BangbangWetan bulan ini hadir bertepatan dengan bulan suci yang sedang dijalani oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, seperti hari-hari biasanya, setiap orang menjalani rutinitasnya masing-masing. Ada yang menikmati waktu libur di akhir pekan, ada pula yang tetap berjuang mencari penghidupan di sela-sela hari istirahat. Namun pada hari itu, kita dipertemukan oleh satu tujuan yang sama: berkumpul dalam kerinduan untuk saling berbagi ilmu dan berbagi rasa, dalam forum yang setia menemani perjalanan kita dari bulan ke bulan.
Seperti biasa, panggung telah dipersiapkan oleh para pengiat untuk menyambut jalannya acara. Tikar yang terbentang dan banner yang kembali terpasang seakan menjadi penanda kerinduan akan kehangatan yang selalu hadir dalam setiap pertemuan. Gema dari pengeras suara yang mulai terdengar perlahan menjadi isyarat bahwa kita siap memulai sebuah kegiatan yang penuh sarat makna.
Kita pun kembali ke tempat yang telah akrab bagi kebersamaan ini—tempat di mana jalinan persaudaraan disulam dari waktu ke waktu. Ditemani oleh tiang-tiang pendopo yang berdiri kokoh saling menopang satu sama lain, di Gedung Cak Durasim kita kembali berkumpul, menggelar pertemuan yang telah lama kita nantikan bersama.
Acara diawali dengan jamaah yang menunaikan shalat Isya dan tarawih bersama. Seusai itu, sekitar pukul 20.30, Mas Haris dan Mas Rangga memimpin nderes Al-Qur’an dan wirid bersama sebagai penanda bahwa forum diskusi kita segera dimulai.
Tak berselang lama, tepat pukul 20.45, moderator naik ke panggung. Ia membuka dengan salam dan menyapa para jamaah yang hadir dari berbagai kota. Dengan senyum hangat, moderator kemudian mengajak para jamaah untuk berkumpul dan merapat sebagai penanda dimulainya forum diskusi pada malam ini.
Perlahan para jamaah mendekat, duduk saling merapat, di dalam pendopo menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Senyum-senyum penuh semangat tampak di wajah para jamaah yang hadir, seolah menandai kerinduan untuk kembali duduk bersama dalam lingkaran ilmu dan kebersamaan.
Suasana kemudian memasuki sesi bershalawat bersama yang dipandu oleh grup hadrah Alhamdulillah. Dengan penuh kekhidmatan, mereka melantunkan Shalawat Asyghil dan Shalawat Tibbil Qulub. Lantunan shalawat itu menggema lembut di ruang pendopo, mengalun perlahan namun terasa menguatkan kebersamaan di antara para jamaah.
Bersama-sama melantunkan shalawat, malam itu terasa semakin hangat dan khidmat. Shalawat menjadi pembuka yang menenangkan, sekaligus mengantarkan langkah para jamaah untuk memasuki forum diskusi BangbangWetan yang kembali digelar dalam suasana penuh kebersamaan.
Pada pukul 21.02, moderator memanggil para narasumber untuk naik ke atas panggung. Gus Binnur, Mas Karim, serta Pak Yusuf dari Stand Up Indo Surabaya kemudian bergabung bersama di hadapan para jamaah. Kehadiran mereka menandai dimulainya sesi berikutnya, yaitu “Mbabar Tema,” di mana pembahasan malam itu mulai dibuka dan dibagikan kepada seluruh jamaah yang hadir.
Sesi Mbabar Tema dibuka oleh Mas Diki dengan mengawali pembahasan tentang tirakat. Ia menjelaskan bahwa dalam pengertian sederhana, tirakat bisa dimaknai sebagai bentuk “ngempet” atau menahan diri sebagai sebuah metode bertirakat. Tirakat tidak selalu hadir dalam bentuk ritual tertentu, tetapi dapat dijalani melalui berbagai metode, salah satunya melalui kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Mas Diki kemudian mengajak Pak Yusuf—yang memiliki latar belakang militer—untuk berbagi pandangan mengenai hubungan antara kedisiplinan dengan tema “Tirakat Ahsani Taqwim.”
