itu.

Pak Suko pun menyapa jamaah dengan hangat. “Sehat sedoyo, nggih?” sapanya, yang langsung dijawab serempak oleh jamaah di pendopo.

Seperti biasa, ia membuka suasana dengan sedikit humor. Ia berseloroh bahwa beberapa hari terakhir anak-anak Maiyah sering menengadah ke langit, “katanya takut kalau ada rudal dari Iran sampai ke sini.” Lalu ia menambahkan santai, “Tenang saja… Mas Sabrang datang.” Candaan itu pun langsung disambut gelak tawa jamaah.

Di sela kelakarnya, Pak Suko menyelipkan pesan yang ia kutip dari Mbah Nun: “Dadio wong sing temen.” Jadilah orang yang sungguh-sungguh—sebuah pengingat bahwa kesungguhan adalah kunci dalam menjalani hidup, termasuk dalam laku tirakat.

Mas Jembar kemudian kembali memandu forum. Ia mempersilakan Mas Amin, perwakilan tuan rumah BangbangWetan, menyampaikan tanggapan.

Setelah salam dan basmalah, Mas Amin justru membuka dengan candaan, “Karena sudah waktunya Mas Sabrang, kita pasrahkan saja ke Mas Sabrang.” Pendopo pun langsung dipenuhi tawa jamaah. Ia sempat menambahkan selipan humor bahwa teman-teman BangbangWetan sebenarnya sudah “ahsani taqwim semua”, sebelum menutup tanggapan singkatnya.

Mas Jembar kemudian mempersilakan Mas Sabrang berbicara.

Mas Sabrang membuka dengan nada santai. “Sepertinya malam ini lebih banyak yang ingin bertanya daripada yang ingin mendengar,” ujarnya, disambut tawa jamaah. Ia juga berseloroh bahwa orang-orang sudah sering melihatnya di media sosial—biasanya ketika sedang dicaci maki.

Memasuki tema tirakat ahsani taqwim, Mas Sabrang mengajak jamaah melihat kembali makna kesempurnaan manusia. Makhluk lain hidup mengikuti jalur yang telah ditentukan. Manusia berbeda. Ia diberi kemungkinan untuk membentuk dirinya sendiri.

Karena itu, kesempurnaan manusia bukan karena sudah selesai dibentuk, tetapi karena memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.

Namun kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Manusia menemukan dirinya melalui pengalaman hidup. Dari sanalah seseorang perlahan memahami siapa dirinya dan apa perannya.

Mas Sabrang mengingatkan sabda Nabi: pahala menghadirkan ketenangan, sementara dosa menimbulkan kegelisahan. Jika suara hati terus diabaikan, kompas batin manusia lama-lama bisa menjadi tumpul.

Dokumentasi official bangbangwetan

Forum kemudian memasuki sesi tanya jawab.

Penanya pertama, Mas Aji dari Sidoarjo, menyinggung paradoks tirakat. Jika tirakat dilakukan karena keinginan untuk menjadi lebih baik, bukankah itu berarti melahirkan keinginan baru?

Mas Sabrang menjawab bahwa tirakat pada dasarnya adalah kesediaan menahan sesuatu yang bisa dilakukan demi sesuatu yang seharusnya dilakukan. Keinginan sendiri tidak selalu salah. Manusia tetap memerlukan keinginan untuk hidup. Yang penting bukan menghapusnya, tetapi menatanya.

Bahkan upaya untuk menghilangkan keinginan pun sebenarnya tetap merupakan bentuk keinginan.

Penanya kedua, Mas Sulton dari Malang, bertanya bagaimana menjaga semangat ketika hidup sedang sulit.

Mas Sabrang menilai manusia sering terlalu bergantung pada mood, padahal perasaan sangat mudah berubah. Karena itu ia menyarankan membangun sistem dalam hidup—misalnya jadwal belajar, olahraga, atau kebiasaan baik lain yang dijalankan secara konsisten.

Di sinilah pentingnya istiqamah. Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, dalam jangka panjang, bisa membawa perubahan besar.

Penanya ketiga datang dari Mas Imam, jamaah asal Gresik. Dengan nada bercanda ia menyinggung posisi Mas Sabrang sebagai tenaga ahli di pemerintahan.

“Kalau begitu itu termasuk berbuka, berlebaran, atau malah mokel?” tanyanya, memancing gelak tawa jamaah.

Mas Sabrang menanggapi dengan santai. Ia mengajak jamaah melihat asumsi di balik pertanyaan itu—seolah-olah menjadi pejabat identik dengan kenikmatan atau penyimpangan.

Padahal persoalannya bukan pada posisi, melainkan bagaimana seseorang menjalaninya.

Ia mengingatkan satu prinsip yang sering disampaikan di Maiyah: tujuan itu fanatik, tetapi cara itu fleksibel. Kadang seseorang harus melewati jalan yang tidak nyaman untuk mencapai tujuan yang benar.

Mas Sabrang juga menyinggung potongan-potongan video tentang dirinya yang beredar di media sosial tanpa konteks utuh. Baginya yang penting adalah tetap jujur pada apa yang ia pahami sebagai kebenaran.

“Kalau dihujat orang se-Indonesia, monggo saja,” ujarnya santai. “Saksi hidup saya bukan persetujuan netizen, tetapi persetujuan Gusti Allah.”

Ia lalu mengajak jamaah berdamai dengan risiko terbesar dalam hidup: kematian. Jika manusia sudah menerima bahwa suatu saat ia akan mati, maka banyak ketakutan lain menjadi jauh lebih kecil.

Yang tersisa adalah satu pertanyaan sederhana: bagaimana mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan Tuhan.

Mas Sabrang juga meminta jamaah Maiyah untuk tetap mengingatkan dirinya jika suatu hari ia melenceng. “Kalau suatu saat saya terlena”, tolong ingatkan bahwa rumah saya tetap di sini—bersama dulur-dulur Maiyah.”

Pendopo pun dipenuhi tepuk tangan jamaah.

Ia kemudian menegaskan bahwa posisinya adalah tenaga ahli yang bekerja dengan data dan analisis. “Juragan saya itu data dan kenyataan,” ujarnya.

Keputusan berada di posisi itu, katanya, bukan sekadar pilihan pribadi. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.

“Saya melakukan ini bukan karena ingin,” tutupnya, “tetapi karena merasa harus melakukannya.”

Di bagian lain, Mas Sabrang menurunkan pembahasan ke hal yang lebih dekat dengan keseharian.

“Urip itu ya seperti ini. Kadang enak, kadang tidak,” ujarnya. “Kadang mengikuti keinginan, kadang menjalankan kewajiban.”

Ia memberi contoh sederhana yang langsung mengundang senyum jamaah: “Enak main gaple, tapi tetap harus berangkat kerja.”

Bukan karena ingin, tetapi karena ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Dari situ ia menegaskan, hidup tidak selalu tentang apa yang disukai. Ada saat ketika kewajiban harus didahulukan dari keinginan.

Menutup dengan nada ringan, ia menambahkan, “Kalau soal keinginan, ya saya juga ingin duduk santai di sini bersama kalian.”

Jamaah pun tersenyum—menangkap sisi manusiawi di balik pilihan hidup yang dijalani.

Suasana beralih ketika Mas Amin mengambil peran. Dengan tenang, ia mengajak jamaah menoleh pada jejak pemikiran Mbah Nun melalui tulisan berjudul “Profesor Doktor Jalan Ramai” (10 Juni 2020).

Pendopo perlahan hening. Jamaah menyimak.

“Sabrang adalah anak yang lahir di ‘jalan sunyi’ tetapi ia harus bergelut dan menguasai bahasa dan budaya ‘diskotik’ dan ‘jalan ramai’. Infrastruktur sejarah kelahiran Sabrang jelas ‘jalan sunyi’, tetapi ternyata kemudian harus memanggul tugas dan beban ‘jalan ramai’. Berkah Allah kepada Sabrang bukan kuliah di Al-Azhar Cairo kemudian jadi saingan Ustadz UAS bergelar Ustadz SMDP, melainkan menjadi ujung tombak Letto. Itu jelas ‘jalan ramai’, beda dengan KiaiKanjeng yang sunyi pol.

Sabrang adalah profesor doktor lulusan jalan sunyi yang sekarang harus menguasai bahasa dan strategi sosialisasi masa depan di arena diskotik globalisasi dan jalan ramai old maupun new normal dunia pasca Covid-19. Di Maiyah Sabrang bisa menjawab sangat banyak hal yang Bapaknya tidak bisa menjawab. Sabrang tidak hanya punya ‘kalkulator zaman’ untuk mengolah masa depan Maiyah, tapi juga hari depan Indonesia dan seluruh ummat manusia di dunia”.

Mas Amin kemudian menutup dengan celetukan ringan, “Kutukan nasab.”

Tawa jamaah pun pecah, mencairkan suasana.

Dokumentasi official bangbangwetan

Mas Sabrang melanjutkan dengan nada lebih reflektif. Ia menyinggung ungkapan yang sering ia dengar: “Enak ya jadi Letto, enak ya jadi anaknya Mbah Nun, enak ya sekolah luar negeri.”

“Iri itu tidak apa-apa,” ujarnya. “Tapi irilah juga pada prosesnya.”

Pendopo mulai hening.

Ia mengingatkan, yang terlihat sering hanya hasil. Padahal di balik itu ada proses panjang—dididik oleh ayah yang juga menjadi milik banyak orang, hingga perjalanan bermusik yang penuh latihan dan kegagalan.

“Aku ini prioritasnya bisa nomor sekian,” katanya ringan, disambut tawa jamaah.

Menurutnya, apa yang ia pahami hari ini bukan datang tiba-tiba, melainkan dari kebiasaan membaca, merenung, dan terus mengolah pikiran. Karena itu, ia mengajak jamaah tidak terpaku pada hasil, tetapi menghargai proses.

“Semua orang punya pertarungannya sendiri,” ujarnya pelan.

Ia juga mengingatkan agar tidak mudah menghakimi. Apa yang terlihat belum tentu mencerminkan keseluruhan. Realitas tidak cukup dipahami dari potongan-potongan.

Menyinggung media sosial, ia mengingatkan bahwa orang kini mudah berbicara tanpa tanggung jawab. Ia mengutip guyonan Mbah Nun tentang panggung Maiyah yang rendah—agar siapa pun siap menanggung ucapannya.

“Kalau tidak setuju, ya bisa kena sandal,” ujarnya, disambut tawa jamaah.

Pak Yusuf kemudian menimpali dengan gaya lugas.

“Hidup kok malas,” ujarnya. “Coba malas bernapas.”

Dari situ ia menegaskan: tidak ada jalan instan. Yang tampak mudah di luar sering kali menyimpan proses panjang di dalam.

Malam itu pun mengalir antara tawa dan perenungan—mengingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya soal hasil, tetapi tentang proses, tanggung jawab, dan kesadaran dalam menjalaninya.

Memasuki sesi tanya jawab kedua, suasana pendopo kembali hidup. Jamaah mulai membawa kegelisahan yang lebih personal.

Penanya pertama, Mbak Yusron dari Surabaya, mengaku sejak kecil mengenal agama lewat ritual. Namun seiring waktu, ia merasakan ada jarak menuju esensinya. Ia pun bertanya: adakah jalan untuk mendekat ke sana?

Mas Sabrang menjawab sederhana.

Menurutnya, kunci awal adalah membedakan antara menginginkan dan merindukan. Keinginan menuntut kepastian. Sementara kerinduan lebih lapang—ia ingin mendekat tanpa memaksa harus sampai.

“Kalau ingin tahu esensi, jangan hanya diinginkan. Tapi dirindukan.”

Pendopo hening.

Ia menegaskan, pemahaman bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia adalah rezeki—datang ketika seseorang siap. Informasi bisa saja sudah di depan mata, tetapi tanpa kesiapan, tetap tidak akan dipahami.

Sebaliknya, ketika sudah siap, pemahaman bisa datang dari mana saja.

Perjalanan itu pun tidak selalu lurus.

“Kadang maju, kadang mundur. Itu tidak apa-apa.”

Mas Sabrang bahkan mengaku pernah berada di titik tidak percaya kepada Tuhan. Namun baginya, itu bagian dari proses pencarian yang jujur.

“Kalau harus lewat jurang, ya dijalani.”

Namun ia mengingatkan, setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak perlu memaksakan diri jika belum siap.

Di ujung penjelasannya, ia kembali pada satu hal: kerinduan.

Ketika seseorang benar-benar merindukan, arah sebenarnya sudah ada—meski jalannya belum sepenuhnya terlihat.

“Gampangnya,” ujarnya pelan, “aku ingin ke sana, tapi belum tahu caranya. Gusti, tuntun aku.”

Pendopo kembali hening—seolah tiap jamaah diajak menengok dirinya sendiri, di antara ritual dan esensi.

