Reportase Bangbang Wetan Bulan November 2025
Tanggal 10 November, selalu menjadi kisah tersendiri bagi Surabaya. Mendung menggantung di langit Surabaya. Di gedung tua Pos Bloc, peninggalan kolonial yang kini menjadi ruang kreatif publik, panggung rigging berdiri megah.
Cahaya lampu menyorot ke dinding sejarah, tulisan besar di videotron menampilkan tajuk malam itu, “Bangbang Wetan bersama Sekolah Negarawan — Sinau Kebangsaan.”
Gamelan dan perangkat band modern berdampingan seperti dua zaman yang sedang berdialog. Bangbang Wetan dan Sekolah Negarawan mempertemukan dua kekuatan, spiritualitas dan patriotisme. Sebuah ikhtiar untuk membaca ulang makna “menjadi bangsa” memakai kacamata ruhani.
Pambuka
Sehari sebelum acara, para pegiat sudah mulai menyiapkan sarpra. Beberapa di antaranya memilih tetap bermalam di lokasi, memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya.
Malam itu, rutinan Bangbang Wetan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Bangbang Wetan dan CakNun.com, membuka ruang yang lebih luas bagi siapa pun untuk ikut menyimak.
Menjelang pukul delapan malam, area depan panggung mulai padat. Jamaah lesehan di selasar utama gedung, berbaur tanpa jarak. Beberapa tampak membetulkan celana setelah menembus jalanan Surabaya yang diguyur hujan sejak sore.
Lantunan doa pembuka menggemakan seruan,
“Tuhanku, bimbinglah aku memahami ilmu-Mu…Ilmu masa silam, segala yang disimpan oleh masa depan… Ilmu para Nabi yang menggerakkan dunia dengan kata.”
Sholawat Badar mengalun, klentingan musik Tiongkok berpadu dengan gamelan, gitar, dan biola. Dentang saron, demung, dan bonang bersahutan mengucapkan “Bismillah, Bismillah, teguhlah hatimu…”

Mas Prayogi dan Mas Helmi bergantian memandu jalannya acara. Mas Helmi naik ke panggung, menyampaikan sholawat kepada Kanjeng Nabi dan salam hangat kepada keluarga besar Maiyah. Ia berterima kasih kepada jamaah dan para pegiat yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini.
Dalam pengantarnya, Mas Helmi menyinggung metode Mbah Nun yang kerap membahas persoalan sosial dan politik bukan untuk menggurui, melainkan agar kita semua aware dan lebih peka terhadap realitas di sekitar. Beliau menekankan pentingnya ikhtiar kebersamaan sebagaimana yang dihidupi malam ini melalui tema Sinau Kebangsaan.
Acara berlanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jamaah berdiri, bernyanyi bersahutan, sementara layar menampilkan merah-putih yang berpendar. Sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Tersenyumlah, Indonesia
Pukul delapan tepat. Mas Helmi membuka sesi dengan mengingatkan bahwa entitas bangsa telah ada jauh sebelum negara berdiri secara formal. “Sebagai generasi kekinian,” ujarnya, “kita perlu menilik kembali tentang bagaimana negara dan bangsa ini telah berjalan? Hanya dengan memahami arah perjalanan itu, kita bisa menempatkan diri dalam cita-cita perjuangan para pendiri bangsa.”
Mas Prayogi kemudian memberi pengantar singkat. Malam itu akan hadir banyak narasumber dari berbagai latar belakang yang mewakili keragaman bangsa, dari kaum adat, rohaniawan, budayawan, dan kalangan intelektual. Ia memperkenalkan Sekolah Negarawan sebagai ruang belajar yang tumbuh dari pengajaran Mbah Nun tentang kehidupan politik dan tanggung jawab sosial.
“Sekolah Negarawan tidak mengklaim bahwa jalan ini satu-satunya bentuk pengejawantahan,” ujar Mas Prayogi. “Tapi insyaAllah, ini adalah salah satu ijtihad untuk mengaplikasikan ilmu tersebut.” Sekolah Negarawan, lanjutnya, tidak berhenti pada mimpi berkarya di rumah sendiri. Ada ikhtiar untuk menembus batas, membuka jendela menuju pasar dan gagasan mancanegara.