Pak Yusuf memulai tanggapannya dengan candaan, “Masa ada TNI tirakat?” Tawa jamaah pun pecah di pendopo. Ia lalu menegaskan bahwa yang ia sampaikan malam itu hanyalah pandangan pribadinya. “Kalau menurut panjenengan benar, silakan diambil. Kalau tidak, ya silakan dibuang,” ujarnya santai.

Dokumentasi official bangbangwetan
Menurut Pak Yusuf, tirakat berakar dari rasa syukur yang lahir dari keikhlasan. Dari situlah manusia belajar memahami dirinya sebagai ciptaan terbaik, sebagaimana konsep Ahsani Taqwim. Namun manusia sering merasa tidak sempurna karena belum mampu melihat sisi kesempurnaan yang ada dalam dirinya.
Ia menyinggung persoalan gangguan kejiwaan sebagai contoh. Bisa jadi, menurutnya, di balik keadaan itu tersimpan rahmat yang tidak dipahami manusia lain. Dengan nada bercanda ia bahkan menyebut orang dengan gangguan jiwa mungkin saja masuk surga tanpa melalui hisab—candaan yang kembali memancing tawa jamaah.
Pak Yusuf juga berbagi kisah tentang perjalanan kehamilan istrinya yang beberapa kali mengalami keguguran. Saat berkonsultasi dengan dokter, ia sempat menyebut istilah “kandungan lemah”. Namun dokter menjelaskan bahwa dalam istilah medis sebenarnya tidak ada kandungan lemah—setiap kandungan pada dasarnya diciptakan sempurna.
Dari pengalaman tujuh kali kehamilan dengan berbagai ujian, Pak Yusuf menegaskan bahwa semuanya tetap dijalani dengan rasa syukur. Candaan Mas Diki tentang kemungkinan “istri kedua” pun sempat menyelingi cerita itu dan kembali mengundang tawa jamaah.
Pembicaraan kemudian kembali pada tirakat. Pak Yusuf melihat tirakat memiliki kemiripan dengan kedisiplinan yang ia pelajari di militer. Disiplin lahir dari kebiasaan kecil yang dilatih terus-menerus, seperti merapikan tempat tidur setiap pagi—hal sederhana yang melatih ketelitian dan kesiapan.
Mas Diki menambahkan bahwa tirakat bukan untuk menghindari ujian hidup, melainkan untuk memperkuat diri dalam menghadapinya. Pada akhirnya, menurut Pak Yusuf, tirakat bermuara pada kemuliaan manusia. Namun semuanya harus diawali dari rasa syukur, agar manusia tetap berada pada jalan Ahsani Taqwim dan tidak terjatuh pada Asfala Safilin.
Diskusi malam itu semakin menarik ketika Mas Karjo mengajak jamaah melihat puasa dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, laku menahan diri tidak hanya dijalani manusia, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan makhluk lain di alam.
Ia mencontohkan fenomena dormansi pada tumbuhan. Biji yang baru dipanen tidak selalu langsung tumbuh, melainkan menunggu kondisi lingkungan yang tepat. Masa menunggu itu, menurut Mas Karjo, dapat diibaratkan sebagai “puasanya” tumbuhan sebelum memulai kehidupan baru.
Contoh lain datang dari dunia hewan, seperti beruang yang menjalani hibernasi saat musim salju dengan mengurangi aktivitas dan tidak makan selama berbulan-bulan. Dengan nada ringan ia membandingkannya dengan manusia yang berpuasa dari fajar hingga magrib. Candaan tentang orang yang “puasanya sampai dzuhur saja” pun disambut tawa jamaah.
Namun Mas Karjo kemudian menekankan bahwa puasa manusia berbeda dengan makhluk lain. Hewan dan tumbuhan mengikuti mekanisme alam, sedangkan manusia berpuasa dengan kesadaran dan niat. Justru karena manusia memiliki banyak cara untuk memenuhi kebutuhannya, ia perlu belajar menahan diri.

Dokumentasi official bangbangwetan
Puasa, menurutnya, menjadi latihan untuk mengendalikan nafsu—mulai dari amarah hingga berbagai dorongan dalam diri. Ia bahkan mengajak jamaah mencoba latihan sederhana: menahan marah selama satu minggu untuk belajar mengenali dan mengendalikannya.