Penanya berikutnya, Mbak Fitri dari Surabaya, mengangkat kegelisahan yang sangat dekat dengan realitas hari ini. Sebagai guru SD, ia melihat anak-anak tumbuh dalam arus deras media sosial.

“Seperti spons,” katanya—menyerap apa saja, terutama dari TikTok. Paparan itu perlahan membentuk cara berpikir dan bersikap.

Lalu ia bertanya: adakah langkah konkret agar anak lebih bijak bermedia sosial?

Mas Sabrang menanggapi tenang. Isu ini, menurutnya, sudah lama ia suarakan melalui pentingnya pendidikan digital.

Bukan sekadar kemampuan memakai teknologi, tetapi proses utuh: digital use, security, privacy, literacy, hingga appreciation.

Kerangkanya sudah ada. Metodologinya jelas.

Yang belum, adalah kesungguhan menerapkannya.

Pak Suko sempat menyinggung adanya regulasi pembatasan usia sebagai langkah awal. Mas Sabrang mengapresiasi, namun menegaskan: itu belum cukup.

Dokumentasi official bangbangwetan

Sebab persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan pada guru. Waktu di sekolah terbatas, sementara pengaruh terbesar justru datang dari luar.

Karena itu, ia mengajak melihatnya sebagai peluang di level sekolah.

Program literasi digital bisa menjadi bagian kurikulum—bukan hanya kebutuhan, tetapi juga nilai tambah. Jembatan antara keresahan orang tua dan arah pendidikan anak.

Dengan begitu, sekolah dan rumah tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di ujungnya, Mas Sabrang kembali pada hal paling mendasar: semua perangkatnya sudah tersedia.

Tinggal satu yang menentukan—

kemauan untuk memulai.

Penanya ketiga, Mas Rizky dari Sidoarjo, mengangkat soal bagaimana gagasan—seperti Balung Pisah—bisa hidup dan menjangkau banyak orang.

Mas Sabrang menjawab dengan menggeser cara pandang. Mengajak satu orang bergerak tentu berbeda dengan menggerakkan sepuluh, apalagi satu kampung atau satu negara. Skala mengubah metode. Dari personal menjadi sistemik.

Ia lalu menyinggung kebiasaan zaman: ramai bicara, minim gerak. Di media sosial, suara sering lebih dihargai daripada aksi. Padahal untuk menyelesaikan persoalan, yang dibutuhkan justru kontribusi nyata—bukan sekadar opini.

Dari situlah Balung Pisah diposisikan. Bukan sebagai ruang wacana, tetapi ruang temu. Tempat kegelisahan dipertemukan dengan keahlian. Data, pengalaman, dan perspektif dirajut bersama, agar melahirkan solusi yang lebih utuh.

Mas Sabrang menegaskan, dirinya bukan pusat. Ia hanya menyiapkan “irigasi”—agar berbagai aliran bisa bertemu dan mengalirkan manfaat.

Ia juga menolak menjadikannya program formal pemerintah. Baginya, ruang ini harus tumbuh dari kesadaran kolektif.

“Kalau ini memang tugas dari Gusti Allah, pasti ada jalannya.”

Di ujungnya, harapannya sederhana: setiap orang menyumbang sesuai kemampuannya—ilmu, tenaga, atau peran.

Bukan sekadar gotong royong yang dibicarakan, tapi yang benar-benar dijalankan.

Penanya terakhir, Mas Helmi dari Surabaya, membawa diskusi ke isu global: kemungkinan perang dunia dan dampaknya di Indonesia.

Mas Sabrang tidak memberi kepastian. Ia menegaskan, konflik hari ini adalah hybrid war—campuran militer, ekonomi, hingga kognitif—terlalu kompleks untuk diprediksi. Ia mengajak melihat sejarah: setiap era punya super power, tapi tak ada yang abadi. Pergeseran selalu disertai guncangan.

Menurutnya, dunia kini berada di fase transisi itu.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ia menariknya ke hal paling dasar: ketahanan hidup.

“Tanpa internet kita masih bisa hidup. Tanpa makanan?”

Dari situ ia menekankan pentingnya pangan. Dalam kondisi apa pun, produksi makanan adalah kunci. Negara perlu memberi kepastian agar petani berani memproduksi, sementara masyarakat mengawal agar perputaran ekonomi benar-benar menyentuh akar—bukan bocor ke impor atau korporasi besar.

Di ujungnya, Mas Sabrang mengingatkan soal prioritas.

Di tengah keterbatasan, yang didahulukan adalah yang menopang hidup paling banyak orang.

Dan pangan selalu ada di garis depan itu.

Sebagai penutup, Mas Sabrang mengajak jamaah kembali ke satu hal yang paling mendasar: kejernihan akal.

Menurutnya, bahaya terbesar hari ini bukan sekadar konflik atau perubahan zaman, melainkan ketumpulan cara berpikir—ketika manusia kehilangan keberanian untuk kritis, mudah percaya pada arus, dan menelan mentah-mentah apa yang tampak di permukaan. Judul-judul berita, katanya, tidak selalu berbicara tentang kebenaran, melainkan sering kali tentang perhatian.

Karena itu, menjaga kesadaran dan kejernihan berpikir menjadi ikhtiar yang tidak bisa ditawar.

Ia kemudian mengingatkan bahwa apa pun posisi manusia dalam hidup, sejatinya hanyalah peran. Sebuah “senda gurau” kehidupan, tempat setiap orang menjalankan tugasnya masing-masing. Maka, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang menang atau kalah, melainkan oleh sejauh mana manusia mau berbuat baik dalam perannya.

“Indonesia tidak akan menjadi baik,” kira-kira demikian nadanya, “jika pelakunya sendiri tidak mau menjadi baik.”

Gagasan seperti Balung Pisah, lanjutnya, juga tidak akan berarti apa-apa tanpa keterlibatan bersama. Ia menempatkan dirinya hanya sebagai satu titik kecil dalam keseluruhan gerak yang jauh lebih besar—sebuah peran yang tidak lebih penting dari peran siapa pun yang sama-sama diciptakan Tuhan.

Di situlah ia mengajak jamaah untuk menjalani hidup dengan keseimbangan: santai, tetapi tetap kritis. Menjadi manusia dalam makna yang utuh—ahsani taqwim—sebagaimana Tuhan menciptakan.

Ia mengingatkan, setiap manusia sejatinya adalah “pemenang” sejak awal—lahir dari perjuangan panjang, mengalahkan kemungkinan yang tak terhitung. Maka hidup ini adalah perjalanan masing-masing bersama Tuhan, menjalankan “kurikulum” yang sudah digariskan.

Tugasnya sederhana namun tidak ringan: menjalani dengan sungguh-sungguh, sekaligus memberi ruang agar generasi berikutnya bisa hidup lebih baik.

Di akhir, Mas Sabrang meninggalkan satu pertanyaan yang menggantung sekaligus menuntun: dalam segala arus zaman yang deras ini, apakah kita tetap menjadi manusia, atau justru larut menjadi bagian dari arus itu sendiri? Semoga Maiyah terus melatih kita menjadi manusia—bukan sekadar hadir, tetapi sadar dan utuh dalam menjalani hidup.

Mas Sabrang menutup dengan harapan yang sederhana namun dalam: kelak, ketika perjalanan ini sampai di ujungnya, saat setiap manusia dihadapkan pada pertanggungjawaban, kita mampu menjawab dengan mantap—bahwa hidup telah dijalani dengan menunaikan apa yang diperintahkan oleh Gusti Allah.

Dokumentasi official bangbangwetan

Malam pun ditutup dengan indal qiyam, ketika doa dan harap kembali dinaikkan—sebagai penanda bahwa seluruh percakapan, pada akhirnya, bermuara pada satu arah: keselamatan, hingga kelak sampai di hadapan-Nya.

Artikel Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/feed/ 0
POROS PERJALANAN         https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/ https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/#respond Sat, 10 Jan 2026 02:57:18 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2594 Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026 Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian. Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, […]

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026

Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian.

Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, mengaburkan arah cakrawala. Manusia di bawahnya kerap tak jauh berbeda. Hidup berlanjut, meski kepastian arah tak kunjung tiba.

Jama’ah datang meramaikan pendopo Taman Budaya Cak Durasim, saling bertegur sapa, duduk berdempetan, berbagi hangat dari sajian yang mereka bawa masing-masing. Kehadiran semacam ini tak selalu mudah dijumpai.

Tata Langkah 

Para Pegiat bergerak menyiapkan acara. Menggelar tikar, memasang banner, serta mengecek volume pengeras suara dan kecukupan pencahayaan menjadi bagian dari persiapan rutin.

Pukul delapan malam, nderes dilantunkan. Duo santri, Mas Wildan dan Mas Jembar, mengantarkan bacaan pembuka dengan tartil yang terjaga. Jamaah menyimak dengan khidmat.

Selepas nderes, bacaan tawasul didengungkan. Diawali dengan istighfar dan syahadat, sebelum doa dilangitkan. Sholawat dan salam pun dipanjatkan. “Allahumma sholli alaih,” seru jamaah.

Rangkaian doa dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah, ditujukan kepada Rasulullah, para nabi, para auliya’, Mbah Nun beserta keluarga besar Maiyah. Pujian dan doa dihantarkan bersama, suara jama’ah menyebar di sekeliling pendopo Cak Durasim.

Doa ditinggikan, sebelum mengisi ruang perjumpaan. Hening doa pun berganti dengan percakapan.

Moderator mengawali perbincangan dengan ucap syukur, lalu menyapa jama’ah. Jama’ah hadir dari Surabaya, Lamongan, hingga Kudus. Sejumlah jama’ah dipersilakan berbagi cerita dan kegelisahan, menghidupkan dialog sejak awal.

Mas Yusuf mengisahkan kunjungan pertamanya ke Surabaya. Ia menyebut perjalanan itu istimewa. “Saya percaya, sampai di sini karena diperjalankan Allah,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengapresiasi keguyuban Maiyah dan mengaku, ke mana pun ia bertugas dinas luar kota, kehangatan jama’ah Maiyah selalu menyambutnya.

Bagi Mas Yusuf, bahtera bukan hanya soal negara yang sedang diuji, tetapi juga diri masing-masing, tentang siapa yang memegang kemudi, dan ke mana arah hidup dijalankan.

Perbincangan berlanjut, Mas Irfa’i mengajak jama’ah membayangkan betapa rumitnya membangun bahtera Nabi Nuh,  terlebih dengan mengandalkan teknologi pada masa lampau.

Diskusi kemudian diarahkan kembali pada kisah bahtera Nabi Nuh yang dibangun atas mandat Tuhan, bukan dorongan nafsu pribadi. Ia menyandingkannya dengan bahtera negara, yang semestinya juga dirancang dan dijalankan atas amanat Ilahi, dengan tujuan utama mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan segelintir orang.

Di sisi panggung, Mas Arul tampak bersiap. Gitar warna-warni, ia bopong ke dada, kaos sederhana dan ikat kepala melengkapi kostumnya. Jari-jarinya lirih memetik senar. Lagu ciptaannya, Demi Kehidupan, mengalun khidmat.
“Bumi, air, udara, dan tumbuhan adalah sahabat kita semua. Rawat dan jagalah sepanjang masa, demi kehidupan kita…”
Siulan jamaah kompak menyertai, dududu,dudu,,

Tak berhenti pada lagu, Mas Arul diajak berbagi cerita. Senyum tipis melintas di wajahnya. Wejangan Mbah Nun tentang hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua yang kian menipis, belakangan sering terlintas di pikirannya.

Ia lalu bercerita pengalaman mendaki Gunung Penanggungan bersama anaknya. Dengan lugunya, sang anak nyeletuk, “Kenapa hutan isinya pohon semua, yah?” Mas Arul terdiam, jawabannya tertahan, kalau pohon-pohon berkurang, yang terancam bukan cuma alam, tapi juga jiwa manusia.

Kegelisahan pun meluber ke ruang lebih luas. Surabaya mungkin masih terasa aman hari ini. Namun banjir di berbagai daerah yang saling terhubung mengundang pertanyaan, sejauh mana dampaknya bisa menjalar ke Kota Pahlawan.

Mas Arul menutup dengan ajakan merawat alam, sambil mempopulerkan istilah dulkelas (dulinan keliling alas). Hemat beliau, banyak manfaat alam yang bisa dijelajahi. “Seperti tanaman jelatang yang sering ditemui di gunung, rasanya panas di kulit, tapi justru ampuh buat obat nyeri,” tuturnya.

Perwakilan jama’ah dipersilakan kembali. Cendera mata berupa buku dibagi, senyum simpul pun menghiasi.

Pelabuhan Makna

Menginjak pukul sembilan malam. Moderator merangkum sekilas gagasan yang telah disampaikan jama’ah, sebelum mempersilakan Lek Hammad, Mas Amin Tarjo, Mas Tridjoyo, dan Gus Binnur memantik ruang diskusi. Lagu perjalanan hidup manusia, menemani langkah kehadiran mereka.