Moderator kemudian mempersilakan Bapak D. Zawawi Imron, Si Celurit Emas dari Madura, naik ke panggung. Dengan tongkat di tangan, langkahnya perlahan dan berwibawa.
Suara beliau lirih, usia tak menghalangi semangatnya. Ditemani sang cucu, beliau membacakan puisi ciptaannya, “Tersenyumlah, Indonesia… tersenyumlah para pahlawan.”

Di tengah pembacaan, Pak Zawawi sempat bercerita tentang perjumpaannya dengan Mbah Nun. Dengan tawa kecil, beliau mengenang satu momen,
“Pernah suatu waktu, Mbah Nun bercerita sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya bilang padanya, ‘Salat istikharah-lah.’ Dari situlah Allah pertemukan beliau dengan Ibu Novia Kolopaking.”
Senyum menyebar di antara jamaah, lalu suaranya melembut ketika menyebut sosok ibu. “Perempuan tercantik di dunia bukan siapa-siapa,” ujarnya, “tapi ibu kita masing-masing. Ingat itu.”
Lalu, dengan semangat yang tiba-tiba membuncah, beliau melantunkan Puisi Zikir,
Alif, alif, alif! Alifmu pedang di tanganku, susuk di dagingku, kompas di hatiku! Suara beliau meninggi, menjelma dentuman doa. Heneng, hening, henung.
Nada Perjuangan
Gamelan kembali berpadu dengan gitar elektrik, lambang ritual lama dan baru.
Kiai Kianjeng mempersembahkan lagu “Kado Muhammad” — “Muhammadku, sayyidku, engkau selalu dan terus-menerus lahir dalam jiwaku.”
Vokalis Mas Imam dan Mas Setenk menjerit, diikuti teatrikal Mas Jokam. Klentingan piano dan sayatan biola memecah ruang. Berganti dengan sholawat Ya Nabi Salam ‘Alaika, menggema ke seluruh penjuru.
Suasana riuh syahdu. Lagu berikutnya, “Kepadamu Kekasihku”, membawa nuansa Timur Tengah berpadu musik Celtic Barat. Rebana dan drum berpadu, diiringi vokal lembut Mbak Yuli dan Mbak Nia yang mengalun merdu.

Klimaks tak terbendung lewat lagu “Permintaan Hati”, dibawakan dengan aransemen rock-orchestra, dengan pembagian suara satu dan suara dua.
Jamaah turut menyanyi bersama, “Dengarkanlah permintaan hati, yang teraniaya sunyi. Dan berikanlah arti pada hidupku…Ouuouoo..”
Saron, demung, bonang, kenong, dan drum berpadu membangun gelombang semangat, menutup sesi musik.
Mas Helmi kembali mengambil alih panggung. Beliau menjelaskan konsep negarawan. “Negarawan adalah pemimpin yang tidak hanya memikirkan partainya, tapi masyarakat secara luas. Ia harus tahu banyak hal, memahami hidup dari segala sisi. Dan malam ini, semoga atmosfer yang kita bangun membawa kita lebih siap memasuki langkah berikutnya dalam sinau kebangsaan.”
Mas Prayogi menimpali, negarawan harus sudah selesai dengan dirinya sendiri, hati & pikirannya harus pada rakyat, tidak pada yang selainnya. Tut Wuri Handayani.
Rumah Kebangsaan
Jarum jam menunjukkan 9 malam. Moderator mempersilakan para narasumber naik ke panggung. Cak Adil Amirullah & Bapak Syafih Kamil sebagai perwakilan Sekolah Negarawan. Bapak Irwan Abdul & Bapak Idris Sudin, budayawan dari Kesultanan Ternate dan Tidore. Dr. Alessandro Rey, Pak Suko Widodo & Mbak Sanavero, sebagai perwakilan akademisi. Ustaz Rosidin & Guru Gembul dari kalangan agamawan.