Mas Jembar menambahkan bahwa nafsu tidak bisa dimatikan karena ia bagian dari manusia. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikannya. Dalam latihan itulah, melalui puasa, manusia perlahan belajar memahami dirinya sendiri.
Forum kemudian beralih kepada Gus Binnur. Ia mengawali dengan mengajak jamaah berhenti sejenak untuk mendoakan saudara-saudara Muslim yang tengah menghadapi penderitaan, khususnya di Palestina dan Iran. Ia mengingatkan agar sekat-sekat seperti Sunni dan Syiah tidak menjadi penghalang rasa persaudaraan. “Al-muslimu akhul muslim,” ujarnya. Suasana forum pun hening ketika doa dipanjatkan bersama.
Memasuki tema Tirakat Ahsani Taqwim, Gus Binnur mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Menurutnya, kesempurnaan itu terletak pada keseimbangan yang dimiliki manusia. Namun anugerah tersebut tidak otomatis menjadikan manusia berada pada posisi terbaik. Tanpa tirakat, manusia justru bisa melenceng dari tujuan penciptaannya.
Ia menegaskan bahwa manusia bukan makhluk paling sempurna, melainkan makhluk yang dimuliakan. Kemuliaan itu perlu dirawat melalui laku spiritual. Secara sederhana, tirakat adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan wirid, sekaligus meninggalkan hal-hal yang dilarang-Nya.
Di antara berbagai laku tersebut, puasa menjadi tirakat yang paling nyata. Tradisi ini bahkan telah lama hidup dalam kebiasaan para leluhur melalui berbagai bentuk puasa tirakat.

Dokumentasi official bangbangwetan
Mas Diki kemudian merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa tirakat adalah latihan mengendalikan akal dan nafsu agar manusia tidak terjatuh pada derajat asfala sāfilīn. Dalam perjalanan hidup, puasa menjadi salah satu latihan sederhana yang menuntun manusia menuju kedewasaan batin.
Malam kian larut, namun suasana forum tetap hangat. Sebelum diskusi dilanjutkan, grup hadrah mengisi jeda dengan lantunan shalawat yang menggema di pendopo, menghadirkan suasana teduh bagi jamaah.
Usai shalawat, forum memasuki sesi kedua dengan kehadiran beberapa narasumber tambahan, di antaranya Mas Sabrang, Pak Zainal, Pak Suko, dan Mas Amin.
Mas Jembar sebagai moderator kembali membuka percakapan. Ia menegaskan bahwa pembahasan Tirakat Ahsani Taqwim bukan sekadar mencari definisi, melainkan menggali pemahaman tentang seperti apa manusia yang berada dalam keadaan ahsani taqwim. Setelah pengantar singkat itu, ia pun mempersilakan Pak Zainal untuk memulai sesi kedua malam itu.
Pak Zainal membuka tanggapannya dengan hamdalah dan rasa syukur karena malam itu kembali dapat berkumpul bersama jamaah Maiyah. Ia juga mendoakan agar seluruh jamaah senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.
Menurutnya, manusia telah diciptakan dalam keadaan terbaik sebagaimana disebut dalam Surat At-Tin. Namun perjalanan hiduplah yang menentukan apakah manusia mampu menjaga kemuliaan itu atau justru terjatuh pada keadaan asfala sāfilīn.
Dalam kerangka tersebut, tirakat dipahami sebagai upaya menjaga kualitas kemanusiaan. Tirakat tidak selalu berupa laku yang berat, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana—mengisi hidup dengan kegiatan yang membawa manfaat.
Mas Jembar kemudian menegaskan bahwa ahsani taqwim bukan sekadar gelar bagi manusia, melainkan amanah yang harus terus dijaga dalam perjalanan hidup.
Mas Jembar kemudian mengalihkan perhatian kepada narasumber di sampingnya. Dengan nada akrab ia mempersilakan Pak Suko untuk melanjutkan percakapan malam itu.
Pak Suko pun menyapa jamaah dengan hangat. “Sehat sedoyo, nggih?” sapanya, yang langsung dijawab serempak oleh jamaah di pendopo.