Mas Tridjoyo membuka perbincangan. Beliau memulai dari fondasi wahyu, bahwa perintah membangun bahtera merupakan mandat Ilahi yang tidak lahir dari kehendak pribadi, melainkan dari kehendak Tuhan untuk menjaga kehidupan. Sesekali tangannya terangkat, memberi penekanan.

Menyambung kisah bahtera, Mas Tridjoyo menegaskan makna istiqamah. Ia mengutip hadis tentang umat yang kelak berjumlah besar, namun laksana buih di lautan—banyak, tetapi mudah terombang-ambing dan kehilangan arah. Jama’ah mengangguk pelan.

Ia kemudian mengajak jama’ah menoleh pada rujukan Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 14, yang menggambarkan kecenderungan manusia pada kesenangan duniawi; pasangan, anak-anak, harta yang menumpuk, serta kenikmatan hidup lainnya. “Di titik inilah,” ujarnya sambil menatap jama’ah, “istiqamah diuji.”

Rujukan selanjutnya diarahkan pada Surah Hud ayat 29, “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu sebagai upah. Upahku hanyalah dari Allah…” sebuah pernyataan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang dakwah yang tidak berorientasi pada kepentingan materi.

Teladan Nabi Nuh kemudian disandingkan dengan sosok Mbah Nun, yang sejatinya memiliki banyak peluang untuk hidup bergelimang harta dan menaikkan status sosialnya, namun memilih jalan lain. Ia menjaga keteguhan dalam mengajak cinta kepada Allah dan kebenaran, tetap berjalan meski ditengah banyaknya godaan; sebuah kepemimpinan yang mengupayakan kemaslahatan tanpa menunggu balasan. “Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ada manfaatnya,” tutup Mas Tridjoyo.

Mas Amin menimpali dengan nada gumun. “Coba bayangno rek,” ujarnya sambil tersenyum, “disuruh bikin kapal, lah airnya saja belum kelihatan. Itu kalau gak kekuatan iman dan keteguhan akan rahmat dan pertolongan Allah, mustahil terwujud.” Jama’ah pun terkekeh.

Dari peristiwa besar, pertolongan Allah kerap hadir dalam keseharian. Motor mogok saat banjir ada yang menolong, hidup lagi capek-capeknya tiba-tiba disapa orang yang menguatkan. Mas Amin berhenti bicara sejenak, nadanya sedikit melunak. Beliau berbagi kisahnya saat berada di titik ingin menyerah, tenaga menipis, pikiran buntu, dan keberlanjutan rutinan Bangbang Wetan terasa berat untuk dilanjutkan.

Namun, di saat-saat seperti itu, pertolongan datang dengan cara yang tak disangka. Ia disapa jama’ah di tempat umum, ditanya kapan rutinan kembali digelar, disemangati dengan kalimat sederhana yang justru menegakkan langkah. “Di situ saya sadar,” ujarnya ringan, “kalau ini bukan urusan saya sendiri, melainkan urusan kemaslahatan bersama.” Senyum beliau pun mengembang, disambut celetukan jama’ah yang turut menguatkan.

Moderator kembali menegaskan makna pertolongan Allah dalam segala kondisi. Dengan nada spontan, ia melempar pertanyaan ke jama’ah, “Apakah sudah berputus asa melihat kondisi negara saat ini? “Putus asa!” jawab jama’ah serempak. Tawa pun pecah membahana.

Celetukan jama’ah segera ditimpali dengan senyum, “Tidak apa-apa putus asa pada kondisi negara, asal jangan pernah putus asa pada pertolongan Allah SWT.” Jama’ah mengamini dengan penuh kelegaan, Aamiin Allahumma Aamiin.

Suasana pun bergeser, ruang diskusi membuka lapisan berikutnya. Gus Binnur maju, sosok yang tak asing bagi sebagian jama’ah lama Bangbang Wetan, rutin mengikuti forum ini sekitar 2015-an. Ia menyapa jama’ah dengan bahasa Jowoan. “Sehat rek?” tanyanya. “Sehat,” sahut jama’ah. “Indonesia sehat?” lanjutnya. “Dianggap sehat”, disambut tawa kecil.

Ia lalu bercerita soal undangan sinau bareng yang diterimanya beberapa hari sebelumnya, sebelum masuk ke kisah dakwah Nabi Nuh. “Iki Nabi luar biasa,” ujarnya, “ngajak-ngajak kebaikan iso nganti 950 tahun.” Jama’ah manggut-manggut.

Gus Binnur mengajak jama’ah membayangkan posisi Nabi Nuh. “Coba sekarang,” katanya sambil tersenyum, “onok wong ngaku nabi neng kampung panjenengan, kira-kira dipercaya apa malah diuncali sandal?” Jama’ah tertawa.

“Nah, di situlah beratnya,” lanjutnya. Perintah Tuhan, lanjutnya, tidak selalu datang bersama karpet merah. Justru ujian kerap menyertai ketaatan.

Gus Binnur kemudian menurunkan kisah itu menjadi hikmah. Maiyah, tegasnya, tidak diukur dari banyaknya jama’ah yang hadir, melainkan dari kesetiaan untuk terus berjalan. Dalam sejumlah riwayat, pengikut Nabi Nuh disebut hanya sekitar delapan puluh orang. Bukti bahwa kebenaran bisa tumbuh dalam lingkaran kecil yang terjaga, bukan dalam kerumunan besar yang rapuh.

Bahtera Nabi Nuh, lanjutnya, bukan sekadar alat penyelamat dari banjir, melainkan ruang aman untuk merawat kehidupan. Di sanalah kesabaran diuji, dari bagaimana manusia belajar berbagi ruang, hewan dijaga keberlangsungannya, dan sumber daya diolah secukupnya selama perjalanan panjang mengarungi bahtera.

Maiyah Bangbang Wetan pun demikian, bahtera sederhana yang diupayakan tetap berlayar dengan niat lurus. Selama arah dijaga dan langkah ditata, jumlah bukan perkara utama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di dalamnya, manusia tidak saling menenggelamkan, dan perjalanan tetap menghadirkan makna. “Makna telah menjelma barang mahal dewasa ini”, tegas Gus Binnur.

Gus Binnur menutup dengan refleksi kepemimpinan Setiap orang, tegasnya, adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam ruang sosial, memilih pemimpin adalah keniscayaan; namun menilai nurani menjadi perkara sulit jika pilihan masih dituntun oleh nafsu.

Dengan sedikit berkelakar, mengajak jama’ah pada laku maritim: mari ikuti Muhammad SAW. Meneladani Rasul berarti berpasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahului istikharah, lalu berikhtiar sekuat tenaga. Menghindari keburukan sebisanya, dan bila harus memilih di antara keterbatasan, memilih yang paling mungkin meneruskan hikmah kebaikan.

Lagu kembali mengisi ruang. Sajak Padhang Mbulan karya Mbah Nun dilantunkan—sebuah permintaan yang datang tepat sebelum acara dimulai.
Cahaya kasih sayang menaburi malam. Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan. Alam raya, cakrawala, sedang bersembahyang… Ouuoo…

Muara Keberagaman

Makna mengendap perlahan. Pandangan beralih pada Lek Hammad. Beliau mengapresiasi kekayaan makna gagasan yang telah hadir; dari Gus, ustadz, hingga seniman. Beragam latar itu, menurutnya, semakin memperkaya ruang perjumpaan, tempat makna tumbuh dari banyak arah.

Kisah Nabi Nuh kembali diulas dengan lontaran pertanyaan, “Apa alasan besar kisah Nabi Nuh diceritakan dalam Al-Qur’an? Pasti ada hikmah besar terkandung di dalamnya,” ujar Lek Hammad.

Suara Lek Hammad menurun pelan, dengan pitutur ngemong , “kalau bahtera itu kita ibaratkan negara, jangan buru-buru tanya kapalnya mau ke mana. Sing luwih penting, Gusti Allah iki isih diajak bareng apa ora.”

Pelajaran pertama, ma’a, menjalin kebersamaan dengan Allah. Kalau sejak awal perjalanan tidak bareng Gusti Allah, arah bisa salah, keputusan bisa tergelincir. Maka jangan heran kalau orang bisa duduk berdekatan, tapi hatinya ke mana-mana. Di kapal yang sama, belum tentu tujuannya sama.

Pelajaran lain bermunculan. Mengapa makhluk hidup diselamatkan berpasang-pasangan, jantan dan betina? “Lha iki tandane,” katanya lirih, “urip iku ora mung kanggo saiki.” Ada tanggung jawab pada kelanjutan generasi.

Kemudian ia menyentuh bentuk bahtera yang berlapis-lapis. “Ora kabeh disimpen sak panggonan,” begitu kira-kira pesannya. Setiap lapisan punya fungsi. Dari situ ia menuntun pada pelajaran ketiga, yaitu, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saat bicara soal pemimpin, nada pitutur itu makin pelan. Lek Hammad mengutip wejangan Mbah Nun tentang pemimpin yang takut kelaparan. “Yen pemimpine wae wedi ora mangan,” ujarnya halus, “awakmu arep nitipke uripmu nang sopo?” Maka jangan hanya menggantungkan harapan di luar. Sing paling aman, kata Lek Hammad, bangun bahteramu sendiri dulu, di dalam hati. Nurani dijaga, keadilan ditimbang, kebajikan dilakoni setahap demi setahap.

Suara Bahtera

Sesi tanya jawab pun dibuka.
Mas Robbi angkat tangan lebih dulu. “Kalau saya menangkapnya,” ujarnya, “Nabi Nuh itu pemimpin visioner. Bayangkan—disuruh membangun bahtera di tengah padang pasir.” Jama’ah mengangguk. “Secara nalar saja sudah aneh,” lanjutnya sambil tersenyum, “tapi justru di situ ketaatan dan keistiqamahan diuji.”
Moderator menimpali ringan, “Ibarat disuruh beli payung pas matahari terik, ya?” Tawa kecil menyambut.

Mas Sangrila kemudian masuk dengan rentetan pertanyaan. “Saya ingin menariknya ke first principles thinking,” katanya, “istilah yang dipopulerkan Elon Musk, juga pernah disinggung Mas Sabrang.” Ia berhenti sejenak, menatap jama’ah. “Kenapa Nabi Nuh yang dipilih, bukan nabi lain, pada titik kehancuran total peradaban?”
Beberapa jama’ah saling pandang. Mas Adi melanjutkan, “Lalu pertanyaan yang lebih dekat, Indonesia hari ini, apa memungkinkan diselamatkan?” Suasana hening sesaat.
“Menurut saya,” sambungnya, “tujuan agama bukan semata menyelamatkan manusia, tapi menjaga kebenaran. Dan kebenaran tidak selalu mau berkompromi dengan mayoritas.” Ia menyinggung bencana yang datang silih berganti. “Pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar mengubah kita? Waktu adalah alat uji yang objektif, atau jangan-jangan kita masih merasa waktunya belum cukup?”

Ia menutup dengan lugasnya. “Kegagalan Nabi Nuh dalam mengasuh anaknya bukan aib,” katanya. “Itu kejujuran sistem, bahwa ikhtiar manusia ada batasnya.” Jama’ah mengangguk pelan.

Mas Tridjoyo menyahut. “Apa pun yang terjadi,” katanya, “asal kesadarannya bukan slamet dewe, tapi slamet bareng-bareng, fondasinya satu, yaitu cinta.”
Ia tersenyum, “Semua nabi merawat umatnya dengan cinta. Ngurus tumbuhan, hewan, apalagi manusia—tanpa cinta, yo angel.” Jama’ah terkekeh.
“Allah tidak menghukum nabi karena pengikutnya sedikit,” lanjutnya, “yang diperingatkan itu kalau putus asa dari pertolongan-Nya. Nah, di situ pelajarannya.”

Moderator menambahkan, “Bahtera Nabi Nuh juga tidak berlayar di air tenang.”
Mas Tridjoyo mengangguk. “Iya, terombang-ambing. Seperti perasaan banyak orang hari ini berada di bahtera negara, antara harapan dan kebobrokan.” Ia menunduk sejenak. “Doanya sederhana: Robbi anzilni—Ya Allah, turunkan kami di tempat yang selamat.”
“Kalau nabi saja diuji sedemikian rupa,” sahut moderator, “apalagi kita.” Tawa kecil kembali terdengar.

Lagu mengalun, menenangkan permenungan.
“Nak, janganlah seperti Bapak yang susah mewujudkan mimpinya. Jagalah cinta, sebarkan dengan nurani—jiwa yang meneduhkan semesta.”

Usai lagu, Gus Binnur angkat bicara. “Masalah kita sekarang ini,” katanya, “degradasi ketuhanan jalan bareng degradasi moral.”
Ia menatap jama’ah. “Maiyah itu majelis kemurnian. Bukan kanggo kepentingan pribadi.”