Panggung lintas bidang. Semua hadir dalam satu cita, menafsir ulang arti kebangsaan, menumbuhkan kembali kesadaran bahwa bangsa ini bukan sekadar administrasi negara, melainkan rumah bersama.
- Sistem dan Manusia
Cak Adil membuka sesi dengan dengan gaya khas. Beliau menjelaskan bahwa Sekolah Negarawan lahir sebagai bentuk ijtihad, upaya menerjemahkan nilai-nilai Maiyah dalam ranah sosial dan politik.
Beliau lalu bercerita tentang perdebatan sederhana dengan seorang tetangga, apakah sistem yang baik akan otomatis membuat manusia baik, atau justru manusia baik yang melahirkan sistem baik?
Cak Adil menatap jamaah, memastikan semua mata tertuju pada satu titik kesadaran, “Individu yang berkualitas kenegarawananlah yang akan menggerakkan perubahan sistem. Itulah cita-cita Sekolah Negarawan.”

Berlanjut Mas Syafih Kamil, perwakilan Sekolah Negarawan Eropa, berbagi pengalamannya berkeliling benua itu untuk belajar politik.
“Kami belajar dari banyak negara,” ujarnya, “tentang bagaimana perilaku politik dibentuk oleh budaya warganya. Di suatu negara, pemimpinnya datang paling awal ke rapat. Di negara lain, pemimpinnya datang, rapatnya bubar.” Jamaah terkekeh.
Ia melanjutkan, “Sekolah Negarawan bukan hendak meniru, tapi menimba hikmah agar bangsa ini tumbuh dengan karakternya sendiri, yang santun dan berdaulat.”
Sistem adalah wadah, dan manusia yang menentukan wadah itu diisi air jernih, atau kopi kebanyakan gula.
- Amanah Tanah Air
Dari arah Timur Indonesia, Bapak Irwan Abdul dari Kesultanan Ternate membawa kisah sejarah panjang kerajaannya yang telah berdiri sejak abad ke-12 dan kini dipimpin oleh sultan ke-49.
Ia menjelaskan sistem kepemimpinan mereka yang unik: “Sultan kami tidak ditentukan oleh garis keturunan. Ia dipilih oleh rakyat melalui komisi pemilihan, diawasi dan dievaluasi oleh komisi pengawal. Kami tidak mengenal putra mahkota, yang kami kenal adalah amanah.”
Beliau menambahkan dengan nada tegas, “Semangat perjuangan itu masih bertahan. Kami berusaha berdikari tanpa bergantung pada pihak luar. Prinsipnya tetap sama, amar ma’ruf nahi munkar.”
Dari sisi lain panggung, Bapak Idris Sudin dari Kesultanan Tidore menambahkan refleksi sejarah, “Negara terbentuk dari konsensus besar. Kemudian bersandar pada satu harapan, memperoleh kesejahteraan dari kemerdekaan. Tapi banyak daerah di ujung Nusantara belum menikmatinya.”
Beliau menutup dengan semangat, “Setiap ujung tanjung harus menyatu—unity in diversity. Kunci perubahan bangsa adalah kesadaran untuk saling mencintai dan saling menghidupi.”
Mas Prayogi menimpali, “Kesultanan Ternate & Tidore memberi teladan bahwa sistem kenegaraan bisa berjalan selaras dengan moralitas.”
Lampu kemudian diredupkan. Layar menayangkan video bertajuk “Tanah Air Amanah Tuhan.” Cuplikan sejarah perjuangan bangsa disandingkan dengan ironi kekuasaan masa kini.
Narasi di layar membawa pesan,
“Negarawan sejati adalah mereka yang berjiwa besar, memimpin dengan keteladanan dan keberanian moral. Jabatan hanyalah sarana untuk berbuat baik bagi masyarakat luas.”
Mas Prayogi menutup sesi dengan retorik, “Masih adakah pemimpin semacam itu, hari ini? Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang, tapi menyalakan lagi nilai kejujuran dan pengabdian.”
- Tentang Gadis, Negara, dan Realita
Diskusi berlanjut dengan satu kisah yang dipantik oleh Mas Prayogi.