Seperti biasa, ia membuka suasana dengan sedikit humor. Ia berseloroh bahwa beberapa hari terakhir anak-anak Maiyah sering menengadah ke langit, “katanya takut kalau ada rudal dari Iran sampai ke sini.” Lalu ia menambahkan santai, “Tenang saja… Mas Sabrang datang.” Candaan itu pun langsung disambut gelak tawa jamaah.
Di sela kelakarnya, Pak Suko menyelipkan pesan yang ia kutip dari Mbah Nun: “Dadio wong sing temen.” Jadilah orang yang sungguh-sungguh—sebuah pengingat bahwa kesungguhan adalah kunci dalam menjalani hidup, termasuk dalam laku tirakat.
Mas Jembar kemudian kembali memandu forum. Ia mempersilakan Mas Amin, perwakilan tuan rumah BangbangWetan, menyampaikan tanggapan.
Setelah salam dan basmalah, Mas Amin justru membuka dengan candaan, “Karena sudah waktunya Mas Sabrang, kita pasrahkan saja ke Mas Sabrang.” Pendopo pun langsung dipenuhi tawa jamaah. Ia sempat menambahkan selipan humor bahwa teman-teman BangbangWetan sebenarnya sudah “ahsani taqwim semua”, sebelum menutup tanggapan singkatnya.
Mas Jembar kemudian mempersilakan Mas Sabrang berbicara.
Mas Sabrang membuka dengan nada santai. “Sepertinya malam ini lebih banyak yang ingin bertanya daripada yang ingin mendengar,” ujarnya, disambut tawa jamaah. Ia juga berseloroh bahwa orang-orang sudah sering melihatnya di media sosial—biasanya ketika sedang dicaci maki.
Memasuki tema tirakat ahsani taqwim, Mas Sabrang mengajak jamaah melihat kembali makna kesempurnaan manusia. Makhluk lain hidup mengikuti jalur yang telah ditentukan. Manusia berbeda. Ia diberi kemungkinan untuk membentuk dirinya sendiri.
Karena itu, kesempurnaan manusia bukan karena sudah selesai dibentuk, tetapi karena memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.
Namun kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Manusia menemukan dirinya melalui pengalaman hidup. Dari sanalah seseorang perlahan memahami siapa dirinya dan apa perannya.
Mas Sabrang mengingatkan sabda Nabi: pahala menghadirkan ketenangan, sementara dosa menimbulkan kegelisahan. Jika suara hati terus diabaikan, kompas batin manusia lama-lama bisa menjadi tumpul.

Dokumentasi official bangbangwetan
Forum kemudian memasuki sesi tanya jawab.
Penanya pertama, Mas Aji dari Sidoarjo, menyinggung paradoks tirakat. Jika tirakat dilakukan karena keinginan untuk menjadi lebih baik, bukankah itu berarti melahirkan keinginan baru?
Mas Sabrang menjawab bahwa tirakat pada dasarnya adalah kesediaan menahan sesuatu yang bisa dilakukan demi sesuatu yang seharusnya dilakukan. Keinginan sendiri tidak selalu salah. Manusia tetap memerlukan keinginan untuk hidup. Yang penting bukan menghapusnya, tetapi menatanya.
Bahkan upaya untuk menghilangkan keinginan pun sebenarnya tetap merupakan bentuk keinginan.
Penanya kedua, Mas Sulton dari Malang, bertanya bagaimana menjaga semangat ketika hidup sedang sulit.
Mas Sabrang menilai manusia sering terlalu bergantung pada mood, padahal perasaan sangat mudah berubah. Karena itu ia menyarankan membangun sistem dalam hidup—misalnya jadwal belajar, olahraga, atau kebiasaan baik lain yang dijalankan secara konsisten.
Di sinilah pentingnya istiqamah. Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, dalam jangka panjang, bisa membawa perubahan besar.
Penanya ketiga datang dari Mas Imam, jamaah asal Gresik. Dengan nada bercanda ia menyinggung posisi Mas Sabrang sebagai tenaga ahli di pemerintahan.
“Kalau begitu itu termasuk berbuka, berlebaran, atau malah mokel?” tanyanya, memancing gelak tawa jamaah.