“Majelis seperti ini,” lanjutnya, “dinikmati wae. Mikir bareng, rembugan bareng, sinau bareng.”
Ia lalu menyinggung sejarah Maiyah, dari Balai Pemuda hingga berbagai ruang lain. “Isine macem-macem. Tujuane siji, mung golek manfaat.”
“Kalau Mbah Nun membangun Maiyah dengan segitiga cinta—Allah, Rasul, dan sesama makhluk—insyaAllah langgeng.”

Menjelang penutup, Gus Binnur menurunkan suaranya. “Bahtera Nuh itu perjalanan spiritual masing-masing.”
Pertanyaannya sederhana, “Allah wis diajak durung saben langkah? Rasul wis dijadikan teladan durung? Sinau bareng boleh ngalor-ngidul,” ia tersenyum, “tapi muarane yo ilmu.”

Setiap ilmu yang diserap dan setiap laku yang ditempuh tidak pernah sia-sia. Ia terus berjalan, diuji oleh waktu, hingga akhirnya menemukan muara manfaatnya, sering kali tidak segera, namun selalu tepat saat dibutuhkan.

Catatan Arah

Gus Binnur menutup dengan pitutur. “Jangan cepat puas pada satu sumber. Tetep luwe ilmu.”
“Hidup ojo mandek,” katanya. “Ngono wae, pelan-pelan. Kita benahi bareng, nganggo andhap asor lan tawakal.” Diikuti anggukan dan senyum jama’ah.

Dengan luwes, Lek Hammad menyelipkan celetukan dalam wejangan.
Ndasku mumet, ndasmu piye… yo ojo saling nambah mumet…

Beliau membiarkan air menjadi pengajar kehidupan. Air mengajarkan cara berjalan dalam hidup. Ia mengalir tanpa banyak bicara, namun selalu sampai. Ia tahu kapan harus lembut, kapan mencari celah, dan kapan menggenang untuk memberi kehidupan. Air tidak memilih wadah, tidak menuntut bentuk. Ia menerima lalu menyesuaikan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai air.

Karena itu, jadilah penikmat sekaligus bos bagi diri sendiri, seperti air yang menyegarkan namun tahu arah alirannya. Ma’a, kebersamaan dengan Allah, dijalani dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun secara terus-menerus, sesuai kemampuan. Air tidak memaksa menjadi sungai besar, ia setia pada tetesannya. Setiap orang pun memiliki takaran masing-masing; tenaga, ilmu, waktu, atau apa pun yang dapat menghidupkan sekitar.

Air memberi tanpa menghitung siapa yang akan membalas. Ia menyirami tanah, menguatkan akar, dan tetap mengalir meski tak pernah disebut namanya. “Memelihara segala sesuatu tanpa menuntut balasan, itulah hakikat kebajikan. Seperti air, cukup setia mengalir, dan biarkan kehidupan yang tumbuh menjawabnya,” pungkas Lek Hammad.

Indal qiyam dikumandangkan, menandai kepulangan. Langkah kaki jama’ah terseret, sebagian masih menikmati rembulan. Semuanya berjalan, masing-masing ke arah yang mereka yakini.


Redaksi Maiyah Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/feed/ 0
Agen Perubahan https://bangbangwetan.org/agen-perubahan/ https://bangbangwetan.org/agen-perubahan/#respond Thu, 18 Dec 2025 15:31:47 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2553 Reportase Bangbang Wetan Bulan Desember 2025 —Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.Kalimat agung mengenai penciptaan, melintasi dimensi ruang-waktu, sebelum akhirnya jatuh ke pangkuan makhluk bernama manusia. Manusia, makhluk yang diliputi kecemasan […]

Artikel Agen Perubahan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase Bangbang Wetan Bulan Desember 2025

Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.
Kalimat agung mengenai penciptaan, melintasi dimensi ruang-waktu, sebelum akhirnya jatuh ke pangkuan makhluk bernama manusia.

Manusia, makhluk yang diliputi kecemasan dalam hampir setiap aspek kehidupannya, harus menanggung mandat sedemikian besar. Bagi makhluk sekecil itu, apa yang mungkin ia rawat dalam gelaran semesta dan jajarannya?

Di aula gedung tua Pos Bloc, dalam derasnya hujan yang mengguyur kota Surabaya. Manusia-manusia kecil itu tetap memilih datang, berkumpul dalam simpul Maiyah Bangbang Wetan. Tentu ada keterpautan yang terjalin diantara mereka, semacam percikan kesadaran yang membuat mereka terlibat dalam skenario besar penciptaan. Lakon pun dimulai.

Kearifan Lokal

Pukul setengah delapan malam, nderes dimulai. Surah Al-Fatihah dan bacaan Tahlil mengalir di sela rintik hujan, dibumbui aroma tanah basah. Doa dan sholawat  dipanjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ, para auliya’, sesepuh dan keluarga Besar Maiyah.

Moderator menyapa jamaah dan memberi pemaparan singkat tentang tema rutinan Maiyah Bangbang Wetan edisi Desember, —Lakon Khalifah.

Dengan meminjam konsep empat tahapan manusia dari Mbah Nun, moderator merinci setiap tahapan. Tahap pertama adalah makhluk, ketika manusia belum memiliki kesadaran atas dirinya. Tahap kedua, insan, makhluk yang diberi akal dan mulai memakai nalar serta hati untuk menimbang tindakan. Tahap ketiga, Abdullah, manusia yang sadar posisinya sebagai hamba dan menggunakan akal serta hatinya untuk mengabdi kepada Allah. Tahap keempat adalah Khalifah Allah, ketika manusia menyadari dirinya diturunkan ke bumi untuk memaksimalkan potensi sumber daya demi merawat kehidupan.

Penjelasan disampaikan dengan cukup gamblang, diikuti anggukan jamaah. Pak Darmaji dan Mas Probo turut bergabung meramaikan forum.

Mas Probo hadir dengan konsep hablum minallah dan hablum minannas, dengan modifikasi tambahan berupa hablum minal ‘alam. Kesadaran bahwa hidup berjalan beriringan dengan Sang Pencipta, manusia lain, serta alam.

Sebelum masuk pada diskusi yang lebih intens, grup musik Suar Marabahaya menampilkan lagu ciptannya sendiri berjudul ‘Onok Zaman’. Suara serak Mas Joshua dan backing vokal Mas Indra berpadu groove latin. Dilanjutkan “Hio”, karya Sawung Jabo, dengan hentakan beat cepat, sebelum ditutup dengan pekik “Hio… Hio… Hio” menggema di aula.

Diskusi berlanjut. Pak Darmaji yang sempat absen karena faktor kesehatan, Alhamdulillah bisa kembali menemani lingkar sederhana ini. Beliau meminta ijin tidak bisa menemani sampai forum berakhir, sembari mengapresiasi penampilan musik barusan.

Dalam pandangan beliau, manusia semestinya menjadi “wong sing bisa nguwongke uwong”, dalam arti mampu memahami karakter orang lain dan memperlakukannya sebagai manusia. Ia mengingatkan prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Bahwa di posisi apa pun, depan-tengah-belakang sekalipun, manusia tetap dituntut memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Jamaah dipersilakan memberi tanggapan. Mas Fikri menyoroti bagaimana masyarakat Jawa dulu menjaga harmoni dengan alam, misalnya lewat tradisi sedekah bumi sebagai bentuk syukur.

Mas Probo langsung menanggapi, dengan gestur nonverbal khas dosen. Beliau mengulas peradaban Jawa yang sarat kosmologi dan mistifikasi—warisan dari dinamisme dan animisme. Pada masa itu, alam tidak semata dipandang sebagai objek yang bebas dikeruk, melainkan sebagai warisan untuk generasi sesudahnya. Ia berulangkali menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari kearifan lokal yang begitu menghargai alam.

Pencipta Kecil

Memasuki pukul sembilan malam, Mas Sabrang & Mas Amin Tarjo tiba di aula Pos Bloc, setelah ditemani hujan deras di sepanjang perjalanan. Pegiat menyambut dan mempersilakan keduanya untuk rehat sejenak di area transit.

Selang beberapa waktu, giliran Mas Amin menyapa jamaah. Senyumnya mengembang, Mas Amin mengungkap syukur atas kehadiran seluruh jamaah. Ia mengajak jamaah tidak buru-buru memaknai kata khalifah. Secara bahasa, khalifah bisa berarti “pemimpin” maupun “penerus”.

Dari situ, ia masuk ke persoalan yang lebih luas. Banyak istilah dalam tradisi keilmuan kita, menurut Mas Amin, mengalami penyempitan makna. Ia mencontohkan kata ‘alim, yang kini sering dipahami hanya sebagai orang berilmu agama. Padahal, dalam makna asalnya, ‘alim adalah siapa saja yang berilmu, orang yang cakap dan mendalam dalam bidangnya masing-masing.

Penyempitan makna semacam ini, ujarnya sambil sesekali berkelakar, tanpa sadar kita seperti memberi sekat pada “ilmu agama” di satu sisi, dan “ilmu selain agama” di sisi lain. Karena itu, Mas Amin mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pemaknaan teks secara harfiah, tetapi berani menyelami lebih dalam makna di balik kata-kata.

Mas Probo menguatkan pernyataan tersebut. Ia menilai telah terjadi “pengerdilan” pada kata khalifah, termasuk ketika amanah hanya dipandang sebagai beban moral, bukan ruang tumbuh dan tanggung jawab.

Diskusi berpindah dari pandangan satu ke pandangan lain. Mas Sabrang tampak menyimak dari area transit. Sesaat kemudian, beliau turut bergabung dalam forum.

Mas Sabrang memberi urun rembug, dengan menanyakan batas ruang diskusi. Ia melontarkan pertanyaan ke jamaah, sejauh mana pembahasan tentang khalifah ingin dibahas? Sebab kata ini memiliki banyak dimensi, dan masing-masing membuka pintu pemahaman yang berbeda.

Ia mulai dari makna penerus atau representatif. Jika manusia adalah penerus, maka apa yang harus diteruskan? Apakah ada makhluk sebelumnya? Dan apa sebenarnya mandat dari Gusti Allah yang diwariskan kepada manusia?

Mas Sabrang mengajukan konsep hubungan Creator dan co-creator. Manusia mampu membuat konsep atau aturan yang kemudian dipatuhi sesamanya. Tuhan dengan segala ke-Maha Agung-an membuat hukum sunnatullah yang dipatuhi seluruh alam. Jika manusia ingin menjadi penerus, maka posisinya sebagai co-creator, semacam rekan atau asisten pencipta.

Ia mencontohkan pembuatan kursi. Manusia tidak menciptakan kayu atau lem, tetapi menyusun bahan-bahan itu menjadi bentuk baru. Namun kualitas kursi itu tergantung apakah manusia meneruskan hikmah Tuhan atau tidak. “Kalau pakai kayu randu yang bersifat lapuk, sehingga membuat kursi yang kamu cipta tidak mampu menopang beban yang duduk di atasnya, berarti kamu belum meneruskan hikmah ilmu dari Tuhan,” ujarnya sambil tersenyum.

Khalifah, lanjutnya, berarti manusia membuat hukum di antara sesama manusia dan memastikan bahwa hukum itu merupakan perpanjangan dari hikmah yang telah Tuhan berikan. Al-Qur’an adalah salah satu bentuk ekstensi hikmah tersebut, penyaring dari jutaan hukum alam yang tersebar di semesta. “Alam itu jujur, apa adanya. Dalih dari hukum alam sudah tersaji dalam Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut beliau, manusia mengalami hukum Tuhan, sekaligus diharapkan menjadi co-creator atas hukum itu.

Mas Amin berkelakar, menantang jamaah untuk meresume hikmah Mas Sabrang barusan. Mas Rendy dengan sigap mengambil mic di depan, menjawab challenge yang diberi. Bahwa Tuhan sebagai creator dan manusia sebagai co-creator dengan Al-Qur’an sebagai pedoman.

Mas Sabrang menjawab singkat, “Benar. Sudah tepat,” dengan isyarat dua jempol ke atas. Jamaah tertawa kecil menyimak tingkah mas-mas di atas panggung.

Lab Kehidupan

Penampilan suar marabahaya mencipta jeda permenungan. Grup Suar memindahkan instrumen ke area bawah untuk menghormati narasumber yang duduk di depan. Mereka membuka dengan “Senja Terakhir”, karya Suar Marabahaya sendiri.

Apakah esok terulang kembali… apabila esok tak kudapat… biarlah ini menjadi senja terakhir…

Petikan gitar dan alunan piano bersahut mesra, disusul pembacaan puisi. Mas Indra, dengan dandanan khas topi besar dan syal merah darah, mengeluarkan buku catatan kecil berisi puisi tentang kehilangan dan harapan. Suasana menjadi riuh.

Lagu berikutnya adalah “Sandaran Hati” karya Letto. Intro ikoniknya mengalun lembut. Diikuti suara Mas Sabrang berdendang merdu, membuat jamaah terdiam membisu.