“Ada seorang gadis. Ayahnya meninggal. Ibunya pergi meninggalkan dia dengan dua adik dan seorang nenek. Ia harus bekerja di tiga tempat sekaligus. Lalu muncul pertanyaan simple, di mana negara ketika rakyatnya berjuang sendirian seperti itu?”
Pertanyaan ini disematkan kepada Dr. Alessandro Rey, seorang akademisi yang menelaah politik kebangsaan dari perspektif struktural. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kita sering tidak terbiasa menghadapi realitas, hanya terbiasa pada realita yang sudah dikondisikan.”
Pernyataan tersebut membuka ruang analisis kritis terhadap relasi antara negara dan warga. Dr. Alessandro menyinggung dinamika amandemen Undang-Undang Dasar sebagai cermin bahwa kedaulatan rakyat kerap berhenti pada teks konstitusi.
Dalam teori kenegaraan, ia menegaskan, negara modern memiliki kewajiban utama untuk memfasilitasi hak-hak dasar warganya—pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan—sebagai prasyarat keberlanjutan sosial.
Namun, dalam konteks Indonesia kontemporer, ideal tersebut kerap tereduksi oleh lemahnya tata kelola dan absennya kesadaran kolektif.
Beliau menutup penjelasan dengan analogi manajerial, “Jika perusahaan besar mampu menyejahterakan karyawannya karena manajemennya tertata, maka negara pun seharusnya berfungsi dengan prinsip serupa—berbasis tata nilai, bukan hanya bergantung pada figur.”

Selanjutnya, mikrofon berpindah kepada Mbak Sanavero, aktivis muda yang mewakili perspektif generasi pascareformasi. Ia menyoroti problem komunikasi antara pemerintah dan masyarakat yang menurutnya telah memasuki fase krisis semantik.
“Sistem tak mungkin hidup tanpa manusia di dalamnya,” ujarnya. “Bahasa dan komunikasi kita kini sedang krisis. Pemerintah dan rakyat seperti dua panggung monolog yang tak pernah saling mendengar.”
Ia menekankan bahwa revisi konstitusi tidak akan berarti tanpa rekonstruksi nilai, “Amandemen penting, tetapi yang lebih mendasar adalah pembangunan nilai—menata ulang cara berpikir, berdialog, dan menilai realitas.”
Mas Prayogi mengangguk pelan, lalu menimpali, “Benar. Pemerintahan hari ini terlalu sering menjelma panggung monolog. Padahal bangsa harus ditumbuhkan dengan dialog.”
Menutup sesi tersebut, Pak Suko Widodo menambahkan dimensi baru — digital citizenship atau kewarganegara-an digital. “Hidup bersanding dengan gawai sudah menjadi pemandangan sehari-hari,” ujarnya. Ia mengamati bahwa arus informasi yang masif kini membentuk opini publik, bahkan memicu perang gagasan di ruang maya.
Dalam konteks itu, ia menegaskan pentingnya literasi kebangsaan di dunia digital.“Literasi kebangsaan harus hadir di dunia maya agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarah dan nilai perjuangannya.”
Secara konseptual, sesi ini mengafirmasi satu kesimpulan penting. Bahwa krisis bangsa hari ini bukan semata soal politik atau ekonomi, melainkan soal defisit kesadaran publik. Maka, menegakkan kembali kesadaran rasional dan moral menjadi tugas kenegaraan yang tak kalah penting dari membangun infrastruktur fisik.
- Kesadaran Bernegara
Perwakilan Kiai Kanjeng naik ke panggung, membawa fragmen teatrikal yang menyitir wejangan Mbah Nun tentang negara dan pemerintahan. Gerak tubuh, dialog, dan musik berpadu menjadi tafsir panggung.
Pertunjukan itu menegaskan ruh kelahiran Sekolah Negarawan sebagai wadah sinergi empat pilar kebangsaan: cendekiawan, agamawan, budayawan, dan purnawirawan.
Rangkaian program mereka meliputi kelas pendidikan politik, diskusi lintas generasi, hingga penanaman etika kenegaraan di akar rumput.