Mas Sabrang menanggapi dengan santai. Ia mengajak jamaah melihat asumsi di balik pertanyaan itu—seolah-olah menjadi pejabat identik dengan kenikmatan atau penyimpangan.
Padahal persoalannya bukan pada posisi, melainkan bagaimana seseorang menjalaninya.
Ia mengingatkan satu prinsip yang sering disampaikan di Maiyah: tujuan itu fanatik, tetapi cara itu fleksibel. Kadang seseorang harus melewati jalan yang tidak nyaman untuk mencapai tujuan yang benar.
Mas Sabrang juga menyinggung potongan-potongan video tentang dirinya yang beredar di media sosial tanpa konteks utuh. Baginya yang penting adalah tetap jujur pada apa yang ia pahami sebagai kebenaran.
“Kalau dihujat orang se-Indonesia, monggo saja,” ujarnya santai. “Saksi hidup saya bukan persetujuan netizen, tetapi persetujuan Gusti Allah.”
Ia lalu mengajak jamaah berdamai dengan risiko terbesar dalam hidup: kematian. Jika manusia sudah menerima bahwa suatu saat ia akan mati, maka banyak ketakutan lain menjadi jauh lebih kecil.
Yang tersisa adalah satu pertanyaan sederhana: bagaimana mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan Tuhan.
Mas Sabrang juga meminta jamaah Maiyah untuk tetap mengingatkan dirinya jika suatu hari ia melenceng. “Kalau suatu saat saya terlena”, tolong ingatkan bahwa rumah saya tetap di sini—bersama dulur-dulur Maiyah.”
Pendopo pun dipenuhi tepuk tangan jamaah.
Ia kemudian menegaskan bahwa posisinya adalah tenaga ahli yang bekerja dengan data dan analisis. “Juragan saya itu data dan kenyataan,” ujarnya.
Keputusan berada di posisi itu, katanya, bukan sekadar pilihan pribadi. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.
“Saya melakukan ini bukan karena ingin,” tutupnya, “tetapi karena merasa harus melakukannya.”
Di bagian lain, Mas Sabrang menurunkan pembahasan ke hal yang lebih dekat dengan keseharian.
“Urip itu ya seperti ini. Kadang enak, kadang tidak,” ujarnya. “Kadang mengikuti keinginan, kadang menjalankan kewajiban.”
Ia memberi contoh sederhana yang langsung mengundang senyum jamaah: “Enak main gaple, tapi tetap harus berangkat kerja.”
Bukan karena ingin, tetapi karena ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Dari situ ia menegaskan, hidup tidak selalu tentang apa yang disukai. Ada saat ketika kewajiban harus didahulukan dari keinginan.
Menutup dengan nada ringan, ia menambahkan, “Kalau soal keinginan, ya saya juga ingin duduk santai di sini bersama kalian.”
Jamaah pun tersenyum—menangkap sisi manusiawi di balik pilihan hidup yang dijalani.
Suasana beralih ketika Mas Amin mengambil peran. Dengan tenang, ia mengajak jamaah menoleh pada jejak pemikiran Mbah Nun melalui tulisan berjudul “Profesor Doktor Jalan Ramai” (10 Juni 2020).
Pendopo perlahan hening. Jamaah menyimak.
“Sabrang adalah anak yang lahir di ‘jalan sunyi’ tetapi ia harus bergelut dan menguasai bahasa dan budaya ‘diskotik’ dan ‘jalan ramai’. Infrastruktur sejarah kelahiran Sabrang jelas ‘jalan sunyi’, tetapi ternyata kemudian harus memanggul tugas dan beban ‘jalan ramai’. Berkah Allah kepada Sabrang bukan kuliah di Al-Azhar Cairo kemudian jadi saingan Ustadz UAS bergelar Ustadz SMDP, melainkan menjadi ujung tombak Letto. Itu jelas ‘jalan ramai’, beda dengan KiaiKanjeng yang sunyi pol.