Aku dan napasku, merindukanmu…
Jika Kaulah sandaran hati.. sandaran hati… Ouoo

Pandangan Mas Sabrang menyusuri barisan jamaah, layaknya mempertontonkan permenungan panjang. Saat bagian akhir lagu mendekat, Mas Joshua menambahkan suara dua yang membuat penonton semakin larut. Tepuk tangan panjang menutup penampilan.

Sesi respon jamaah kemudian dibuka.
Mas Ilham mengangkat tangan lebih dulu. “Mas, tiap manusia punya pemaknaan yang berbeda tentang Tuhan. Kalau begitu, apakah ada parameter yang lebih gamblang untuk memahami posisi manusia sebagai khalifah? Apa standar kebenaran agar kita yakin benar-benar meneruskan hikmah Tuhan?”

Disusul Mbak Fitri. “Saya mohon doa dan restu untuk kelancaran studi ke luar negeri,” katanya, lalu menoleh ke jamaah. “Sekalian ingin menyemangati teman-teman agar berani mengejar mimpi. Saya juga ingin bertanya: di mana batas antara hukum yang harus diteruskan, dan hukum yang perlu diperbarui?”

Mas Sabrang menanggapi dengan penuh semangat. “Kita ini sering sekali terobsesi dengan benar dan salah,” ujarnya. “Padahal klaim benar-salah tidak selalu melahirkan ukuran yang objektif. Bahkan dengan diri sendiri, manusia sering tidak sinkron. Kamu ingin lulus kuliah, tapi malas sinau, katanya sambil tersenyum. Mas Ilham pun tersipu.

“Secara teoritis, benar-salah tetap memiliki derajatnya. Namun dalam kehidupan, manfaat kerap menjadi ukuran paling praktis menilai sebuah tindakan”, lanjut beliau.

Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan, yang mungkin dilakukan hanyalah memaksimalkan ikhtiar, lalu mengakui keterbatasan diri. Sikap ini selaras dengan bacaan surah Al-Fatihah, permohonan untuk diarahkan ke jalan yang lurus “Gusti, maksimalku segini,” ujarnya dengan hela napas panjang.

Mas Sabrang merapatkan kedua tangan, sebelum melanjutkan pemaparan. Lebih jauh, kebenaran normatif tidak selalu bermuara pada satu bentuk hasil praktis. Keseimbangan di padang pasir tentu berbeda dengan keseimbangan di wilayah tropis. Masing-masing ditentukan oleh variabel ekologis, iklim, dan struktur sosial yang berbeda. Karena itu, sistem yang layak bagi manusia semestinya bersifat kontekstual dan adaptif, selaras dengan lingkungan tempat ia diterapkan.

“Di titik ini,” lanjutnya, “peradaban-peradaban lampau bisa kita baca sebagai laboratorium historis.”
Cara mereka mengelola relasi manusia dan alam bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan dipahami prinsip dasarnya.

Rahim Penciptaan

Pandangan Mas Sabrang melingkari jamaah. Kuncinya terletak pada kesediaan manusia untuk mengalami hukum Tuhan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Dalam perspektif filsafat Islam, hukum Tuhan (sunnatullah) bekerja secara konsisten melalui relasi sebab–akibat di alam semesta. Namun akal manusia kerap memelintir realitas, menghindari konsekuensi, menawar hukum, atau mencari jalan pintas yang memutus rantai kausalitas yang jelas.

Sebagai hamba, manusia belajar menerima dan memahami sebab–akibat, ia tunduk pada hukum yang telah ditetapkan. Sebagai salik, penempuh jalan pencarian kebenaran, manusia tidak berhenti pada kepatuhan, tetapi berusaha merumuskan relasi sebab–akibat itu secara sadar dan reflektif. Pada tahap ini, akal bekerja bukan untuk menyangkal hukum, melainkan untuk membacanya.

Sementara sebagai khalifah, manusia melangkah lebih jauh. Tidak sekedar memahami, tetapi ikut mendesain sebab–akibat dalam batas-batas amanah ilahiah. Artinya, manusia menggunakan pengetahuan dan rasionalitas untuk menyusun sistem, mengatur lingkungan, dan mengarahkan proses agar menghasilkan dampak tertentu. “Jika sebabnya begini,” jelasnya, “maka desainlah sedemikian rupa agar output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan kemaslahatan.” Jamaah tampak menopang dagu, mencoba mengolah hikmah barusan.

Suasana terdiam sejenak, sampai Mas Rudi berkelakar meniru adegan kanal YouTube Mas Sabrang—“Mas, Mas, Mas… Bagaimana bersikap ketika menyukai karya seseorang, yang secara personal memiliki perilaku kurang baik? Jamaah pun terbahak…

Menanggapi celetukan Mas Rudi, Mas Sabrang tersenyum simpul. Kadang sikap menghujat orang lain lahir dari iri hati. Dengan canda, beliau menyampaikan bahwa karya harus dipisahkan dari personal pembuatnya. Moral seseorang memang memberi pengaruh, tetapi tidak serta-merta menghapus sisi positifnya. Yang paling bijak adalah memberi batas, tidak mudah menghakimi, dan mendoakan agar kesalahan orang lain diterima taubatnya.

Mas Amin menutup sesi dengan permenungan. Ia mengajak jamaah menyadari, bahwa ketidaksinkronan dalam diri manusia bukanlah tanda kegagalan beriman, melainkan bagian dari proses menjadi. Menjadi hamba yang belajar tunduk, menjadi salik yang terus membaca sebab–akibat, dan menjadi khalifah yang bertanggung jawab atas desain tindakannya sendiri.

Diskusi hampir memasuki sesi akhir.  Suar Marabahaya kembali mengalun, membawakan lagu “Seperti Rahim Ibu” karya Efek Rumah Kaca.
Seandainya negeriku seperti rahim ibu, merawat kehidupan, menguatkan yang rapuh…

Mas Indra memberi puisi tentang rahim kehidupan. Lagu berikutnya adalah “Kamisan”, menyinggung ingatan kolektif tentang kasus hak asasi manusia yang pernah membayangi negeri.

Nada semakin naik ke puncak suara, berebut dengan hentakan musik yang semakin kencang. Jamaah tertegun pada suatu kesadaran yang mengental di titik tengah panggung. Jeritan vokal, dentuman puisi, dan bunyi gitar-piano berpadu menjadi luapan energi yang membuncah.

Tampaknya jamaah belum rela melepas kepergian Suar Marabahaya. Mereka meminta satu lagu tambahan. Suar pun membawakan “Bongkar” karya Iwan Fals, memuncaki semangat malam itu.

Jamaah bernyanyi lantang, sebagian mengabadikan momen dengan gawai.
Oo yaoo ya bongkar… diteriakkan bersama. Tepuk tangan membanjiri aula.

Energi Perubahan

Penampilan musik tadi memberi energi baru di ruang diskusi. Sesi tanya jawab pun dilanjutkan.

Mas Faisal memulai. “Kalau mengurus keluarga kecil saja sudah penuh konsekuensi,” katanya, “bagaimana rasanya memikul tanggung jawab yang meluas—keluarga besar, kabupaten, bahkan negara?”

Mas Arif menyusul dengan sudut lain. “Istilah golden age Indonesia sering kita dengar. Tapi bagaimana peluang itu dibaca dalam kaitannya dengan perubahan iklim yang kini jadi isu global?”

Mas Helmi mengangkat pertanyaan yang lebih personal. “Apa bedanya intuisi dan ego? Dan bagaimana caranya agar kita tidak tersesat oleh dorongan pribadi?”

Mas Sabrang menanggapi satu per satu.
“Secara ideal,” ujarnya, “pemimpin sejati sadar bahwa dirinya dan yang dipimpin adalah satu tubuh. Tidak ada kompromi untuk lari dari tanggung jawab itu.”
Ia lalu berkelakar, bahwa dirinya tidak punya “hak” menjawab persoalan pemerintahan secara teknis.
Namun, ia menegaskan pentingnya memprioritaskan lingkar pengaruh yang bisa dijangkau.
“Peduli isu global itu tidak salah,” katanya, “tetapi yang perlu ditata adalah dampak apa yang bisa kita hasilkan.” Ia pun mengurai kompleksitas perubahan iklim, dari level lokal hingga internasional.

Menjawab soal intuisi dan ego, Mas Sabrang menjelaskan,“Intuisi tidak mengganggu temperatur emosi. Ego justru mengacaukannya.” Intuisi bekerja otomatis dalam bawah sadar, sementara ruang kerja ego berada pada kesadaran yang diarahkan. Keduanya sama-sama mendorong tindakan, tetapi harus diuji dengan sebab–akibat.

“Abstraksikan dulu,” katanya. “Akibat apa yang ingin aku tuju? Tanyakan terus sampai ketemu jawabannya. Kalau tidak bisa menjawab, itu ego.”
Ia menyinggung metode STAR: stop, think, assess, respond—mendesain sebab untuk mengarahkan akibat, bersikap deliberatif atas perilaku sendiri.

Mas Amin memberi kesempatan berikutnya untuk tanggapan jamaah. Dengan sigap, Mas Aldi mengangkat tangan dan membenturkan dengan konsep entropi.
“Alam semesta bergerak menuju ketidakteraturan. Apakah khalifah itu antitesis entropi? Atau justru kerusakan manusia adalah bagian dari hukum alam?”

Tentang entropi, Mas Sabrang memberi penjelasan singkat teori fisika. Semacam kuliah dadakan.
“Entropi adalah derajat ketidakteraturan. Secara total, ketidakteraturan alam semesta cenderung naik. Tapi secara lokal, ketidakteraturan bisa diturunkan.”
Ia pun tersenyum. “Ini sejalan dengan Hukum Kedua Termodinamika yang menyatakan, dalam suatu sistem tertutup, total entropi memang tidak pernah berkurang. Namun dalam sistem terbuka seperti jagad semesta raya, entropi atau ketidakteraturan lokal bisa menurun selama ada aliran energi/materi keluar-masuk.”

“Dan itulah,” tegasnya, “yang sedang kita upayakan bersama malam ini. Mengalirkan energi untuk menurunkan ketidakteraturan di muka bumi”

Mas Sabrang menutup dengan konsep iceberg diagram.
“Ada empat lapisan dalam setiap realitas sosial,” jelasnya, “event, pola, struktur, dan mental model.”
Event bersifat reaktif dan cepat berlalu, sementara pola dan struktur lebih tahan lama. Namun yang paling menentukan adalah mental model, cara manusia memandang, menilai, dan memaknai kenyataan.
“Maiyah,” lanjutnya, “bekerja pada level mental model.”

Pertemuan malam itu mungkin tidak melahirkan banyak solusi praktis yang instan. Namun bukankah Nabi Muhammad ﷺ tidak pertama-tama diutus untuk merombak struktur politik atau ekonomi, melainkan untuk menyempurnakan akhlak? Akhlak, bukan sekadar perilaku lahiriah, melainkan bangunan batin—mental model—yang membimbing manusia membaca sebab–akibat, menimbang maslahat, dan menata tanggung jawabnya sebagai hamba sekaligus khalifah.

“Seiring kekuatan besar datang tanggung jawab besar” —Paman Ben.
Indal qiyam menjadi penutup malam panjang.


Redaksi Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel Agen Perubahan pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/agen-perubahan/feed/ 0
SULUK KEBANGSAAN https://bangbangwetan.org/suluk-kebangsaan/ https://bangbangwetan.org/suluk-kebangsaan/#respond Fri, 14 Nov 2025 03:20:37 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2516 Reportase Bangbang Wetan Bulan November 2025     Tanggal 10 November, selalu menjadi kisah tersendiri bagi Surabaya. Mendung menggantung di langit Surabaya. Di gedung tua Pos Bloc, peninggalan kolonial yang kini menjadi […]

Artikel SULUK KEBANGSAAN pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase Bangbang Wetan Bulan November 2025    

Tanggal 10 November, selalu menjadi kisah tersendiri bagi Surabaya. Mendung menggantung di langit Surabaya. Di gedung tua Pos Bloc, peninggalan kolonial yang kini menjadi ruang kreatif publik, panggung rigging berdiri megah.

Cahaya lampu menyorot ke dinding sejarah, tulisan besar di videotron menampilkan tajuk malam itu, “Bangbang Wetan bersama Sekolah Negarawan — Sinau Kebangsaan.”

Gamelan dan perangkat band modern berdampingan seperti dua zaman yang sedang berdialog. Bangbang Wetan dan Sekolah Negarawan mempertemukan dua kekuatan, spiritualitas dan patriotisme. Sebuah ikhtiar untuk membaca ulang makna “menjadi bangsa” memakai kacamata ruhani.

Pambuka

Sehari sebelum acara, para pegiat sudah mulai menyiapkan sarpra. Beberapa di antaranya memilih tetap bermalam di lokasi, memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya.

Malam itu, rutinan Bangbang Wetan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Bangbang Wetan dan CakNun.com, membuka ruang yang lebih luas bagi siapa pun untuk ikut menyimak.