Pertunjukan ditutup dengan lagu “Ya Ampun.” Ya ampun lalimnya manusia… ya ampun bebalnya penguasa… Ya Allah, ayubkan hamba… Ya Allah, luaskan jiwa…
Suasana sontak jenaka saat Mas Imam turun ke tengah jamaah. “Ayo, siapa yang mau nambah baitnya?” serunya.

Dari arah kiri panggung, seseorang menjawab cepat, “Ya ampun kecil gajinya!” Tawa pun pecah. “Ya ampun macetnya, Mas!” sahut yang lain.
Mas Imam tertawa sambil mengangguk, “Nah, ini dia bangsa yang masih punya humor. Kalau bisa menertawakan nasibnya sendiri tanpa kehilangan doa, insyaAllah berkah.”
Setelah tawa mereda, Guru Gembul naik ke panggung. Ia tidak langsung bicara, cukup lama menatap jamaah.
Guru Gembul memulai pembicaraan, “Kalau dulu pahlawan gugur di medan perang, kini banyak yang gugur dalam ingatan.”
Tapi Guru Gembul belum selesai. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap berteriak kencang. “Sekarang ini,” katanya, “kita sedang mengalami kebingungan besar soal siapa yang disebut pahlawan.”
Ia menyinggung polemik yang ramai beberapa waktu terakhir. Deklarasi nama-nama baru sebagai tokoh nasional, termasuk tokoh-tokoh yang pada masa lalu pernah menjadi bagian dari babak kelam sejarah bangsa.
Guru Gembul memaparkan fakta bahwa sejak tahun 1959 hingga kini, lebih dari 200 tokoh telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, sebagian lewat pertimbangan politik, sebagian lain karena dorongan daerah. Tapi ironinya, kata Guru Gembul, penghargaan itu justru membuat makna kepahlawanan menjadi kabur.

“Setiap rezim ingin punya pahlawan sendiri,” ujarnya, “lalu melupakan bahwa pahlawan sejati justru mereka yang tak sempat menulis namanya sendiri dalam sejarah.”
“Persatuan Indonesia,” teriaknya, “itu bukan hafalan dari buku Pancasila. Itu kerja harian.” Beberapa jamaah mengangguk pelan.
“Majelis akan menjadi omong kosong bila jamaah tidak mampu memberi dampak sekecil apa pun bagi lingkungannya,” tegas Guru Gembul. Beberapa jamaah spontan menyoraki, disusul tepuk tangan panjang.
Penutup
Terakhir, Ustaz Rosidin mengaitkan seluruh pembahasan dengan nilai spiritual Islam. “Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar kitab rujukan,” ujarnya, “melainkan sumber imanen kehidupan berbangsa. Di dalamnya, kita diajarkan bagaimana menata hati sebelum menata negeri.”
Lalu beliau mengutip ayat Al-Ashr.
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
“Kita tidak kekurangan orang pandai,” lanjut beliau, “tapi kita kekurangan orang yang mampu membaca realitas dan mewujudkannya menjadi perubahan. Ilmu tanpa hikmah hanya akan menghasilkan kebisingan, sedangkan kebijaksanaan lahir dari hati yang tunduk pada kebenaran.”
Menjelang akhir, Ustaz Rosidin menunduk, menengadah, lalu berdoa
“Aamiin bukan sekadar ucapan,” katanya pelan. “Ia adalah perwujudan iman dan aman. Semoga bangsa ini diberi kedewasaan moral,agar para pemimpinnya memimpin dengan kasih, dan rakyatnya mengabdi dengan cinta.”
Doa bergema lirih, disusul jawaban “aamiin” panjang dari seluruh jamaah.
Delapan puluh tahun sudah pertempuran 10 November berlalu. Hari ini, semangat para pejuang tetap hadir dalam bentuk diskusi, musik, dan doa.
Menjadi negarawan tak harus memegang jabatan, cukup dengan menyalakan kesadaran dan bertanggung jawab atas sesama. Hamemayu hayuning bawana.

Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