Sabrang adalah profesor doktor lulusan jalan sunyi yang sekarang harus menguasai bahasa dan strategi sosialisasi masa depan di arena diskotik globalisasi dan jalan ramai old maupun new normal dunia pasca Covid-19. Di Maiyah Sabrang bisa menjawab sangat banyak hal yang Bapaknya tidak bisa menjawab. Sabrang tidak hanya punya ‘kalkulator zaman’ untuk mengolah masa depan Maiyah, tapi juga hari depan Indonesia dan seluruh ummat manusia di dunia”.
Mas Amin kemudian menutup dengan celetukan ringan, “Kutukan nasab.”
Tawa jamaah pun pecah, mencairkan suasana.

Dokumentasi official bangbangwetan
Mas Sabrang melanjutkan dengan nada lebih reflektif. Ia menyinggung ungkapan yang sering ia dengar: “Enak ya jadi Letto, enak ya jadi anaknya Mbah Nun, enak ya sekolah luar negeri.”
“Iri itu tidak apa-apa,” ujarnya. “Tapi irilah juga pada prosesnya.”
Pendopo mulai hening.
Ia mengingatkan, yang terlihat sering hanya hasil. Padahal di balik itu ada proses panjang—dididik oleh ayah yang juga menjadi milik banyak orang, hingga perjalanan bermusik yang penuh latihan dan kegagalan.
“Aku ini prioritasnya bisa nomor sekian,” katanya ringan, disambut tawa jamaah.
Menurutnya, apa yang ia pahami hari ini bukan datang tiba-tiba, melainkan dari kebiasaan membaca, merenung, dan terus mengolah pikiran. Karena itu, ia mengajak jamaah tidak terpaku pada hasil, tetapi menghargai proses.
“Semua orang punya pertarungannya sendiri,” ujarnya pelan.
Ia juga mengingatkan agar tidak mudah menghakimi. Apa yang terlihat belum tentu mencerminkan keseluruhan. Realitas tidak cukup dipahami dari potongan-potongan.
Menyinggung media sosial, ia mengingatkan bahwa orang kini mudah berbicara tanpa tanggung jawab. Ia mengutip guyonan Mbah Nun tentang panggung Maiyah yang rendah—agar siapa pun siap menanggung ucapannya.
“Kalau tidak setuju, ya bisa kena sandal,” ujarnya, disambut tawa jamaah.
Pak Yusuf kemudian menimpali dengan gaya lugas.
“Hidup kok malas,” ujarnya. “Coba malas bernapas.”
Dari situ ia menegaskan: tidak ada jalan instan. Yang tampak mudah di luar sering kali menyimpan proses panjang di dalam.
Malam itu pun mengalir antara tawa dan perenungan—mengingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya soal hasil, tetapi tentang proses, tanggung jawab, dan kesadaran dalam menjalaninya.
Memasuki sesi tanya jawab kedua, suasana pendopo kembali hidup. Jamaah mulai membawa kegelisahan yang lebih personal.
Penanya pertama, Mbak Yusron dari Surabaya, mengaku sejak kecil mengenal agama lewat ritual. Namun seiring waktu, ia merasakan ada jarak menuju esensinya. Ia pun bertanya: adakah jalan untuk mendekat ke sana?
Mas Sabrang menjawab sederhana.
Menurutnya, kunci awal adalah membedakan antara menginginkan dan merindukan. Keinginan menuntut kepastian. Sementara kerinduan lebih lapang—ia ingin mendekat tanpa memaksa harus sampai.
“Kalau ingin tahu esensi, jangan hanya diinginkan. Tapi dirindukan.”
Pendopo hening.
Ia menegaskan, pemahaman bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia adalah rezeki—datang ketika seseorang siap. Informasi bisa saja sudah di depan mata, tetapi tanpa kesiapan, tetap tidak akan dipahami.
Sebaliknya, ketika sudah siap, pemahaman bisa datang dari mana saja.
Perjalanan itu pun tidak selalu lurus.
“Kadang maju, kadang mundur. Itu tidak apa-apa.”
Mas Sabrang bahkan mengaku pernah berada di titik tidak percaya kepada Tuhan. Namun baginya, itu bagian dari proses pencarian yang jujur.
“Kalau harus lewat jurang, ya dijalani.”
Namun ia mengingatkan, setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak perlu memaksakan diri jika belum siap.
Di ujung penjelasannya, ia kembali pada satu hal: kerinduan.