Menjelang pukul delapan malam, area depan panggung mulai padat. Jamaah lesehan di selasar utama gedung, berbaur tanpa jarak. Beberapa tampak membetulkan celana setelah menembus jalanan Surabaya yang diguyur hujan sejak sore.

Lantunan doa pembuka menggemakan seruan,
“Tuhanku, bimbinglah aku memahami ilmu-Mu…Ilmu masa silam, segala yang disimpan oleh masa depan… Ilmu para Nabi yang menggerakkan dunia dengan kata.”

Sholawat Badar mengalun, klentingan musik Tiongkok berpadu dengan gamelan, gitar, dan biola. Dentang saron, demung, dan bonang bersahutan mengucapkan “Bismillah, Bismillah, teguhlah hatimu…”

Mas Prayogi dan Mas Helmi bergantian memandu jalannya acara. Mas Helmi naik ke panggung, menyampaikan sholawat kepada Kanjeng Nabi dan salam hangat kepada keluarga besar Maiyah. Ia berterima kasih kepada jamaah dan para pegiat yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini.

Dalam pengantarnya, Mas Helmi menyinggung metode Mbah Nun yang kerap membahas persoalan sosial dan politik bukan untuk menggurui, melainkan agar kita semua aware dan lebih peka terhadap realitas di sekitar. Beliau menekankan pentingnya ikhtiar kebersamaan sebagaimana yang dihidupi malam ini melalui tema Sinau Kebangsaan.

Acara berlanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jamaah berdiri, bernyanyi bersahutan, sementara layar menampilkan merah-putih yang berpendar. Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Tersenyumlah, Indonesia

Pukul delapan tepat. Mas Helmi membuka sesi dengan mengingatkan bahwa entitas bangsa telah ada jauh sebelum negara berdiri secara formal. “Sebagai generasi kekinian,” ujarnya, “kita perlu menilik kembali tentang bagaimana negara dan bangsa ini telah berjalan? Hanya dengan memahami arah perjalanan itu, kita bisa menempatkan diri dalam cita-cita perjuangan para pendiri bangsa.”

Mas Prayogi kemudian memberi pengantar singkat. Malam itu akan hadir banyak narasumber dari berbagai latar belakang yang mewakili keragaman bangsa, dari kaum adat, rohaniawan, budayawan, dan kalangan intelektual. Ia memperkenalkan Sekolah Negarawan sebagai ruang belajar yang tumbuh dari pengajaran Mbah Nun tentang kehidupan politik dan tanggung jawab sosial.

“Sekolah Negarawan tidak mengklaim bahwa jalan ini satu-satunya bentuk pengejawantahan,” ujar Mas Prayogi. “Tapi insyaAllah, ini adalah salah satu ijtihad untuk mengaplikasikan ilmu tersebut.” Sekolah Negarawan, lanjutnya, tidak berhenti pada mimpi berkarya di rumah sendiri. Ada ikhtiar untuk menembus batas, membuka jendela menuju pasar dan gagasan mancanegara.

Moderator kemudian mempersilakan Bapak D. Zawawi Imron, Si Celurit Emas dari Madura, naik ke panggung. Dengan tongkat di tangan, langkahnya perlahan dan berwibawa.

Suara beliau lirih, usia tak menghalangi semangatnya. Ditemani sang cucu, beliau membacakan puisi ciptaannya, “Tersenyumlah, Indonesia… tersenyumlah para pahlawan.”

Di tengah pembacaan, Pak Zawawi sempat bercerita tentang perjumpaannya dengan Mbah Nun. Dengan tawa kecil, beliau mengenang satu momen,

“Pernah suatu waktu, Mbah Nun bercerita sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya bilang padanya, ‘Salat istikharah-lah.’ Dari situlah Allah pertemukan beliau dengan Ibu Novia Kolopaking.”

Senyum menyebar di antara jamaah, lalu suaranya melembut ketika menyebut sosok ibu. “Perempuan tercantik di dunia bukan siapa-siapa,” ujarnya, “tapi ibu kita masing-masing. Ingat itu.”

Lalu, dengan semangat yang tiba-tiba membuncah, beliau melantunkan Puisi Zikir,
Alif, alif, alif! Alifmu pedang di tanganku, susuk di dagingku, kompas di hatiku! Suara beliau meninggi, menjelma dentuman doa. Heneng, hening, henung.

Nada Perjuangan

Gamelan kembali berpadu dengan gitar elektrik, lambang ritual lama dan baru.

Kiai Kianjeng mempersembahkan lagu “Kado Muhammad” — “Muhammadku, sayyidku, engkau selalu dan terus-menerus lahir dalam jiwaku.”

Vokalis Mas Imam dan Mas Setenk menjerit, diikuti teatrikal Mas Jokam. Klentingan piano dan sayatan biola memecah ruang. Berganti dengan sholawat Ya Nabi Salam ‘Alaika, menggema ke seluruh penjuru.

Suasana riuh syahdu. Lagu berikutnya, “Kepadamu Kekasihku”, membawa nuansa Timur Tengah berpadu musik Celtic Barat. Rebana dan drum berpadu, diiringi vokal lembut Mbak Yuli dan Mbak Nia yang mengalun merdu.

Klimaks tak terbendung lewat lagu “Permintaan Hati”, dibawakan dengan aransemen rock-orchestra, dengan pembagian suara satu dan suara dua.

Jamaah turut menyanyi bersama,  “Dengarkanlah permintaan hati, yang teraniaya sunyi. Dan berikanlah arti pada hidupku…Ouuouoo..”

Saron, demung, bonang, kenong, dan drum berpadu membangun gelombang semangat, menutup sesi musik.

Mas Helmi kembali mengambil alih panggung. Beliau menjelaskan konsep negarawan. “Negarawan adalah pemimpin yang tidak hanya memikirkan partainya, tapi masyarakat secara luas. Ia harus tahu banyak hal, memahami hidup dari segala sisi. Dan malam ini, semoga atmosfer yang kita bangun membawa kita lebih siap memasuki langkah berikutnya dalam sinau kebangsaan.”

Mas Prayogi menimpali, negarawan harus sudah selesai dengan dirinya sendiri, hati & pikirannya harus pada rakyat, tidak pada yang selainnya. Tut Wuri Handayani.

Rumah Kebangsaan

Jarum jam menunjukkan 9 malam. Moderator mempersilakan para narasumber naik ke panggung. Cak Adil Amirullah & Bapak Syafih Kamil sebagai perwakilan Sekolah Negarawan. Bapak Irwan Abdul & Bapak Idris Sudin, budayawan dari Kesultanan Ternate dan Tidore. Dr. Alessandro Rey, Pak Suko Widodo & Mbak Sanavero, sebagai perwakilan akademisi. Ustaz Rosidin & Guru Gembul dari kalangan agamawan.

Panggung lintas bidang. Semua hadir dalam satu cita, menafsir ulang arti kebangsaan, menumbuhkan kembali kesadaran bahwa bangsa ini bukan sekadar administrasi negara, melainkan rumah bersama.

  • Sistem dan Manusia

Cak Adil membuka sesi dengan dengan gaya khas. Beliau menjelaskan bahwa Sekolah Negarawan lahir sebagai bentuk ijtihad, upaya menerjemahkan nilai-nilai Maiyah dalam ranah sosial dan politik.

Beliau lalu bercerita tentang perdebatan sederhana dengan seorang tetangga, apakah sistem yang baik akan otomatis membuat manusia baik, atau justru manusia baik yang melahirkan sistem baik?

Cak Adil menatap jamaah, memastikan semua mata tertuju pada satu titik kesadaran, “Individu yang berkualitas kenegarawananlah yang akan menggerakkan perubahan sistem. Itulah cita-cita Sekolah Negarawan.”

Berlanjut Mas Syafih Kamil, perwakilan Sekolah Negarawan Eropa, berbagi pengalamannya berkeliling benua itu untuk belajar politik.

“Kami belajar dari banyak negara,” ujarnya, “tentang bagaimana perilaku politik dibentuk oleh budaya warganya. Di suatu negara, pemimpinnya datang paling awal ke rapat. Di negara lain, pemimpinnya datang, rapatnya bubar.” Jamaah terkekeh.

Ia melanjutkan, “Sekolah Negarawan bukan hendak meniru, tapi menimba hikmah agar bangsa ini tumbuh dengan karakternya sendiri, yang santun dan berdaulat.”

Sistem adalah wadah, dan manusia yang menentukan wadah itu diisi air jernih, atau kopi kebanyakan gula.

  • Amanah Tanah Air

Dari arah Timur Indonesia, Bapak Irwan Abdul dari Kesultanan Ternate membawa kisah sejarah panjang kerajaannya yang telah berdiri sejak abad ke-12 dan kini dipimpin oleh sultan ke-49.
Ia menjelaskan sistem kepemimpinan mereka yang unik: “Sultan kami tidak ditentukan oleh garis keturunan. Ia dipilih oleh rakyat melalui komisi pemilihan, diawasi dan dievaluasi oleh komisi pengawal. Kami tidak mengenal putra mahkota, yang kami kenal adalah amanah.”

Beliau menambahkan dengan nada tegas, “Semangat perjuangan itu masih bertahan. Kami berusaha berdikari tanpa bergantung pada pihak luar. Prinsipnya tetap sama, amar ma’ruf nahi munkar.

Dari sisi lain panggung, Bapak Idris Sudin dari Kesultanan Tidore menambahkan refleksi sejarah, “Negara terbentuk dari konsensus besar. Kemudian bersandar pada satu harapan, memperoleh kesejahteraan dari kemerdekaan. Tapi banyak daerah di ujung Nusantara belum menikmatinya.”

Beliau menutup dengan semangat, “Setiap ujung tanjung harus menyatu—unity in diversity. Kunci perubahan bangsa adalah kesadaran untuk saling mencintai dan saling menghidupi.”

Mas Prayogi menimpali, “Kesultanan Ternate & Tidore memberi teladan bahwa sistem kenegaraan bisa berjalan selaras dengan moralitas.”

Lampu kemudian diredupkan. Layar menayangkan video bertajuk “Tanah Air Amanah Tuhan.” Cuplikan sejarah perjuangan bangsa disandingkan dengan ironi kekuasaan masa kini.

Narasi di layar membawa pesan,
“Negarawan sejati adalah mereka yang berjiwa besar, memimpin dengan keteladanan dan keberanian moral. Jabatan hanyalah sarana untuk berbuat baik bagi masyarakat luas.”

Mas Prayogi menutup sesi dengan retorik, “Masih adakah pemimpin semacam itu, hari ini? Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang, tapi menyalakan lagi nilai kejujuran dan pengabdian.”

  • Tentang Gadis, Negara, dan Realita

Diskusi berlanjut dengan satu kisah yang dipantik oleh Mas Prayogi.
“Ada seorang gadis. Ayahnya meninggal. Ibunya pergi meninggalkan dia dengan dua adik dan seorang nenek. Ia harus bekerja di tiga tempat sekaligus. Lalu muncul pertanyaan simple, di mana negara ketika rakyatnya berjuang sendirian seperti itu?”

Pertanyaan ini disematkan kepada Dr. Alessandro Rey, seorang akademisi yang menelaah politik kebangsaan dari perspektif struktural. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kita sering tidak terbiasa menghadapi realitas, hanya terbiasa pada realita yang sudah dikondisikan.”

Pernyataan tersebut membuka ruang analisis kritis terhadap relasi antara negara dan warga. Dr. Alessandro menyinggung dinamika amandemen Undang-Undang Dasar sebagai cermin bahwa kedaulatan rakyat kerap berhenti pada teks konstitusi.

Dalam teori kenegaraan, ia menegaskan, negara modern memiliki kewajiban utama untuk memfasilitasi hak-hak dasar warganya—pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan—sebagai prasyarat keberlanjutan sosial.

Namun, dalam konteks Indonesia kontemporer, ideal tersebut kerap tereduksi oleh lemahnya tata kelola dan absennya kesadaran kolektif.

Beliau menutup penjelasan dengan analogi manajerial, “Jika perusahaan besar mampu menyejahterakan karyawannya karena manajemennya tertata, maka negara pun seharusnya berfungsi dengan prinsip serupa—berbasis tata nilai, bukan hanya bergantung pada figur.”

Selanjutnya, mikrofon berpindah kepada Mbak Sanavero, aktivis muda yang mewakili perspektif generasi pascareformasi. Ia menyoroti problem komunikasi antara pemerintah dan masyarakat yang menurutnya telah memasuki fase krisis semantik.

“Sistem tak mungkin hidup tanpa manusia di dalamnya,” ujarnya. “Bahasa dan komunikasi kita kini sedang krisis. Pemerintah dan rakyat seperti dua panggung monolog yang tak pernah saling mendengar.”

Ia menekankan bahwa revisi konstitusi tidak akan berarti tanpa rekonstruksi nilai, “Amandemen penting, tetapi yang lebih mendasar adalah pembangunan nilai—menata ulang cara berpikir, berdialog, dan menilai realitas.”