Ketika seseorang benar-benar merindukan, arah sebenarnya sudah ada—meski jalannya belum sepenuhnya terlihat.
“Gampangnya,” ujarnya pelan, “aku ingin ke sana, tapi belum tahu caranya. Gusti, tuntun aku.”
Pendopo kembali hening—seolah tiap jamaah diajak menengok dirinya sendiri, di antara ritual dan esensi.
Penanya berikutnya, Mbak Fitri dari Surabaya, mengangkat kegelisahan yang sangat dekat dengan realitas hari ini. Sebagai guru SD, ia melihat anak-anak tumbuh dalam arus deras media sosial.
“Seperti spons,” katanya—menyerap apa saja, terutama dari TikTok. Paparan itu perlahan membentuk cara berpikir dan bersikap.
Lalu ia bertanya: adakah langkah konkret agar anak lebih bijak bermedia sosial?
Mas Sabrang menanggapi tenang. Isu ini, menurutnya, sudah lama ia suarakan melalui pentingnya pendidikan digital.
Bukan sekadar kemampuan memakai teknologi, tetapi proses utuh: digital use, security, privacy, literacy, hingga appreciation.
Kerangkanya sudah ada. Metodologinya jelas.
Yang belum, adalah kesungguhan menerapkannya.
Pak Suko sempat menyinggung adanya regulasi pembatasan usia sebagai langkah awal. Mas Sabrang mengapresiasi, namun menegaskan: itu belum cukup.

Dokumentasi official bangbangwetan
Sebab persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan pada guru. Waktu di sekolah terbatas, sementara pengaruh terbesar justru datang dari luar.
Karena itu, ia mengajak melihatnya sebagai peluang di level sekolah.
Program literasi digital bisa menjadi bagian kurikulum—bukan hanya kebutuhan, tetapi juga nilai tambah. Jembatan antara keresahan orang tua dan arah pendidikan anak.
Dengan begitu, sekolah dan rumah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Di ujungnya, Mas Sabrang kembali pada hal paling mendasar: semua perangkatnya sudah tersedia.
Tinggal satu yang menentukan—
kemauan untuk memulai.
Penanya ketiga, Mas Rizky dari Sidoarjo, mengangkat soal bagaimana gagasan—seperti Balung Pisah—bisa hidup dan menjangkau banyak orang.
Mas Sabrang menjawab dengan menggeser cara pandang. Mengajak satu orang bergerak tentu berbeda dengan menggerakkan sepuluh, apalagi satu kampung atau satu negara. Skala mengubah metode. Dari personal menjadi sistemik.
Ia lalu menyinggung kebiasaan zaman: ramai bicara, minim gerak. Di media sosial, suara sering lebih dihargai daripada aksi. Padahal untuk menyelesaikan persoalan, yang dibutuhkan justru kontribusi nyata—bukan sekadar opini.
Dari situlah Balung Pisah diposisikan. Bukan sebagai ruang wacana, tetapi ruang temu. Tempat kegelisahan dipertemukan dengan keahlian. Data, pengalaman, dan perspektif dirajut bersama, agar melahirkan solusi yang lebih utuh.
Mas Sabrang menegaskan, dirinya bukan pusat. Ia hanya menyiapkan “irigasi”—agar berbagai aliran bisa bertemu dan mengalirkan manfaat.
Ia juga menolak menjadikannya program formal pemerintah. Baginya, ruang ini harus tumbuh dari kesadaran kolektif.
“Kalau ini memang tugas dari Gusti Allah, pasti ada jalannya.”
Di ujungnya, harapannya sederhana: setiap orang menyumbang sesuai kemampuannya—ilmu, tenaga, atau peran.
Bukan sekadar gotong royong yang dibicarakan, tapi yang benar-benar dijalankan.
Penanya terakhir, Mas Helmi dari Surabaya, membawa diskusi ke isu global: kemungkinan perang dunia dan dampaknya di Indonesia.
Mas Sabrang tidak memberi kepastian. Ia menegaskan, konflik hari ini adalah hybrid war—campuran militer, ekonomi, hingga kognitif—terlalu kompleks untuk diprediksi. Ia mengajak melihat sejarah: setiap era punya super power, tapi tak ada yang abadi. Pergeseran selalu disertai guncangan.