Mas Prayogi mengangguk pelan, lalu menimpali, “Benar. Pemerintahan hari ini terlalu sering menjelma panggung monolog. Padahal bangsa harus ditumbuhkan dengan dialog.”

Menutup sesi tersebut, Pak Suko Widodo menambahkan dimensi baru — digital citizenship atau kewarganegara-an digital. “Hidup bersanding dengan gawai sudah menjadi pemandangan sehari-hari,” ujarnya. Ia mengamati bahwa arus informasi yang masif kini membentuk opini publik, bahkan memicu perang gagasan di ruang maya.

Dalam konteks itu, ia menegaskan pentingnya literasi kebangsaan di dunia digital.“Literasi kebangsaan harus hadir di dunia maya agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarah dan nilai perjuangannya.”

Secara konseptual, sesi ini mengafirmasi satu kesimpulan penting. Bahwa krisis bangsa hari ini bukan semata soal politik atau ekonomi, melainkan soal defisit kesadaran publik. Maka, menegakkan kembali kesadaran rasional dan moral menjadi tugas kenegaraan yang tak kalah penting dari membangun infrastruktur fisik.

  • Kesadaran Bernegara

Perwakilan Kiai Kanjeng naik ke panggung, membawa fragmen teatrikal yang menyitir wejangan Mbah Nun tentang negara dan pemerintahan. Gerak tubuh, dialog, dan musik berpadu menjadi tafsir panggung.

Pertunjukan itu menegaskan ruh kelahiran Sekolah Negarawan sebagai wadah sinergi empat pilar kebangsaan: cendekiawan, agamawan, budayawan, dan purnawirawan.

Rangkaian program mereka meliputi kelas pendidikan politik, diskusi lintas generasi, hingga penanaman etika kenegaraan di akar rumput.

Pertunjukan ditutup dengan lagu “Ya Ampun.” Ya ampun lalimnya manusia… ya ampun bebalnya penguasa… Ya Allah, ayubkan hamba… Ya Allah, luaskan jiwa…

Suasana sontak jenaka saat Mas Imam turun ke tengah jamaah. “Ayo, siapa yang mau nambah baitnya?” serunya.

Dari arah kiri panggung, seseorang menjawab cepat, “Ya ampun kecil gajinya!” Tawa pun pecah. “Ya ampun macetnya, Mas!” sahut yang lain.

Mas Imam tertawa sambil mengangguk, “Nah, ini dia bangsa yang masih punya humor. Kalau bisa menertawakan nasibnya sendiri tanpa kehilangan doa, insyaAllah berkah.”

Setelah tawa mereda, Guru Gembul naik ke panggung. Ia tidak langsung bicara, cukup lama menatap jamaah.

Guru Gembul memulai pembicaraan, “Kalau dulu pahlawan gugur di medan perang, kini banyak yang gugur dalam ingatan.”

Tapi Guru Gembul belum selesai. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap berteriak kencang. “Sekarang ini,” katanya, “kita sedang mengalami kebingungan besar soal siapa yang disebut pahlawan.”

Ia menyinggung polemik yang ramai beberapa waktu terakhir. Deklarasi nama-nama baru sebagai tokoh nasional, termasuk tokoh-tokoh yang pada masa lalu pernah menjadi bagian dari babak kelam sejarah bangsa.

Guru Gembul memaparkan fakta bahwa sejak tahun 1959 hingga kini, lebih dari 200 tokoh telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, sebagian lewat pertimbangan politik, sebagian lain karena dorongan daerah. Tapi ironinya, kata Guru Gembul, penghargaan itu justru membuat makna kepahlawanan menjadi kabur.

“Setiap rezim ingin punya pahlawan sendiri,” ujarnya, “lalu melupakan bahwa pahlawan sejati justru mereka yang tak sempat menulis namanya sendiri dalam sejarah.”

“Persatuan Indonesia,” teriaknya, “itu bukan hafalan dari buku Pancasila. Itu kerja harian.” Beberapa jamaah mengangguk pelan.

“Majelis akan menjadi omong kosong bila jamaah tidak mampu memberi dampak sekecil apa pun bagi lingkungannya,” tegas Guru Gembul. Beberapa jamaah spontan menyoraki, disusul tepuk tangan panjang.

Penutup

Terakhir, Ustaz Rosidin mengaitkan seluruh pembahasan dengan nilai spiritual Islam. “Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar kitab rujukan,” ujarnya, “melainkan sumber imanen kehidupan berbangsa. Di dalamnya, kita diajarkan bagaimana menata hati sebelum menata negeri.”

Lalu beliau mengutip ayat Al-Ashr.
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

“Kita tidak kekurangan orang pandai,” lanjut beliau, “tapi kita kekurangan orang yang mampu membaca realitas dan mewujudkannya menjadi perubahan. Ilmu tanpa hikmah hanya akan menghasilkan kebisingan, sedangkan kebijaksanaan lahir dari hati yang tunduk pada kebenaran.”

Menjelang akhir, Ustaz Rosidin menunduk, menengadah, lalu berdoa
“Aamiin bukan sekadar ucapan,” katanya pelan. “Ia adalah perwujudan iman dan aman. Semoga bangsa ini diberi kedewasaan moral,agar para pemimpinnya memimpin dengan kasih, dan rakyatnya mengabdi dengan cinta.”
Doa bergema lirih, disusul jawaban “aamiin” panjang dari seluruh jamaah.

Delapan puluh tahun sudah pertempuran 10 November berlalu. Hari ini, semangat para pejuang tetap hadir dalam bentuk diskusi, musik, dan doa.

Menjadi negarawan tak harus memegang jabatan, cukup dengan menyalakan kesadaran dan bertanggung jawab atas sesama. Hamemayu hayuning bawana.


Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel SULUK KEBANGSAAN pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/suluk-kebangsaan/feed/ 0
Kembali ke Titik Awal https://bangbangwetan.org/kembali-ke-titik-awal/ https://bangbangwetan.org/kembali-ke-titik-awal/#respond Mon, 13 Oct 2025 04:17:21 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2479 Reportase BangbangWetan Bulan Oktober 2025              Fantadziris-sa’ah, kalimat yang kerap muncul di mimbar. Perlu upaya untuk tidak segera membayangkan ancaman teologis yang melekat padanya. Mungkin itu bukan ancaman tentang hari akhir, […]

Artikel Kembali ke Titik Awal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase BangbangWetan Bulan Oktober 2025             

Fantadziris-sa’ah, kalimat yang kerap muncul di mimbar. Perlu upaya untuk tidak segera membayangkan ancaman teologis yang melekat padanya. Mungkin itu bukan ancaman tentang hari akhir, tapi pertanda bahwa dunia sedang kehilangan keseimbangan.

Perbedaan adalah tanda kehidupan. Setiap manusia diberi bagian ilahiah, sebuah amanah kecil dalam kehidupan yang singkat. Ada yang tangannya cekatan, lidahnya fasih, atau hatinya halus membaca rasa. Namun tanyakan sejenak — apakah manusia masih sanggup menjaga amanah kecilnya di bumi ini?

Malam itu, BangbangWetan hadir di Titik Nol Surabaya. Forum digelar di taman terbuka Pos Bloc. Di forum terbuka ini, fantadziris-sa’ah, yang semula duduk di mimbar, kini sedang berjalan perlahan. Jamaah dengan berbagai rupa pun datang. Beberapa duduk berkelompok di rerumputan. Di sisi kanan, tampak deretan street coffee dan Kedai Kopi Bu Sofi berjejer rapi disertai dengan stand Pojok Ilmu.

Wirid ke Tawa

Tepat jam tujuh malam, nderes dan wirid mulai bersahutan—hadiah Al-Fatihah untuk Mbah Nun, Mbah Fuad, para marja’ Maiyah, keluarga ndalem, para pendahulu BangbangWetan, dan korban Pondok Pesantren Al-Khoziny.

Dari surah ke surah. Zikir itu memanjang: Ya Allah Ya Mannan, Ya Kariim; Ya Allah Ya Fattah, Ya Kariim…

Trio Moderator—Mas Amin Ungsaka, Mas Diky, dan Mas Jembar. Kombinasi angka yang tak biasa—Mas Amin & Mas Jembar berdiri di sisi panggung, Mas Diky justru menyapa dari barisan jamaah paling belakang. Mereka saling menimpali, bergurau, membuat jarak antara panggung dan jamaah seolah lenyap. Gayeng.

Mas Amin membuka dengan sapaan ringan, menanyai kesibukan para jamaah —ada mahasiswa yang baru pulang kuliah, pekerja kantoran yang menepi dari rutinitas, dan pasangan muda-mudi yang disebut-sebut “calon”.

Di sela obrolan, Mas Amin memperkenalkan talenta yang tengah check sound: grup musik Suar Marabahaya. Sempat disinggung pula lapak kecil di sisi kanan panggung, Buletin Maiyah Jawa Timur. Tumpukan kertas dan tinta sederhana menjadi saksi, masih ada yang setia menulis dengan tangan dan hati.

Ketika Suar Marabahaya mulai memainkan lagu “Satu” dari Dewa 19, suasana senyap sesaat. Disusul suara serak dan juga cukup kuat untuk memekakkan gendang telinga.

“Aku ini adalah dirimu. Cinta ini adalah cintamu…ouoo…”

Kompor gas!” seru seseorang dari barisan jamaah, disambut tawa kecil yang hangat. Di Maiyah, musik bukan hanya sebagai jeda; ia bagian dari zikir yang berubah bentuk.

Di tengah suasana hangat dan penuh tawa, malam pun mulai beranjak.

Menjadi Ahli

Moderator kembali menyapa jamaah dan mempersilakan beberapa perwakilan untuk berbagi pandangan.

Mas Indra—dengan kopyah merah darah—memperkenalkan Suar Marabahaya sebagai musik yang lahir dari keresahan dan semangat pergerakan. Baginya, orisinalitas lebih penting daripada ketenaran; kejujuran lebih utama daripada tepuk tangan. “Bahagia itu sederhana,” ungkapnya, “asal kita tahu kapan harus berhenti merasa kurang.”

Di sisi lain, Mas Dafa, mahasiswa filsafat UINSA, bercerita bagaimana ia menemukan makna belajar setelah lama mengikuti pemikiran Cak Nun. Ia sempat merasa salah jurusan, tapi waktu menuntunnya pada kesadaran: memahami hidup bukan perkara memilih bidang, melainkan menafsirkan kenyataan.

Dari obrolan ringan tentang keahlian &  bagaimana seseorang disebut ahli. Mas Indra menyebut ada dua jenis kapabilitas—teknis dan moral. Orang yang ahli secara teknis, tapi gagal secara moral, tetap akan menimbulkan kerusakan.

Mas Dafa menambahkan, keahlian sejati seharusnya membawa kemampuan beradaptasi dalam segala medan. Seorang petani sejati bisa bertahan dalam kemarau atau hujan, sebab yang ia kuasai bukan hanya tanah, tapi cara hidup yang selaras dengan alam.

Dua cerita itu saling melengkapi. Menjadi ahli bukan soal keterampilan semata, melainkan kesadaran untuk tetap di tempat yang tepat —menjaga moral agar keahlian tak berubah menjadi kerusakan.

Bahasa Menyapa

Menjelang pukul delapan malam, perbincangan beralih pada tema: fantadziris-sa’ah.
Moderator mengajak jamaah menurunkan makna besar itu ke dalam kehidupan sehari-hari. “Bagaimana rasanya bekerja di bidang yang tidak sesuai minat?” tanyanya. “Kadang rasanya ingin cepat pulang saja, bukan?”

Seorang jamaah, Mas Angga, kemudian menanggapi. “Tergantung bagaimana kita menyikapinya,” ujarnya. “Tidak semua yang kita jalani selalu sesuai minat, tapi ada banyak cara untuk tetap menikmati. Di kota sebesar Surabaya ini, media refreshing tersedia banyak sekali yang bisa digunakan untuk memperbarui semangat.”

Moderator lalu menunjuk seorang jamaah berkopyah merah putih, Mas Anggi. Ia datang bersama enam saudara dadakan—teman-teman yang dikenalnya lewat Maiyah. “Saya ke sini diperjalankan Allah,” guraunya.

Kemudian giliran Mbak Wanda, mahasiswi Bahasa Inggris, yang berbagi kisahnya. Ia menceritakan perjalanan menempuh TOEFL, belajar writing, speaking, listening—semuanya dijalani dengan rasa syukur. “Saya suka bahasa sejak kecil,” ujarnya, “karena lewat kata, saya bisa mengenali dunia.” Ia menutup dengan ajakan lembut: agar siapa pun tak berhenti belajar, sebab ilmu adalah bentuk paling nyata dari amanah.

Lalu malam pun beralih. Lagu kedua malam itu berjudul “Ritus”, karya Suar Marabahaya. Nadanya sakral, lirih, bunyi-bunyian lokal berpadu dengan nuansa Timur Tengah.

Kian hari, kian waktu, senja berlalu senja datang.
Api kehidupan, api dan nafas yang kau emban; fajar tlah berubah, tak seperti dulu…”

Disusul pembawaan lagu “Tak Ada yang Abadi” dari Noah. Moderator pun menanggapi penampilan dengan senyum bangga. “Luar biasa,” katanya, “silakan di-spill akun IG-nya, biar makin banyak yang mengenal karyanya.”

Program Ilahi

Malam kian memuncak, jam menunjukkan pukul sembilan. Forum pun mulai memasuki inti. Turut membersamai Mas Sabrang MDP, ilmuwan metafisik yang kerap menjembatani sains dan kesadaran spiritual. Mas Amin Tarjo, pegiat BangbangWetan. Kemudian Mas Tridjoyo, seorang agamawan. Tiga sosok expertise di bidangnya.

Mas Tridjoyo mengutip hadits yang menjadi tema besar malam itu:

Idza wusid al-amru ila ghairi ahlihi, fantadziris-sa’ah
“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Dari satu kalimat itu, Mas Tri menyoroti dua kata kunci: urusan dan ahli.Setiap urusan harus diserahkan kepada ahlinya. Prinsip sederhana ini berlaku di semua bidang kehidupan.

Ia mencontohkan, “Kalau urusan sound diserahkan kepada orang yang belum pernah pasang kabel, pasti hasilnya kacau — suara bisa feedback, noise, atau malah sunyi.” Jamaah tertawa kecil.

Ia menyinggung pemilihan umum—bagaimana jabatan kadang dipegang oleh orang yang tak pernah belajar membuat aturan bersama, tapi diberi kuasa untuk menyusun undang-undang. Ketika ketidakcakapan meluas menjadi pola sosial, lahirlah sistem yang pincang. Pemerintahan berubah menjadi panggung tanpa naskah; lembaga kehilangan fungsi, masyarakat kehilangan arah.

Seorang jamaah di pojok berseloroh, menunjuk arah selatan: “Di seberang sana, ada markas pemerintahan!” — Gedung DPR. Tawa pun pecah, tapi Mas Tri menanggapi dengan tenang: “Maka tugas kita sebagai rakyat adalah belajar menyerahkan urusan kepada yang tepat — kepada yang ahli dalam kapasitasnya.”

Giliran Mas Amin Tarjo ber-uneg-uneg. “Saya ini juga bingung,” katanya jujur, “menempatkan apa itu ahli dan keahlian.”

Ia bercerita, pernah bekerja sebagai HRD di rental mobil, padahal tidak bisa menyetir—ironisnya, justru ia yang mengetes ratusan sopir. “Itu artinya,” lanjutnya sambil tersenyum, “kadang sesuatu dipercayakan ke orang yang tidak kompeten. Tapi nyatanya, ya bisa jalan juga.”
Pertanyaannya: apakah itu salah, atau justru bagian dari proses belajar?

Mas Sabrang pun angkat bicara, “Jika kita mendefinisikan keahlian hanya dari asal instansi, sekolah, atau bidang kerja, berarti kita mengurungnya di ruang administrasi manusia. Padahal, keahlian sejati adalah kemampuan untuk mengubah potensi menjadi aktualisasi—mengubah mimpi menjadi kenyataan, mengubah masalah menjadi solusi.

Ia kemudian menjawab kegelisahan Mas Amin, “Seorang HRD tak harus bisa menyetir untuk menilai sopir, seperti halnya showroom yang memilih sales cewek cantik untuk menggaet calon pembeli, yang notabene kebanyakan pria akan tertarik untuk melirik dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Jamaah pun terkekeh.

Mas Sabrang lalu menyinggung Job Market, alur vokasi, dan pendidikan yang sering kali lebih mementingkan gengsi daripada manfaat. “Banyak orangtua lebih senang anaknya punya jurusan yang bergengsi, daripada menuntun potensi unik yang Tuhan titipkan,” ujarnya.

Beliau menambahkan contoh ekstrem: orang bertubuh pendek tentu sulit menjadi pemain basket. “Bukan untuk mendiskreditkan,” katanya, “tapi untuk menakar batas potensi yang telah ditetapkan sistem alam.” Dalam pandangan teologis, batasan itu bukan hukuman, melainkan parameter Ilahi agar manusia tahu ruang kerjanya.

“Betapa sering potensi itu tidak dihidupkan. Kita sibuk membandingkan diri dengan yang lebih besar, lalu lupa menunaikan peran yang sebenarnya sudah diprogram untuk kita. Ketika gagal, kita mencari kambing hitam di luar diri—seolah dunia berutang pada nasib kita.”

Mas Sabrang memberi analogi, “Ada orang Jepang hidupnya hanya melipat kertas. Suatu hari NASA butuh orang yang bisa melipat bahan satelit sekecil mungkin (Miura fold), agar bisa mengembang di luar angkasa. Ilmunya yang tampak sepele jadi jembatan bagi teknologi.” Begitulah potensi manusia: tampak kecil, tapi menentukan sistem besar.

Mas Sabrang menutup dengan nada reflektif. “Menjadi ahli itu tidak mudah. Kalau kamu cepat menyimpulkan seseorang bukan ahli, tanyakan dulu: apakah kamu cukup ahli untuk menilai?”

Suar Marabahaya menutup jeda dengan lagu “Elang, Laut, dan Mercusuar”—karya teatrikal yang memadukan gitar, piano, dan vokal nyentrik Mas Josua. 

Mas Amin sontak meminta satu lagu tambahan: “Serana” dari band For Revenge. Jamaah bersorak— energi memuncak lagi.

Kalibrasi Amanah

Usai pembawaan lagu, Mas Amin tersenyum, “Istimewa,” kagumnya . Lalu suaranya menurun, menyatu dengan alunan Ayat Kursi yang dibacakan bersama:

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya…”

Mas Amin menutup dengan kalimat sederhana, “Segala ilmu di dunia ini adalah milik Allah semata.”

Mas Tridjoyo menambahkan dengan suara pelan, “Aku mendapat banyak ilmu malam ini. Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-ardh—milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi. Artinya, semua hukum, semua pengetahuan, adalah anugerah dan rahmat dari Allah SWT. Kita hanya pengelola kecil dalam sistem besar-Nya.”

Ia menatap jamaah, lalu melanjutkan,
“Kadang kita belajar agama di masjid, di TPA, di warung kopi. Semua ruang itu sah, karena semua adalah laboratorium kehidupan. Semakin luas interaksi kita, semakin banyak data yang Allah izinkan untuk kita baca. Ilmu yang terkurung di ruang ibadah tanpa menyentuh realitas sosial, kehilangan salah satu dimensinya: kemanusiaan.”

Mas Tri kemudian melanjutkan dengan hadits qudsi: Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu
“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Mengenal diri, berarti memahami maksud Allah atas penciptaan diri. Setiap orang dititipi peran: guru, buruh, seniman, petani, penyair. Siapa pun yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh telah menunaikan bagian dari ibadah.

Beliau menutup dengan contoh sederhana: seorang guru Bahasa Inggris yang setia mendampingi murid-muridnya hingga mampu memberi manfaat bagi sesama, meski hidupnya tetap sederhana. Barokahnya diukur bukan dari pangkat, melainkan dari manfaat”

Moderator pun menegaskan, “Indikator seorang ahli adalah ketika kehadirannya membawa manfaat.”

Sinkronisasi Kesadaran

Malam beranjak ke sesi tanya jawab; satu per satu jamaah berbagi kegelisahan.

Mas Diky mengangkat mikrofon, disusul Mas Helmi di sampingnya.
“Generalis atau spesialis?” tanya mereka hampir bersamaan. “Apakah pilihan itu harus disesuaikan dengan karakter seseorang?”

Mas Sabrang tersenyum. “Generalis itu potensial tapi terpecah; spesialis tajam tapi terbatas. Keduanya sah, selama tahu jalur yang Allah programkan untuknya.

“Napoleon pernah bilang,” lanjut Mas Sabrang, “kalau sumber daya terbatas, maksimalkan strategi. Dalam keterbatasan pun ada peluang aktualisasi.

Mas Alif menimpali, “Tapi Mbah Nun itu seperti supergeneralis, Mas. Menguasai banyak hal.”
Sabrang tertawa kecil. “Ya, tapi zaman sudah berubah. Dulu sains cuma empat cabang. Sekarang lebih dari dua ratus. Menguasai banyak hal sekarang nyaris mustahil. Maka yang penting bukan seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa dalam kita menghidupi apa yang kita tahu.”

Hening sejenak. Lalu dari barisan belakang, suara Mas Roy terdengar:
“Kalau begitu, bagaimana cara panjenengan berdua mendekatkan diri kepada Allah?”

Mas Tri menunduk sebentar, lalu menjawab lembut, “Saya lebih sering merasa diselimuti rahmat, bukan diawasi. Allah berfirman, Fabimā rahmatin minallāhi linta lahum—karena rahmat Allah, engkau menjadi lembut. Maka yang saya rasakan bukan takut, tapi syukur. Karena rahmat itulah kita belajar lembut, bahkan kepada kehidupan yang keras.”

Mas Sabrang menimpali, “Saya tidak takut dalam arti ancaman, tapi sungkan—karena tahu skala diri. Malaikat patuh karena paham, bukan karena bodoh. Hewan patuh karena tidak tahu. Manusia di tengah-tengah: kadang tahu, kadang lupa. Semakin kita tahu kebesaran pengetahuan Allah, harusnya akan semakin menuntun pada ketakwaan.

Mas Sirat mengangkat tangan, “Kalau seseorang punya cita-cita besar tapi sistemnya tidak mendukung, apa yang harus dilakukan?”
“Struktur yang kuat bisa membuat agen lemah,” jawab Mas Sabrang, “tapi struktur yang lemah menumbuhkan agen kuat. Saat sistem tak memihak, manusia dipaksa mengaktifkan kecerdasan adaptifnya. Itulah cara Tuhan melatih ketahanan.”

Mas Santoso menimpali, “Kalau sistem menuntut kita curang supaya bisa bertahan?”
“Kalau ikut bermain,” kata Mas Sabrang, “sadari dulu bahwa permainan itu tetap salah. Tapi jangan berhenti berpikir bagaimana memperbaikinya. Karena berjuang tanpa risiko itu utopia. Dalam dunia yang keruh, kebenaran butuh keberanian untuk tetap jernih.”

Pertanyaan berikut datang dari Mas Aldy, suaranya lirih tapi jelas, “Kalau kita tak tahu sama sekali tentang suatu ilmu, bagaimana cara menyaringnya?”

Mas Sabrang tersenyum lagi. “Belajarlah apa pun yang bisa dipelajari. Kerjakan apa pun yang bisa dikerjakan. Setiap kesempatan belajar adalah perintah sistem. Beliau menegaskan, “Ilmu dari luar harus diolah dulu di teras akal sebelum masuk ke kamar hati. Belajarlah dari orang, karena lewat pengalaman orang lain, kita bisa menapaki jalan yang mungkin tak sempat kita lalui.”

Sebelum menutup forum. Mas Sabrang kembali mengingatkan, “Ketika satu manusia berhenti belajar, berhenti memperbaiki diri, atau berhenti mencari makna dari peran yang telah diinstal sejak awal penciptaan—maka sistem kecil dalam semesta ikut kehilangan ritmenya.

Fantadziris sa’ah—tunggulah kehancurannya—bukanlah ancaman akhir zaman semata, tapi juga pertanda ketidakseimbangan. Ia adalah bentuk kehancuran yang tumbuh diam-diam: ketika tanggung jawab didelegasikan tanpa cinta, ilmu tanpa pengamalan, dan hidup tanpa muhasabah.

Tepuk tangan jamaah pun mengakhiri forum yang singkat ini. Malam pun mulai mereda. Forum ditutup dengan Indal Qiyam pada pukul setengah 1 dini hari. Di sela riuh lalu lintas kota, gema shalawat nyaring terdengar.

Doa Penutup

Maiyah BangbangWetan tak berhenti sebagai forum ilmu—ia adalah laku kesadaran. Tempat manusia singgah sejenak untuk memperbarui dirinya: meng-upgrade firmware batin, menyusun ulang kode moral dan spiritual yang kerap tergeser oleh kesibukan.

Di sini, kesadaran diperbarui.
Setiap orang berusaha menulis kembali baris-baris kecil dari program Ilahi yang sejak awal tertanam dalam diri. Sebab, sebagaimana semesta memiliki orbitnya, setiap jiwa pun memiliki lintasan keseimbangannya sendiri.

Satu per satu jamaah beranjak dari taman terbuka Pos Bloc. Langkah mereka ringan, seperti baru selesai menempuh perjalanan panjang dalam diri.

Di langit Surabaya, doa & syukur dipanjatkan.
Maturnuwun,” ujar moderator lembut, “atas setiap ilmu yang malam ini dipantulkan kembali ke langit.”


Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel Kembali ke Titik Awal pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kembali-ke-titik-awal/feed/ 0