Menurutnya, dunia kini berada di fase transisi itu.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Ia menariknya ke hal paling dasar: ketahanan hidup.
“Tanpa internet kita masih bisa hidup. Tanpa makanan?”
Dari situ ia menekankan pentingnya pangan. Dalam kondisi apa pun, produksi makanan adalah kunci. Negara perlu memberi kepastian agar petani berani memproduksi, sementara masyarakat mengawal agar perputaran ekonomi benar-benar menyentuh akar—bukan bocor ke impor atau korporasi besar.
Di ujungnya, Mas Sabrang mengingatkan soal prioritas.
Di tengah keterbatasan, yang didahulukan adalah yang menopang hidup paling banyak orang.
Dan pangan selalu ada di garis depan itu.
Sebagai penutup, Mas Sabrang mengajak jamaah kembali ke satu hal yang paling mendasar: kejernihan akal.
Menurutnya, bahaya terbesar hari ini bukan sekadar konflik atau perubahan zaman, melainkan ketumpulan cara berpikir—ketika manusia kehilangan keberanian untuk kritis, mudah percaya pada arus, dan menelan mentah-mentah apa yang tampak di permukaan. Judul-judul berita, katanya, tidak selalu berbicara tentang kebenaran, melainkan sering kali tentang perhatian.
Karena itu, menjaga kesadaran dan kejernihan berpikir menjadi ikhtiar yang tidak bisa ditawar.
Ia kemudian mengingatkan bahwa apa pun posisi manusia dalam hidup, sejatinya hanyalah peran. Sebuah “senda gurau” kehidupan, tempat setiap orang menjalankan tugasnya masing-masing. Maka, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang menang atau kalah, melainkan oleh sejauh mana manusia mau berbuat baik dalam perannya.
“Indonesia tidak akan menjadi baik,” kira-kira demikian nadanya, “jika pelakunya sendiri tidak mau menjadi baik.”
Gagasan seperti Balung Pisah, lanjutnya, juga tidak akan berarti apa-apa tanpa keterlibatan bersama. Ia menempatkan dirinya hanya sebagai satu titik kecil dalam keseluruhan gerak yang jauh lebih besar—sebuah peran yang tidak lebih penting dari peran siapa pun yang sama-sama diciptakan Tuhan.
Di situlah ia mengajak jamaah untuk menjalani hidup dengan keseimbangan: santai, tetapi tetap kritis. Menjadi manusia dalam makna yang utuh—ahsani taqwim—sebagaimana Tuhan menciptakan.
Ia mengingatkan, setiap manusia sejatinya adalah “pemenang” sejak awal—lahir dari perjuangan panjang, mengalahkan kemungkinan yang tak terhitung. Maka hidup ini adalah perjalanan masing-masing bersama Tuhan, menjalankan “kurikulum” yang sudah digariskan.
Tugasnya sederhana namun tidak ringan: menjalani dengan sungguh-sungguh, sekaligus memberi ruang agar generasi berikutnya bisa hidup lebih baik.
Di akhir, Mas Sabrang meninggalkan satu pertanyaan yang menggantung sekaligus menuntun: dalam segala arus zaman yang deras ini, apakah kita tetap menjadi manusia, atau justru larut menjadi bagian dari arus itu sendiri? Semoga Maiyah terus melatih kita menjadi manusia—bukan sekadar hadir, tetapi sadar dan utuh dalam menjalani hidup.
Mas Sabrang menutup dengan harapan yang sederhana namun dalam: kelak, ketika perjalanan ini sampai di ujungnya, saat setiap manusia dihadapkan pada pertanggungjawaban, kita mampu menjawab dengan mantap—bahwa hidup telah dijalani dengan menunaikan apa yang diperintahkan oleh Gusti Allah.

Dokumentasi official bangbangwetan
Malam pun ditutup dengan indal qiyam, ketika doa dan harap kembali dinaikkan—sebagai penanda bahwa seluruh percakapan, pada akhirnya, bermuara pada satu arah: keselamatan, hingga kelak sampai di hadapan-Nya.



